Bagaimana rasanya menjadi yang tak pernah sembunyi tapi selalu ku cari?
art blog(derogatory)
noise dept.
The Stonewall Inn
I'd rather be in outer space 🛸
Lint Roller? I Barely Know Her
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

ellievsbear
No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Today's Document
Fai_Ryy
🩵 avery cochrane 🩵
The Bright Sessions

tannertan36
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Color Me Curious
Cosmic Funnies

bliss lane

Discoholic 🪩

Jimmy Eat World

seen from Türkiye
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from Austria
seen from Romania
seen from United Kingdom

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from Kenya

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Austria
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Austria
@gangguanmental
Bagaimana rasanya menjadi yang tak pernah sembunyi tapi selalu ku cari?
Aku Ingin Tiada Saja
Kadang aku ingin tiada saja, lalu menonton mereka yang sibuk mengada-ada.
Kadang aku ingin tiada saja, tertawa pada keberadaan yang itu-itu saja.
Kadang aku ingin tiada saja, karena sembunyi hanya untuk yang tak punya dada.
Kadang aku ingin tiada saja, angin tak menerpaku, tapi aku tahu sejuk itu apa.
Semarang, 5 Oktober 2015
Ketika kau memikirkanku, rumahku bertambah satu.
Still being unlucky lover?
Hahaha no. I'm lucky, very lucky. Thats just "caper" captions.
Puisi malam, hujan dan kerinduan sengaja ku sembunyikan. Bukannya pelit, aku hanya tidak ingin kamu masuk angin.
Menjadi Aku
Dulu aku pernah sabar, hingga sekarang tidak ada bedanya Dengan gelap malam yang selalu aku tentang dengan lampu-lampu temaram Sampai lupa ada gelap lain setelah kelopak mata terpejam Lalu lepaslah rindu membalas dendam
Biar aku munafik Karena aku tidak mau jadi nabi sendirian
Biar aku tercabik Karena aku tidak mahir jadi karang dalam peran
Karena hari kemarin tak akan pernah berubah Seperti ketika aku berkata sudah karena lelah
Menjadi aku yang tak pernah temu wahai kau, perempuanku.
Banjarnegara, 28 Agustus 2014
Sampai waktu kau menjadi butiran yang enggan beranjak dari awan. Biar aku menjadi tanah yang terangkat perlahan; menjemput hujan dari kemaraunya kerinduan.
Ini bukan perkara berani membuka hati atau masih mencinta masa lalu. Ini hanya tentang diri sendiri yang belum merasa pantas.
(via jalansaja)
Bahagiamu malam ini, doaku yang diamini.
(via katadistorsi)
Perempuanku
Aku melihat seorang perempuan duduk sendiri, diam dan menangis. Sabar, lemah atau cengeng kah dia? Entahlah. Aku tak berani mengambil kesimpulan, karena kata orang aku tak tahu apa-apa. Aku tak tahu dia sabar, lemah atau cengeng, mungkin bisa jadi gabungan dari kesemuanya.
Yang aku tahu hanya dia sendirian, diam dan menangis. Yang aku pahami hanya pipinya yang basah dan dia tak menyekanya.
Panas begitu terik, keringatku sampai kering dibuatnya. Aku berlalu sembari menyempatkan menengok kebelakang. Apakah air matanya ikut kering? Tetapi aku sudah terlalu jauh berjalan.
Yang aku lihat sekarang hanya senyumnya.
Bagaimana bisa manusia masih bisa tersenyum di panas yang begitu terik ini?
Entah bagaimana bisa dia tersenyum. Peduli setan.
Yang aku rasakan hanya penyesalan, yang aku endapkan hanya kehilangan.
Banjarnegara, 28 Mei 2014
Kamu tersenyum membaca tulisanku. Padahal aku menulisnya karena membaca senyummu.
Quote (via kunamaibintangitunamamu)
Ampunilah aku, yang bukan siapa-siapamu tetapi khawatir.
Zarry Hendrik (via mbeeer)
Selalu menghitung perjuangan, pengorbanan dan semua yang telah dilakukan demi seseorang lalu merasa kecewa karena tidak terbalas adalah lifestyle masa kini. Ikhlas sepertinya adalah sesuatu yang sudah dianggap ketinggalan zaman.
Satu hal yang tidak disadari oleh orang yang selalu menyembunyikan perasaannya; tidak ada yang pernah ingin mencari tahu bagaimana perasaannya.
A: "Pada akhirnya, menjadi yang selalu ada tidaklah cukup.."
B: "Iyalah, manusia kapan ngerasa cukupnya?"
Ah manusia terlalu jauh memandang, mencari sesuatu yang sebenarnya selalu ada; di balik kelopak mata.
“Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan.”
Salim Akhukum Fillah (via erstudio)
gapernah bosen nge-reblog ini, quotes favorite :)
Rinduku tertuji pada langit…jangankan pelan mendekat, baru beranjak gravitasi sudah memaksaku duduk lagi.
(via kekasihsenja)