
shark vs the universe
occasionally subtle

Love Begins
d e v o n

Discoholic 🪩

❣ Chile in a Photography ❣
Monterey Bay Aquarium
★
Lint Roller? I Barely Know Her
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
The Stonewall Inn
Doug Jones
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
art blog(derogatory)
hello vonnie

gracie abrams
Mike Driver

tannertan36

#extradirty
One Nice Bug Per Day

seen from Italy
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Brazil

seen from Vietnam

seen from Egypt

seen from Bangladesh
seen from Philippines

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Colombia

seen from Mexico
seen from Ukraine
seen from Bangladesh
seen from Türkiye
seen from Kenya

seen from Italy
seen from Qatar
@hayyun
Jawaban Masa
Ku lihat jelas.
Ku rasa Pahitnya.
Tapi, harus apalagi langkahnya.
Kasihan tak banyak merubah.
Utara sudah tak mau.
Selatan tak menjawab.
Doktrin gila dipupuk lama padanya.
Bak tumor yang siap mencekik.
Sakit! Keluhnya pada semesta.
Tergambar jelas hanya tatapan putus asa.
Mereka diam, tak melihatnya tapi pura-pura.
Milyaran kali jarum jam sudah diputar.
Sungguh bising didengar.
Setan itu selalu saja berbisik.
Selalu mengacau padanya.
Melangkah sambil dia menggertak.
Katanya, pergi! Aku waras.
Puluhan ribu langkah dicoba.
Tapi takdir mulai berbalik arah.
Langkahnya berubah layu.
Masa, menenggelamkan dengan suara kereta
Petang dan Terang
Terlihat asyik, tapi terlalu gemuruh.
Petang, sulit melihatnya.
Terang, menghalangi pandang.
Ingin ku lari kencang.
Takut memeluk ku kuat.
Hingga air mata mulai menyisir pipi.
Ingin ku tegakkan kepala.
Tapi ombak lautan berteriak keras.
Mundur! Mundur!
Harus yang mana.
Suara rintik hujan desa.
Ataukah, angin panas kota yang lebih baik.
Coba ku tutup mata.
Untuk ku, kemudian berbisik.
Genggam dan taburkan hujan saja biar teduh.
Lalu, bias pelangi menunjuk jejak-jejak terang.
Bukan samaran cafe latte, tapi jelas cappuccino.
Luka
Ribuan mil jalan terlewati.
Setiap kerikil yang terinjak.
Telinga selalu mendengar.
Mata mulai mendung hingga hujan.
Mengalir semakin deras.
Saat ku putar memori ketidakadilan masa lalu.
Setiap ku tutup mata.
Jelas nampak mimik wajahnya.
Berkata padaku akan luka masa lalu.
Masih terdengar keras suara pengakuan.
Menyerang terus menerus menembus hati.
Kawan, seandainya dia bukan manusia yang sama.
Ku kan begitu bahagia melihatmu tersenyum.
Saat cincin itu melingkari jari manismu.
Andai hati patuh pada akal.
Akan kupilih lainnya untuk hatiku.
Berulang kali dengan lantang ku katakan pada ombak.
Untuk membawa rasa itu pergi.
Tapi pertemuan selalu meniupkan rasa itu kembali.
Salahkah Aku
Ingin ku bertanya.
Mengapa kehadiran ku tak dilihat.
Seberapa berbeda diriku dari mereka.
Salahkah jiwa ku hadir tak serupa dengan rupa ekspeksimu.
Hanya karna benang otak yang berubah unik.
Haruskah aku hanya mendengar suara umpatan.
Milyaran manusia menghuni bumi ini.
Bisakah ku memohon padamu ibu..
Beri aku kasihmu walau hanya sekecil debu.
Ingin ku berteriak.
Betapa inginnya jiwa ku sembuh.
Tapi alur kepala ku seperti labirin.
Begitu sulit menemukan terangnya cahaya.
Berapa hari lagi yang harus ku hitung.
Untuk mendapat pelukan hangatmu lagi.
Sudah ribuan hari terhitung.
Sejak alur otak ku berbalik.
Hangat pelukanmu tersapu.
Kini, hanya angin yang sedia memeluk ku.
Merubah rasa pelukanmu yang hangat.
Menjadi dingin membeku.
Merubah suara lembutmu.
Menjadi serupa sambaran petir waktu hujan.
Train Travel (2001)
Sinar matahari pagi sedikit menampakkan warna-warna berbeda setiap sudut kota. Mencari penggalan kisah masa lalu yang samar. Hanya satu petunjuk dari seseorang yang begitu lembut bicaranya dan tangguh, menunjukkan pintu kembali ke Yogyakarta. Menatap kota sepagi ini, belum terlihat suasana Malioboro yang melegenda akan keramaiannya.
