Jika tak diberi, husnudzhan saja. Karena syukur itu berat. Syukur itu memanfaatkan seluruh fasilitas yang Allah anugerahkan untuk taat dan mengabdi kepada-Nya.

Origami Around
almost home
Mike Driver

titsay
Three Goblin Art
Monterey Bay Aquarium

oozey mess
Stranger Things
taylor price
Game of Thrones Daily
🪼
will byers stan first human second
Peter Solarz
h
Claire Keane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

blake kathryn

Janaina Medeiros
Misplaced Lens Cap
AnasAbdin
seen from Germany

seen from United States
seen from Qatar

seen from Qatar
seen from United States

seen from United States

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Spain
@finnytania
Jika tak diberi, husnudzhan saja. Karena syukur itu berat. Syukur itu memanfaatkan seluruh fasilitas yang Allah anugerahkan untuk taat dan mengabdi kepada-Nya.
Pagi ini mulailah untuk bercerita dengan diri sendiri, perihal bagaimana cara berkomunikasi antara hati ke hati. Kamu harus tahu bahwa menemani adalah cara terbaik agar hati saling berbicara. Karena ada hati yang tidak semudah lisan mengungkapkan, temanilah mereka yang mendapat tempat terbanyak di hatimu agar kamu ikut merasakan apa yang ia alami selama ini.
Pada ibu yang sering melayani, pada istri atau suami yang tengah sibuk, atau mungkin pada teman yang sedang pusing dengan kerjaannya. Semakin sering kamu menemaninya akan semakin mudah hati kalian untuk saling berbicara dan berbagi.
Jika tidak pandai menemani maka cobalah untuk mendekati dan menanyakan apa yang bisa kamu bantu, agar ada jalan lain untuk hati saling berbicara dan merasa.
Untuk semua yang mendapat tempat terbanyak di hati, semoga Allah jaga dan lindungi.
@jndmmsyhd
Bahkan jika orang lain lebih beruntung, tugas kita tetaplah bersyukur.
Udah susah-payah usaha, terus ada orang yang nyalip dengan mudahnya. Mungkin karena dia lebih kaya atau anak orang yang punya privilese. Gimana rasanya?
Nyesek. Enak betul andai kita jadi dia. Apa-apa gampang. Mau ini-itu bisa didapat. Koneksi keluarganya gak kaleng-kaleng.
Emang bisa bersyukur ketika melihat orang lain lebih beruntung?
It’s your choice mau melihat dari sisi mana.
Tapi…
Bukankah jatah rezeki manusia sudah ditentukan? Lantas, kalau rezeki kita gak sama dengan orang lain, apakah itu mencoreng kemahaadilan Allah?
Enggak.
Tau kenapa? Karena dunia gak ada apa-apanya. Cuma ibarat senda gurau yang paling garing dan ga bikin ketawa sama sekali. Buat Allah, dunia seisinya gak lebih berat dari sehelai sayap nyamuk. SEHELAI SAYAP NYAMUK!
Allah ciptakan manusia bukan untuk jadi raja atau orang kaya yang punya segalanya. Kekuasaan dan kekayaan gak ada manfaatnya kalau gak bisa bikin kita jadi makin dekat dengan-Nya.
Itu kenapa dunia dibagi-bagi ke manusia kayak kacang goreng, gak pandang agamanya apa dan imannya gimana. Dunia bukan reward dari kesalehanmu. Allah membagi-bagikan dunia karena dia Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah, semua orang Dia kasih.
Namun, Allah punya nama Ar-Rahim, Yang Maha Penyayang, nama yang spesial untuk menyayangi hanya orang-orang saleh saja. Dia kasih ujian supaya orang saleh ini bisa bersabar. Dia kasih kekurangan dan kelebihan supaya orang saleh ini bisa bersyukur. Lantaran sabar dan syukur inilah, Allah menyayanginya, Allah siapkan tempat kembali yang mulia di sisi-Nya.
Dunia cuma perantara yang sementara. Bukan tujuan utama. Maka, bersikaplah sewajarnya. Di samping ikhtiar yang gak boleh kendoe, yang berat disabari dan hang kurang atau lebih disyukuri.
Indah hidup ini jika kita mengerti tujuan sebenarnya.
Kata Allah, janganlah lemah dan jangan pula kamu bersedih hati.
Be happy! Karena Allah gak akan meninggalkanmu.
Jakarta, 13 Oktober 2020 Taufik Aulia
Pernahkah kalian mendapati sepasang orang tua yang saling mengusahakan agar anaknya tidak berdosa kepada mereka?
Aku pernah, selalu dan setiap hari. Mereka adalah sepasang orangtua yang langka menurutku. Orang tuaku sendiri tak sebegitu baiknya. Bukan berniat membandingkan, setiap orang tua punya cara dan cerita. Jadi sekali lagi, bukan.
Suatu sore, kami duduk bertiga. Mereka sedang menasehatiku untuk terus berbuat baik tanpa pamrih. Hari itu aku benar-benar sedih. Untuk pertama kali aku menangis di hadapan mereka. Aku memanggil mereka ibu dan bapak.
Aku tidak memiliki ikatan keluarga, garis turunan atau apapun itu. Mereka adalah orang lain bagiku dan aku orang lain bagi mereka sebelum bertemu mereka. Tetapi aku menganggap mereka adalah keluargaku entah sebaliknya. Well, aku tidak akan menceritakan bagaimana pertemuan pertamaku. Mungkin nanti ditulisan selanjutnya yang entah kapan.
