Saat malam sebelum kupejamkan mataku, aku selalu bergumam dan meminta pada Allah, agar mampu memaafkan beberapa orang yang pernah meremehkan atau merendahkanku, juga keluargaku
Aku memang bukan terlahir dari keluarga yang kaya raya. Namun, jiwa dan hati kedua orangtuaku lah yang kaya. Rasa tenang dan cukup, yang mungkin tidak banyak dimiliki orang lain. Kuakui, mereka tidaklah pelit, suka membantu saudara maupun orang lain, bahkan saat mereka juga sedang membutuhkan. Ketika di atas pun, mereka tidak pernah sombong. Akhlak yang membumi itu, selalu diajarkan pada anak-anaknya, hingga bisa kurasakan sampai saat ini
Aku pernah beberapa kali dihina, difitnah, diremehkan, entah dalam hal harta, pekerjaan, intelektual, pemikiran, keputusan, keyakinan; dengan kolega kerjaku, temanku, dosenku, bahkan orang terdekatku, namun, aku memilih tidak menanggapi
Aku pikir, tidak perlu membuktikan apapun pada siapapun. Tidak perlu bersusah payah menjelaskan kondisi apapun pada orang lain. Juga, tidak perlu membalas meninggi dengan cara merendahkan yang lain. Cukup perlu koreksi diri, karena perlakuan orang lain juga tidak lepas dari dosa-dosa kita, atau hak-hak Allah yang pernah diabaikan
Sering kita ketahui, bahwasannya tabiat manusia itu senang dipuji, meski sesuatu yang dipuji itu tidak ada dalam dirinya. Lantas, mengapa kita harus marah, ketika yang dicela tidak ada dalam diri kita?
Itulah alasanku, mengapa aku memilih untuk tidak menanggapi, meski rasa sakit itu masih ada. Aku hanya berdoa, semoga Allah ikhlaskan hatiku untuk menerima sesuatu yang tidak aku sukai
Jakarta, 14 November 2023 | Pena Imaji