“Mau kemana?” tiba-tiba seorang laki-laki menghentikan lamunan.
Lama aku berfikir, menatap wajahnya dengan heran. dia penipu atau bukan si?. Matanya sayu, tubuhnya tinggi dan mengenakan kaos putih seperti t-shirt olahraga. Berulang kali aku menatapnya Mungkin dia hanya ingin membantu.
“Ah, ini mau nyari penginapan murah dimana ya?”
“Ada penginapan murah di dekat stasiun Lempuyangan, kalau mau mari saya antar.” Melihat wajah dan caranya berbicara sepertinya 50% aku dapat menarik kesimpulan jika dia mungkin orang baik.
Benar seperti perkataannya, harga sewa kamarnya sangat murah dengan fasilitas kamar mandi yang super bersih. Tidak banyak yang terpikir, hanya ada satu pertanyaan. “Kenapa dia terus memandangi gelangku? Aneh!.”
Mencari rumah seseorang di jalan Janti kompleks sekitar Jogja Expo Center. Terlihat berjejer rumah makan di depannya dengan berbagai varian menu yang diatawarkan. ‘SOTO’ beberapa rumah makan menawarkan menu yang satu ini.
Ibu selalu mengatakan jika kami adalah warga negara Indonesia, berbicara bahasa Indonesia, dan mengenalkan aku masakan Indonesia. Tapi setelah dua puluh satu tahun aku hidup, sepertinya baru pertama kali merasakan kelezatannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Jika ibu sangat rindu tanah airnya, kenapa dia tidak pernah kembali?.
Hampir setiap orang di persimpangan jalan aku bertanya, dimana alamat yang dituliskan ibu. Beberapa orang ternyata adalah wisatawan yang belum banyak mengenal Jogja. Melihat satu per satu rumah di sekitarnya. Rumah dengan arsitektur tempo dulu yang masih terjaga keindahannya cocok dengan alamat yang aku cari.
“Mbk, cari siapa ya?” seorang kakek dengan pakaian khas Jogja memegang sapu. Kalau bukan pemiliknya mungkin pekerja di sini.
“Maaf kek, di sini benar rumahnya Bu Pernita?” melihat ekspresinya setelah aku menyebutkan nama.. sepertinya dia tidak mengenalnya.
“Wah, sepertinya mbak salah alamat soalnya di sini tempat penginapan bukan rumah pribadi.” Perkataanya memutuskan harapan, ibu hanya memberi alamat ini. Tak ada senyum yang bisa ditunjukkan hanya wajah putus asa yang terlihat.
“Bagaimana jika saya pertemukan mbk sama Mas Hendri, pemilik penginapan ini. Mungkin beliau tahu.”
“Terimakasih banyak kek..”
Cafe terlihat ramai, pelanggan dari berbagai usia terlihat asyik bercengkrama sambil menikmati makanan dan minuman yang tersaji di hadapan mereka. Aku terus mencari seseorang yang sudah lama dikenal tapi ini adalah pertemuan pertama kami. Memandang satu meja ke meja yang lain, tapi belum terlihat sosoknya.
“Ranti....di sebelah sini!!!” segera aku menengok ke sumber suara. Terlihat seseorang melambaikan tangan sambil tersenyum manis.
“Lily!” Itu dia.. sahabat penaku yang tinggal di Jogja. Senang rasanya bisa bertemu langsung dengannya.
“Sorry, kemaren nggak bisa jemput. Eh, gimana? Udah ketemu sama Mas Hendri?” meskipun pertemuan pertama, tapi kami sudah lama menjadi sahabat pena jadi tidak ada kata ‘canggung’.
“Hmm, dia putranya bu Pernita. Tunangan ibu meninggal di kecelakaan kereta Empu Jaya tahun 2001. Itu berarti, tunangannya mungkin bukanlah ayah.”
“Sudah belasan tahun berlalu. Sebaiknya jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Kecelakaan Kereta Empu Jaya tahun 2001..banyak kecelakaan yang terjadi, apa kau ingat sesuatu?.”
“Tidak ada.”
“Lihatlah laki-laki yang bernyanyi di sana, namanya Rehan.” Mataku mengikuti arah yang ditunjuk oleh jari telunjuk Lily. Seseorang yang sepertinya pernah kutemui, Siapa ya? Hmmm...ahh!! orang itu.
“Hhmmm...apa hubungannya?”
“Salah satu korban yang selamat dan..teman masa kecilku.” Tatapan matanya berkata jika masih banyak jalan tersisa untuk menemukan sesuatu yang hilang. Syukurlah....