Hari itu aku bercerita kepada ibu tentang resahku. Tentang egoku, tentang kekeras kepalaanku. Dasarnya ibu yang memang keibuan dan perasa gampang menitikkan air mata, pun ikut menangis bersamaku. Percakapan kami terdengar oleh bapak. Aku kemudian mengelak mengatakan tidak ada apa-apa. Akan tetapi semua terlambat, bapak ternyata mendengarkan semua apa yang kuceritakan pada ibu. Yah, aku hanya bingung dan resah. Tak lebih.
Bapak kemudian mulai menasehatiku. Nak, mulai sekarang apapun yang terjadi dalam hidupmu yang berurusan dengan oranglain jangan masukkan ke dalam hati.
Aku hanya tunduk. Air mataku mulai menetes satu persatu
Orang lain akan selalu beranggapan bahwa dialah yang benar, lanjut bapak. Meski sebenarnya salah, ia akan tetap merasa dirinya tidak bersalah karena menganggap bahwa apa yang dilakalukannya adalah benar. Maka jangan mudah menilai orang lain salah dan jangan menganggap mereka salah meski mereka salah. Tetapi tarik dirimu, bahwa engkaulah yang salah.
Nak, jika dirimu melakukan kebenaran. Dan pada akhirnya kamu juga tetap disalahkan. Maka jangan berdo'a untuk meminta kepada Allah agar orang lain dibukakan pintu hatinya pada kebenaran. Boleh mendoakan seperti itu, tetapi alangkah baiknya jika kamu berdo'a agar dimampukan dirimu untuk selalu berbuat baik dan menebar kebenaran.
Nak, kebaikan itu selalu mendatangkan kebaikan. Orang lain mau berbuat buruk pada kamu, biarkan. Yang penting kamu tidak berlaku buruk pada mereka. Balas dengan kebaikan. Yang pokok itu bukan keburukan yang orang lain cerita tentang kamu padahal memang kamu tidak melakukan. Lapanglah menerima apapun perkataan orang lain. Kalau kamu dikatakan tidak baik, maka bersyukurlah karena memang kita ini bukan orang baik. Memohon ampunlah pada Allah agar diberi kekuatan berbuat baik. Pun kalau ada yang bilang kamu baik berarti itu hanya efek dari kebaikanmu.
Nak, kalau kamu bisa melewati fase ini. Maka akan sangat berguna bagimu di hari yang akan datang. Ini pembelajaran yang tak ternilai harganya.
Nak, bangun komunikasimu dengan mereka yang egonya tinggi. Jika bukan kamu yang memulai, maka tidak akan ada habisnya. Belajarlah melunak sejenak. Cara membuat orang lain sadar dengan egonya adalah dengan melunaknya kita dalam berinteraksi.
Nak, jangan pernah menyerah tetaplah berbuat baik. Allah itu baik, pemilik kebaikan, dan penuntun dalam kebaikan dan pembalas setiap kebaikan.
Aku mulai tegar. Air mataku sudah kuhapus. Ibu juga sedari tadi terisak. Bapak juga menangis.
Nak, bapak hanya punya anak satu orang. Atas apapun keburukan yang ia perlakukan kepada kami, bapak selalu mengingatkan ibu untuk tidak membuatnya berdosa pada kami. Bapak dan ibu diberi ujian lewat menantu. Tak sedikit kali mereka membuat ibu menangis. Tetapi selalu dalam hati memohon kepada Allah agar tidak membuat keduanya durhaka pada orang tua.
Bapak kembali menitikkan. Aku juga kembali menitikkan air mata.
Jadi nak, tetaplah berbuat baik. Kelak kamu akan mengerti.
Dalam hati aku berbisik, Ya Allah ilmu apa yang hendak engkau ajarkan padaku? Dan takdir apa yang menantiku di masa yang akan datang?
Yang membuat aku takjub adalah mereka tak pernah menaruh dendam. Aku tau bagaimana perasaan mereka diperlakukan. Aku hidup bersama mereka dan aku banyak belajar. Satu hal yang kutemui hari itu, bahwa ada manusia yang seperti itu. Biasanya anaklah yang memohon agar tidak berdosa kepada orang tua. Yang kudapati justru sebaliknya.
Sekian.
©insjourney
#life #learning #Allah #grateful
"Tidak mengapa jika memang harus semakin berat. Hanya, semoga saya juga semakin kuat."
Katakan itu sebagai permintaan. Yaitu sebuah tafsiran dari kemampuan yang terbatas, sekaligus meyakini ada kekuatan lebih besar yang mengatur; melindungi dengan cara yang rahasia namun tidak meninggalkan kita nelangsa sendirian. Sebab itu mendekat, maka Dia akan lebih dekat. Meminta, maka Dia akan memberikannya.
“Tidak ada waktu yang paling menenangkan daripada waktu berdua dengan-Mu, tidak malu untuk meneteskan air mata kesedihan dan tidak ada ragu untuk mengungkapkan rasa yang selama ini tertahan.”
—
Waktu yang semua orang terlelap tidur, ada yang dengan mudahnya bangun dan menghamparkan sajadahnya. Ia memaksakan dirinya untuk mengadu disaat hati dan jiwanya sedang berperang, ia sadar bahwa harus ada yang menenangkannya.
Kepada seseorang yang ia sedang berusaha menjemputnya, sudah cukup baginya untuk sekedar berusaha bertemu denganmu dari untaian doa, ia tidak terlalu berharap diterima dan juga tidak akan kecewa jika tertolak. Baginya sudah bisa mengungkapkan pada langit saja adalah hal perjuangan yang paling berarti.
Malam adalah waktu yang paling ia tunggu, secepat ia tertidur dan secepat itu pula ia terbangun untuk berbicara pada Tuhannya, menceritakan bagaimana beratnya hari ini dan bagaimana harapannya selama ini. Bermuara pada doa semoga segala kebaikan akan selalu bersamanya.
