Kalo kamu mau sama aku, aku harus dapet seluruhmu. Cerita, keluh kesah, bahagia, sedih, jengkel, semua sama sama. Ngga boleh ada yang di hide.
Aku ngga suka kebersamaan yang ada rahasianya
wallacepolsom
i don't do bad sauce passes
Peter Solarz
Mike Driver

Kaledo Art

pixel skylines

titsay
dirt enthusiast
$LAYYYTER
RMH
TVSTRANGERTHINGS
🪼

izzy's playlists!
occasionally subtle

Kiana Khansmith
Show & Tell
Jules of Nature
trying on a metaphor

roma★
Stranger Things
seen from China

seen from Finland

seen from United States
seen from Italy

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Sweden

seen from United Kingdom
seen from Singapore
seen from Malaysia
seen from France
seen from United States
seen from Finland
seen from Malaysia

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from Philippines

seen from United Kingdom
@foolsparadise11
Kalo kamu mau sama aku, aku harus dapet seluruhmu. Cerita, keluh kesah, bahagia, sedih, jengkel, semua sama sama. Ngga boleh ada yang di hide.
Aku ngga suka kebersamaan yang ada rahasianya
22 JUNI 2019
Terngiang jelas diingatan gue tentang hari itu. Hari yang menyebabkan gue kecewa, sedih, kesal dan segala rasa perasaan bercampur aduk didalam hati. Ini bukan tentang kisah patah hati, melainkan kekecewaan pada diri sendiri yang tak mampu bersaing serta memiliki kelakuan yang sangat ceroboh. Hari itu gue menjalani Test Beasiswa Tertulis Djarum(Tahap 2). Beasiswa ini sangat gue idam-idamkan semenjak gue diceritain sahabat gue tentang kakak nya yang mendapatkan juga Beasiswa Djarum(Biasanya disingkat jadi Beswan Djarum) ini. Awalnya sih ga terlalu peduli. Gue anggap sama seperti Beasiswa Lainnya, tapi setelah dipikir-pikirkan lagi. Ternyata Beasiswa ini yang sangat gue inginkan karena disana terdapat pelatihan soft skill serta bisa berkeliling Indonesia bahkan Dunia sekaligus. Gue rela ngikutin banyak organisasi sampai-sampai kerepotan untuk menghandle waktunya, itu semua demi jadi beswan djarum pada waktu itu. STOP Rozaaq, sadarrrr. sekarang itu semua tinggal angan-angan😭😭😭
Yang Gue incar di pelatihan itu sebenar-benarrr yang paling benaaarrnya adalah relasi. Karena gue mencoba untuk mengunggulkan diri gue ke kemampuan Leadership bertipe "NETWORKING". Gue telah mempelajari sedikit Ilmu Leadership. Di dalam Ilmu Leadership ada banyak jenis nya pula, yaitu Networking salah satu diantaranya yang berfokus pada relasi.
