KUDASAI - For The Last Time
Kuharap kita masih punya waktu. Kuharap aku menyadarinya jauh lebih cepat. Kuharap aku bisa kembali ke awal lalu mengulang semuanya lagi dari pertama. Kuharap aku tak pernah pergi.
Kuharap aku terbangun dan masih tetap kamu yang aku punya.
****
Jujur, gue jauh lebih tegang sekarang ketimbang waktu mengucapkan ijab kabul dulu sama Twindy. Dulu sih gue sama bapaknya Twindy malah cengengesan, sedangkan Twindynya menghilang liburan ke Bali gak mau dateng pas ijab kabul. Bener-bener pernikahan yang seenak udelnya sendiri dah. Penghulunya aja kebingungan. Ya jangankan penghulunya, gue aja dulu ijab kabul pakai pakaian yang seadanya. Kaos warna merah, celana warna putih. Udah mirip kaya anak SD baru beres judi ager di depan sekolah.
Nasi padang Mahsyar gue saat itu benar-benar sudah gak kerasa lagi di mulut. Rasanya mendadak hambar dan gak ada nikmat-nikmatnya. Gue hanya ketawa-ketawa sendiri di depan teman-teman Anet mencoba memasang tampang seramah mungkin padahal ingin cepat-cepat pergi dari sana. Anet yang nasi di piringnya masih penuh pun kini malah memilih ngobrol sama gue sambil diam-diam menggandeng tangan gue di bawah meja.
Gue tegang. Keringet gue bercucuran, mengalir dari leher dan bermuara di ketek. Sekarang ketek gue lembab banget kaya kain pel. Ayam pop yang lagi gue makan kayaknya udah bukan Pop lagi, tapi udah jadi Rock n Roll. Anet tak henti-hentinya melepaskan pandangannya dari gue yang saat lagi lagi asik ngunyah ayam rock n roll. Padahal bentuk gue kalau lagi ngunyah gak ada bagus-bagusnya sama sekali, lebih mirip sama atlet halma.
“Kamu gak lanjut makan?” tanya gue waktu ngelirik makanan yang tidak ia sentuh sama sekali semenjak kehadiran gue barusan.
Anet menggeleng, “Kenyang.” Ucapnya sambil tersenyum lebar sekali sampai gigi putihnya terlihat. Salah satu alasan kenapa dulu gue bisa suka sama Anet.
“Kamu kok gak di cafe?” Lanjut Anet yang penasaran ngeliat penampilan gue sekarang.
“Cuti hamil.” Balas gue sembari menggigiti sisa-sisa daging di ayam rock n roll tadi.
Namun bukannya bete, Anet malah ketawa. Dan ngeliat dia ketawa, gue juga jadi ikutan ketawa. Dulu sewaktu kami masih bersama, kami mudah sekali tertawa di hal-hal yang sederhana. Tiap dia melihat ada postingan hewan lucu di instagram, dia pasti memperlihatkannya sama gue dan kami langsung ketawa bareng. Padahal postingannya gak penting. Cuma postingan kucing yang lagi cosplay jadi Katy Perry.
Liat ginian aja gue sama Anet ketawa coba :((
.
“Berarti gak akan balik ke cafe dong?” Tanya Anet lagi.
Gue berpikir sebentar, “Ntar aja yang shift malem paling.” Jawab gue asal.
Soalnya gue juga harus secepatnya balik ke kantor Twindy daripada nanti malah terjadi hal-hal yang gak diinginkan lalu berakhir Twindy tau gue ketemu Anet dan ditutup dengan gue dibawa di keranda mayat karena babak belur dihajar Mike Tayson perempuan itu.
Anet hanya mengangguk. Ia kemudian berbicara lagi dengan teman-temannya di depan sedangkan gue lagi cuci tangan di belakang, disusul beberapa menit kemudian oleh Anet yang sedang mencuci tangan beserta peralatan makannya juga. Begitu kembali, tampaknya gue melihat teman-teman Anet sudah hampir selesai makan dan akan kembali ke kantor. Alhamdulillah, akhirnya mereka pulang juga. Tuntas sudah bakti gue sebagai mantan yang gak sengaja ketemu di Padang Mahsyar.
