Dulu aku sibuk mencari siapa yang akan bertahan. Sekarang, aku lebih sibuk memastikan bahwa diriku tetap berjalan dengan baik. Bukan karena tidak butuh siapa-siapa, tapi karena tidak semua hal harus bergantung pada orang lain.

祝日 / Permanent Vacation
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Keni
Stranger Things
occasionally subtle

Discoholic 🪩
Show & Tell
DEAR READER

JBB: An Artblog!
dirt enthusiast
No title available
Cosimo Galluzzi
styofa doing anything
almost home
Peter Solarz

★
Xuebing Du
RMH
YOU ARE THE REASON
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from Portugal
seen from United Kingdom

seen from Türkiye
seen from United States

seen from Germany
seen from United States
seen from Denmark
seen from Maldives
seen from T1
seen from Japan

seen from Brazil

seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from Austria
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@its-mieee-world
Dulu aku sibuk mencari siapa yang akan bertahan. Sekarang, aku lebih sibuk memastikan bahwa diriku tetap berjalan dengan baik. Bukan karena tidak butuh siapa-siapa, tapi karena tidak semua hal harus bergantung pada orang lain.
The Unspoken Hope
Ada lapisan-lapisan yang sering kali aku simpan dalam diam. Sebuah ruang privasi yang aku jaga dengan topeng-topeng paling meyakinkan agar dunia tetap merasa nyaman. Terkadang, aku begitu terbiasa "terlihat" di permukaan, sampai aku lupa bagaimana rasanya dipahami tanpa harus banyak bicara.
Ada sebuah harapan yang sering kali tidak terucap namun selalu menetap: keinginan untuk ditemukan oleh seseorang yang tidak hanya melihat apa yang tampak, tapi juga mengenali apa yang sebenarnya sedang aku lalui.
Ini bukan tentang siapa yang paling lama mengenalku, melainkan tentang siapa yang mampu menghargai kehadiranku seolah seluruh perjalanannya memang menuju satu titik ini. Seseorang yang melihat lelah di balik ketegasanku, atau keraguan di balik kemandirianku, dan tidak memintaku untuk segera berubah demi kenyamanannya.
Penerimaan yang paling tulus bagiku tidak butuh banyak penjelasan. Aku hanya butuh seseorang yang bersedia memberikan waktu yang cukup untuk menyadari bahwa apa yang aku tampilkan sehari-hari hanyalah sampul dari cerita yang jauh lebih kompleks. Seseorang yang menghargai setiap retakan sebagai bagian dari perjalanan, bukan sebagai kekurangan yang harus diperbaiki.
Pada akhirnya, kenyamanan muncul saat percakapanku tidak lagi dihabiskan untuk sekadar menjelaskan diri. Kehadiran seseorang yang sudah "selesai" dengan pengenalan dasar memberikan ruang untuk fokus pada apa yang bisa dibangun bersama, tanpa perlu lagi mengulang bab tentang pembuktian diri.
Note: True understanding begins where explanations are no longer a burden.
Kalau perihal merawat dan menyembuhkan rasa sakit, aku terlampau pandai. Namun untuk menerima seseorang yang tulus padaku, justru aku tergagu. Karena selama ini, aku seringkali menjadi pihak yang menyayangi tapi tak disayangi.
Semoga, yang kelak datang akan memeluk menenangkan ku dengan segala pahit getirnya hidupku, bilang bahwa semua akan baik-baik saja. Bahwa ia akan selalu disampingku, meski terang gelap duniaku.
Kemarin sempat scrolling Threads dan membaca sebuah utas. Ku baca karena penulis mengawali ceritanya yang berkaitan dengan kisah volunteer salah seorang keluarganya ke Sumatera. Tapi satu hal yang masih cukup membekas di benakku justru 1 kalimat terakhir dari utas pertama tersebut.
Katanya:
Mencintai seseorang yang berjiwa bebas itu adalah penjara yang sebenarnya.
Aku tergelitik, karena begitulah aku mengenal diriku ini. Bukan semata-mata hanya karena suka bepergian saja. Tapi aku suka pada suatu hal yang tidak tetap, yang selalu ada tantangan. Suka explore ke hal-hal yang bahkan mungkin tidak terpikirkan orang lain. Karena sekedar penasaran dan ingin tau rasanya. Mungkin bagi sebagian orang, ada benarnya pernyataan di atas.
Tapi, bagi sebagian lainnya bisa berlaku sebaliknya. Bagi orang lain, bisa jadi ia jatuh hati justru karena hal itu (re: jiwa bebasnya). Karena kemarin pun ku baca komentar² utas tersebut. Dan salah satu yang disebutkan di komentar itu adalah Zakia dan suaminya, Hanung. Anaknya 5 dan suaminya sutradara yg yaa kalo sibuk ya sibuk buanget. Tapi dia tetap bisa ikut kegiatan kemanusiaan. Karena suaminya berkompromi bahkan mendukung. Ya, itu salah satu publik figur yang dikenal banyak orang. Orang² biasa pun menurutku juga ada, karena aku pun melihat dari ortuku sendiri.