@jndmmsyhd
Kuliah Persiapan Nikah (Salim A Fillah)
Ngomongin NIKAH itu bukan tentang galau tapi tentang Ibadah tentang Langkah Membangun Peradaban, jadi perlu persiapan yg panjang dan matang.
Kuliah WhatsApp : #NIKAH
1. Dalam isyarat Nabi tentang Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.
2. Maka sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.
3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.
4. Persiapan hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah.
6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh.
7. Jika kesiapan diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.
8. Izinkan saya membagi Persiapan dalam 5 ranah: a. Ruhiyah, b. ‘Ilmiyah, c. Jasadiyah (Fisik), d. Maaliyah (Finansial), e. Ijtima’iyah (Sosial)
9. Persiapan perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.
10. Sebaliknya, ada orang yang Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.
11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan lainnya berpijak pada yang satu ini.
12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan.
13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.
14. Sebelum Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH.
15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu.
16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya.
17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua.
18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu
19. Persiapan Ruhiyah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan.
20. Jika masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.
21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam Nikah. “Apa obsesimu?”
22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?
23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumah tangga & masalah-masalahnya.
24. Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll
25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal ilmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga
26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat,melainkan maksud baik nan kurang ilmu Nikah
27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi.
28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi Nikah
29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja.
30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi.
31. Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi.
32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti.
33. Isteri: “Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla.” Suami: “OK, kita cari pembantu. “ Istri: “O, jadi aku dianggap pembantu?!.” Suami: “Lho?! “
34. BEDA lagi: Suami single tasking, bisa marah kalau isterinya nan multitasking memintanya kerjakan beberapa hal berrangkai-rangkai.
35. BEDA lagi: Isteri sering berkalimat tak langsung nan tak difahami suami. Istri:” Mas, Salma belum dijemput, aku masih harus masak!”
36. -> Jawab suami: “Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: “Tolong jemput Salma!”
37. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar)
38. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius.
39. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu
40. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian).
41. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa.
42. Uji kecil buat calon ibu & ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?”
43. LAZIM: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” -> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.
44. LAZIM: “iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” -> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar.
45. LAZIM: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” -> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P
46. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9)
47. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk . Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan.
48. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi
49. Pernikahan itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama.
50. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang.
51. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus
52. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah
53. Jadi, target persiapan fisik itu 3 tingkatan; a.PRIMER: sehat & aman penyakit, b.SEKUNDER: bugar & tangkas, c.TERSIER: beauty & charm;)
54. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ia sederhana.
55. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @ahmadgozali, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal
56. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami.
57. Ingat & catat: Persiapan finansial sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya.
58. Persiapan finansial bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia.
59. Maka memulai pernikahan, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi.
60. ‘Ali ibn Abi Thalib memulai bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi.
61. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma.
62. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: itu buat kaya (QS 24: 32)
63. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu.
64. Tetapi Allah Maha Kaya, dan menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.
65. Buatlah proyeksi nafkah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)
66. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)
67. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta
68. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup.
69. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS
70. Persiapan yang sering terabai ialah nan kelima ini: Ijtima’iyah (Sosial). Pernikahan adalah peristiwa yg kompleks secara sosial.
71. Sebuah pernikahan yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan.
72. Untuk itu, mereka yang akan menikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.
73. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait pernikahan & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan.
-Salim A Fillah-
Panjanggggg tapi saya baca sampe abis wkwk
Kamu tidak akan pernah lupa pada mereka yang memberi kenangan terbaik, juga pada mereka yang memberi luka terdalam. Berdamai dengan masa lalu bukanlah melupakan mereka, namun dengan menerima dan berlapang dada. Sebab akan selalu ada penerimaan dari hati yang lapang, dan selalu ada kelegaan dari hati yang mengikhlaskan.
Sesekali kenangan dan memori soal mereka akan hinggap dan datang kapan saja, pada pertemanan juga kisah masa lalu. Tidak jarang mereka datang dengan membawa penyesalan dan tangisan, berdamai dengan mereka terkadang memang dimulai dari situ.
Kamu pun nanti akan mulai terbiasa dan melapangkannya, untuk apa terus membenci dan menyesali, dijadikan pelajaran dan rambu-rambu saja. Agar tidak ada lagi lubang atau jalan rusak di hatimu.
Untuk siapa pun mereka yang pernah singgah dan mengisi, pada teman, kenalan, bahkan soal kisah cinta, semoga berdamai dengan mereka akan membawa ketenangan dalam hidup.
@jndmmsyhd
MEMAKNAI KEKAYAAN DENGAN BENAR
sisters, mari kita lihat dulu beberapa kisah ini
Kisah 1
Abu dzar al ghifary, seorang preman dari suku ghifar. sebelum keislamannya, pekerjaan orang² ghifar terkenal dengan suka merampok dan membegal kabilah dagang yang melewati ghifar. namun dalam kemuslimannya, abu dzar menjadi pendukung utama Rasul SAW. dia tidak takut berteriak tauhid di depan kelompok quraisy meski sudah tau akan dipukuli. Abu dzar sangat terkenal dengan ketidakpeduliannya terhadap kekayaan dan kekuasaan duniawi. "Aku tidak membutuhkan dunia kalian." ketika shahabatnya melihatnya memakai jubah usang, ia bertanya, "wahai Abu dzar, ku tau engkau masih punya dua jubah baru. jawab Abu dzar, "jubah itu sudah kuberikan ke orang yang lebih membutuhkan."
Abu dzar sangat vokal menegur para pejabat negara yang hidup bermewah²an.
