Zayn & Kyungsoo don’t just have a birthday in common. Once you get over the language difference, you’ll notice that they have very similar tones.

Andulka

Product Placement
No title available
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Keni

No title available
EXPECTATIONS
Lint Roller? I Barely Know Her
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Mike Driver
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
hello vonnie
I'd rather be in outer space 🛸

roma★
𓃗
untitled

gracie abrams
Fai_Ryy
$LAYYYTER
Cosmic Funnies
seen from United States

seen from Bangladesh

seen from Czechia

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Saudi Arabia

seen from Singapore
seen from United Kingdom
seen from Uruguay
seen from Italy

seen from United States
seen from France

seen from Morocco
seen from Belgium
seen from Colombia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Morocco

seen from Iraq
@hilyatulauliya
Zayn & Kyungsoo don’t just have a birthday in common. Once you get over the language difference, you’ll notice that they have very similar tones.
Yang Kecil Tapi Menentukan
@edgarhamas
Nasihat Abu Darda ini begitu menyala bagi siapapun yang ingin menciptakan finishing terbaik untuk Ramadhannya.
Beliau menasihati, "jangan remehkan kecilnya perbuatan buruk; tetap jauhi ia. Jangan pula kau remehkan kecilnya perbuatan baik hingga lalai mengamalkannya."
Di waktu-waktu yang tinggal sebentar ini, sangat mungkin amal kecil kitalah yang justru jadi finishing touch yang membuat Ramadhan ini bermakna.
Ia tak melulu tentang amal melelahkan dan memberatkan. Seringkali ia hanya tentang mencari sisi kreatif dari amal kecil tapi dahsyat.
Seperti keputusanmu untuk membeli sendal jepit dan kau taruh di mushala yang banyak orang pekerja kantoran di sana. Mereka butuh itu untuk wudhu dan ke kamar mandi.
Atau diam-diam melaundry mukena masjid yang telah lama tak dicuci sehingga "wanginya" semerbak.
Jika sempat pula, kita bisa mengajak teman-teman untuk iuran membeli sembako sederhana yang kemudian diantarkan ke guru-guru ngaji yang ikhlas mendidik generasi.
Semakin rahasia amal itu, semakin baik. Hanya Allah dan kita yang tahu, dan itu yang membuatnya makin berkilau.
Zubair bin Awwam, sahabat besar yang digelari sebagai Hawari Rasulillah itu pernah menasihati , "siapapun di antara kalian yang mampu memiliki amal shalih yang rahasia, maka lakukanlah."
Agar keikhlasan terjaga, dan kelak kita menemuinya lagi dalam keadaan penuh tanpa kikis.
Baru2 ini kepikiran, kudu punya amalan rahasia. Kalo sampe kelepasan, mesti menambah amalan baru yg rahasia, yg lama tetep diistiqomahkan tentunya
내일쯤 (around tomorrow) - translation (of official lyrics) (song located here) (spoken) (jonghyun: aigo, it’s tiring. sojin: ya, we have to finish this song today. jonghyun: oh? today? let’s do it tomorrow. sojin: tomorrow? jonghyun: let’s do it tomorrow, tomorrow. i’m tired today.) it’s okay to cheer up by tomorrow, no, it’s fine even by the day after tomorrow; even if you are gloomy, gloomy for about a month, I’ll be standing here (right?) (we) can’t be having fun everyday as we live; (we) won’t be tearing for a lifetime either. (it’s okay) (really?) (it’s okay) it’s fine to put aside everything and rest for just a day. it’s okay to cheer up tomorrow, no. it’s okay even by the day after tomorrow. even if you are gloomy, gloomy for about a month. i’ll be standing here. (really) sometimes, why am i the only one who was silly, or why am i the only one who isn’t doing well. i feel bitter, i can’t, to the point that it’s hard to bear. (when it’s stifling) during that time, (when it’s dreary), it’s not that bad to wasite it like that for once. (we) can’t have fun every day as we live; (we) won’t be tearing for a lifetime together. (it’s okay) (really, right?) (it’s okay) it’s fine to put aside everything and rest for just a day. it’s okay to cheer up tomorrow, no. it’s okay even by the day after tomorrow. even if you are gloomy, gloomy for about a month. i’ll be standing here. (really) (we) can’t be having fun every day as we live; (we) won’t be tearing for a lifetime together. (it’s okay) (really?) (it’s okay) it’s fine to put aside everything and rest for just a day. it’s okay to cheer up by tomorrow, no, it’s okay even by the day after tomorrow. even if you are gloomy, gloomy for about a month, i’ll be standing here. even if you are gloomy, gloomy, i’ll be standing here. i’m here. (source: cosmicsticks)
내일쯤 (around tomorrow) - translation (of official lyrics) (song located here) (spoken) (jonghyun: aigo, it’s tiring. sojin: ya, we have to finish this song today. jonghyun: oh? today? let’s do it tomorrow. sojin: tomorrow? jonghyun: let’s do it tomorrow, tomorrow. i’m tired today.) it’s okay to cheer up by tomorrow, no, it’s fine even by the day after tomorrow; even if you are gloomy, gloomy for about a month, I’ll be standing here (right?) (we) can’t be having fun everyday as we live; (we) won’t be tearing for a lifetime either. (it’s okay) (really?) (it’s okay) it’s fine to put aside everything and rest for just a day. it’s okay to cheer up tomorrow, no. it’s okay even by the day after tomorrow. even if you are gloomy, gloomy for about a month. i’ll be standing here. (really) sometimes, why am i the only one who was silly, or why am i the only one who isn’t doing well. i feel bitter, i can’t, to the point that it’s hard to bear. (when it’s stifling) during that time, (when it’s dreary), it’s not that bad to wasite it like that for once. (we) can’t have fun every day as we live; (we) won’t be tearing for a lifetime together. (it’s okay) (really, right?) (it’s okay) it’s fine to put aside everything and rest for just a day. it’s okay to cheer up tomorrow, no. it’s okay even by the day after tomorrow. even if you are gloomy, gloomy for about a month. i’ll be standing here. (really) (we) can’t be having fun every day as we live; (we) won’t be tearing for a lifetime together. (it’s okay) (really?) (it’s okay) it’s fine to put aside everything and rest for just a day. it’s okay to cheer up by tomorrow, no, it’s okay even by the day after tomorrow. even if you are gloomy, gloomy for about a month, i’ll be standing here. even if you are gloomy, gloomy, i’ll be standing here. i’m here. (source: cosmicsticks)
We always say, “Allah remove the bad people from our lives”
But, what makes we think that we’re the “good ones”?
