Aku baru dua bulan menjadi ibu dan banyak tugas yang harus aku kerjakan, termasuk menyelasaikan masalah diri sendiri.
Begitu banyak kasus-kasus anak ditelantarkan oleh ibunya bahkan banyak juga kasus yang mumbunuh anaknya, penyebab utama mereka tidak memiliki mental yang bagus sebagai seorang ibu.
Hal ini yang aku takutkan, sebab terlahir menjadi bungsu membuatku mudah mendapatkan uluran tangan, sehingga aku tumbuh menjadi anak yang manja.
Lelah menggendong anak, aku akan lari ke ibu meminta untuk digantikan. Anak mengalami kolik, lari lagi ke ibu. Padahal ketika anak meminta gendong karena dia merasa lebih nyaman dekat dengan ibunya. Padahal ketika kolik, anak bisa ditenangkan oleh ibunya, aku tahu itu semua. Dan Padahal aku ini ibunya yang seharusnya dapat melakukan itu.
Tentu kemanjaan ini bukanlah hal yang bagus:
Bagi anakku, dia akan kurang percaya akan ibunya karena ibunya sendiri kurang percaya diri untuk bisa merawatnya.
Bagi suamiku, dia bisa berfikir bahwa istrinya tidak mampu menjadi ibu.
Dan bagi aku sendiri, ini adalah kerugian besar. Menjadi ibu yang manja maka ini mengasah tajam mental yang lembek.
Bagaimana bisa aku mendidik anak berjuang dikehidupan , sementaradiri ini s mudah menyerah. Aku tidak akan bisa berbagi hal yang baik, jika aku tidak mempunyai itu.
Sedangkan mental seorang ibu haruslah tangguh, haruslah sehat, haruslah yang baik-baik. Bila tidak memiliki nilai-nilai kebaikan lalu benih apa yang ditanam untuk pemilik surga di telapak kakinyanya.
Kemudian aku teringat bahwa ada komunitas Ibu Profesional, aku masuk ke dalamnya. Bertepatan di awal tahun, aku terdaftar di kelas foundation dan saat yang sama juga aku kembali ke tanah rantau bersama suami.
Hari pertama menjadi ibu 100% sungguh jantung ini berdetak seperti ada ratusan kuda yang akan menerpa. Bisakah masak sambil mengurus anak, bisakah mengatasi kolik anak saya? Bisakah?
Meski kelas foundation belum selesai tetapi aku merasakan makna terdalam dalam kalimat Founder Ibu Septi “Ibu Profesional adalah ibu yang bersungguh-sungguh menjalankan peran hidupnya sebagai dirinya sendiri, sebagai istri, dan sebagi Ibu.” Jika aku tidak berusaha mandiri, tidak sungguh-sungguh dalam peran ibu mungkin saya memang ibu tetapi bukan profesional namun ibu kw.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk lebih berusaha, lebih sabar, kemudian ada sisi ketangguhan yang muncul pada diri.
Saat memasak ayam goreng, percikan minyak mengenai tangan, spontan aku berlari ke suami untuk meminta perhatian tetapi aku berhenti di ujung pintu kamar melihat suami sedang mengendong si sulung kami. Tidak, aku tidak boleh seperti anak kecil yang menangis karena hal buruk terjadi padahal sudah tahu solusi untuk mengatasinya.
Beberapa jam setelah kejadian percikan minyak. Suami melihat punggung tanganku yang melepuh, “Ini kenapa Bunda?”
“Ah, biasa ibu-ibu kalau masak kena percikan minyak.” Sambil bersuara parau, menahan tangis. Haha
Suamiku hanya tersenyum sangat lebar. Dalam diriku sudah serasa memenangkan perlombaan, “Sekarang bukan lagi hanya menjadi anak bungsu yang minta dimanja tetapi anak bungsu yang memanjakan, memberikan kasih sayang dan perhatian.”
👩 Ini tugas Intitut Ibu Profesional Aku sudah masuk kelas martikulasi Nama tugas ini Aliran Rasa