“Ayo, Chak.” ajak Anet.
“Bentar, aku belum bayar.”
“Udah aku bayar kok tadi.”
“Lah? Gak usah ih! Buat apaaa??”
“Udah gapapa. Tabung aja uang makan siangnya kaya dulu. Yuk..” Anet menggandeng tangan gue pergi keluar restoran Padang ini.
Semasa kami masih bersama, keadaan keuangan gue memaksa gue untuk harus mau berhemat. Daripada tidak bisa bayar kuliah, gue lebih baik tidak makan seharian. Dulu pun biar hemat gue sering puasa senin kamis. Malah gak cuma senin kamis, tapi senin selasa rabu kamis sabtu minggu alias setiap hari gue puasa :(( Udah macam lagi melaksanakan tirakat biar bisa ilmu rawa rontek aja. Namun dulu Anet tetap berlaku sebagaimana kekasih pada umumnya. Anet yang selalu membelikan dan juga mentraktir gue makanan meski berkali-kali gue menolaknya.
“Uang yang kamu punya, tabung aja ya. Biar nanti suatu saat kita bisa punya cafe sendiri terus aku dan kamu kerja di sana sebagai suami istri, juga sebagai rekan kerja.” Ujar Anet dulu.
Gue tersenyum dan mengangguk. Sore itu kami berdua menghabiskan waktu dengan berdiskusi mengkhayal jika kelak suatu saat kita punya cafe. Bagaimana dekorasinya. Menu apa yang akan ada di sana. Berapa kisaran harganya. Dan masih banyak lagi. Mengingat hal itu sekarang, membuat gue harus menarik napas dalam-dalam.
Anet masih menggenggam tangan gue. Tubuh kecil di depan gue sekarang ini adalah alasan kenapa gue dulu memilih untuk bertahan hidup lebih lama. Karena bersamanya, gue tau hidup tak sesuram yang gue pikirkan. Dia yang mengajarkan gue untuk tidak takut bermimpi. Dia juga yang mengajari gue memasak hingga pada akhirnya gue ada di posisi sekarang ini. Lalu perihal semua dekorasi cafe yang gue punya sekarang? Semuanya adalah hasil dari buah pemikiran kami berdua, yang sayangnya harus terwujud di kala gue sudah menjadi suami dari wanita lain. Mimpi yang kami rencanakan bersama, gue bangun bersama orang lain. Hal inilah yang membuat gue merasa semakin bersalah kepada Anet. Bahkan ide untuk mengganti makanannya tiap hari pun murni bukan ide gue, melainkan ide Anet yang ingin agar ia kelak bisa mencicipi semua masakan gue yang berbeda tiap harinya.
Dulu, mimpi Anet untuk kami berdua sangatlah sederhana.
“Aku mau aku dan kamu hidup dan kerja di satu tempat yang sama. Kalau sudah sampai di taraf itu pun, kayaknya aku mati juga bakal sambil ketawa saking bahagianya.”
****
“Yaudah, Net, gue duluan yak.” Ujar temannya kepada kami berdua.
Gue tertegun, “Loh? Kamu gak balik sama mereka juga?” bisik gue.
“Enggak hahahaha.” Ujarnya sambil tertawa ceria sekali.
Ini anak dari dulu doyan bener ketawa. Dikit-dikit hahaha dikit-dikit hahaha, emaknya dulu ngidam ketemu Komeng kayaknya.
Gue makin bingung, gue masih berkali-kali melihat ke arah teman-temannya yang sudah masuk ke dalam taksi online lalu melihat ke Anet yang melambaikan satu tangannya, “Kamu sales door to door kaya penjual bubuk abate itu ya makanya gak balik ke kantor?”
“BUKAN IH ASTAGA!! JAHAT BANGET!! AKU KAN UDAH BILANG AKU INI HRD.”
“Terus kenapa kagak balik ke kantor? Dispen?”
“HAHAHAHA DISPEN, DIKIRA MASIH SMA!” Anet memukul pelan pundak gue, “Aku izin.” lanjutnya lagi.