Kisah 2
Madinah tetiba dikagetkan dengan kedatangan
700 kendaraan penuh dengan muatan barang dagangan Abdurrahman bin auf yang kemudian membagikan semua barang dagangannya termasuk kendaraannya, kepada seluruh penduduk madinah. Abdurrahman adalah seorang kaya raya, termasuk shahabat yang masuk islam diawal kenabian RasuluLlaah SAW. pernah suatu ketika, hasil jual tanahnya sebanyak 40 ribu dinar (sekitar Rp. 148 Milyar), semuanya dibagikan kepada kaum muslimin. di lain waktu ia juga memberikan 500 ekor kuda untuk tentara islam. kadang abdurrahman pun sampai kebingungan sendiri dengan rizkinya yang tidak pernah putus.
ketika sepulang dari perang tabuk, kurma para shahabat di madinah telah busuk. maka Abdurrahman pun membelinya dengan harga normal, agar hartanyapun habis. tapi tidak lama datanglah utusan dari raja Yaman, yang ingin membeli kurma busuk seharga 10 kali lipat dari harga normal, karna mereka membutuhkannya sebagai obat dari wabah yang sedang menjangkit di negaranya.
jika ia duduk bersama para pelayannya, tidak bisa dibedakan mana tuannya. abdurrahman kadang menangis karna khawatir bila pahala kebaikannya telah disegerakan balasannya di dunia, sehingga tidak ada sisa buat akhirat.
sisters, sebelum membaca kelanjutannya, mungkin sisters bisa menebak terlebih dahulu, dari dua orang diatas, siapakah yang menurut sisters disebut sebagai orang yang zuhud...?
pada mayoritas masyarakat, memaknai zuhud adalah orang dengan segala keterbatasan materi, tidak punya barang mewah ataupun kekayaan berlimpah. tidur hanya beralas tikar dari pelepah kurma yang membekas di tubuh seperti RasuluLlaah, atau melepas semua harta benda seperti Abu Bakar, dan tetap bersyukur dengan kondisi tersebut. bila ada pejabat muslim yang memiliki kekayaan diatas rata², maka akan dinyinyiri banyak orang bahwa ia tidak zuhud, tidak mengikuti sunnah RasuluLlaah...
lalu bagaimana dengan orang² seperti Abdurrahman bin auf yang bahkan usahanya untuk memiskinkan dirinya sendiripun tidak diizinkan Allah SWT, atau Utsman bin affan, atau bahkan sekelas nabi Sulaiman AS, nabi dan manusia terkaya dan paling berkuasa sepanjang sejarah manusia..? apakah mereka tidak termasuk hamba Allah yang zuhud...?
imam Ahmad ditanya : " Apakah seseorang bisa disebut zuhud jika memiliki 1000 dinar (setara Rp.3,7Milyar) ?
jawab imam ahmad : " bisa tapi dengan syarat, dia tidak merasa senang ketika jumlah itu bertambah, dan tidak sedih ketika menjadi sedikit. karna itu para shahabat adalah orang² yang paling zuhud meski di tangannya ada harta melimpah."
menurut imam Ahmad, zuhud terbagi menjadi 3 tingkatan:
1. meninggalkan yang haram (zuhudnya orang awam)
2. meninggalkan berlebihan dalam hal yang halal (orang² khusus)
3. meninggalkan kesibukan yang tidak membuatnya mendekat kepada Allah SWT (orang yg memiliki ma'rifat), dan melihat sikap zuhudnya adalah sikap yang biasa saja, bukan sesuatu yang luar biasa sehingga bisa mengundang kekaguman orang kepadanya.
maka abu dzar dan abdurrahman bin auf adalah shahabat yang zuhud, RasuluLlaah SAW dan nabi Sulaiman AS adalah nabi yang zuhud. karna kategori zuhud bukanlah orang yang miskin, jarang makan dan berbaju lusuh. zuhud itu adalah orang yang dapat mengendalikan hartanya dan dipergunakan di jalan Allah, bukan dikendalikan hartanya yang membuatnya merasa resah ketika hartanya berkurang. zuhud itu adalah orang² yang meninggalkan apa² yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhiratnya.
maka seorang yang zuhud tidak silau terhadap rizki Allah yang dititipkan kepadanya.
nabi Sulaiman AS pernah diuji oleh ratu bilqis dengan dikirimi emas yang sangat banyak,
tapi sulaiman tidak menggubrisnya, karna selain sulaiman jauh lebih kaya (bahkan kandang kudanya terbuat dari emas), sulaiman tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya dan menumpuknya seperti Qarun.
alih² emas, malahan sulaiman AS menangis terharu menerima pemberian satu butir gula yang dibawa semut kepadanya sebagai tanda terima kasih rombongannya tidak jadi terinjak para tentara sulaiman...
kalaulah zuhud itu diartikan sebagai hidup tidak berpunya dan itu Allah senangi, sedangkan orang kaya adalah orang yang hina di akhirat, untuk apa rasuluLlaah SAW mempersaudarakan abdurahman bin auf dengan sa'ad bin rabi', orang terkaya di madinah. jikalau abdurrahman diminta bersikap zuhud, rasuluLlah seharusnya mempersaudarakan yang kaya dan yang miskin sehingga yang kaya bisa belajar hidup sederhana. tapi rasuluLlah sangat mengenal para shahabatnya, mereka tidak tertarik harta, punya harta banyak atau sedikit adalah hal yang sama saja baginya.
maka kita bisa lihat, zuhud bukanlah dinilai dari harta dan kekuasaan yang dimiliki seseorang, melainkan pada kemampuan orang tersebut untuk mengendalikannya agar tetap memberikan manfaat sebesar²nya di jalan Allah....
... dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang² yang beruntung. (QS. Attaghabun : 16)
Komunitas Frasa-Perempuan Ilmu dan Rasa-
Beda lho antara "Barakallah" dan "Tabarakallah."
