Roller Coaster Perjuangan Menghadapi Covid-19
Izinkan aku bercerita mengenai perjuanganku dan keluarga dalam melewati ujian covid-19 yang menimpa keluarga kami beberapa waktu terakhir. Mengingat sewaktu masa-masa sulit itu, sejujurnya aku bingung mencari informasi mengenai gejala atau symptom atau apapun yang bisa menenangkan pikiranku. Ntah karena terlalu banyak berita atau informasi yang beredar ataupun terlalu sedikit informasi mana yang memang benar. Semoga tulisanku ini bisa sedikit banyak memberikan informasi mengenai gejala covid-19 dan penanganannya.
Awal mulanya, ibuku yang sakit dulu. Beliau demam, batuk, pilek, sudah hampir seminggu tapi tak kunjung sembuh. Sudah berobat warung saja tetapi tidak ada perubahan. Kami mendesak agar ibuku tes swab antigen tetapi Beliau tidak mau. Akhirnya karena seminggu tidak kunjung sembuh, aku yang posisi di Surabaya ingin pulang dengan niat membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan menjaga adikku yang paling kecil yang sangat hiperaktif. Niatnya agar semua pekerjaan rumah bisa aku handle sehingga ibuku bisa lebih fokus istirahat dan sembuh dengan cepat. Waktu itu aku tetap memaksa ibuku untuk berobat ke dokter, dan alhamdulillah Beliau mau periksa sewaktu aku pulang.
Waktu itu, aku taat sekali prokes, sebelum pulang aku sudah sempatkan untuk tes Swab dan alhamdulillah hasilnya negatif. Maka aku beranikan diri untuk pulang dengan catatan sewaktu sampai rumah aku langsung bergegas ganti baju kemudian mandi dan keramas dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sebegitu takutnya kami kalau aku membawa virus dari Surabaya. Mengingat saat ini juga ada varian virus corona yang baru yakni delta yang penularannya sangat cepat dan gejalanya lebih kompleks.
Setelah itu, dua hari kemudian ayahku sakit. Memang saat itu ayahku sedikit meremehkan virus covid-19, meskipun sudah taat prokes pakai masker dll tapi ayahku termasuk orang yang masih keluyuran kemana-mana. Saat ibuku sakit, ayahku bercerita bahwa Beliau pulang takziah dari salah satu kerabat yang meninggal. Waktu itu belum jelas kenapa meninggalnya, tetapi kabar simpang siur menyebutkan bahwa kerabat tersebut terkena covid-19 tetapi banyak yang menyangkal. Ntahlah.
Tak lama, adikku Fatich juga ikut sakit. Lengkap sudah sekeluarga sakit semua. Tersisa aku dan adikku yang paling kecil Fahri yang saat itu “masih” sehat. Aku ambil alih semua pekerjaan rumah sembari ibuku mengingatkan agar aku tidak capek-capek karena imun harus kuat. Waktu itu aku sempat mau berpuasa tetapi dilarang oleh kedua orang tuaku karena harus menjaga imun.
Esok harinya, aku mengantar ibuku berobat ke dokter, alhamdulillah kondisi ibuku membaik dan dokter tidak menyarankan ibuku untuk tes swab karena tidak ada indikasi ke arah covid-19. Ibuku tetap diberi obat-obatan untuk meringankan gejala seperti demam, pilek, dan ditambah vitamin C maupun suplemen makanan.
Tetapi, mungkin karena aku kecapekan mengurus semua keluarga yang sakit, di saat ibuku sudah mulai sembuh, gentian aku yang drop dan demam tinggi malam harinya. Gejala yang aku rasakan pertama kali adalah demam yang sangat tinggi sampai rasanya telapak kakiku melayang. Kepala rasanya berat dan pusing. Belum pernah aku merasakan demam yang seperti ini. Biasanya kalau aku terkena influenza, demamnya masih bisa ku atasi dengan cara makan yang banyak, minum vitamin C, kemudian istirahat total semalaman, tanpa obat apapun keesokan harinya pasti sudah enakan. Tetapi demam yang ku rasakan kali ini berbeda.