“Hah? Izin? Emang bisa?”
“Enggak sih..” Anet sibuk membuka aplikasi taksi onlinenya, “Aku bilang mau ada wawancara di luar sama new recruitment gitu. Tapi sebenarnya ya enggak. Lagi males balik kantor aja.”
“Buset.. Kamu gak takut gajimu dipotong nanti? Emang mau ke mana sampe males balik ke kantor segala?”
“Dipotong gaji mah aku gak masalah, Chak.” Anet menunjukkan peta lokasi akhir di mana dia memesan taksi onlinenya tadi, “Aku mau ngajak kamu ke sini. Ke kostan aku yang baru. Kamu lagi kosong kan?”
HEEEEEEEEEEE… Kali ini gue kaget beneran. Bukan yang dibuat-buat. Kaget, tegang, takut, semua becampur menjadi satu. Gue gak mungkin melangkah lebih jauh dari ini. Twindy pasti bisa mencium apa yang gue lakukan meski gue sudah menyembunyikan hal itu serapat yang gue bisa. Indra penciuman Twindy kalau menyangkut kebohongan gue udah nomere uno. Nomer wahid. Denger Anet ngajak gue ke kostnya mendadak rasanya gue pengen kena Tipes aja gitu terus pingsan di tempat.
Gue sudah berkali-kali menolaknya, tapi Anet selalu tau cara terbaik agar membuat semua permintaannya dituruti. Berbeda dengan Twindy yang permintaannya wajib dituruti karena resikonya adalah gagal jantung, Anet yang memang pada dasarnya sudah memahami gue luar dalam, sangat tau cara-cara agar gue luluh dan mengiyakan kemauannya.
Dan di sinilah gue sekarang. Di depan tempat tinggalnya. Sebuah kostan dua lantai dan kamarnya ada di lantai dua bagian pinggir. Gue kadang ingin mengumpati diri sendiri lantaran kenapa bisa ada di sini sekarang. Tapi gue sendiri gak bisa menahan diri untuk pergi, alhasil gue hanya bisa pasrah ditarik ke manapun yang Anet mau.
Kayaknya Anet ini pakai pelet deh, makanya gue gak bisa nolak. Sedangkan untuk Twindy baru deh beda. Dia pasti pake santet. Sekali nolak keinginan Twindy, besoknya gue kalau batuk keluar jarum akupuntur.
“Masuk, Chak..”
Anet membukakan pintu. Gue sedikit membeku sewaktu melihat ruangan di dalamnya. Sebuah ruangan seperti halnya kostan pada umumnya. Tidak terlalu besar. Beberapa peralatan make-up terletak rapih di tempatnya. Wangi Anet yang tak berubah sejak beberapa tahun yang lalu masih sama tercium memenuhi angkasa. Yang membuat gue cukup terkejut adalah masih banyak barang-barang gue di sana. Ada gelas kepunyaan gue, piring makan, alat-alat pertukangan seperti tang, obeng, gunting. Semuanya masih disimpan rapih. Bahkan gelang dan kalung yang dulu sering gue pakai sewaktu ngampus juga masih dia simpan.
“Ini kan barang-barang aku di kostan lama. Kok bisa ada di sini?” Tanya gue penasaran.
“Ya habisnya kamu kan pergi tiba-tiba. Ninggalin semua barangmu gitu aja di kamar. Aku gak pernah tega buangnya, Chak. Jadi aku simpen aja.”
“Buat apaaaan… Menuh-menuhin tempat. Malah jadi nyampah nanti.”
“Biarin. Hahahaha..” Anet mengeluarkan kembalian nasi padang beserta struk di atas meja lalu ia izin pergi ke kamar mandi untuk ganti baju dulu.
Gue masuk lebih dalam, melihat ke arah laci di bawah meja dispenser. Setau gue Anet selalu menyediakan banyak minuman saset di sini. Dan ternyata benar saja, ada serenteng bungkus milo di sana. Gue buka laci satunya lagi untuk mencari gelas. Pencarian gue terhenti di depan sebuah gelas warna hitam pekat yang sudah tidak asing lagi. Gelas ini gelas spesial kepunyaan Anet. Bahkan tulisan yang tertera di permukaan gelasnya pun hasil buah tangan gue dulu.