Barakallah adalah sebuah ungkapan mendoakan keberkahan kepada seseorang, lengkapnya bisa "Barakallah fiik", atau fi'il mudhari "Allah yubarik fiik"; semoga Allah memberkahimu.
Sementara "Tabarakallah" artinya adalah Mahasuci Allah, Mahatinggi Allah. Kalau seseorang kagum atau bersyukur atas sesuatu, kalimat ini cocok, "masyaAllah Tabarakallah." Jika ada kalimat "Tabarakallah Mas Hanif atas pencapaiannya", contohnya, itu kurang cocok jadinya.
"Harus banget yaa emang kita tuh gabisa tuk gak ngerasain pengalaman² pilu?" Ungkapnya
Yaaa..., dengan adanya pengalaman² pilu yang kita rasain, si(apa) diri kita sebenarnya akan terlihat, kemana kita lari saat itu, dengan si(apa) pengalaman² pilu itu kita coba urai, untuk pengalaman² pilu yang mungkin akan kembali datang dengan rupa yang berbeda
Mengajarkan Ibadah yang Menyenangkan pada Anak
Sebuah Catatan Seminar bersama Bunda Elly Risman, Psikolog
Oleh: Yulinda Ashari Bidang Pemuda ASA Indonesia Divisi Riset dan Kajian
Sebagai orang tua Muslim, kita seharusnya sudah memahami bahwa tugas utama kita dalam pengasuhan anak adalah bagaimana menjadikan anak sebaik-baik hamba yang taat beribadah kepada Allah swt. Konsep ibadah dan keimanan ini harus diajarkan sejak anak masih dini, agar kelak ketika beranjak dewasa mereka sudah terbiasa untuk beribadah tanpa harus disuruh lagi. Metode pengajaran beribadah kepada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Ibadah bagi anak-anak harus dibuat menyenangkan. Mengapa ibadah bagi anak harus menyenangkan? Karena targetnya anak-anak, maka metode harus disesuaikan dengan cara kerja otaknya. Bagian sinaps pada otak anak belum menyatu dengan sempurna sehingga ibadah harus dikemas secara menyenangkan. Orang tua tidak bisa memberikan pengasuhan dengan mengabaikan perkembangan otak anak.
Sebelum mengajarkan ibadah kepada anak, orang tua harus mengingat kembali bahwa hal ini merupakan perintah Allah yang harus diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh, karena sejatinya tujuan penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mengagungkan keesaan Allah swt. Mari kita buka kembali QS. Ad-Dzariyat ayat 56-58, yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Salah satu tanggung jawab orang tua dalam hal beribadah ini adalah bagaimana cara membentuk kebiasaan yang baik serta meninggalkan kenangan yang baik pada anak. Ingatkah dahulu kala mungkin ada yang mendapat “ancaman” jika tidak salat? Barangkali hal itu dapat membentuk kebiasaan yang baik, namun kenangan yang tertinggal di ingatan adalah kenangan yang tidak baik, bukan? Kebiasaan baik dan kenangan yang baik. Ibadah harus dibuat menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani, tidak menolak, dan tentu saja agar mereka merasa senang dan bahagia ketika beribadah. Jangan pernah tinggalkan kenangan buruk untuk anak ya Ayah Bunda!
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah berbicara dengan tutur kata yang benar.“ (QS. An-Nisa ayat 9)
Tugas pengasuhan anak apalagi terkait ibadah ini memang bukanlah hal yang mudah. Namun ingatlah bahwa karakter anak apapun yang Allah anugerahkan kepada Ayah Bunda, tidak akan melampaui batas kesanggupan masing-masing orang tua. Selalu ingatlah bahwa anak kita sejatinya bukanlah milik kita. Anak hanyalah titipan Allah yang dapat diambil kapan saja. Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemilik-Nya. Mereka adalah kenikmatan, tantangan, sekaligus ujian, yang kemudian proses pengasuhannya membutuhkan perjuangan berupa pikiran, perasaan, jiwa, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Bayangkan jika kita dititipi anak presiden, mungkinkah kita berani memukul, mencubit, atau berkata kasar padanya? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana jika kita dititipi anak langsung oleh Sang Pemilik Kekuasaan? Masih beranikah kita mendidik anak tanpa ilmu dan bersikap sewenang-wenang pada mereka? Kira-kira sudah berapa banyak kita melanggar perintah Allah terkait pengasuhan anak ini?
Didiklah anak karena Allah. Jangan pernah mengharapkan kebaikan dari anak jika orang tua tidak mendidiknya dengan baik. Anak-anak kita bukanlah pilihan kita, mereka adalah takdir pilihan Allah untuk kita. Boleh memasukan anak ke sekolah-sekolah agama, namun bukan berarti kewajiban orang tua dalam mengajarkan agama menjadi gugur begitu saja. Tugas orang tua untuk mengajarkan agama harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum memasukan anak ke pesantren. Di akhirat kelak, bukan guru-guru pesantren yang akan ditanya, tapi para orang tua masing-masing. Ayah dan Bunda, sudah siapkah mempertanggungjawabkan tugas pengasuhan ini?
Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi para orang tua dalam mengajarkan anak beribadah yang menyenangkan, antara lain: 1. Tantangan dari dalam diri sendiri dan pasangan Tantangan utama dalam hal ini adalah terkait bagaimana masalah agama ini ditanamkan pada diri Ayah dan Bunda sendiri. Selalu lihatlah ke dalam diri sendiri sebelum menyalahkan lingkungan. Seberapa pentingkah agama dalam hati dan kehidupan kita? Mungkinkah berharap anak yang salih saat kitapun tidak berusaha menjadi orang tua yang salih? Mungkinkah menginginkan anak yang rajin salat sedangkan Ayah dan Bunda tidak salat? Jadilah teladan yang terbaik bagi anak-anak kita terkait ibadah ini. Pelajarilah ilmu agama lebih banyak. Tumbuhkan kesadaran bahwa tujuan utama mendidik anak adalah menjadikan mereka penyembah Allah. Bagi yang sedang dalam proses pencarian pasangan, sepakatilah di awal pernikahan dengan pasangan untuk bersama-sama mendidik anak menjadi hamba Allah jika telah terlahir ke dunia kelak.