Tubuh sangat lemas dan aku hanya bisa tiduran. Waktu itu sore hari mulai demam. Dada terasa sesak dan kepala sangat nyeri. Malamnya aku tidak minum obat padahal demam tinggi. Aku hanya makan banyak dan istirahat total. Tetapi, dini hari sekitar jam 2 pagi, suhu tubuh terasa sangat tinggi. Karena aku sudah tidak kuat, aku bangun kemudian minum obat penurun demam punya ibuku. Alhamdulillah demamnya turun tetapi saat obatnya habis, tubuhku kembali demam.
Akhirnya keesokan harinya aku diantar oleh ibuku untuk berobat ke dokter dekat rumah. Dokter sama sekali tidak menyuruhku untuk tes swab. Hanya diberi obat-obatan penurun demam, batuk, pilek, dan antibiotik. Sehari setelah minum obat2 tsb, tubuhku kembali terasa bugar. Aku mengira sudah sembuh. Aku bisa membantu ibuku merawat ayah dan adik-adik.
Kondisiku sudah jauh lebih baik hanya dengan waktu 1-2 hari. Jadi dapat disimpulkan bahwa awal gejala covid-19 adalah demam tinggi.
Kondisi ibu dan aku sudah membaik. Tapi tidak dengan adik dan ayahku. Kami sangat khawatir karena ayahku punya komorbid diabetes. Ayah menjadi tidak mau makan dan muntah-muntah. Akhirnya kami memutuskan untuk merawat ayahku di rumah sakit saja biar bisa diinfus untuk mengganti asupan nutrisi selain makan. Ibuku meminta surat rujukan ke puskesmas sebelum ke rumah sakit. Ternyata, dokter tidak semudah itu memberi surat rujukan. Ayahku dipanggil untuk diperiksa, kemudian Beliau menyuruh ayahku untuk tes swab. Hasilnya ayahku positif covid-19. Ayahku langsung isolasi mandiri di rumah. Kami sekeluarga pun dijadwalkan untuk tes swab hari senin.
Mengetahui kabar bahwa ayahku positif, tiba-tiba kondisiku yang awal mulanya sudah enakan menjadi sakit lagi. Tubuhku drop lagi meskipun sudah diberi obat. Gejala setelah demam turun adalah sakit kepala, batuk kering seakan-akan ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam dada, pilek, lemas, dan pusing. Tubuh hanya bisa tiduran sepanjang hari. Adikku Fatich juga batuk sedangkan adikku Fahri sedikit demam saja di pagi harinya. Sedangkan ibuku sudah kembali sehat.
Meninggalkan ayahku sendirian isolasi di rumah, kami berempat ke puskesmas untuk tes swab. Hasilnya semua positif kecuali ibuku. Beban mental sekali mengetahui kami sekeluarga positif. Sejujurnya kami takut akan omongan tetangga, takut dikucilkan dan dijauhi, dan pikiran-pikiran negatif lainnya. Ibuku tidak mau meninggalkan kami karena takut tidak ada yang merawat kami. Ibuku terpaksa harus serumah dengan kami berempat yang positif covid-19.
