Kak, aku rindu. Kapan kita bisa bertemu? Ah, sebelum kita benar-benar bertemu, aku tiba-tiba ingin memberimu sebuah peringatan kecil. Temanku kemarin menyatakan bahwa laki-laki lebih menyukai perempuan yang mampu terbuka tentang segala emosinya. Tersebab dia tidak perlu menebak-nebak apa yang ada di pikiran dan perasaan perempuannya. Lalu, bagaimana jika aku adalah perempuan yang sebaliknya? Apakah kamu masih mau?
Aku bukan perempuan yang banyak bicara. Setiap kali ada letup-letup emosi di dalam hati, aku meredamnya dalam-dalam. Aku merupa segala kesedihan dengan senyuman. Aku merupa segala kemarahan dengan ketenangan. Aku menahan setiap hal untuk diriku sendiri karena sulit sekali percaya bahwa akan ada seseorang yang mampu menampung segalaku –sekalipun itu kamu.
Atau, aku hanya belum tahu dan belum bisa membayangkan bahwa kamu benar-benar dapat menjadi nyata dengan kemampuan menerima segalaku? Entahlah.
Aku ingin tahu, apakah pertemuan kita mampu membuatku tidak lagi perlu menyembunyikan segala ketakutan dan tangisan? Aku benar-benar ingin tahu, apakah pertemuan kita tetap akan baik-baik saja dengan segala kecewa yang pasti ada? Dan, lebih dari sekadar perasaan ingin tahu… aku hanya rindu.