“Gelas kepunyaan Anet. Jangan pakai!”
Gue terkekeh, gelas ini ternyata masih ada. Gue pakai gelas itu lalu menyeduh milo panas di dalamnya beserta tambahan susu kental manis, es batu yang dihancurkan, sedikit gula aren, dan terakhir taburan milo bubuk sebagai topingnya. Tak lama, Anet keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian yang bisa. Gue menyerahkan milo itu kepada Anet dan dia hanya tersenyum manis sekali.
Kami tak banyak bicara. Anet masih memegangi gelasnya dan duduk di atas kasur, sedangkan gue duduk di kursi meja belajarnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kami menjadi canggung untuk memulai percakapan. Sebelum tiba-tiba Anet berdiri dan menghampiri meja belajarnya dengan cepat.
“Loh, struk belanja nasi padang yang aku taruh di sini di mana?” Katanya rusuh.
“Aku buang noh di tempat sampah.”
“IH! Jangan!” Teriaknya. Ia langsung bergegas mengeluarkan semua isi tempat sampahnya dan mengambil kertas yang sudah terlanjur kumal itu. Alis gue naik sebelah melihat kelakuannya.
“Jangan dibuang!”
“Emang kenapa sih?”
“Ini struk makan siang kita setelah sekian lama. Aku mau simpen! Kamu gak usah protes.”
“….”
Anet membuka laci meja belajarnya dan di situ banyak sekali kertas-kertas kecil bekas pembayaran debit atm, tiket-tiket nonton bioskop waktu gue masih jadian sama dia meski sekarang tulisan di tiketnya sudah mulai pada pudar, struk makanan, foto box gue sama dia yang jumlahnya banyak sekali, tiket-tiket parkir, dan yang paling bikin hati gue rasanya patah berkali-kali ketika melihatnya adalah, daftar belanjaan bahan-bahan masakan pertama gue waktu dulu diajari oleh Anet. Gue masih inget, gue pertama kali belajar memasak adalah membuat sebuah menu kari. Dan anet yang meminta gue belanja apa saja bahan-bahan yang perlu dibeli.
“Net… Kamu masih simpen itu semua?” Tanya gue dengan nada yang serak sekali. Baru kali ini gue merasa ingin menangis dan memeluk Anet seperti dulu lagi.
“Wah udah banyak banget sampai keluar-keluar gini..” Katanya tidak menggubris pertanyaan gue.
“Net…”
“Besok aku rapihin lagi deh. Dah lama aku gak buka laci ini. Aku kira gak akan nambah lagi, eh ternyata masih nambah satu. Hehehe.”
“Anet..”
“Duh udah banyak yang tulisannya pudar. Pengen aku buang tapi sayang rasanya.”
“Anet..”
Air mata Anet mulai menetes, “Aku… A-ku gak mau ngebuang ini semua, Chak..” Tangannya bergetar, ia seperti sudah menahan air mata itu sejak lama. Kakinya yang sudah tidak kuat menopang membuatnya terduduk di depan semua kenangan-kenangan itu, air matanya deras mengalir. “Aku gak mau buang itu semua karena.. Karena aku gak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya, Chak..”
Mendengar hal itu gue langsung memeluk Anet yang kini menangis hebat. Ia meracau tak jelas. Berusaha bercerita tentang sejarah-sejarah dari setiap kenangan yang ia simpan. Tapi semakin ia menjelaskan, semakin deras saja air matanya.
“I-ini.. K-kamu inget ga? I-ni waktu kita nonton terus pulangnya kehujanan..” Kata Anet sambil meraih salah satu tiket bioskop di dalam laci, “Dan ini.. I-ni aku inget banget. Masih sangat aku inget. I-ni belanjaanmu terakhir kali sebelum kemudian besok kamu menghilang dari hidup aku, Chak.. Hari terakhir di mana aku gak pernah bisa ketemu kamu lagi setelahnya. Hari… Hari di mana aku ngeliat senyum kamu untuk yang terkahir kali. Hari di mana aku gak tau kalau itu hari terakhir sebelum kemudian kamu menyiksa aku dengan kepergianmu setiap hari.”