Oke, kembali lagi ke Beswan Djarum. Gue berniat untuk menjadikan Beswan Djarum sebagai batu loncatan untuk mempelajari Ilmu Networking tadi. Ehhhh ternyata, Batu itu sangatlah licin sehingga gue pun tergelincir ato dalam artian Gue GAGAL gue gak lolos, untuk ke tahap selanjutnya. Gua memang sangat berharap pada Beasiswa ini(Beasiswa lain juga berharap sih tapi tidak sebesar harapan ini kepadamu beswan djarum). Untuk masuk ke tahap Interview(Tahap 3) pun gue gak lolos. Ternyata, Oh Ternyataaaa gue tau penyebabnya.Test psikologi itu terdiri dari wartegg test, gambar orang, dan gambar pohon. Ketika test psikologi itu, gue sedikit panik soalnya gue gak bisa ngegambar. Jadi ketika gambar, wartegg test itu sudah selesai, gue lanjutin ke gambar orang lalu tinggal gue berikan deskripsi lagi tentang orang yang gue gambar tersebut. ehhh tiba-tiba ada pengumuman oleh instruktur di depan, disuruh ngerapiin ketiga kertas gambar tadi agar di staples oleh panitia yang datang ke meja-meja peserta. Disinilah panik gue makin naik, ketika panitia nyamperin meja gue; gue lagi buat deskripsi gambar orang yang gue gambar. gue ingat jelas bahwa gue baru bikin nama nya saja yaitu "Rafly", lalu pekerjaan dsb nya itu belum di bikin. Mbak nya sudah nunggu kan, Lalu saya berikan saja ketiga kertas tersebut agar distapleskan oleh mba panitianya. Ketika sudah di stapleskan, eehhh gue langsung ngegambar pohon. Gue lupa kalo deskripsi itu belum selesai. Kok bisa sih gue seceroboh itu, sampe lupa bikin deskripsi gambar. Padahal kan yaaa disanalah yang paling penting penilaian test psikologi nya T_T Gue lanjutin aja ngegambar pohon kan tanpa tau kalo deskripsi orang tadi belum selesai. Selesai gue ngegambar pohon nya pun, gua lupa bikin nama pohon nya T____T Kecerobohan ini dilakukan 2 kali sekaligus. DISINI LAH GUE SANGAT KESAL PADA DIRI GUE SENDIRI.
Gue SADAR Akan kecerobohan gue ketika gue lagi di warung makan "DARU" dan Serentak hati ini langsung down. Ternyata benar prasangka gue, gue gak lolos. Berakhirlah cerita ini dengan SAD ENDING.
NOTE : Ketika Test tertulis, semua peserta diberikan Buku BIRU Djarum serta Penanya juga. GUA BAKAL BUKU INI UNTUK NOTE SEHARI-HARI AGAR KEKECEWAAN ITU TETAP MELEKAT. SEHINGGA MEMBUAT GUA SEMAKIN DENDAM. DENDAM NYA POSITIF YA LOHHH Thank you sudah membaca
-ARA
Kecemasan-kecemasan ini datang, karna kamu terlalu memikirkan apa-apa yang belum tentu menimpamu.
Kejadian-Kejadian Kemarin
Ternyata, kemarin-kemarin kita terlalu polos (atau mungkin terlalu bodoh) karena mengira kalau kita memiliki perasaan yang sama, kemudian mau memperjuangkannya, kita pasti akan bisa bersama-sama. Merangkai sebuah cerita yang indah serupa bayangan kita selama ini.
Dan karena kebodohan itu, kita lupa untuk mengerti bahwa takdir itu tidak bergerak mengalir seiring perasaan manusia. Kita lupa untuk bersiap, bahwa apapun bisa terjadi. Sayangnya, waktu itu kita masih terlalu muda untuk mengaku dewasa, dan terlalu dewasa untuk melakukan kesalahan yang sangat mudah diantisipasi.
Bertahun-tahun kemudian, kita baru bisa belajar, baru menyadari semua hal yang dulu dengan polosnya ingin kita perjuangkan. Seakan-akan kita hendak melawan api, tapi dengan tangan kosong. Seakan-akan kita akan mengarungi samudera, tapi dengan modal bisa renang tanpa punya kapal sama sekali, tak punya kemampuan membaca arah.
Kita terlalu muda dan terlalu bersemangat untuk mewujudkan kebaikan, sayangnya kita memperjuangkannya dengan cara-cara yang justru jauh dari kebaikan.
Kini kita bisa menertawakan diri kita sendiri atas kebodohan kita kemarin, meski kita akhirnya tidak lagi sama-sama. Nyatanya, apa yang terjadi diantara kita mengajarkan kita lebih banyak dan lebih berguna untuk hari ini.
Kita banyak sekali melakukan hal seperti ini, dalam banyak kejadian kan?
©kurniawangunadi | 2 Mei 2019
Huhuhu
Perasaan Laki-Laki
Tidak mudah untuk mengetahui bagaimana sebenarnya perasaan laki-laki saat ia merasakan cinta. Yang tahu, tentu hanya Tuhan dan dirinya sendiri.
