Selapang-lapangnya Lapang Hati.
Pada pagi Ahad 2014, aku dan kedua orang tuaku tengah menjalani rutinitas membersihkan halaman rumah depan dengan berbagi tugas.
Bagianku adalah mencabut rumput dan menyirami tanaman di taman kecil di halaman rumahku, ibuku menyiapkan teh dan martabak isi tahu kesukaan kami, dan bapak membersihkan barang-barang kuno, termasuk motornya yang sudah harus "dibungkus".
Tidak terasa, kami sudah melakukan hal tersebut selama dua jam. Sudah banyak rumput liar yang kucabut dan kubersihkan, sudah selesai bapakku membersihkan barang-barangnya, serta sudah tersaji dengan lengkap makanan yang aku sebut tadi, martabak tahu, oleh ibuku.
Ketika kami semua hendak mengakhiri rutinitas tersebut, dari kejauhan, aku melihat ada seorang bapak datang dengan berlari datang menghampiri kami. Ia menangis tersendu.
Karena bapak dan ibuku sedang beristirahat di ruang tamu, sedangkan aku baru membuang sampah di tempat sampah yang berada di depan rumahku, aku bertanya kepadanya, "Mohon maaf, ada apa dan kenapa, ya, Pak?" Tanyaku kepada beliau sambil berjalan mendekat ke arahnya. "Apa benar ini rumah Bapak(beliau menyebut nama bapakku)? Boleh minta tolong dipanggilkan bapaknya?"
Lalu kujawab, "Iya, benar. Boleh, Pak. Mohon maaf, ini dengan siapa ya? Akan saya panggilkan." Jawabku. Mohon maklum, teman bapakku sangat banyak. Terkadang, aku harus bertanya dahulu siapa nama beliau(teman bapakku) saking banyaknya teman bapakku itu. "Saya, Pak(ia menyebut namanya). Saya pernah ke rumah ini minggu lalu," balasnya.
Aku pun masuk ke dalam rumah memanggilkan bapakku untuk bertemu dengan temannya. "Pak, Bapak, ada tamu di depan rumah sedang mencari bapak. Bapak dipanggil Pak(aku menyebut namanya) katanya minggu lalu pernah ke rumah ini." Ucapku kepada bapakku.
"Oh, iya, iya. Bapak tahu siapa beliau." Kata bapak sambil berjalan menuju tamu itu.
Singkat cerita, beliau menangis karena minta tolong untuk dibantu. Anak bungsunya harus bayar tagihan sekolah, istrinya dirawat di rumah sakit, dan dirinya tidak mempunyai dana untuk membiayai itu semua.
Bapakku masuk ke ruang keluarga, beliau membicarakan ini kepada ibu. Keluargaku itu sangat suka berdiskusi. Ibu dan bapak mendiskusikan cara terbaik untuk bisa membantu beliau, semampu ibu dan bapakku.
Aku tidak turut hadir dalam diskusi tersebut karena belum mengerti dan hal tersebut bukan ranahnya seorang anak, melainkan orang tua. Akhirnya, orang tuaku membantu beliau semampunya.
Hari berganti, matahari bersinar kembali ditemani hujan yang telah selesai. Sungguh, hujan itu menenangkan hati.
Kala itu, aku akan diantar oleh bapak menuju sekolah. Ketika bapak sedang memanaskan kendaraan, sedangkan aku sedang memakai sepatu, tetangga depan rumahku datang memberi kabar mengejutkan. "Assalamu'alaikum, Pak(beliau menyebut nama bapakku)," sapanya sambil mengucapkan salam. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh, Pak(bapakku menyebut nama tetanggaku). Ada apa?" Tanya bapakku.
"Kemarin ada Pak(tetanggaku menyebut nama tamu yang datang ke rumahku pada Ahad lalu, yang berarti kemarin), ya, Pak?" Tanya tetanggaku. "Betul, Pak. Beliau kemarin ke rumah." Jawab bapakku. Dengan wajah kalang kabut, beliau mencoba memberi tahu suatu berita kepada bapakku. "Saya mau kasih tahu, tapi bingung. Kemarin beliau minta atau pinjam uang ya, Pak?" Katanya.
"Iya, Pak, betul. Beliau cerita sama saya kalau istrinya sakit, anak bungsunya harus bayar SPP, dan beliau enggak punya dana." Bapakku menjelaskan. "Duh, Pak, Pak. Tahu tidak kalau bapak itu sudah dibohongi!" Kata tetanggaku dengan menggebu.
Aku melihat dari jauh, bapakku terdiam. Aku percaya kalau beliau sedang menenangkan pikiran agar tidak mengucapkan kata-kata tercela. Bapakku hanya menghela napas dan tersenyum sambil menyalakan motor kembali. Tetanggaku keheranan terlihat dari wajahnya yang melongo. "Pak, kok diam saja? Tidak marah dengannya?" Tanya tetanggaku.
"Sebenarnya, semua yang bapak sampaikan tadi itu merupakan kabar baik untuk saya. Kenapa? Karena pada akhirnya, saya tahu kalau tidak ada yang sedang dirawat, tidak ada yang sedang kesulitan untuk membiayai pendidikan anaknya. Kalau mengenai kebohongan tersebut, saya pasrahkan kepada Allah saja." Mendengar jawaban tersebut, tetanggaku tersenyum lalu bersalaman dengan bapakku dan pamit untuk pulang ke rumahnya.
Dalam realitasnya, aku tidak menguping pembicaraan bapakku dengan tetanggaku. Akan tetapi, apa pun yang aku tulis tadi merupakan hasil dari cerita yang diceritakan kembali oleh bapakku ketika perjalanan menuju tempatku bersekolah tercinta.
Sepanjang perjalanan, aku dibuat kagum olehnya. Setibanya aku di sekolah karena dibuat penasaran oleh bapakku, aku putuskan untuk bertanya kepadanya, "Kenapa Bapak tidak marah kepada beliau?" Tanyaku sambil menatap wajahnya sambil memegang tangannya
Tidak berselang lama, beliau menjawab, "Sebenarnya, Bapak bisa saja marah kepada beliau. Akan tetapi, bapak memilih untuk tidak melakukan demikian. Sekarang, bapak akan bertanya kepadamu. Bukankah akan selalu ada cara untuk memetik sebuah kebaikan dari sejuta keburukan? Itu semua tergantung pada apa yang kita pilih, bagaimana menyikapinya, dan jangan lupa terhadap dampak setelah memilih itu semua. Bayangkan kalau bapak memilih untuk marah, apa saja yang akan bapak dapatkan? Apakah perasaan lega yang sejatinya hanya semu belaka? Apakah kebahagiaan? Dan apakah hal ini diridhai Allah swt.? Tentu jawaban dari pertanyaan itu semua adalah 'tidak' kan, Nak?" Jawabnya.
Aku tersenyum lalu berpamitan, terima kasih, Bapak.*
*Apabila ada kemiripan cerita, tidak apa-apa dan itu bukan sebuah masalah atau kesalahan, bukan? Kadang kala, kejadian yang sama bisa saja menimpa orang yang berbeda dengan cara menyikapi yang sama pula.