Maybe, we’re the “bad one” in someone’s life and Allah removed us from them.
Sebenar-benarnya “patah” itu adalah ketika kita dijauhkan dari orang baik, dan kitalah orang yang Allah jauhkan darinya.. 💦
Mungkin kalimat ini tepat untuk disampaikan:
“Jika bersamaku adalah luka, pergilah.. patahku ditinggalkanmu tidak seberapa dibandingkan melihatmu terluka. Temukan dia yang baik bagi dunia dan akhiratmu.”
Apabila bersama malah —entah saling entah salah satu pihak saja yang— meracuni(menyakiti), aku tertarik untuk bertanya kepada diriku sendiri.
Apakah tujuan dari hubungan yang dijalin dan dijalani dengan cara seperti itu serta akankah betul-betul menjadi lebih baik kalau jawabannya: selesai atau bagaimana jika jawabannya adalah tetap bersama dengan berusaha memperbaiki, apakah itu akan menimbulkan luka baru lagi dikemudian hari?
Meskipun memaafkan bisa saja menjadi obat, namun dengan luka yang sama, hmmm rupanya isi kepalaku terpantau cukup ramai.
Ah, aku lebih baik tidak terburu-buru untuk mengambil konklusi karena perubahan itu niscaya/pasti.
Kepada penulis, aku berterima kasih, jazakallahu khairan, karena sudah menulis ini.
Berdasarkan apa yang saya pahami dari video tersebut, sosiologi adalah ilmu yang unik dan sangat mengagumkan. Di paragraf setelah ini saya akan menyatakannya dengan argumen tambahan.
Dengan memahami sosiologi secara utuh dan komprehensif, kita dapat melihat dan memandang fenomena atau gejala sosial dengan kacamata yang lebih baik tanpa ada penghakiman, baik itu menilai sesuatu sebagai kebaikan maupun keburukan.
Secara sederhana, sosiologi dapat diibaratkan atau dianalogikan sebagai kacamata. Kacamata yang digunakan sebagai alat bantu untuk melihat berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kemasyarakatan.
Tidak hanya sebagai alat bantu pengelihatan, sosiologi juga dapat membantu menjawab pertanyaan mengenai permasalahan yang ada di masyarakat, bahkan dapat lebih dari yang dikira.
Sosiologi lahir akibat rasa penasaran para ahli terkait perilaku manusia. Secara sepintas, sosiologi ada kemiripan dengan psikologi. Namun, hal yang menjadi pembeda adalah yang dipelajarinya. Dalam sosiologi, aspek yg dipelajari lebih luas dan tidak menjangkau secara individual semata.
Akibat dari adanya sosiologi, kita dapat mengetahui tentang adat atau budaya yang ada dalam masyarakat selama ini, misalnya adanya kemelekatan adat ketimuran di Indonesia yang membuat kita makan dengan tangan kanan; akibat adanya penjajahan yang membuat kita menilai budaya dari luar lebih baik dan lebih keren daripada budaya dalam negeri; anggapan mengenai wanita harus feminim --dalam artian mengurus urusan domestik saja-- dan pria harus jantan atau maskulin --dalam artian mengerjakan urusan pekeraan yang menghasilkan pendapatan-- yang menyebabkan tingginya angka kesenjangan pekerja jika dinilai dari jenis kelaminnya.
Tidak hanya itu, pada era modern saat ini yang mengubah perilaku hidup kita, hadirnya sosiologi dapat membantu kita menghadapi perubahan dan perkembangan zaman. Dengan pemahaman sosiologi yang baik, kita dapat mengkritisi pola-pola prilaku yang ada di masyarakat saat ini. Dengan demikian, kita dapat mengatasi dan menghadapi masalah-masalah yang yang terjadi di hadapan kita.
