Delapan Tahun Perjalananku
Perjalanan delapan tahun berada di profesi ini rupanya lumayan menantang, menuntut aku untuk selalu matang dalam mempersiapkan segala sesuatu dalam pekerjaan. Lingkungan yang kental dengan senioritas dan terkadang ada jarak yang jauh antar profesi lain membuat aku harus selalu sadar dengan siapa aku berinteraksi. Membenahi cara komunikasi, memberanikan diri mencairkan suasana ruang kerja yang terasa kaku karena mood tidak baik dari salah satu dari kami akibat beberapa pendapat yang tidak sejalan atau mungkin tak sengaja ada yang membawa keresahan dari rumahnya.
Meniti karir hingga sejauh ini ternyata adalah jalan untuk aku terbentuk menjadi pribadi yang berani mencoba padahal dulu sangat penakut terhadap hal baru, jadi lebih sadar bahwa belajar tidak bisa berhenti, jadi lebih peka pada apa yang dirasakan dan dibutuhkan diri sendiri, lebih tahu batasan yang harus diterapkan terhadap orang lain. Memang sangat terasa capeknya, tapi juga terasa buah dari proses yang aku jalani. Tidak menyangka bahwa aku ternyata bisa sekuat itu.
Banyak masa struggle yang berhasil dilalui. Saat harus meninggalkan bayi pertamaku untuk tetap masuk bekerja meski dalam masa pandemi, mendadak diamanahi kepercayaan yang sama sekali belum tahu ilmunya dan harus kerja keras menyelesaikan hal itu, episode hamil anak ke-2 dan sakit-sakitan, beberapa hal berat yang tak terduga tapi bisa dilalui membuat harus banyak bersyukur pada Allah dan berterima kasih pada diri sendiri.
Salah satu hal yang menyenangkan pernah berada dalam tim yang di dalamnya adalah orang-orang yang suka belajar, jadi bisa bertumbuh sama-sama. Diskusi diantara kami seringnya berjalan hangat dan diselingi candaan membuat sesuatu yang serius terasa lebih chill. Sedikit berselisih hal biasa tetapi tidak sampai meruncing dan berkepanjangan.
Kami malas membahas perkara yang sia-sia tentang siapapun sepanjang tidak berdampak buruk pada tim kami. Lebih memilih fokus dengan segala yang bisa dikendalikan dalam tim, ketimbang meributkan kehebohan di luar sana. Supaya suasana ruangan kami tetap adem di hati serta meminimalisir distraksi. Salah satu rejeki yang mahal dan jarang sekali aku temui di sepanjang perjalanan karir ku. Padahal dulu saat awal-awal memulai karir menyangka bahwa tim seperti ini hanya cerita orang lain saja, tapi nyatanya bisa merasakan juga.
Dari kebersamaan dengan tim ini jadi banyak belajar bahwa tempat bekerja bukan sekedar demi mencari uang, mengejar jabatan, menunaikan rutinitas melainkan bisa jadi tempat aku untuk menemukan teman cerita yang nyaman, bertukar pikiran, menjadi pendengar saat salah satu dari mereka butuh didengarkan, seperti keluarga kedua. Bisa merasakan bagaimana masalah serius tapi bisa terselesaikan tanpa harus bersitegang, cukup dengan komunikasi dengan kepala dingin dan asertif. Semoga kedepannya bisa lebih sering dipertemukan dengan orang-orang seperti ini dimana pun aku ditugaskan.


















