Sudah lewat dua kali hari raya, aku sudah punya cerita tentang perjalanan di fase kemarin..
Awalnya dari sini,
Setelah aku pindah kerjaan dan pindah tempat singgah, aku merasa sudah banyak menemukan kepercayaan diriku dan juga tentang batasan diri.. Tapi lagi, lagi ini tentang jiwa pembelajarku. "Ia ingin terus belajar, tumbuh.. maka terus mencarilah aku".
Dan setelah melalui perjalanan di hari raye pertama. Yaps, tepat setelah hari raya Idul Fitri 1447 H. Saat itu tepat lebaran hari ke-5, aku memutuskan diri untuk melakukan perjalanan (silahturahmi) ke rumah temanku. Ini menjadi sesuatu yang berbeda karena pertama kalinya harus menempuh perjalanan 100 km menggunakan motor, meskipun perjalanan bersama teman. Lagi-lagi untuk urusan mengendarai motor aku yang paling terdepan (ya, pulang-pergi aku terus yg pegang supir) ini dengan asumsi aku yang paling bakoh, lincah, dan habitsku aja memang selalu yg mengendarai + ada trust issue jg kalo dibonceng orang lain (ah, tentu ini PR juga menurutku). Lalu, aku menghabiskan dua hari satu malam di rumah temanku, kami hanya bertukar info tentang daerah rumahnya (iya, ini kota Wonosobo, tepatnya Dieng) yang tentunya seruw bgt deh sama vibes pemandangannya, lalu kami mencoba masakan ibuk temanku yang enak dan selalu dibanggakan itu karena thayyib cara buatnya, mencoba pemandian air panas yang sangat sangatt viewable itu dan melihat danau hijau ditemani rintik hujan sambil berdiskusi tentang topik pranikah...
Ternyata ini bukan hanya tentang mengunjungi rumah teman. Ini tentang perjalanan yang sadar aku pilih. Yaps, sejak awal sudah aku niatkan untuk menyambung ikatan dan menemukan diriku yang lain.. dengan itu, ketika perjalanan aku merasa senang lalu bersyukur apapun kondisi yang terjadi. Begitu juga ketika perjalanan pulang, aku lebih tambah bersyukur karena aku mendapatkan diriku lagi dan lagi.. + tentunya dapat kebaikan dari orang-orang yang sudah aku temui.
Dari perjalanan yang panjang ini, aku menemukan banyak sekali batasan fisikku sejauh mana, aku ketika kondisi capek, aku ketika berkomunikasi di jalan, aku ketika bertemu kebaikan dari orang baru, sampai aku yang harus banyak belajar lagi tentang konsep rezeki..
Ya, setelah perjalanan itu fisikku capek tapi jiwaku senang dan batinku merangkum makna.
Sampai..
tak kunjung dua minggu. Jiwa dan batinku terguncang cukup dalam.
Ini bukan tentang sesuatu yang tak bisa ku pilih, tapi ini tentang sesuatu yang benar-benar bisa aku pilih.
Pilihan portofolio pernikahan itu datang~
Lagi, lagi ini pilihan.. dan aku memilih untuk melanjutkan kedatangannya ini. Aku tau dengan penuh sadar untuk membuka diri, dengan syarat (aku dahulu yang harus mengetahui tentang sosoknya~)
Dan ternyata, pilihan untuk mencaritahu 'diam-diam' merupakan rangkaian yang sangat-sangat menguras energi. Yaps, diawal jiwa batinku terguncang dan untuk melanjutkannya fisikku juga kena imbasnya. Menempuh banyak kebimbangan yang selalu aku teguhkan dengan "oke, harus trs dikawal dgn ilmu, dengan ilmu.. jangan dgn nafsu, apalagi perasaan". Bertanya sana sini, bertemu beberapa guru.. Pada akhirnya, keputusan akhir tidak dilanjut.. (ya, sampai portofolio sosoknya saja) lalu.. aku dengan sangatt sangatt hati-hati menyusun kalimat penolakan itu, aku tau ditolak itu menyakitkan tapi aku juga baru sadar setelahnya.. ternyata menolak itu juga sama sakitnya. Ya?
Satu bulan purnama sampai melewati lebaran Hari Raye idul adha 1447 H terlewati ini, fisikku masih terguncang. Aku tau sekali ketika kondisi fisikku berbicara, itu tandanya jiwa dan batinku banyak memendam. Tentu, ini tentang emosi yang belum selesai dan tentang peristiwa masa lalu yang tersenggol lagi..
Yeah, Alhamdulillah.. Lewat perjalanan yang ini akhirnya aku lagi-lagi mencari ilmunya, aku konseling dan menemukan jawaban.
Ternyata ada lho istilah Emotional baggage (ransel emosi) yang mana bisa jadi tiap 'kita' itu membawa segala emosi atau trauma masa lalu yang belum terselesaikan sehingga akan terbawa dan membebani kehidupan kita di masa sekarang.
In case, aku merasa sangat terguncang dengan kedatangan seseorang bukan karena 'aku menolak atau tidak ingin menikah'. Tapi ternyata masih ada alam bawah sadarku yang membawa ransel emosi.. tentang pola pengasuhan, emosi masa lalu, luka yang sudah terlewati, hingga decision making yang selama ini aku lakukan merupakan wujud beban emosi yang masih ada.
Dan yah, akhir kalimat ini..
Memang tidak ada hal yang paling berharga, selain terus mencoba lagi untuk belajar berproses.. selalu menyusun tujuan dan melanjutkan perjalanan, sampai tumbuh merekah dan siap kapanpun untuk dipanggil pulang..
Semoga Allah selalu menyertai kita atas segala pilihan dan perjalanan yang kita lalui, Allah Ridho atas kita yang selalu mencoba untuk salah dan khilaf ini... tentu semoga Allah selalu sayang kita, dan kita harus bersiap untuk segala tantangannya🌻barakallahfiik.