Dalam sejarahnya, kacamata alias sosiologi nan keren tidak hadir begitu saja. Ia lahir dari perjalanan panjang yang memukau. Pertama kali, sosiologi hadir ketika terjadi kesenjangan antara si kaya(pemilik faktor produksi) dan si miskin(para pekerja). Disebabkan oleh adanya kesenjangan itu, para filsuf makin penasaran. Sehingga, lahirlah sosiologi.
Setelah melalui masa itu, sosiologi terus berkembang hingga diajarkan di dunia pendidikan tinggi serta keilmuannya diaplikasikan dalam memahami masyarakat untuk membuat kebijakan oleh para petinggi negara. Sejatinya, sosiologi akan terus terpakai selama ada masyarakat di muka bumi ini.
Pada era modern saat ini, dalam mengamati perilaku manusia, penelitian sosiologi mulai berevolusi.
Bahkan, dengan adanya big data, para sosiolog sudah tidak perlu terjun langsung ke lapangan guna meneliti secara manual dan menganalisis kehidupan masyarakat yang akan memakan waktu lama.
Namun, di balik sisi positifnya big data ada pula sisi negatifnya, yakni manusia dapat dikontrol oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, kita jangan sampai ketinggalan perkembangan zaman dan melewatkan pembelajaran sosiologi.
Manifestasi pemanfaatan pada bidang penelitian sosiologi adalah yang dilakukan oleh Mbak Inaya selaku sosiolog media. Beliau melakukan penelitian ketika pemilu yang membahas tentang polarisasi cebong dan kampret untuk menjelaskan konservatisasi di bidang agama dan politik di Indonesia.
Manfaat dari diberlakukannya penelitian baginya: untuk mengetahui bagaimana dapat membuat manusia hidup bersama, tanpa adanya perang, karena manusia senang atau suka akan kebahagiaan dan saling terkoneksi antarsesama.
Memetik Hikmah, Memahami Bentuk Kasih Sayang-Nya yang Indah
Pada tulisan kali ini, aku hendak bercerita tentang sahabatku, Asha. Semoga Allah senantiasa menjaganya.
Beberapa tahun yang lalu, telepon rumahku mendapat panggilan dari rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari rumah kami berada. Panggilan itu berupa kabar bahwa sahabatku dan orang tuanya baru saja mengalami suatu pengalaman terburuk sepanjang hidupnya.
Orang tuaku membangunkanku dengan pipi yang basah oleh air mata. Aku tidak berani bertanya. Namun, kabar itu diceritakan sendiri oleh ibuku tercinta sambil memelukku dan menemani aku menangis sebelum berangkat ke sana. “Ibu tidak melarangmu untuk bersedih dan menangisinya, tetapi bolehkah ibu memintamu agar menangis secukupnya dan mendoakan mereka sebanyak-banyaknya? InsyaAllah, Asha dan keluarga masih dalam lindungan-Nya,” kata ibu sambil memeluku.
“Boleh, Bu. Kapan kita ke rumah sakit?” balasku sambil bertanya kepada ibu.
“Sekarang, kamu sia-siap ya. Bawa barang yang diperlukan saja. Ibu dan bapak tunggu di depan rumah, oke?” jawab ibu
Lalu, aku mengaggukan yang menandakan setuju.
Setelah perjalanan yang melelahkan itu, aku tiba di rumah sakit. Di sana, kami bergegas mencari di mana sahabatku berada. Setelah pencarian itu, akhirnya, kami bertemu, bertatap muka.
Kala itu, aku bertemunya dengan keadaan syok di salah satu rumah sakit yang dekat dari tempat terjadinya kecelakaan beruntun yang menimpanya. Atas kuasa-Nya, secara fisik, tidak kudapati luka parah meskipun mobil yang dikendarai orang tuanya sudah tidak bisa digunakan seperti sediakala.
Aku memeluknya dengan erat seerat yang aku bisa tanpa menyakitinya, menyeka air matanya, mendengarkan semua yang menyesakkan dadanya tanpa menyuruhnya berhenti menitikkan air mata.
Kubiarkan, kuizinkan, kubolehkan ia menangis secukup yang ia kira dengan tujuan membuatnya sedikit lega dan reda.
Setelah merasa lega dan reda, sahabatku mulai membicarakan hal yang berbeda.
Pembicaraan yang bukan lagi tentang perasaan kalut, takut, maupun kusut, melainkan hal yang membuatnya bersyukur atas kejadian yang hampir menuju maut.
"Aul. Aku bersyukur banget dengan kecelakaan ini," ucapnya sambil tersenyum lalu menatapku.
Aku bertanya-tanya kepada diriku sendiri sampai mengkhawatirkan kondisi mentalnya. Apakah sahabatku baik-baik saja? Apakah ini bagian dari post-traumatic setelah kejadian yang menimpanya? Kendati demikian, aku tetap buntu. Tak ada jawaban pasti dari isi kepalaku yang mampu menjawab keingintahuanku. Lagi pula, aku bukan seorang profesional yang mampu menjawab itu.
