A Year with PASI
12 April 2016. Tak terasa sudah 1 tahun aku mengabdi di sini, Pengurus Besar Persatuan Atletik Indonesia (PB PASI), yang bermarkas di Stadion Madya, kawasan Gelora Bung Karno, Senayan. Belum pernah bertahan begitu lama pada suatu pekerjan. Lama? Ya, bagiku 1 tahun sudah lama. Aku tipe orang yang senang mencari tantangan dan hal baru. Nyaman di suatu pekerjaan karena gaji oke dan kerjaan yang flat bukan tipeku. Tapi aku bertahan disini. Ada begitu banyak hal yg dapat kugali disini. Terkenang saat awal aku bergabung, klinik medis begitu sepi. Kesadaran atlet akan kesehatan dan pemulihan pasca latihannya begitu kurang, dan pemahaman yang salah mengenai fisioterapi masih merupakan suatu yang sering dijumpai. Pernah beberapa kali ada atlet yang menjumpai saya dan meminta untuk difisioterapi. Singkat cerita saya menemukan tightness dan saya tunjukkan stretch dan minta dia melakukannya sendiri. Beberapa saat kemudian dia merasa enakan dan saya bilang sudah selesai. Dia terbengong dan bertanya, “lho ga difisioterapi?” Saya jawab “itu kan udah difisioterapi.” Dia menjawab lagi “ lho itu yang dipanas2in? Kan fisioterapi pake itu.” Pada fase-fase awal saya disini, kegiatan saya lebih banyak untuk promosi fisioterapi. Apa itu fisioterapi, fisioterapi pada olahraga itu gimana, kondisi apa atlet perlu ke fisioterapi, dsb. Masih terkenang pelatihpun tidak tahu kapan harus menyerahkan atletnya ke fisioterapi. Zaman dimana adanya ketakutan untuk dipulangkan apabila tim medis mengetahui ada atlet yang cidera. Selang beberapa bulan, hingga saat ini, keringat tidak sia-sia dikeluarkan. Perubahan sudah terlihat. Komunikasi atlet, pelatih, dan tim medis berjalan dengan baik. Pemahaman fisio sudah lebih baik. Keringat, tantangan, suka duka, selama di sini begitu beragam. Mungkin itu yang menyebabkan saya bertahan. Dibalik itu, cita-cita saya sendiri adalah ingin menjadi fisioterapi olahraga yang memajukan olahraga Indonesia di mata Dunia. Jadi mungkin saya akan bertahan lebih lama di sini. Setahun di sini, saya sudah harus pindah tempat karena rencana Asian Games yang akan diadakan di Indonesia Tahun 2018 menyebabkan kami harus keluar dari kawasan Gelora Bung Karno untuk renovasi besar-besaran. Walaupun bukan stadion terbaik, tercanggih, dan termegah yang saya masuki, dan meski harus berimprovisasi demi mencapai program rehabilitasi yang baik karena keterbatasan sarana di sini, tapi saya masih terasa tidak rela untuk meninggalkan stadion ini. Semoga pasca renovasi kami dapat menempati stadion ini lagi. Jayalah Atletik Indonesia
Salam Fisio, Stay Humble
