Kamu mungkin bisa menemukan dan membaca tulisannya yang berserakan, juga mengenal wawasannya lewat beberapa obrolan. Tapi untuk urusan perasaan, sebagian laki-laki memilih untuk diam terlebih dahulu, tidak membagikannya pada siapapun dengan mudahnya. Memilih untuk berhati-hati diawal, membaca berbagai macam pertanda, sambil mengenali dan memastikan perasaannya sendiri.
Sulit bagi laki-laki pada umumnya untuk diminta untuk setia tanpa melalui komitmen apa-apa. Apalagi hanya lewat janji lisan dan kesepakatan biasa yang bisa menguap dalam sekejap.
Kalau kamu ingin tahu seperti apa bentuk cinta laki-laki yang sebenarnya, itu ada pada ayahmu. Yang cintanya tidak perlu lagi kamu ragu, yang tidak perlu lagi kamu pertanyakan lagi seberapa besar kesungguhannya. Karena janjinya pada dirinya sendiri yang tidak pernah kamu tahu, sudah diwujudkan seluruhnya lewat tanggungjawabnya.
Kamu akan tahu bagaimana sebenarnya perasaan laki-laki jika sudah jatuh cinta, tidak perlu sibuk menebak-nebak, ia akan datang jika memang sudah sampai waktunya. Entah datangnya itu untukmu, atau mungkin yang lain.
Surabaya, Tengah April | Danny Dzul Fikri
* Tulisan dan kutipan lainnya bisa kalian tap di link ini : Tulisan - Kutipan
Kemarin 2 hari yang lalu, gua sempet shock. Dan sekarang gua menjadikan itu sebagai the reason.
Ceritanya gua mau pulang ke rmh pakek motor. Ngeeeeng ngeng ngeeenngg. Dahhh sampe rumah kan. Trus gua standar-in tuh motor. Bergegas turun dan jalan ke dalam rumah. Tepat di depan rumah, gue ngeliat spanduk bertuliskan "Di jual rumah, ruko, tanah, dan bedengan 9 pintu segera. Harap hubungi 08********"
Guaaa kaget kan ngeliat nya. Dalam hati gua ngomong "haaaaahhh, papa mau jual rumah ? Segitunya susahnya papa cari uang gara suatu masalah di waktu lampau yang merembes sampai sekarang"
Guapun masuk kerumah kann. Gua ngeliat ada mama lagi duduk di ruang keluarga. Gua gak berani nanya sama mama, jadi gua lebih memilih duduk diruang tamu sambil mikirin tulisan tadi. "Apa bener sih papa mau jual rumah ?" truss untuk mastiin gue coba itungin deh jumlah kost-kostan di belakang rumah. Dan ternyataaa, jumlah nya sembilannnn😭😭😭. Gua semakin yakin jadinya kalo yang dijual itu rumah ini dan ruko di depan huhuhuhu😭
Sedih, kepikiran trs, sedih juga liat papa. Didalam diam ternyata susah. Gua jadi merasa bersalah, yang kerjaannya males-malesan, suka minta uang(tapi jarang juga), ketika diperintah papa sering nunda-nunda muluuu bahkan pernah nggak dijalanin perintah nya karna lupa😭 maafkanku papa
Sekarang gua mencoba ikhlas kalo rumah ini memang akan dijual, rumah ini sangat berharga, setiap pojok ada kenangannya, dari lahir berada dirumah ini u,u. jadi gua mencoba bangeeett untuk ikhlas huhuhu
Tapi tadi siang gua liat spanduknya udah dicopot, alhasil gua senang. Tapi gua juga sedih, ngeliat papa kesusahan
Jadi hari ini dan seterusnya gua berusaha untuk jadi anak yang rajin, nggak pengen nyusahin ortu (doa-in yaaa aamiin)
Bersambung .....
