Selepas menonton pertandingan antara Indonesia melawan Uzbekistan dalam laga semifinal AFC kelompok umur U-23, aku sejenak rehat dan bersandar ke dinding mushalla. Satu demi satu orang-orang meninggalkan lokasi nonton bareng dengan raut wajah kecewa karena Indonesia gagal meraih kemenangan. Bagiku itu hal sah-sah saja jika ada yang melemparkan raut wajah kecewa karena tim favoritnya kalah. Tetapi, bukan itu yang ingin aku ceritakan. Aku bersandar sembari membuka pesan WhatsApp. Membalas pesan yang masuk satu per satu dari teman-teman. Saat sedang mengalihkan pandanganku dari layar HP, ternyata di sampingku adalah adik tingkatku di kampus. Sudah lama rasanya tidak mengobrol dengannya semenjak aku sudah lulus dari pendidikan strata 1 ku di kampus. Aku mencoba membuka obrolan dengan menyapa. âAkh, gimana kondisi dakwah di fakultas? Abang lihat di grup tidak ada pergerakan sama sekali. Biasanya rame dengan berbagai macam masalah yang disampaikan oleh penghuni grupâ, tanyaku kepadanya. Kemudian, âItulah bang. Ana juga kurang tahu kondisi adik-adik di kampus semenjak selesai dari kampusâ. Setelah itu terjadilah obrolan yang cukup panjang kurang lebih setengah jam. Inti dari obrolan yang cukup panjang tadi adalah saling bertukar infoemasi mengenai keberlangsungan dakwah di kampus. Selama aku mendengarkan informasi perkembangan adik-adik di kampus, rasanya ada rasa sedih yang bertengger di hati ini. Ingin rasanya turun tangan untuk menjadi penambah sedikit solusi dari masalah yang ada. Namun, aku sadar bahwasanya itu bukan lagi ranahku untuk terlibat lebih jauh. Biarlah mereka yang mencari solusi dari permasalahan yang ada sekarang.
Mencoba menghela nafas dan kembali mengingat perjuangan bersama teman-teman di kampus dulunya. Banyak kenangan yang menyenangkan, tetapi yang menyesakkan lebih banyak. Bagaimana ketika dulu mengangkatkan suatu kajian keagamaan di kampus dengan jumlah pendengarnya yang sangat sedikit. Berulang kali seperti itu. Sempat aku berpikir apakah kajian ini membosankan sehingga tidak banyak yang tertarik untuk hadir mendengarkan nasehat-nasehat agama. Tidak hanya itu, saat di kampus beberapa teman-teman ada yang mendapatkan respon yang tidak baik dari mahasiswa lainnya. Dikatakan orang sok alim, orang-orang ekslusif dan lain sebagainya. Itu sedikit pengalaman pahit yang aku dan teman-teman lainnya rasakan. Masih banyak pengalaman pahit lainnya tetapi tak tega aku menuliskan di sini. Biarlah yang pahit itu menjadi cerita rahasia bagiku. Berharap hal-hal yang pahit aku dan teman-teman rasakan tidak terulang kepada adik-adik sekarang.
Sepulangnya aku dari tempat nonton bareng dan setelah emngobrol dengan salah satu adik tingkat tadi, aku tersadar ternyata aku butuh nasehat. Sesampainya di rumah, ku hidupkan lampu belajarku dan ku buka laptop. Kemudian ku buka kembali catatan-catatan kecil di  notes HP ku. Aku menemukan tulisan yag diambil dari taujihnya KH. Hilmi Aminuddin rahimahullah, isinya seperti ini.
"Kalau sudah jadi kader tapi tidak mau memikul beban, ya jadi onta sayur saja..."
Sebagai organisasi kader, kita jelas harus mengandalkan vitalitas, stamina, dan dinamika. Kalau tidak punya stamina yang tinggi, vitalitas yang tinggi, dinamika yang tinggi, kita ketinggalan. Wong jumlah kita secara kader sedikit. Dinamika ini, (hayawiyatul harakah) merupakan tuntutan yang rabbani dari Allah SWT. Bagaimana Allah meminta kita untuk wasari'uu (bersegeralah). Falyatanafasil mutanafisun. Fastabiqul khairat, Dimana kita dituntut terus bergerak dan memiliki semangat kompetitif, semangat musabaqah, semangat berlomba. Kalau tidak mempunyai vitalitas dan dinamika, jelas itu tidak mungkin.
Rasulullah mengatakan innama an-naasu kal ibilil miah, manusia itu bagaikan onta seratus. Yang, la takaadu tajidu fiiha rahilah, yang hampir saja di antara onta seratus itu tidak ditemukan onta pemikul beban. Artinya yang ada onta pedaging, onta sayur semua.
Proses tarbiyah itu adalah proses pemilihan untuk melahirkan onta pemikul beban itu. Maka, kalau sudah jadi kader tapi tidak mau memikul beban, ya jadi onta sayur saja.
Dinamika adalah tuntutan Al-Quran dan sunnah. Kita ini harus memiliki vitalitas, dinamika dan energi yang tinggi. Tentu kekuatan yang kita harapkan adalah kekuatan yang rabbani yang nahnu aqwiya bi rabbina (kita menjadi kuat bersama Tuhan kita). Bahwa kita menjadi kuat karena Allah, karena kedekatan dengan Allah, dengan ma'iyatullah.
Qawiyun bi rabbina, qawiyun bi jama'atina wa qawiyun bi ikhwatina. Dengan ukhuwah dengan berjamaah kita ini menjadi kuat. Sebab secara individu manusia susah untuk menjadi kuat. Back-up dari Allah, back-up dari jamaah, back-up dari ikhwah, dengan ta'awun, dengan takaful, dengan takamul, insya Allah kita bisa memenuhi tuntutan itu.
Inilah pesan yang aku cari selama ini. Sadar akan lemahnya hati sehingga mudah untuk futur, mudah pula semangat kembali. Sadar bahwasanya tidak banyak orang yang diberi kesempatan menjadi pengabdi Rabbul âalamiin. Karena konsekuensi yang akan diterima bukan konsekuensi murahan. Karena lingkaran pertemanan akan semakin sempit, waktu yang tersedia rasanya sangat sedikit dibandingkan tugas-tugas yang harus dituntaskan. Belum lagi nantinya harus meluangkan tenaga dan pikiran ketika harus mendiskusikan perkara-perkara yang diputuskan dalam disksi bersama.
Ya rabbuna, sekiranya memang ini cara terbaikmu mengingatkan kami yang lalai terhadap masalah yang ada. Ikhlaskan hati kami menerima dan menjalankannya. Jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang mudah menaruh rasa harap kepada manusia lain yang kemudian terjatuh dalam rasa kecewa yang mendalam. Jangan pula Engkau jadikan kami orang-orang yang merugi di antara yang lainnya. Yaa muqallbal quluub, tsabbit qalbii âala diinik wa âalaa thaaâatik.