Aku tidak membiarkan keingintahuanku dapat terjawab dengan jawaban semu. Akhirnya, aku tanyakan itu kepada sahabatku, "Apa maksud bersyukurmu itu, Sha?" Tanyaku seraya menatapnya lalu menyangga kepalaku dengan tangan kananku.
"Aku bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk hidup, Aul." Ucapnya.
"Untuk hidup, Aul!" Ucapnya sambil menggoyangkan pundakku dan mengulang ucapan itu sebanyak tiga.
Aku tersenyum dan turut bersyukur sambil mengagumi rahmat Allah yang telah menjaganya meskipun ia harus melewati hal yang di luar kepala dan bukan kehendak manusia.
"Iya, Sayang. Alhamdulillah, ya," jawabku sambil memegang tangannya.
Tak lama setelah itu, matanya kembali berkaca-kaca. Sambil sendu, ia mengatakan sesuatu, "Aul. terima kasih ya, kamu sudah mendoakan aku ketika aku dan keluarga pamit pulang ke Jakarta. Bahkan, kamu juga menjagaku dengan doamu pada setiap kesempatan tanpa aku minta.
Dari kecelakaan itu, aku yakin sekali kalau Allah sedang menujukkan kasih sayang-Nya kepadaku, bapak, dan mama.
Aku engga pernah tahu, Aulia. Doa siapa yang didengarkan-Nya. Siapa tahu, doa-doamu untukku didengar Allah swt. Sehingga, aku dan kamu masih bisa bertatap muka, berpelukkan, bahkan menangis bersama.
Aulia, Allah itu sweet banget, ya? Dia menujukkan bentuk kasih sayang-Nya dengan cara yang tidak aku sangka, bahkan aku yakin kalau kamu juga tidak pernah menduga ini semua.
Kecelakaan itu menghadirkan banyak sekali hikmah dan mengubah presepsiku dalam menilai takdir dari-Nya. Salah satunya, aku memahami bagaimana bentuk rahmat-Nya meskipun bapakku harus kehilangan mobil kesayangannya, tetapi hal yang paling utama adalah keluargaku masih tetap bernyawa.
Aulia. Terima kasih ya, kamu sudah menjagaku lewat doa yang kamu aamiinkan dengan aamiin paling serius, paling sungguh, dan dengan rasa paling yakin di seluruh dunia," ungkapnya sambil memelukku dan meyandarkan kepalanya dalam pelukan itu.
Ungkapan panjang yang aku usahakan agar tidak terlupakan, kecuali atas izin-Nya.
Darinya, aku sadar bahwa tidak ada satupun sakit yang mampu membuat seseorang tersakiti kecuali atas izin-Nya, bentuk kasih sayang-Nya pun beraneka rupa, dan jangan pernah meremehkan doa.*
*Kalau Asha membaca tulisanku, jazakillah khairan sayangku. Semoga yang terbaik dariku untukmu dan keluargamu serta Allah ridha atas impianmu menjadi diplomat di negeri kanguru! I love you!
Remedial Lagi, Remedial Lagi!
Suatu sore sepulang sekolah, kuletakkan tas ransel dan buku-buku paket favoritku, yaitu fisika dan bahasa Indonesia beserta binder kecil hadiah dari sahabatku, Asha, di atas meja belajar berwarna cokelat tua.
Aku mulai mengerjakan PR-ku yang harus segera diselesaikan karena tahu kabar mendadak kalau esok adalah waktu remedial matematika. Aku menyukai matematika, tetapi tidak terlalu dan aku memang belum betul-betul memahami bab tersebut sehingga nilai 7,6 tertulis di kertas putih terpampang nyata dengan warna merah menyala.
"Sudah remed yang kedua, semoga besok terakhir, ya!" Kataku menyemangati diri. Ketika sudah mengerjakan PR, aku melihat waktu dan merasa sudah saatnya belajar matematika, mengevaluasi kesalahan soal ulangan sebelumnya beserta soal remedial remedialku yang pertama dan yang kedua, aku bersegera membuka lembaran dengan cepat, mengerjakan soal latihan baru, menonton video belajar rekomendasi guruku. Setelah itu, aku berkutat selama lebih dari satu jam terjebak dengan lima soal yang benar-benar tidak aku ketahui cara penyelesaiannya.
Ketika aku mengingat dan mengetahui kalau ibuku sedang berada di rumah, aku keluar kamar lalu menghampirinya di dapur. Bersama selembar kertas hvs yang ada ditanganku, aku menghampiri ibu yang sedang menulis sesuatu.
"Bu, Ibu lagi sibuk ndak?" Tanyaku sambil tersenyum malu
Menurutku, seorang ibu memang akan selalu memprioritaskan buah hatinya. Sehingga, beliau akan mendahulukan anaknya. "Ndak, kenapa?" Katanya sambil menghentikan aktivitasnya. Masya Allah, terima kasih, Ibu.
"Aku remedial matematika lagi, Bu. Aku sedih deh. Aku mau tanya lima soal yang susah ini deh," kataku sambil duduk di sampingnya dan menunjuk-nunjuk soal yang aku maksud.
"Oh, bab aljabar, ini subbab eksponensial, eh kok ada logaritma dasar ya? Ibu kasih cluenya aja ya?" Aku membalas dengan anggukan kepala.