Hidup adalah tempatnya “Ketidakpastian”
Itulah kalimat yang nyata menurut saya, jika ada yang tidak setuju mungkin kita hanya berbeda dalam cara berpikir. Jadi tak perlu khawatir jika tak setuju. Saya hanya akan berbagi apa yang menurut saya tidak pasti dalam hidup yang saya jalani saat ini.
Pertama, tentang masa muda
Usiaku saat ini 23 tahun, dan masih menjadi pengangguran yang waktunya dihabiskan untuk jalan-jalan, maenin instagram hampir 2 - 3 jam, makan, tidur, mandi, baca buku, belajar nulis, sholat dan seterusnya.
Jika ditanya kenapa belum bekerja? Jawabannya belum diterima, belum rezeki, belum cocok, belum kepepet juga kayanya. tapi itu juga jawaban paling realistis dan jawaban penolong saat tak kunjung mendapatkan pekerjaan karena banyaknya pesaing, minimnya pengalaman dan kurangnya skill yang mendukung. Lalu pertanyaan selanjutnya kenapa tidak coba membekali diri dan memperkaya ilmu dengan mengasah kemampuan baru. IYAAAA!!! Itu benar!! harusnya saya memperkaya diri dengan hal-hal baru. Jadi mulailah saya untuk mempersiapkan segalanya dan semuanya mulai dari saat ini.
Saya mulai menyiapkan semuanya karena saya tau hari esok tidak akan pasti, besok masih akan terus berubah, saya hanya terus berusaha dan perlu untuk bersiap dan bersiap. Sejak membuka mata di awal pagi saya tidak pernah tahu kepastian apa yang terjadi pada malam harinya saat saya hendak menutup mata.
Kedua, Tentang orang yang Kita sayangi
Saya pernah sangat mengantungkan hidup pada seseorang, hingga hal paling membahagiakan yang saya terus lakukan adalah selalu ada untuknya, meski keadaannya telah berubah. Namun pada suatu saat ternyata rasa sayang dan peduli yang tidak memperdulikan apapun memperlihatkan sebuah kepastian bahwa orang yang saya sayang sudah berubah dan perlahan melupakan. Kepastian yang saya dapatkan adalah saya telah dilupakan, dan ketidakpastian yang saya miliki adalah saya tidak tahu kapan bisa melakukan hal yang sama yaitu melupakan.
Ketiga, Keseharian dalam Hidup
Rasa lapar, menunggu orang, terjebak di kemacetan, sakit dan sehat semua adalah ketidakpastian. Manusia yang hidupnya kekurangan pasti sedang berusaha agar dia bisa memastikan dia dan keluarganya bisa makan untuk hari ini.
Kita yang sedang menunggu seseorang pasti begitu berharap yang kita tunggu benar datang tanpa kita tahu, kapan ia akan datang, bahkan pukul berapa pun tidak kita tahu pastinya.
Warga Jakarta adalah korban ketidakpastian paling terbanyak sepertinya, bagaimana tidak setiap hari mereka perlu berjuang melewati kemacetan. Hingga tidak tahu Jam berapa mereka akan sampai tepat waktu dirumah. mereka kadang melewati jam makan malam dengan keluarga, sampai ke acara pun kadang saat orang sudah bubar.
Orang - orang berusaha merawat diri, rutin olahraga, pola makan sehat tidak menjamin besok ia masih bernapas ataukah tidak. Bisa saja ia dipanggil bukan karena sakit melainkan karena kecelakaan yang tak pernah terpikirkan.
Tetapi disinilah letak makna kehidupan dan manusia, hanya berjarak antara kepastian dan ketidakpastian..
dari ketidakpastian manusia belajar merasa cemas dan khawatir, manusia menjadi takut dan penuh harapan, anak muda seperti saya bahkan jika yang telah memilki pekerjaan, telah memiliki pasangan, punya banyak tabungan, tidak menjamin mereka untuk tidak cemas dan tidak takut menghadapi ketidakpastian.
Jika hidup ini pasti, manusia tidak akan pernah berteman dengan ragu, jika hidup ini penuh kepastian, kenapa manusia membuat banyak rencana dan persiapan akan masa depannya, kita seakan takut menjadi gagal di masa depan karena ketidakpastian.