Untuk mempersingkat cerita, izinkan aku menjelaskan gejala covid-19 dari hari 1 sampai hari 14 yang ku rasakan. Gejala ini bisa saja berbeda antar tiap orang mengingat kondisi tubuh, imun, dan penyakit penyerta lainnya. Karena gejalaku dengan gejala adik maupun ayahku berbeda-beda. Intinya kurang lebih seperti ini…
Hari 1: demam tinggi disertai pusing dan nyeri kepala. Badan lemas dan sakit tenggorokan
Hari 2: demam turun setelah diberi obat, badan seakan-akan sudah sembuh
Hari 3: batuk kering, pilek, tetapi demam sudah turun
Hari 4: demam sudah hilang tetapi batuk semakin berat. Saat batuk, dada terasa ikut sakit seolah-olah ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam paru-paru. Terkadang waktu batuk, kepala ikut sakit
Hari 5: indra penciuman hilang. Tidak bisa membau apapun. Inilah anosmia. Gejala yang paling identik saat terkena virus covid-19
Hari 6-7: gejala masih sama dengan hari 4-5
Hari 8: masih batuk, pilek, badan sedikit demam lagi dan sakit tenggorokan. Tidur harus diganjal bantal yang tinggi supaya masih bisa bernafas. Jika dibandingkan dengan flu biasa, ingus pilek akibat covid-19 ini lebih encer di luar tetapi berat di dalam hidung
Hari 9-13: masih batuk tetapi intensitasnya berkurang. Sejauh yang aku tau, anosmia tidak akan hilang kalau kita masih pilek
Hari 14: aku minum obat pilek alhamdulillah pileknya hilang sedikit2, dan indra penciumanku sudah kembali. Tetapi perlu dilatih terus menerus. Setiap hari membau minyak kayu putih. Terkadang air panas dicampur minyak kayu putih kemudian uapnya dihirup. Kadang juga air panas dicampur garam kemudian uapnya dihirup. Semua hal dilakukan minimal 2x sehari. Tidak lupa untuk selalu berjemur setiap hari di jam 10 ke atas. Usahakan minimal 30 menit. Kemarin setelah berjemur badan selalu lebih enakan daripada kondisi sebelumnya. Jangan lupa tetap pakai masker saat berjemur. (edit: ternyata saran berjemur menurut dokter spesialis paru adalah maksimal 15 menit, lebih dari itu tidak baik untuk kesehatan kulit. Sebaiknya berjemur dilakukan antara jam 10-12 siang dengan posisi punggung terkena sinar matahari langsung)
Pada pengalamanku, alhamdulillah indra perasaku tidak hilang. Jadi hanya anosmia saja. Tetapi dari semua gejala yang dirasakan ayah dan adikku, hanya batukku yang sedikit lebih lama dari yang lain. Hingga hari ke 14 aku tetap batuk dan sedikit pilek, tetapi pelan-pelan anosmiaku sudah sembuh dengan perlahan.
Kesimpulan: kunci untuk mempercepat kesembuhan dari covid-19 adalah pikiran yang positif, semangat sembuh, lawan covid dengan banyak makan, minum suplemen makanan dan vitamin setiap hari, karena memang tidak ada obat untuk covid19, hanya bergantung pada imun masing-masing. Obat-obatan yang diberikan hanya sebatas menurunkan gejala sampingan seperti demam dan batuk pilek, tetapi tidak langsung menghilangkan virus covid itu sendiri. Antibodi tubuh masing-masing lah yang dapat melawan virus covid-19. Itulah mengapa pentingnya ikut vaksin agar tubuh sudah mengenali makhluk asing yang masuk ke dalam tubuh sehingga sudah siap dan membentuk antibodi lebih awal. Aku sendiri waktu itu sudah vaksin dosis pertama, baru kemudian terpapar covid19. Ayahku sudah vaksin dosis lengkap. Alhamdulillah ayahku masih diberi keselamatan oleh Allah SWT mengingat ayahku punya diabetes (dan sejauh yang aku tau, banyak penderita covid19 dan diabetes yang tidak bisa sembuh). Adikku keduanya belum pernah ikut vaksin tetapi alhamdulillah karena mungkin masih muda jadi kekebalan imunnya masih tinggi. Intinya, menurutku vaksin bisa sedikit menguatkan imun tubuh.
Sekian cerita dariku. Terima kasih ya Allah, Engkau masih memberikan karuniaMu pada keluarga kami sehingga kami sekeluarga berhasil melewati ujian ini. Ucapan terima kasih terspesial juga untuk keluarga besar, kerabat, teman-teman yang turut mendoakan dan mensupport kami.
Pesanku tetap jaga prokes, jangan lengah, usahakan selalu hidup sehat dan makan makanan yang bergizi. Pikiran harus positif. Ingat covid-19 bukanlah aib tetapi ujian yang harus kita menangkan! Stay safe semuanya, semoga kalian sehat-sehat dimanapun kalian berada.