Aku pun mulai mengerjakan soal berdasarkan sebatas clue yang diberikan ibuku tercinta.
Tiba-tiba ketika aku sedang asyik mengerjakan soal itu, bu berkata, "Kalau hidup di dunia ada enak ya, ada kesempatan remedialnya." Aku yang tidak terlalu serius mendengarkan, terbingung-bingung untuk memahami. "Ibu ngomong apa ya? Maaf, aku ndak terlalu mendengarkan," sahutku. Ibu mengulangi apa yang dikatakan dengan diksi yang lebih sederhana, "Kalau hidup di dunia ini, ada enaknya ya, Sayang? Masih ada remedial, masih bisa memetik hikmah, masih bisa mengambil pelajaran, tetapi kalau di akhirat berbeda," katanya menjelaskan kembali. Aku dengan singkat menjawab, "Iya, Bu. Aku boleh minta tolong dijelaskan?" Jawabku sambil bertanya,
"Pernah atau ndak sayang, kamu memikirkan kalau di akhirat itu jauh berbeda? Di sana, tidak ada remedial dan apa pun yang berhunungan dengan perbaikan. Nilai ulangan jelek masih bisa remedial, di-PHK bisa mencari pekerjaan, belum puas dengan kebaikan kemarin masih bisa memperbaikinya pada hari ini, gagal bisnis bisa mengevaluasi dan membangun kembali. Namun, kalau kita sudah berada di akhirat sana, sudah tertutup itu semua. Ada remedial yang akan berdampak di alam akhirat. Namun, remedial tersebut hanya berlaku jika dilakukan untuk yang mau menjalankannya." Ibu menjelaskan.
Aku bertanya-tanya untuk kalimat terakhir yang diucapkannya, "Adakah orang yang tidak mau menjalankannya(perbaikan) itu, Bu?"
"Jawabannya, ada. Sama seperti nilaimu itu. Nilai 7,6 untuk ulangan harian sudah pas dengan nilai KKM sehingga tidak masalah kalau tidak remedial. Namun, kamu memilih untuk melakukan perbaikan. Sementara, untuk perbaikan lain yang ibu maksudkan adalah merasa cukup baik atas apa yang sudah dilakukan sehingga tidak ada peningkatan dan merasa baik-baik saja dengan grafik bertumbuh yang cenderung stagnan.
Padahal dengan memahami peran dan alasan hidup di dunia serta jika diperhatikan lebih dalam, manusia(termasuk ibu dan kamu) akan selalu menemukan alasan mengapa harus terus membutuhkan perbaikan, misalnya wudhu untuk sholat sebelum ini(saat ini ashar, sebelum ini berarti dzuhur) kurang sempurna maka sebaiknya ketika sholat saat ini(misalnya saat ini sudah ashar) wudhu tersebut disempurnakan.
Nah, sebaliknya kalau kita tidak melakukan perbaikan, misalnya atas wudhu yang kurang sempurna karena belum terbasahinya anggota tubuh sesuai aturan-Nya lalu menganggap enteng keterlupaan tersebut, tidak melakukan perbaikan, merasa baik-baik saja(menganggapnitu bukan masalah), apa shalat kita diterima? Padahal, itu berdampak besar pada masa kehidupan kita selanjutnya(akhirat kita)."
Kata ibu mengakhiri penjelasannya.
Aku menunduk dan mengagguk. Terima kasih, Ibu.
Cerita lama, sekitar 2013/2014.
Balaslah dengan yang Lebih Baik
Pada suatu sore hari, aku akan membantu sesosok perempuan paling tangguh di dunia, yang tetap memperlakukan aku dengan adiwarna, dan tidak pernah berhenti mendoakanku meskipun aku tidak memintanya. Beliau adalah mama yang sudah lebih dulu memulai paginya dan mengistirahatkan diri paling akhir di antara anggota keluarga lainnya.
Sebelum membantunya, aku berada di kamar sambil membereskan kamarku yang berantakan. Di tengah kesibukanku membereskan kamar, aku mendengar bising dari dapur dan harumnya masakan mamaku tercinta. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas untuk berangkat ke arah mama berada karena mungkin aku bisa membantunya.
Dari kejauhan, aku bertanya, "Lagi apa, Ma?" Tanyaku sambil berjalan menuju ke arahnya berada. Aku pun menarik satu kursi di ruang dapur rumahku untuk duduk sejenak memperhatikannya. "Mama lagi masak nih, Kak," balasnya sambil mengusap keringat yang mulai membanjiri dahinya. Jiwa kepahlawananku mulai terguncang; aku merasa terpanggil. Setelah itu, kuputuskan untuk membantunya. “Apa ada yang bisa Aqis bantu, Ma?" Tanyaku menawarkan diri. Tanpa berlama-lama, mama mengiyakan tawaranku saat itu juga, "Ada, Kak. Masya Allah tabarakallah. Mama senang sekali dengarnya! Dari tadi dong, Kak. He he." Balasnya sambil tertawa.