Manusia akan sangat sulit berhenti cemas akan ketidakpastian dalam hidup mereka, karena bukan bagian manusia untuk bisa memastikan kehidupan ini.
Kita hanyalah bagian dari rasa takut, cemas, kebingungan, khawatir dan ragu.
Tapi, jangan lupa dengan hadirnya “KEYAKINAN”, sebuah bagian dari diri manusia yang kadang dilupakan, dengan bagian ini kita dibantu untuk mendapatkan kepastian dan melewati segala rasa cemas dan khawatir. dengan keyakinan kita diajarkan untuk yakin dengan apa yang kita hadapi, keyakinan karena kita punya Tuhan. Dengan keyakinan manusia belajar berpikir besar, dan kemudian mempersiapkan hal-hal besar. Menyiapkan diri, menyiapkan mental, menyiapkan hati untuk menerima segala yang tidak pasti dalam hidup.
LR, 20 February 19
Bandung, 10:26pm
Hidup adalah tempatnya “Ketidakpastian”
Itulah kalimat yang nyata menurut saya, jika ada yang tidak setuju mungkin kita hanya berbeda dalam cara berpikir. Jadi tak perlu khawatir jika tak setuju. Saya hanya akan berbagi apa yang menurut saya tidak pasti dalam hidup yang saya jalani saat ini.
Pertama, tentang masa muda
Usiaku saat ini 23 tahun, dan masih menjadi pengangguran yang waktunya dihabiskan untuk jalan-jalan, maenin instagram hampir 2 - 3 jam, makan, tidur, mandi, baca buku, belajar nulis, sholat dan seterusnya.
Jika ditanya kenapa belum bekerja? Jawabannya belum diterima, belum rezeki, belum cocok, belum kepepet juga kayanya. tapi itu juga jawaban paling realistis dan jawaban penolong saat tak kunjung mendapatkan pekerjaan karena banyaknya pesaing, minimnya pengalaman dan kurangnya skill yang mendukung. Lalu pertanyaan selanjutnya kenapa tidak coba membekali diri dan memperkaya ilmu dengan mengasah kemampuan baru. IYAAAA!!! Itu benar!! harusnya saya memperkaya diri dengan hal-hal baru. Jadi mulailah saya untuk mempersiapkan segalanya dan semuanya mulai dari saat ini.
Saya mulai menyiapkan semuanya karena saya tau hari esok tidak akan pasti, besok masih akan terus berubah, saya hanya terus berusaha dan perlu untuk bersiap dan bersiap. Sejak membuka mata di awal pagi saya tidak pernah tahu kepastian apa yang terjadi pada malam harinya saat saya hendak menutup mata.
Kedua, Tentang orang yang Kita sayangi
Saya pernah sangat mengantungkan hidup pada seseorang, hingga hal paling membahagiakan yang saya terus lakukan adalah selalu ada untuknya, meski keadaannya telah berubah. Namun pada suatu saat ternyata rasa sayang dan peduli yang tidak memperdulikan apapun memperlihatkan sebuah kepastian bahwa orang yang saya sayang sudah berubah dan perlahan melupakan. Kepastian yang saya dapatkan adalah saya telah dilupakan, dan ketidakpastian yang saya miliki adalah saya tidak tahu kapan bisa melakukan hal yang sama yaitu melupakan.
Ketiga, Keseharian dalam Hidup
Rasa lapar, menunggu orang, terjebak di kemacetan, sakit dan sehat semua adalah ketidakpastian. Manusia yang hidupnya kekurangan pasti sedang berusaha agar dia bisa memastikan dia dan keluarganya bisa makan untuk hari ini.
Kita yang sedang menunggu seseorang pasti begitu berharap yang kita tunggu benar datang tanpa kita tahu, kapan ia akan datang, bahkan pukul berapa pun tidak kita tahu pastinya.