Tahukah Ayah dan Bunda, dalam proses pengasuhan ini, penanggung jawab utamanya ternyata adalah Ayah! Keterlibatan ayah untuk membentuk kebiasaan beribadah anak SANGAT PENTING! Anak yang mendapat keterlibatan pengasuhan ayahnya yang baik akan tumbuh memiliki harga diri yang tinggi, prestasi akademik di atas rata-rata, lebih pandai bergaul, dan saat dewasa akan menjadi pribadi yang senang menghibur orang lain. Maka wahai para ayah, kembalilah! Tugas ayah bukanlah sekadar mencari nafkah, namun juga sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak. Jika ayah terlalu sibuk bekerja—dengan alasan untuk kebahagiaan istri dan anak—maka tanyakanlah kembali pada diri: apa yang sebenarnya sedang ayah kejar? Apa yang ayah sebut dengan kebahagiaan anak dan istri tersebut? Tidak takutkah kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah mengenai hal ini?
2. Mengasuh generasi Alfa • Gen Y lahir pada rentang tahun 1980 – 1994. • Gen Z lahir pada rentang tahun 1994 – 2009. • Gen Alfa lahir pada rentang tahun 2010 – 2025. - Mereka hidup dengan internet (belajar, bikin PR, makan olahraga, tidur). - Semua serba cepat, instan, menantang dan menyenangkan. - Mereka terbiasa multiswitching (melalui gadget). - Mereka memiliki tata nilai yang berbeda. Generasi yang akan kita didik saat ini adalah para Alfa. Jika generasi Alfa ini tidak dididik dengan metode yang tepat sesuai zamannya, maka akan sulit memasuki dunia mereka, bukan? Karenanya, Ayah dan Bunda tidak boleh abai dengan tantangan dan perkembangan zaman ya!
3. Beban pelajaran yang berat • 70% anak masuk SD sebelum usia 7 tahun. • 46% anak di sekolah 6 – 7 jam sehari. • 25% sekolah masih memberi materi pelajaran formal setelah jam 12 siang. • 52% guru di sekolah masih memberikan 1 – 2 PR. • 18% anak mengikuti les mata pelajaran setelah pulang sekolah. • 25% anak mengikuti les 2 -3 hari dalam seminggu. • Standar kelulusan Indonesia tertinggi di dunia. Dengan beban pelajaran yang berat bagi anak, kegiatan beribadah seringkali menjadi tidak diutamakan. Para orang tua mendidik anak mereka menjadi orang yang pintar secara akademik, namun hampa secara keimanan. Tanamkanlah tekad dalam diri, “Anakku harus salih dulu, baru pintar”. Jangan salahkan pula jika kemudian anak menjadi mudah emosi karena terlalu lelah di sekolah. Jangan pernah abaikan perasaan mereka. Hindari menasihati mereka saat emosinya sedang tidak baik. Orang tua juga perlu menyelesaikan emosi dengan dirinya sendiri, jangan sampai emosi kita kemudian berimbas kepada anak dan pasangan. 4. Peer Pressure 5. Ancaman dari agama dan kepercayaan lain 6. Perubahan nilai dari masyarakat kita
Mulai dari mana?
Selesaikanlan urusan dengan diri sendiri dan pasangan terkait urusan ibadah ini. Semua kebiasaan beribadah ini bermula dari Ayah dan Bundanya, jadilah role model yang baik dan idola bagi anak kita sendiri. Orang tua juga perlu mengenali keunikan serta tahapan perkembangan otak anak, sehingga metode yang disampaikan dapat sesuai dan tepat sasaran. Kenalkan ibadah pada anak dengan cara yang menyenangkan. Biarlah jika pada awalnya mereka suka sekali bermain air saat berwudhu hingga bajunya basah dan haruss diganti berkali-kali. Biarlah jika gerakan salatnya masih semaunya, suka menarik-narik sajadah, atau menganggu ayah bundanya saat sedang salat. Jangan dimarahi. Biarkan anak senang dan bahagia terlebih dahulu dengan praktik ibadah ini. Masukan target “bahagia” dalam proses pengasuhan anak. Mendidik anak memang harus disertai kesabaran yang tanpa batas. Tidak apa-apa, didiklah anak dengan cinta karena Allah semata. Jika anak senang beribadah, ia akan mau beribadah, kemudian menjadi bisa beribadah, dan terakhir menjadi terbiasa beribadah tanpa harus disuruh dan merasa dipaksa.
Untuk mengajari anak ibadah yang menyenangkan diperlukan niat baik, kejujuran, keterbukaan, serta kerjasama yang baik dari kedua orang tuanya, tidak bisa hanya salah satunya saja. Setelahnya, kombinasikan semua tekad itu dengan mengenali kepribadian anak, sesuaikan dengan cara kerja otak, bakat, serta seluruh kemampuan anak. Setiap anak kita adalah unik, otak anak baru berhubungan sempurna ketika berusia 7 tahun, sedangkan hubungan anatara sistem limbik dan corteks cerebri di otak baru sempurna pada usia 19-21 tahun. Butuh sekitar 20 tahun bagi orang tua untuk mendidik anak dengan baik, maka bersabar dan bersungguh-sungguhlah, karena Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh. Jangan menuntut anak untuk dewasa sebelum waktunya. Anak perlu menjadi anak untuk dapat menjadi orang dewasa, hilangnya masa kanak-kanak akan mengakibatkan masyarakat yang kekanak-kanakan. Bantulah anak-anak kita untuki mekar sesuai dengan usia dan kemampuan serta keunikannya. Ayah dan Bunda harus membuat kesepakatan dan kerjasama di awal, siapa pengambil keputusan dalam hal A dan B, buat perencanaan-pelaksanaan-evaluasi, buat target per anak, pembagian kerjasama, kontrol, dan selalu bermusyawarah dalam setiap keputusan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Ubah paradigma dan cara pandang kita, bahwa anak bukan saja harus bisa beribadah, namun juga suka beribadah.