Sore itu, aku merasa kalau mama memasak makanan lebih banyak dari biasanya. Oleh karena itu, rasa penasaranku pun meluap. Aku bertanya kepadanya, "Ma, kenapa masak sebanyak ini?" Tanyaku sambil meniriskan suatu lauk yang aku lupa namanya. "Itu buat dibagi-bagi, Kak. Kemarin, mama melihat pemulung dan ia tidak punya makanan untuk berbuka puasa. Sedihnya ketika itu, mama merasa belum bisa melakukan apa-apa. Nah, insya Allah, saat ini, mama bisa sedikit membantu orang lain, termasuk pemulung yang mama tidak tahu siapa namanya," jawab mamaku dengan senyum yang lebih manis dari gula.
Sebagai upaya untuk meramaikan suasana, aku bertanya kepada mama, "Berbuat baik itu harus kepada semua manusia ya, Ma?" Tanyaku sambil membungkusi kurma dalam plastik kecil untuk takjil berbuka puasa. "Iya, sayang," jawabnya. "Masya Allah, Ma. Namun, mengapa aku harus berbuat demikian, Ma?" Tanyaku penasaran.
Dengan lembutnya ia menjawab, "Karena Allah dan rasul-Nya memerintahkan demikian. Sederhananya, kalau kita sayang sama diri kita sendiri, maka jangan biarkan perbuatan buruk yang Allah murka, seperti dzalim menjadi teman sejati kita. Salah satu bukti menyayangi diri sendiri adalah dengan membalas semua perlakuan orang lain kepadamu, dengan balasan yang adiwarna. Supaya apa? Supaya kita bisa menjadi hamba yang lebih baik lagi dari kemarin dan kita tidak termasuk orang yang merugi." Jawabnya sambil merangkulku. Lalu, ia melanjutkan, "Kakak pasti bisa menjadi sosok yang lebih baik lagi, tanpa merendahkan orang lain, ya. Bertahap belajarnya, ya, Kak?" Katanya mengakhiri nasihat yang sangat indah itu.
Aku yakin keindahan nasihatnya lebih indah daripada senja di sore hari dan sama baiknya ketika hujan yang Allah ciptakan untuk seluruh makhluk-Nya yang sering kali disesalkan dikeluhkan, dan dibenci manusia-manusia di muka bumi ini, tidak terkecuali. Padahal, dari hujan, aku belajar ketika itu datang rahmat-rahmat-Nya turun ke bumi dan menjadi waktu mustajab untuk berdoa, sedangkan dari mama, aku jadi tahu kalau penilaian manusia tidaklah penting dan berbuat baik adalah keniscayaan karena hadiahnya berbagai macam, seperti surga-Nya dan rasa tenteram yang akan menghampiriku.
Ketika aku membalas kebaikan dengan kebaikan yang sama kuantitas dan kualitasnya, ternyata, itu sudah biasa. Namun, ketika aku membalas kebaikan bahkan keburukan sekalipun dengan yang balasan kebaikan yang lebih baik, itu baru istimewa! Terima kasih, mama! :)*
*catatan: keseluruhan cerita ini ditulis ulang atas izin yang bersangkutan dan berdasarkan kisah temanku, Aqis. ♥️
Selapang-lapangnya Lapang Hati.
Pada pagi Ahad 2014, aku dan kedua orang tuaku tengah menjalani rutinitas membersihkan halaman rumah depan dengan berbagi tugas.
Bagianku adalah mencabut rumput dan menyirami tanaman di taman kecil di halaman rumahku, ibuku menyiapkan teh dan martabak isi tahu kesukaan kami, dan bapak membersihkan barang-barang kuno, termasuk motornya yang sudah harus "dibungkus".
Tidak terasa, kami sudah melakukan hal tersebut selama dua jam. Sudah banyak rumput liar yang kucabut dan kubersihkan, sudah selesai bapakku membersihkan barang-barangnya, serta sudah tersaji dengan lengkap makanan yang aku sebut tadi, martabak tahu, oleh ibuku.
Ketika kami semua hendak mengakhiri rutinitas tersebut, dari kejauhan, aku melihat ada seorang bapak datang dengan berlari datang menghampiri kami. Ia menangis tersendu.
Karena bapak dan ibuku sedang beristirahat di ruang tamu, sedangkan aku baru membuang sampah di tempat sampah yang berada di depan rumahku, aku bertanya kepadanya, "Mohon maaf, ada apa dan kenapa, ya, Pak?" Tanyaku kepada beliau sambil berjalan mendekat ke arahnya. "Apa benar ini rumah Bapak(beliau menyebut nama bapakku)? Boleh minta tolong dipanggilkan bapaknya?"
Lalu kujawab, "Iya, benar. Boleh, Pak. Mohon maaf, ini dengan siapa ya? Akan saya panggilkan." Jawabku. Mohon maklum, teman bapakku sangat banyak. Terkadang, aku harus bertanya dahulu siapa nama beliau(teman bapakku) saking banyaknya teman bapakku itu. "Saya, Pak(ia menyebut namanya). Saya pernah ke rumah ini minggu lalu," balasnya.