Pagi yang indah. Tapi sepertinya tidak secerah yang aku kira. Hujan rintik-rintik mulai turun. Menatap jalan dan toko-toko yang masih belum bertuan di pagi hari seperti pagi itu. Bagaimana aku harus bertanya? Seperti membuka luka masa lalunya. Hanya bisa tertunduk lesu. Sepatu putih ini....jangan...jangan!!. aku menegakkan kepala dan benar..
“Apa kau jatuh cinta pada bangku ini?” tanpa ragu Rehan langsung duduk di sampingku sambil tersenyum mengejek.
“Hissshh, ngomong-ngomong ada yang ingin aku tanyakan.”
“Iya. Aku salah satunya” ekspresinya mengisyaratkan jika peristiwa itu sangat melukai hatinya. Matanya tidak lagi menatapku, sepertinya gambaran kecelakaan itu masih jelas terlihat olehnya.
“Maaf...”
“Tidak perlu, seseorang harus tahu rasanya ditinggalkan agar lebih menghargai orang lain. Hidup memang sulit, iya kan?” ketika mendengar itu, sepertinya aku terlalu dini menyimpulkan orang seperti apa dia. Setidaknya kali ini tatapannya tidak melukai hati orang lain seperti waktu itu. “aku hanya sempat memotret ini.” Sebuah foto dia keluarkan dari saku celananya.
Tiga orang dalam satu bingkai foto. Seorang ayah, ibu, dan anak perempuan mereka yang masih kecil duduk dalam satu kursi seperti di kereta. Gelang merah si anak.... Suara dentuman keras, jeritan, tangisan mulai terdengar lagi setelah aku melihat foto keluarga itu. Mimpi-mimpi burukku selama ini tiba-tiba tergambar jelas seperti sebuah film yang sedang diputar. Ayahh!!...ibuuu!!
“Apa kamu baik-baik saja?”
“Sepertinya, aku sudah menemukan orang tuaku.”
“Mereka korban meninggal kecelakaan kereta itu.” Mendengar kata-katanya benar-benar mengagetkan. “Mengalami trauma luar biasa dan hilang ingatan. Itu yang aku dengar dari perawat Selly tentang kondisi seorang anak perempuan yang memakai gelang merah.”
“Ternyata itulah alasan kenapa ibu tidak pernah kembali. Karena lukaku dan lukanya jelas tergambar di sini. Perawat itu merawat seorang anak yang keras kepala. Kata-kataku terakhir kali sangat melukainya. Bodoh ya! “
“Hmm...bodoh sekali. Tapi setidaknya kamu tidak akan menjadi orang yang busuk di dalam. Seseorang yang tidak mengakui kesalahannya. Seorang anak tidak harus sempurna. Dia harus berulah, dimarahi, dan tumbuh dewasa.. Setidaknya itu kutipan kata-kata yang aku dapatkan dari sebuah film.”
“Kata-kata yang bagus. Terimakasih...Rehan.” Mama...terima kasih sudah bersedia menyayangiku dan maaf.
Rasa sakit itu akan tetap ada. Seiring waktu berlalu, tak pernah terbayang kami akan dapat sedikit tersenyum ketika mengenang orang-orang yang kami cintai pergi untuk selamanya dalam tragedi mengerikan itu.
Jawaban Waktu untuk Rasa
-Hayyun-
Hai...
Menjabat tanganmu kali pertama.
Tak terbayang akan nyata.
Sekian ratus kali bertemu.
Tak sekalipun ku berani menyapa.
Seperti bumi memandang langit.
Sepanjang hari bertatap namun tak berhak mendekat.
Ku hadapi rasaku sendiri.
Ku katakan ribuan kali, sungguh hanya kagum sesaat.
Percaya suatu hari waktu kan membawanya pergi.
Hingga waktu menjawab lantang.
Pertemuan di akhir jalan akademik.
Ku mendengar jelas suaramu.
Menatap jelas wajahmu, kulihat senyummu dari dekat.
Debaran itu sungguh terasa.
Menahan napasku sejenak.
Terpikir akan dongeng cinta yang sering kudengar.
Kini, aku percaya ada.
Rasaku atas cinta, memang nyata.
Untuk kamu, benar tak kusangka.
Membuatku harus mengakuinya.
Rasaku, bukan tak ingin memberitahu.
Tapi nyatanya aku memang bukan siapa-siapa.
Kendal, 03 Maret 2017
Hope
teman..
takdir hari esok memang misteri.
tapi kan selalu kuyakini.
jika takdir kan mendengar harapan.
mungkin saat ini mereka kan membawa ku pergi.
jauh dan lama tak kan berjumpa kalian.
bunga itu kan layu diterpa dinginnya angin.
tapi pasti akan selalu hangat dan hidup di dalam hatiku
setulus hati ku meminta maaf dan terimakasih pada kalian semua