Warga Jakarta adalah korban ketidakpastian paling terbanyak sepertinya, bagaimana tidak setiap hari mereka perlu berjuang melewati kemacetan. Hingga tidak tahu Jam berapa mereka akan sampai tepat waktu dirumah. mereka kadang melewati jam makan malam dengan keluarga, sampai ke acara pun kadang saat orang sudah bubar.
Orang - orang berusaha merawat diri, rutin olahraga, pola makan sehat tidak menjamin besok ia masih bernapas ataukah tidak. Bisa saja ia dipanggil bukan karena sakit melainkan karena kecelakaan yang tak pernah terpikirkan.
Tetapi disinilah letak makna kehidupan dan manusia, hanya berjarak antara kepastian dan ketidakpastian..
dari ketidakpastian manusia belajar merasa cemas dan khawatir, manusia menjadi takut dan penuh harapan, anak muda seperti saya bahkan jika yang telah memilki pekerjaan, telah memiliki pasangan, punya banyak tabungan, tidak menjamin mereka untuk tidak cemas dan tidak takut menghadapi ketidakpastian.
Jika hidup ini pasti, manusia tidak akan pernah berteman dengan ragu, jika hidup ini penuh kepastian, kenapa manusia membuat banyak rencana dan persiapan akan masa depannya, kita seakan takut menjadi gagal di masa depan karena ketidakpastian.
Manusia akan sangat sulit berhenti cemas akan ketidakpastian dalam hidup mereka, karena bukan bagian manusia untuk bisa memastikan kehidupan ini.
Kita hanyalah bagian dari rasa takut, cemas, kebingungan, khawatir dan ragu.
Tapi, jangan lupa dengan hadirnya “KEYAKINAN”, sebuah bagian dari diri manusia yang kadang dilupakan, dengan bagian ini kita dibantu untuk mendapatkan kepastian dan melewati segala rasa cemas dan khawatir. dengan keyakinan kita diajarkan untuk yakin dengan apa yang kita hadapi, keyakinan karena kita punya Tuhan. Dengan keyakinan manusia belajar berpikir besar, dan kemudian mempersiapkan hal-hal besar. Menyiapkan diri, menyiapkan mental, menyiapkan hati untuk menerima segala yang tidak pasti dalam hidup.
LR, 20 February 19
Bandung, 10:26pm
Ada yang lebih rumit dari rindu. Mencintai seseorang yang dicintai lebih dari satu orang.
Akan Tetap Satu
Langit dimanapun akan tetap satu. Meski di tempatmu, paginya menghangatkan. Sedangkan disini, menyentuh air saja rasanya enggan.
Langit kita dimanapun tetap sama. Meski di tempatmu, siang harinya begitu terik membakar. Sedangkan disini, tetap akan terasa nyaman meski tidak perlu berteduh sekalipun.
Langitmu disana tidak akan pernah beranjak. Dengan oranye yang berpendar disetiap sorenya.
Langitku disini juga tidak sejengkalpun berpindah. Sesekali sama dengan warna langitmu, meski lebih sering terlihat membiru.
Langit kita akan tetap satu, meski saat ini masih terlihat begitu berbeda. Akan tetap satu, meski kita masih melihatnya dari titik yang sama-sama jauh. Langit kita akan tetap satu, dengan berbagai cerita di dalamnya yang sama-sama kita tahu.
Danny Dzul Fikri - Surabaya, Februari 2019, 20:43 WIB
Tampak berbeda namun tetap sama
Stupid me; selalu ngebut buru buru kalo lagi motoran lalu ujan. Di kepala w, siapa tau w bisa mendahului hujan, hhhh. Logic darimana tu begitu ._.
Gue kurang suka dengan istilah “bucin”. Who the hell is “bucin”? Temennya micin?
Yes, semua orang tau kalo suda cinta apa aja bisa dilakuin. Tai aja rasa coklat. Tapi yauda gitu, mind your own business. Gausah bucin-bucin-in orang. Mungkin dia memang sebegitu cintanya. Biarin aja
Suda hal lumrah kalau sekolah tinggi tinggi, gelar sana sini, wawasan luas ala anak sekolahan; tapi begonya karna cinta. Suda hukum alam. Biarin aja. Jan dikatain budak cinta.