Aku pun masuk ke dalam rumah memanggilkan bapakku untuk bertemu dengan temannya. "Pak, Bapak, ada tamu di depan rumah sedang mencari bapak. Bapak dipanggil Pak(aku menyebut namanya) katanya minggu lalu pernah ke rumah ini." Ucapku kepada bapakku.
"Oh, iya, iya. Bapak tahu siapa beliau." Kata bapak sambil berjalan menuju tamu itu.
Singkat cerita, beliau menangis karena minta tolong untuk dibantu. Anak bungsunya harus bayar tagihan sekolah, istrinya dirawat di rumah sakit, dan dirinya tidak mempunyai dana untuk membiayai itu semua.
Bapakku masuk ke ruang keluarga, beliau membicarakan ini kepada ibu. Keluargaku itu sangat suka berdiskusi. Ibu dan bapak mendiskusikan cara terbaik untuk bisa membantu beliau, semampu ibu dan bapakku.
Aku tidak turut hadir dalam diskusi tersebut karena belum mengerti dan hal tersebut bukan ranahnya seorang anak, melainkan orang tua. Akhirnya, orang tuaku membantu beliau semampunya.
Hari berganti, matahari bersinar kembali ditemani hujan yang telah selesai. Sungguh, hujan itu menenangkan hati.
Kala itu, aku akan diantar oleh bapak menuju sekolah. Ketika bapak sedang memanaskan kendaraan, sedangkan aku sedang memakai sepatu, tetangga depan rumahku datang memberi kabar mengejutkan. "Assalamu'alaikum, Pak(beliau menyebut nama bapakku)," sapanya sambil mengucapkan salam. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh, Pak(bapakku menyebut nama tetanggaku). Ada apa?" Tanya bapakku.
"Kemarin ada Pak(tetanggaku menyebut nama tamu yang datang ke rumahku pada Ahad lalu, yang berarti kemarin), ya, Pak?" Tanya tetanggaku. "Betul, Pak. Beliau kemarin ke rumah." Jawab bapakku. Dengan wajah kalang kabut, beliau mencoba memberi tahu suatu berita kepada bapakku. "Saya mau kasih tahu, tapi bingung. Kemarin beliau minta atau pinjam uang ya, Pak?" Katanya.
"Iya, Pak, betul. Beliau cerita sama saya kalau istrinya sakit, anak bungsunya harus bayar SPP, dan beliau enggak punya dana." Bapakku menjelaskan. "Duh, Pak, Pak. Tahu tidak kalau bapak itu sudah dibohongi!" Kata tetanggaku dengan menggebu.
Aku melihat dari jauh, bapakku terdiam. Aku percaya kalau beliau sedang menenangkan pikiran agar tidak mengucapkan kata-kata tercela. Bapakku hanya menghela napas dan tersenyum sambil menyalakan motor kembali. Tetanggaku keheranan terlihat dari wajahnya yang melongo. "Pak, kok diam saja? Tidak marah dengannya?" Tanya tetanggaku.
"Sebenarnya, semua yang bapak sampaikan tadi itu merupakan kabar baik untuk saya. Kenapa? Karena pada akhirnya, saya tahu kalau tidak ada yang sedang dirawat, tidak ada yang sedang kesulitan untuk membiayai pendidikan anaknya. Kalau mengenai kebohongan tersebut, saya pasrahkan kepada Allah saja." Mendengar jawaban tersebut, tetanggaku tersenyum lalu bersalaman dengan bapakku dan pamit untuk pulang ke rumahnya.
Dalam realitasnya, aku tidak menguping pembicaraan bapakku dengan tetanggaku. Akan tetapi, apa pun yang aku tulis tadi merupakan hasil dari cerita yang diceritakan kembali oleh bapakku ketika perjalanan menuju tempatku bersekolah tercinta.
Sepanjang perjalanan, aku dibuat kagum olehnya. Setibanya aku di sekolah karena dibuat penasaran oleh bapakku, aku putuskan untuk bertanya kepadanya, "Kenapa Bapak tidak marah kepada beliau?" Tanyaku sambil menatap wajahnya sambil memegang tangannya
Tidak berselang lama, beliau menjawab, "Sebenarnya, Bapak bisa saja marah kepada beliau. Akan tetapi, bapak memilih untuk tidak melakukan demikian. Sekarang, bapak akan bertanya kepadamu. Bukankah akan selalu ada cara untuk memetik sebuah kebaikan dari sejuta keburukan? Itu semua tergantung pada apa yang kita pilih, bagaimana menyikapinya, dan jangan lupa terhadap dampak setelah memilih itu semua. Bayangkan kalau bapak memilih untuk marah, apa saja yang akan bapak dapatkan? Apakah perasaan lega yang sejatinya hanya semu belaka? Apakah kebahagiaan? Dan apakah hal ini diridhai Allah swt.? Tentu jawaban dari pertanyaan itu semua adalah 'tidak' kan, Nak?" Jawabnya.
Aku tersenyum lalu berpamitan, terima kasih, Bapak.*
*Apabila ada kemiripan cerita, tidak apa-apa dan itu bukan sebuah masalah atau kesalahan, bukan? Kadang kala, kejadian yang sama bisa saja menimpa orang yang berbeda dengan cara menyikapi yang sama pula.