Anet menangis hebat, ia meremas struk belanjaan itu hingga bentuknya tak lagi utuh. Struk yang selama ini ia jaga dengan baik-baik hingga masih dalam bentuk yang begitu rapih tanpa ada lipatannya sama sekali itu kini rusak tercerai berai karena ia remas dan basah terkena air matanya sendiri.
“Kalau aku tau itu adalah hari terkahir di mana kamu bakal pergi dari hidup aku, Chak… Aku akan egois dan nahan kamu agar kamu gak pergi!!”
Gema tangisnya membuncah mengisi ruangan kamar. Tangisnya yang terisak-isak seakan mengiris hati gue dengan begitu kasar. Gue terus mendekap kepalanya erat. Membiarkan tangis itu pecah dan segala beban yang selama ini ia emban sendiri pada akhirnya tersalurkan setelah sekian lama. Perih sekali. Rasanya begitu sakit melihat Anet menangis seperti ini. Rasanya gue berdosa sekali karena pernah pergi dari hidupnya. Sambil masih menciumi rambutnya, tangis gue juga perlahan turun dengan diiringi berkali-kali kata-kata yang itu-itu saja..
“Maaf.”
“Maaf sudah pergi.”
“Maaf aku harus menghilang di saat kamu sedang butuh-butuhnya.”
“Maaf harus membiarkanmu menangis sendirian.”
“Maaf ga ada di saat kamu terluka dan menangis tiap malam.”
“Maaf harus membiarkan kamu melalui semua itu sendirian.”
“Maaf sudah pernah hadir di hidup kamu.”
Dan yang membuat air mata gue semakin deras juga adalah, kata-kata sederhana yang keluar dari mulut Anet untuk menjawab semua permintaan maaf gue sebelumnya,
“Kamu gak salah kok, Chak. Enggak.. Kamu gak salah meski kamu pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal sama sekali.” Anet terus menggelengkan kepalanya di tiap gue meminta maaf, “Aku gak pernah nyesel pernah sayang sama kamu.”
Mungkin dua puluh sembilan tahun silam, Tuhan tidak sengaja menciptakan malaikat dalam bentuk seorang manusia. Malaikat terbaik Tuhan yang menjelma menjadi seseorang bernama Anet.
****
Kami duduk berdua di atas kasur bersandar ke arah tembok. Anet masih menggenggam milo hangatnya yang baru disentuh beberapa kali. Sedangkan gue masih terpaku menatap kehampaan di langit-langit kost. Kepala Anet bersandar di pundak gue. Sesuatu yang dulu sering kami lakukan sambil tertawa, yang kini kami lakukan sambil berduka. Kami berdua seperti sedang merayakan kehilangan. Menambal luka hanya untuk menarik tambalan itu dan kami berdua terluka lebih hebat setelahnya.
Gue menghela napas panjang lalu mengusap lembut pungung tangannya, “Kamu apa kabar sekarang? Aku sampai lupa untuk nanya hal yang paling dasar hahaha.”
Anet tersenyum. Tidak tertawa seperti biasanya. Air matanya masih sesekali menetes membasahi pakaiannya sendiri, “Aku baik-baik aja kok.” Anet kemudian bangkit dari tidurnya lalu mengangkat kedua tangannya seperti orang sedang menunjukkan otot lengannya, “Aku kuat!”
Gue tertawa melihat kelakuan dia yang lugu seperti itu, “Hahahahaha, masih tetap Anet yang dulu ternyata.”
“Aku gak pernah berubah kali, Chak. Kamu tuh yang berubah.” Sindirnya.
Waduh, belum apa-apa gue udah diserang lagi.
“Kamu sendiri? Gimana keadaanmu?” Tanya Anet yang kembali rebah di pundak gue.
“Jauh lebih baik ketika masih sama kamu.”
“Ish, jangan ngomong gitu!” Anet memukul paha gue, “Nanti aku jadi ngarep lagi sama kamu.”
“Emang sekarang enggak?”