Budak banget. Ga sekalian hamba sahaya?
Orang Aneh
Ada tiga Fase ketika melihat tingkah laku netizen yang aneh di sosmed :
Fase Mikir => Orang sekitar akan terfokus ke objek tersebut.
Fase Maklum => Orang sekitar mulai memaklumi tingkahnya tersebut
Fase Tidak Peduli => Orang sekitar sudah tidak peduli dengan tingkahnya tersebut
Mylog: Komentar
Salah satu hal yang terkadang membuat aink jengah dalam bersosial media adalah hilangnya adab dalam membuat tulisan. Entah itu komentar atau postingan. Well, bahasa simplenya, i’m sick of reading tulisan dari orang-orang yang kayak ga pernah makan bangku sekolahan.
Entah, kayaknya gampang gitu menghujat, mendakwa seseorang di sosial media. Apalagi dengan identitas yang mudah dirahasiakan/dipalsukan, orang-orang berasa bebas banget berkata kotor di sosial media. Mungkin karena ngerasa ga bakal dapet feedback di dunia nyata. Merasa ga akan dapet konsekuensi apa-apa, lalu ‘berbicara’ sebebas-bebasnya.
Kenapa sih kalo si ‘anu’ yang berbuat mesti ada orang lain yang ribut? Padahal kerabat si ‘anu’ bukan, punya urusan juga engga, kena dampak langsung dari perbuatan si ‘anu’ juga belum tentu. Trus orang tersebut ngerasa perlu banget buat berkomentar.
“Tapi kan sesama muslim harus saling mengingatkan, amar ma’ruf nahi munkar”
Nah ini, aink suka kesel kalo ada yang komentar nyinyir merepet ngehina dengan alasan peduli dan mengingatkan. Kalaupun mau mengingatkan masa iya dengan komentar yang bernada menjelek-jelekan. Lagian setau aink, yang namanya muslim kalo menasehati saudaranya ya via japri. Ga perlu sejuta umat tahu. Ga ngerecokin akun sosmed orangnya trus kasi komentar pedas, catut ayat sana sini. Really, kayak gitu kah memberi tahu jalan kebenaran?
Kalaupun memang ingin menasehati tapi ngerasa ga dekat dengan orang nya jadi malu ngomong langsung, yauda doain aja. Minta Allah bukain hatinya. Ngedoa langsung ke Allah, bukan ngedoa di Sosmed bawa nama Allah dan mention nama orang yang didoain.
Aink dulu agak antipati sama dakwah. Ketika aink masih labil dan melakukan banyak hal bodoh, aink didakwahi beramai-ramai sama orang-orang yang katanya sedang berdakwah, DI HADAPAN PUBLIK. It sucks. Ketika aink seharusnya dapat obrolan dari hati ke hati, yang didapat malah hujatan terbuka berbalut dakwah.
Ampe aink mikir, ini agama rahmatan lil alamin kok agen dakwahnya gini-gini amat,…
Dulu sebelum ada sosial masih mending. Yang ‘mendakwahi’ hanya orang yang kenal/berinteraksi langsung ama kita, lingkupnya kecil. Sekarang engga, orang yang ga punya urusan, kenal pun engga dan besar kemungkinan ga tau duduk perkaranya bisa banget ngerasa punya andil dalam ‘berdakwah via komen’. Sekali aib loe viral kelar idup loe.
Duh aink ga biase ber-Gue Elu. Hahahaha
Aink jadi inget rekaman video ceramahnya ustad Adi.
Nabi Musa aja yang sebaik-baik manusia di jamannya disuruh berdakwah dengan tutur kata yang baik kepada firaun yang jahatnya ga karuan. Sedangkan anda ketika ada muslim yang khilaf anda ‘dakwahi’ dengan kata-kata yang kejam. Lah, anda siapa?