Tidak perlu ada sekat dalam rangkaian jamak. Tidak perlu ada jarak meskipun berbeda kehendak.
Hitam dengan putih mampu beriringan. Putih dengan hitam bisa berdampingan. Jika hanya ada satu warna yang terlihat sepadan, memandang akan sesuatu hal menjadi monoton dan tentunya membosankan.
Tidak ada yang salah dalam lingkungan homogen maupun heterogen, dimanapun dan kapanpun teruslah untuk menebarkan kedamaian serta kebajikan.
Tidak ada yang keindahan dan ketenangan batin dari peperangan, yang ada hanya ketakutan tak karuan, kecemasan yang tak berkesudahan, kelaparan yang akan dirasakan semua kalangan, kerusakan yang menghabiskan harta kekayaan, dan hal-hal tak mengenakan lainnya.
Mari tebarkan kebaikan! memaafkan kesalahan teman-teman, sebarkan semangat perdamaian, memaklumi kealpaan-kealpaan semua orang yang pernah mereka lakukan agar tidak ada lagi konflik yang menyebabkan perpecahan, keributan yang menyebalkan.
Seharusnya saat aku mampu bersabar dari berbagai tekanan,
Mengenai perasaan yang menjengkelkan
Tentang pikiran yang mengacaukan aktivitas seharian
bahkan menahan untuk tidak menumpahkan kemarahan
yang sudah sampai di ubun-ubun sekalipun
Merupakan kondisi yang paling membahagiakan.
Mengapa? Karena pada akhirnya aku tersadarkan, bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan.
Penjagaan Terbaik
Ketertarikanmu pada seseorang bukanlah sebuah kesalahan, pun kecondongan hatimu akan menyukainya juga bukan sebuah dosa atau kutukan, wajarkan saja.
Setiap pemilik, pasti akan menjaga apa yang dia punya, pun juga padamu. Saat kamu memiliki sebuah rasa, pada siapapun yang telah menarik perhatianmu, ingatlah bahwa cara penjagaan terbaik adalah dengan tidak memperdulikannya sama sekali. Jangan pernah.
Saat kamu mulai memperdulikannya, menandakan bahwa kini dinding penjagaanmu mulai runtuh, terkikis. Semua bermula dari mulai memperdulikannya, berakhir dengan dia menyadari bahwa ada yang memperhatikannya dari jauh, lalu berbuah “isyarat-isyarat hati” padamu, menjadikanmu berbunga-bunga padahal belum saatnya, dan jika berakhir salah hati bagaimana ?
Penjagaan terbaik berasal dariNya, saat kamu menjaga apa yang kamu miliki, Dia akan menjaga hati yang pantas untukmu. Setiap yang terjaga akan bertemu pada yang terjaga pula. Percayalah.
Sudah saatnya bagimu memilih semua yang baik-baik untukmu, mulailah mandiri untuk setiap keputusan-keputusan dalam hidup ini. Untuk masa yang panjang nanti.
Jadilah penjaga yang baik, yang tidak memperdulikan sama sekali untuk dia yang sedang menarik hatimu.
@jndmmsyhd
Mumpung masih suasana lebaran, mungkin aja ada yang pengen oleh-oleh wallpaper HP sebelum kembali ke kota tempat mengais nafkah.
Versi original bisa diakses pada tautan berikut: bit.ly/hamasah1439
“Setidaknya jika tidak bisa bersama orang yang dikagumi, kekaguman yang diwujudkan dengan meniru nilai-nilai baik yang ada pada dirinya, tanda dirimu berhasil mengambil manfaat darinya. Diiringi dengan doa kebaikan untuknya, dan do'amu pun akan kembali padamu.”
— Itulah sebaik-baik rasa kagum.
Karna orang-orang yang mampir dalam hidupmu adalah bagian dari ujian, begitupun ia yang engkau kagumi. Ia yang membuatmu begitu takjub adalah bukan sepenuhnya dirinya, melainkan salah satu bentuk dari keindahan-Nya.
Dan seperti yang dibilang mas @gsatriaandika jika tidak bisa bersama, maka sebaik-baik rasa kagum adalah dengan meniru kebaikan-kebaikan yang ada pada dirinya dan mendoakan -agar baik engkau dan dia menjadi hamba yang selalu bertakwa kepada Ar Rahman.
Semoga sabarmu semakin meluas. Hatimu semakin ikhlas.
“I ask Allah for something. If Allah gives it to me then I’m happy once, but if Allah does not give it to me, I am happy tenfold. Because the first is my choice, while the second is Allah’s choice.” (Ali Bin Abi Talib )
Jika Masih Belum Selesai
Ada yang belum selesai dengan perjuangannya, ada yang harus menghadapi hal yang tidak pernah mereka siapkan, ada yang dibuat menunggu lebih lama, juga ada yang sampai dipatahkan untuk kesekian kalinya. Kita tidak bisa sepenuhnya menilai dari apa yang terlihat dari mereka, perjalanannya, upayanya, terlebih hasil akhirnya. Karena dibalik penilaian dari banyak orang, semua masih berhak untuk berjuang.
Untuk semua, yang tengah memperjuangkan (si)apa pun.
© Danny Dzul Fikri