Landasan Psikologis Anak
Anak Usia 5 – 8 tahun Ibadah untuk anak usia ini bukanlah suatu kewajiban, tapi perkenalan, latihan, dan pembiasaan. Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak untuk beribadah, namun ada kewajiban syar’i bagi orang tua untuk membentuk kebiasaan anak dengan cara yang menyenangkan. Didiklah anak dengan modal, misalnya belikan mukena yang disukai anak, membelikan baju koko baru agar anak rajin ke masjid, dan lain sebagainya. Jangan ragu mengeluarkan modal untuk keperluan beribadah kepada Allah swt. Jangan juga hilang kegembiraan anak usia 5 -8 tahun, masuki dunia anak dengan metode 3B: Bercerita/Berkisah, Bermain, dan Bernyanyi. Landasan Psikologis Anak Usia 5 – 8 tahun: • Mudah dibentuk. • Daya ingat yang kuat. • “Dunianya” terbatas. • Meniru: orang tua/ situasi. • Rasa persaudaraan sedunia.
Landasan Psikologis Anak Usia 9 – 14 tahun: • Otak sudah sempurna berhubungan. • Umumnya: Mukallaf. • Emosi sering kacau. • Tugas sekolah semakin berat (ditambah les). • Banyak aktivitas, termasuk bermain internet dan games. • Peer Pressure yang sangat kuat. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: tanggung jawab seorang yang sudah baligh. - Perlakuan dan komunikasi sebagai teman. - Bisa menjadi pendamping/ pembimbing adik-adiknya. - Diberi tanggung jawab sosial: mengantar makanan untuk berbuka puasa, membayar zakat, dan kerja sosial yang mudah sesuai usia. - Ajari anak untuk berwirausaha/ berdagang.
Landasan Psikologis Anak Usia 15 – 20 tahun: • Prefontal Corteks hampir sempurna berhubungan. • Dewasa muda. • Semakin banyak aktivitas, games dan internet. • Mulai mengenal pacaran dan pergaulan bebas. • Orientasi semakin di luar rumah. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: dewasa muda, ajarkan fiqih pernikahan. - Perlakuan dan komunikasi sebagai sesama orang dewasa. - Bisa menjadi motivator dan pembimbing adik-adiknya. - Jadikan ia penggerak/ koordinator kegiatan anak dan remaja masjid/mushala.
Setelah mengetahui landasan psikologis pada rentang umur anak, maka metode pembiasaan beribadah pada anak dapat disesuaikan dengan perkembangan dan cara kerja otaknya. Ayah dan Bunda harus terus belajar untuk bisa menjelaskan pertanyaan “mengapa?” dari anak, jelaskan apa yang saja yang menjadi perintah dan larangan Allah swt., serta manfaat dan ganjaran dari beribadah. Gunakan pendekatan kognitif secara ringkas serta contoh yang kongkrit pada anak, serta selalu gunakan Al-Qur’an dan Hadis sebagai referensi utama,. Teruslah bersabar dalam mendidik anak karena waktu persiapan setiap anak tidaklah sama, proses pengasuhan harus disesuaikan dengan usia, kemampuan, kondisi fisik, dan karakter anak.
Persiapkanlah diri Ayah dan Bunda untuk mengatasi setiap masalah yang terjadi dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Gunakanlah kata-kata yang memahami perasaan anak, lebih banyak mendengar aktif, hindari kata-kata yang menghambat komunikasi dengan anak, serta biasakanlah memberi kesempatan kepada anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan. Jika saat ini anak kita dimanjakan oleh fasilitas: kamar pribadi, rumah yang luas, gadget, serta wifi dan akses internet yang tidak terbatas, jangan lupa ingatkan anak untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya, ingatkan bahwa meski Ayah dan Bunda tidak berada di rumah atau di sekolah, ada Allah yang tetap mengawasi dimanapun mereka berada. Sampaikan tips sukses pada anak yang tidak hanya berupa kemampuan akademik, namun juga berupa salat tepat waktu, sayang pada ibu, puasa Senin dan Kamis, serta mengaji setiap pagi dan sore.
Akhirnya, selamat berjuang! Miliki kekuatan kehendak, bayangkan, dan doakan anak-anak menjadi penyembah Allah yang taat. Semoga Allah karuniakan kita anak-anak yang salih dan salihah.
maasyaaAllah
#parenting
“Darimana datangnya kenyamanan? dari ketenangan, lalu dimana letak ketenangan? letaknya di hati. Kemudian, milik siapa hati kita dan bagaimana cara merawatnya?”
—
#reminder #NtMS
balas dengan doa
pesan ayah, apa pun yang diucapkan oleh orang lain kepada kita, balas dengan doa.
kalau ada orang yang memberikan kebaikan kepada kita, balas dengan doa. doakan agar Allah melipatgandakan pahala kebaikannya.
kalau ada orang yang ngomongin kita karena keadaan kita, balas dengan doa. semoga keadaan yang sama tidak menimpa dirinya sehingga dirinya tidak perlu mengalami yang kita alami.
"kok mukanya jerawatan? jarang cuci muka ya?"