“Masih sih. Hahahahaha.”
Kami terdiam lagi, mencoba mencairkan segala kecanggungan ini.
“Aku gak tau apa yang sedang kamu rasakan sekarang, Ka.” Anet kembali membuka percakapan diakhir dengan panggilan kesayangannya buat gue itu. “Aku juga gak tau apa alasan kamu untuk tetap di posisimu dan tidak kembali jadi pacarku. Mungkin kamu sudah bersama orang lain. Atau mungkin kamu memang tidak mau kembali ke sini. Aku gak tau.”
Anet kembali terisak-isak lagi, “Tapi sudahlah, aku sudah capek berharap. Aku sudah benar-benar putus asa mengharap kamu bisa kembali lagi ke sini. Tiap kali aku berharap, aku pasti kecewa. Tiap kali aku berpikir aku akan baik-baik saja, ternyata semua tidak berjalan sebagaimana mestinya. Aku sekarang benar-benar gak mau lagi berharap. Berimimpi pun aku gak berani. Apa yang akan terjadi besok pun aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Tapi kamu tau gak, Ka, yang paling nyebelin dari ini semua tuh apa?”
“Hmm?”
“Ketika aku ketemu kamu, aku jadi berharap lagi. Aku jadi bermimpi lagi. Merasa hidupku masih ada harapan untuk bahagia lagi. Dan aku gak suka kalau aku seperti itu. Karena aku tau, bahwa kenyataan di mana kamu akan kembali sama aku itu masih belum tentu ada.”
Anet menangis lagi, ia menangkupkan kepalanya di dada gue dan gue memeluknya.
“Jangan dilepas dulu ya, Ka. Please, untuk hari ini aja. Biarin aku hidup di masa lalu. Di masa di mana kamu masih ada. Di masa di mana aku masih bisa dipeluk kamu seperti ini dan aku tau aku tidak sedang bermimpi. Tolong jangan lepasin dulu. Untuk kali ini aja. Please..”
“Iya..”
Hanya kata-kata singkat itu yang bisa gue keluarkan. Gue tau Anet tidak butuh kata-kata penyemangat yang lain. Dan gue juga tidak akan menolak apa pun permintaan yang ia inginkan sekarang. Kami berdua benar-benar kembali menjadi kami yang dulu lagi. Yang masih hidup bebas tanpa terkekang oleh segala takdir busuk yang tidak kami minta kepada Tuhan ini. Siapalah gue yang bisa meminta ketika keadaan buruk ini terjadi. Gue bukan siapa-siapa yang bisa meminta meski sudah sekuat apa pun juga gue mencoba. It’s not that easy.
“Net..”
“Hmm?”
“Kamu tau kenapa aku mencoba menghindar untuk bertemu kamu lagi?”
“Kenapa?” Tanyanya dengan suara pelan sekali. Seperti sedang berbisik langsung ke jantung gue sendiri.
“Karena seperti yang kamu bilang, aku gak mau membuat sebuah harapan palsu yang justru pada akhirnya membuat kamu kecewa. Aku tidak mau menyiksa kamu lebih dari ini. Aku tidak bisa pulang ke kamu kalau aku sendiri masih belum 100 persen yakin aku tidak akan pergi lagi. Itu sebabnya aku selalu menjauh. Aku tidak mau membuat kamu menunggu. Aku tidak ingin kita seperti dua rel kereta api. Saling bisa melihat, masih saling kenal, masih saling akrab, masih begitu dekat, tapi kita tau sejauh apa pun kita berdua, kita tidak akan pernah bisa bersama.” Tukas gue dengan nada yang begitu pelan.
“Pagi. Siang. Sore. Malem.”
