Antara nyata dan sosial media.
Suatu hari kamu bertanya padaku; mengapa kita seringkali sukar untuk merasa bersyukur dan merasa lebih haus ingin mencicipi dan mendamba apa yang tidak kita miliki?...
Perjalanan hidup ini, sering menjadikan kita tergesa-gesa ingin segera mendapatkan ini dan itu. Baik dalam soal keberhasilan, kemampuan, materi dan sebagainya.
Perjalanan hidup ini pun, sering pula menjadikan kita memilih ingin melambat menikmati makna dalam deru waktu yang terus berlalu. Menjadi diri sendiri yang lapang hati nya dan dijauhkan dari rasa iri. Meskipun pilihan ini, sukar sekali diterapkan.
Soal pertanyaanmu hari itu, sudah ku selami diriku berkali-kali, mencari cermin kejujuran yang seringkali dibalut oleh egoku sendiri.
"Mungkin karena kita terlalu banyak melihat sosmed."
Aku menjawab pertanyaanmu, bayangkan saja di zaman dahulu segala hal tidak bergerak secepat hari ini. Tanpa kita sadari scroll sosmed itu dapat melelahkan padahal hanya 5 menit menatap layar. Tanpa kita sadari permukaan-permukaan kehidupan orang lain yang tampak memukau di sosmed, menjadikan kita membandingkan kehidupan kita dengan apa yang kita lihat.
Kehidupan yang mungkin dulu amat kita syukuri meski biasa saja. Tetapi kini terasa hambar. Terasa menggelisahkan. Kita mulai lebih banyak mengeluh daripada bersyukur. Kita mulai kesulitan memaknai detik dan rutinitas harian yang mungkin tidak wah dengan apa yang kita lihat di sosmed.
Kehidupan yang dulu amat terasa nyata, kini hanya sedikit waktu yang tersisa untuk bercakap di dunia nyata, karena kita dibuat sibuk melihat apa yang hanya sebatas maya.
Aku sudah merasakan kegelisahan itu sejak lama, bahwa ujian di masa kini tidak selalu berupa hal-hal yang memilukan, tapi di bungkus oleh kado manis yang tanpa sadar menjadi racun untuk pikiran dan jiwa.
Ada benarnya untuk mengurangi apa yang kita lihat, memfilter sosmed hanya untuk hal-hal yang menenangkan hati dan menambah manfaat positif bagi kehidupan. Ada benarnya pula, memilih untuk menepi dan mengambil jeda, jika itu dirasa lebih melapangkan dada dalam menikmati kehidupan nyata.
Penutup, 28 Juli 2024 17.49 wita