"ya Allah, semoga dia nggak perlu ngalami muka jerawatan."
"kok anaknya kurus banget?"
"ya Allah, semoga dia kalau punya anak, anaknya nggak kurus."
"emangnya nggak sayang apa, udah sekolah malah nggak kerja."
"ya Allah, semoga dia nggak perlu pusing antara bekerja dan menjadi ibu rumah tangga."
"perasaan gajimu banyak. kok habis terus?"
"ya Allah, semoga dia nggak perlu ngalami menanggung beban keluarga besar."
membalas dengan doa, kata ayah, artinya memaafkan. memang sih tidak akan mudah di awal, tapi kalau sudah dipraktikkan, diri sendiri yang menjadi lega. tidak perlu menyimpan rasa kesal, rasa iri, apalagi rasa dendam. lebih dari itu, kita justru mendoakan kebaikan--yang semoga memantul kepada diri kita.
malam ini, kalau masih ada kata-kata siapa pun yang pernah menyakiti hatimu (dan belum kamu maafkan), ayo kirimi dia doa.
untukmu, yang punya jiwa ksatria, terima kasih telah menjaga hatimu dengan memaafkan kata-kata itu. oh ya, jangan lupa melupakannya juga. maafkan dan lupakan.
#reminder #NtMS
Apapun yang kamu ukur akan selalu relatif. Tergantung pembandingmu. Tergantung kamu. Berlomba untuk sesuatu yang relatif, akan sangat amat melelahkan. Dan gila. Akan selalu ada yang lebih hebat. Akan ada langit di atas langit. Terlebih, tiap kepala punya pembanding yang berbeda. Jiwa yang arif tidak akan mengukur-ukur dirinya dengan pembanding yang nisbi. Tiap orang punya cerita dan medan juang masing-masing. Maka kamu tidak perlu berlomba dengan siapapun. Kamu hanya perlu mengalahkan diri sendiri.
@dwiyosha
Saat Hidup Bersamanya
Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu harus mengapresiasi kelebihannya sekaligus menerima setiap kekurangannya. Tetapi, tak cukup sampai di sana. Kamu dan dirinya harus berkomitmen untuk terus bertumbuh, agar hidup tak jua menyentuh titik jenuh.
Genggam tangannya, berjalanlah bersama dan nikmati aneka petualangan baru yang menanti. Tataplah masa depan dengan mata yang menyala dan tetaplah berbaik sangka atas setiap kepastian-Nya.
Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu harus ingat bahwa menyampaikan kebaikan di waktu yang tidak tepat itu tidak baik. Ada waktu ketika yang dibutuhkan teman hidupmu hanyalah telinga untuk mendengar dan bahu untuk bersandar. Ada waktu ketika yang dibutuhkan teman hidupmu hanyalah ruang untuk merenung dan menangis sendiri.
Hidup ini penuh dengan ketidaksempurnaan, sebab itu butuh banyak pemakluman.
Ketika hidup bersama dengan seseorang, kamu bukan cuma harus memahami kata-katanya saat bicara. Kamu juga perlu mengerti arti diamnya. Kadang, ada pesan-pesan penting yang disampaikan justru dengan diam.
Tak selamanya luka berdarah, tak selamanya tangis berair mata. Bersikaplah lebih peka.
Ketika hidup bersama dengan seseorang, setiap masalah yang hadir adalah sarana untuk saling menguatkan. Setiap takdir yang mampir adalah kesempatan untuk mencipta kenangan yang berkesan. Kelak setelah menua, momen-momen itu ‘kan jadi alasan untuk terus bersama. Atau semacam pengingat, betapa hidupmu akan berbeda jika dilalui tanpanya.
Hidup bersama dengan seseorang sepatutnya saling meringankan, bukan saling memberi beban. Hidup bersama dengan seseorang sepatutnya menambah motivasi untuk berjuang, bukan membuatmu jadi bermalas-malasan dan doyan rebahan.
Hidup bersama dengan seseorang akan menuntutmu untuk terus menerus memberi. Namun, jika ada cinta di dalamnya, setiap kerja keras adalah pengorbanan yang membahagiakan. Dan setiap luka yang tercipta selalu bisa ditertawakan.
~
Saat Hidup Bersama dalam buku yang terjadi terjadilah
Ada apa dengan timeline tumblr kok banyak begininya dah lama ga aku buka :"3
Dalam lingkaran waktu yang membawa langkah kita semakin mendekat, meski kita saling tak menyadari, saling tak tahu.
Tiada keyakinan sebenar-benarnya yakin jika tak di tengadahkan dalam pinta. Tak mengapa, karena kita hanyalah manusia yang kuasa hati kita ada dalam jemari-jemariNya.
Nanti, telapak tangan akan menyatu, jemari saling bertautan. Genggam aku dalam syukur. Genggam aku lebih erat untuk sabar dalam badai.
Nanti, kita akan terus melangkah di jalan yang sama. Sesekali mengikuti, sesekali beriringan. Tak lagi risau tentang penghuni hati, karena jiwa kita sudah lebih dulu terpaut. Bunga-bunga di tepi jalan atau emas dan hiasan disekeliling tak akan mampu mengalihkan pandangan. Karena jalan yang kita pilih adalah jalan menuju-Nya. Jalan yang berlimpah pertolongan, hidayah, rahmat, dan diridhoNya. Hingga nanti langkah kita terhenti, entah aku dahulu, atau kamu dahulu. Berharapnya kita tidak saling mendahului. Bersama-sama, membawa genggam di akhir yang sama.
Hingga akhirnya, cinta kita akan berakhir di saat tidak ada akhir.
Seperti yang selalu kita bicarakan sebelum malam semakin larut. Senantiasa kita pinta di sepanjang jalan.
cinta kita kan berakhir di saat tidak ada akhir
:")