Tiba-tiba Anet mulai mengoceh sesuatu yang tidak jelas,
“Coba kamu hitung, sudah berapa ribu aku melewati pagi, siang, sore, dan malem, berharap kamu datang atau setidaknya menghubungi aku? Nomer teleponku masih sama, sengaja aku tidak ganti karena aku takut siapa tau suatu saat kamu akan menghubungiku dari sana. Aku sudah menitipkan alamat kostku yang sekarang kepada penjaga kost kita yang dulu untuk jaga-jaga kalau suatu saat kamu pulang. Ribuan hari aku jalani sendiri, tapi aku tidak pernah lupa bagaimana suara kamu. Bagaimana cara kamu tertawa. Bagaimana cara kamu menuruti semua yang aku mau. Bagaimana wajah bahagiamu ketika masakanmu berhasil dan rasanya benar-benar enak. Aku tidak bisa lupa dan aku masih menunggu kamu, Ka. Diam-diam se-tidak-ingin apa pun aku berharap, nyatanya ternyata aku masih. Jadi kalau kamu tanya apakah aku akan menunggumu atau tidak…”
Anet terdiam sebentar.
“I’ll wait for you until the very end.” Lanjutnya lagi.
“Aku mau nunggu kamu, tapi aku juga takut kamu sudah benar-benar menghilang. Sayang sama kamu rasanya seperti penyakit. Dia menjalar ke seluruh tubuh dan gak akan pernah bisa aku singkirkan kecuali aku mati.”
“Hus.. Jangan bilang gitu.” Gue mengelus kepalanya lagi.
“Sudah bertahun-tahun kamu pergi dan aku tidak pernah bisa melupakan kamu sedikitpun dari kepalaku. Tidak peduli sekuat apa pun aku mencoba, aku benar-benar gak bisa. Tiap aku memejam, bayangmu semakin nyata. Terus setelah semua yang kamu lakukan kepadaku ini apa kamu berpikir aku akan memaki-maki kamu? Apa aku akan menyumpah-serapahi kamu? Apakah aku akan memukulmu dan mengatakan semua hal-hal buruk di dunia ini hanya karena kamu pergi meninggalkanku? Terus apa kamu pikir aku bisa membenci kamu? Enggak, Ka. Enggak. Kamu tau aku, kan? Aku yang kamu kenal selalu bisa memaafkan apa pun yang kamu lakukan. Karena aku tau, Chaka tidak akan pernah melakukan sesuatu yang jahat tanpa alasan yang gak masuk akal. Tapi aku akui, rasanya sakit banget, Ka, mengetahui kamu pergi di saat aku sedang butuh-butuhnya. Bayanganmu menghantui aku tiap malam, kamu sering hadir dalam mimpi. Sudah tentu aku bahagia di sana, lalu ketika keesokan paginya aku terbangun dan aku kembali dihantam kenyataan bahwa kamu sudah gak ada, hatiku sakit sekali. Begitu saja terus setiap hari. Bahkan ada satu waktu di mana aku enggan sekali tertidur. Aku enggan sekali memejamkan mata karena aku tau aku akan menemui kamu di sana. Semua tak lebih dari rasa sakit yang dengan terpaksa harus aku jalani setiap hari tanpa bisa aku mencegahnya.”
Anet melihat ke arah gue dengan mata yang sudah penuh dengan air mata, “Kamu tau, ka? Hari di mana kamu pergi adalah hari di mana aku mati.”
Anet kemudian merebahkan diri di paha gue, “Aneh ya.. Ada satu orang dalam hidupku yang benar-benar bisa mengubah seluruh keadaan tubuhku dalam beberapa detik. Dalam 60 detik, dia bisa membuatku merasa bahwa aku sedang berada di puncak kebahagiaan, tapi di 60 detik yang lainnya dia bisa menghancurkanku menjadi jutaan kepingan. Begitu saja terus. Tapi sialnya, aku tetap saja menunggunya untuk pulang. Bodoh banget kan, Ka?”
“Net..”
“Engga, Ka! Kamu diem dulu! Aku dulu pernah janji aku gak akan pernah berhenti ngobrol sama kamu, kan? Jadi sekarang kamu diem aja, biarin aku yang bicara.”
“….”
“Aku sadar mungkin kamu sudah tidak mencintai aku lagi. Aku juga sadar mungkin kamu sudah melupakan beberpaa kenangan bahagia yang pernah kita jalani bersama. Aku juga sadar kamu sudah tidak peduli lagi denganku. Tapi, Ka, apabila semua itu berubah dan kamu menjadi kamu yang dulu lagi–” Anet mulai menarik kerah gue erat, dia menangis begitu keras, “Kamu tau kan kalau aku masih akan selalu di sini menunggu kamu sampai kapan pun itu? Kamu tau itu, kan, Ka?!”