Nabi bukan, surga belum jelas, amal baik belum tentu diterima, hisabnya masih menegangkan,..
Anda sehat?
Netijen :(
Bacotan
Yang ngedeketin yaa guuuaa, yang penasaran yaa guuuaa, yang sayang yaa juga gua lagi. Awalnya sih merasa bersalah, tapi bukan secara keseluruhan. Lagian sudah terlanjur juga kan, nyatanya juga udah saling sayang kok. gapengen kehilangan(padahal bukan siapa2 wkwk). Kita juga sama, sama-sama jahatnya kan yaaaa ? Yang satu gitu, yang satunya juga sama gitu karna mementingkan egonya atau mungkinnnnnn,,,, lari dari kebosanan hehe. Tapi sekarang mencoba lagi, tidak lagi dengan cara yang sama namun,,,,,, itu sulit. Dan disini lah tantangannya.
Terkadang gua membiarkannya, padahal gua gak mau. Mungkin,,,, itu adalah salah satu cara gua serta dia untuk menebus rasa bersalah dulu di waktu lampau. Namun,,,, pembiaran itu menggerogoti hati kecil gua,,,, membuat gua merasa tak nyaman, takut nan cemburu, dan sesekalipun ragu. Ketika rasa itu muncul, sesekali guapun bertindak egois dan (kelihatan) jahat padahal logis. Inilah hal yang tidak gua inginkan. Ketika gua begitu suasana langsung berubah. Nyuekin lah, Terlihat masa bodoh, padahal nggak. Gua begitu karena gua ga mau [melepaskan perasaan (negatif) /pelampiasan] nya ke orang terdekat gua. Karena kalo itu gua lampiaskan ke orang terdekat, bakalan susah. mungkin sebagian besar orang berpikir tinggal minta maaf terus masalah langsung clear.
Tapi tidak menurut gua, gua belajar ini dari filosofi paku tembok.
Paku adalah kesalahan yang kita buat, sedangkan tembok adalah hati seseorang yang kita sakiti. Ketika masalah terjadi; paku akan ditancapkan ke tembok. dan kita akan meminta maaf atas kesalahan tadi. Permintaan maaf diibaratkan seperti mencabut paku tadi dari dinding. Selesai ? iya selesai pakunya tidak menancap lagi, tapi masih ada bekasnya. Bekasnya itu bisa dihilangkan kok, dengan ketulusan sang tembok dengan menyemen kembali lubang itu. Dan lagi-lagi Semen itu diibaratkan "kepercayaan" yang dibiarkan tumbuh lagi seiring berjalannya waktu.
Maka dari itu gua takut banget utk melakukan kesalahan sosial padahal semakin gua takutkan itu, semakin besar kemungkinan itu terjadi. Karena itu bermain dialam bawa sadar.
Pergi
rasa-rasanya dunia pikiran negatif yang selama ini ada hilang sekejap ketika memutuskan untuk menonaktifkan akun sosial media yang menurutku, sangat candu aku buka.
Instagram dan Twitter.
kedua-duanya aku hilangkan dari muka bumi.
dugaan, teori, cibiran, sampai selera humor aku tidak rasakan akhir-akhir ini.
ah, tenang dan damai sekali, ternyata. benar saja aku butuh waktu sendiri walau hanya sekedar melanjutkan mewarnai kertas gambar, menghias kamar, menata bill, mencuci piring, menata spidol dan stabilo, lalu..
menata hati.
Keraguan
Wahai hati
Kepercayaan adalah hal yang penting, semua orang ingin dipercaya; seolah-olah mereka adalah orang yang paling bisa dipercaya. sesekali, kita ragu dengan kepercayaan kita; itu tidaklah salah; itu hal yang lumrah. Dan sebongkah keraguan di dalam kepercayaan akan menyebabkan kehancuran atas kepercayaan itu sendiri.
Jadi, singkirkan rasa ragu mu. Walaupun itu beresiko dan butuh banyak pertimbangan Karena sejatinya hidup itu pun bertaruh.