Anet kemudian menangis dipelukan gue lagi.
“Kamu bisa pergi ke mana pun yang kamu mau. Sejauh apa pun yang kamu ingin. Kamu bebas terbang dan menjadi siapapun yang kamu mau. Kamu bisa dan kamu boleh. Tapi aku minta satu hal sama kamu. Kamu gak boleh lupa kalau aku akan selalu ada di sini. Aku gak pernah ke mana-mana. Karena gak peduli sehancur apa pun keadaanku, aku cuma punya kamu, Ka. Cuma punya kamu.”
****
Hari semakin sore dan kami hanya terdiam di dalam sebuah ruangan yang menjadi saksi di mana pada akhirnya dua orang masa lalu bertemu kembali meski tidak akan pernah bisa bersatu. Gue masih belum bisa bilang kepada Anet keadaan gue sekarang. Alasan sebenarnya tentang kenapa gue tidak bisa kembali bersamanya meski gue akui gue ingin sekali.
Hidup bersama Anet rasa-rasanya begitu nyaman. Gue seperti bisa menjadi siapapun yang gue mau dan dia akan tetap menerima gue apa adanya. Ia akan selalu mendukung apa pun yang gue lakukan. Dan gue akan merasa selalu baik-baik saja ketika bersamanya meski saat itu gue sedang ditimpa masalah bertubi-tubi. Anet adalah satu-satunya wanita yang mampu mendampingi gue dengan sempurna. Ya, memang ia tidak bisa membantu gue menyelesaikan semua masalah-masalah yang gue punya, tapi bersamanya gue merasa bahwa gue selalu bisa melalui semua itu dengan baik-baik saja. Anet punya kemampuan untuk itu. Untuk meyakinkan gue bahwa semua akan baik-baik saja seburuk apa pun dunia sedang mempermainkan kami berdua.
Gue bisa bercakap ratusan jam bersama Anet membahas dari hal-hal lucu sampai hal-hal tentang blackhole atau kumpulan alien di seluruh alam semesta sekalipun tanpa bosan. Kita benar-benar seperti dua orang yang memang diciptakan untuk bersama, tapi tidak ditakdirkan untuk hidup berdua.
Gue tidak bisa berlama-lama di sini. Setelah menjelaskan beberapa alasan yang gue karang sendiri, akhirnya Anet mau melepaskan pelukannya meski gue tau ia enggan. Anet masih diam di sana terduduk di atas kasur. Menatap gue yang sudah berada di bibir pintunya bersiap menutup pintu itu dan pergi.
Anet menangis keras sekali lagi.
“Jangan pergi lagi, Ka…. Aku mohon…” Tangisnya menguat.
“Doakan aku bisa secepatnya pulang ya, Net.” Jawab gue parau.
Anet mengangguk kencang berkali-kali sambil masih menangis seakan ucapan sederhana gue barusan mampu membuatnya hidup kembali.
“Jangan lama-lama perginya,Ka. Cepet pulang… Aku akan nunggu kamu di sini” Ucap Anet dengan suara gemetar, “Aku mohon, Chaka, jangan menghilang lagi… ”
Perasaan gue campur aduk. Di satu sisi, gue ingin kembali. Tapi di sisi lain, gue tidak tau apakah langkah gue pergi dari pintunya ini akan menjadi langkah terakhir sebelum kemudian kami tidak akan bisa bertemu lagi apa tidak. Gue benar-benar tidak tau.
Sebelum pintu itu gue tutup, gue kembali menatap Anet yang masih saja menangis di atas duduknya.
“Net, apa kamu gak lelah menunggu terus seperti itu?” Tanya gue memastikan untuk terakhir kalinya.
Dia menggeleng pelan,
“Buat kamu?” Anet tersenyum menatap gue dengan mata sembabnya, “Gak pernah.”
Bersambung
Part sebelumnya: INDEX