Bapak dari awal ngga pernah maksa ibu kerja, tapi ibu pengen tetep nerusin usaha jahitnya yg udah dikerjakan dari semasa ibu kuliah dan pacaran dengan bapak. Sampai sekarang ibuk masih menjahit, walaupun sebenernya bapak udah beberapa kali bilang untuk ngga diforsir. Karena ibu masih sering begadang buat njahit, sementara ibu juga aktif jadi pengurus masjid rumah juga kegiatan ibu² kaya arisan, dawis, PKK.
Mungkin yang lebih tepat, menurutku justru begini kalimatnya:
Mencintai orang yang tidak mendukung jiwa kita adalah penjara sebenarnya.
Karena kompromi dalam rumah tangga menurutku penting. Saling ridho dan saling memudahkan pasangannya. Sekufu dalam banyak arti. Walaupun keputusan orang menikah itu ada banyak sekali faktornya, tapi buatku untuk apa menikah dengan orang yang tidak menerima dan support akan apa adanya dirimu?
Your greatest contribution to the world may not be something you do, but someone you raise.
Sebagaimana ibunda Imam Bukhari, beliau tidak menghasilkan Kitab Shahih Bukhari, tapi beliau melahirkan dan membesarkan penulisnya.
Atau sebagaimana Hannah binti Faqudz, ibunda Maryam salamun 'alaiha, yang mengira akan melahirkan bayi lelaki, sehingga bernadzar bahwa anak lelakinya kelak akan berkhidmat untuk Baitul Maqdis. Ternyata Allah karuniakan ia anak perempuan, lalu ia menamai anak perempuannya itu Maryam. Siapa sangka di kemudian hari, nama anak perempuannya Allah abadikan menjadi salah satu nama surah dalam Al Qur'an, dan Allah jadikan anak perempuannya ibu dari seorang Nabi.
Untuk segala sesuatu yang telah engkau ikhtiarkan sebaik mungkin namun takdir Allah berkata lain. Untuk do'a-do'a yang bertahun-tahun terus kau panjatkan dengan hati yang penuh baik sangka, tapi Allah katakan tidak sebagai jawabannya. Percayalah bahwa selalu ada hikmah di balik semua itu, dan skenario yang Allah pilihkan untukmu adalah yang terbaik bagimu meski hikmah-hikmahnya belum kamu tahu.
Kadang, Allah menempatkan kita di posisi yang jauh sekali dari ekspektasi yang kita impikan. Lalu dunia melihat kita sebagai barisan orang-orang yang gagal mewujudkan mimpinya. Padahal, di posisi itulah Allah sedang membesarkan peran kita, dan melibatkan kita untuk jadi jalan kebermanfaatan bagi sesama, lewat skenario yang paling diridhoi-Nya.
Maka, di mana pun posisi kita saat ini, selama kita berjalan di jalan yang Allah ridhai, peran kita selalu bernilai di mata Allah. Nilai kita di mata Allah, itulah yang terpenting.
Teruslah berbaik sangka pada-Nya. Sebab tidak ada ikhtiar yang sia-sia. Tidak ada do'a-do'a yang diabaikan begitu saja. Skenario-Nya memang tidak selalu mudah untuk kita mengerti, namun suatu saat nanti, hikmahnya akan sangat kita syukuri.
Ukhtukum fillah, @rizqan-kareema .
Aku sadar, hidupku 2 tahun kebelakang rasanya lebih hambar dari sebelum²nya. Kaya....kehilangan sparks nya. Ngejalanin hari ya udah gitu aja. Kaya lagi kehilangan ambisi pada hal² yg kusenangi dulunya.
Jujur tambah bingung lagi, keluar ataupun kembali menemukan sparks nya bagaimana :")
Terlebih aku yang anak pertama, selama ini tidak dibiasakan untuk cerita hal-hal yang menyangkut diriku–kecuali yang benar² penting, ke orang tua. Ke teman² terdekat pun, karena skrg fasenya ada yg lagi sibuk dg ngajarnya, anaknya, S2nya jadi tambah segan untuk meminta waktu buat dengerin keluh kesahku yang masih seputar itu² saja. Makin takut membebani hari² mereka dengan kesibukan masing². Dan aku pun ngga tau, apakah aku dah sampe di titik harus mencari pertolongan profesional–psikolog atau konselor, atau belum.
Tapi aku kangen sama hari² ku yang dulu, yang seberat apapun kondisi yg kujalani, aku masih bisa bilang aku seneng ngejalaninnya karena aku lagi ngejalanin apa yang aku suka. Bahkan, dengan amanahku sekarang di luar akademik–yg masih linier dg apa yang kusukai dulunya, rasanya aku udah ngga ada ruh disitu, entah hilang kemana. Atau apakah karena dosa²ku yaa Rabb hingga kau cabut kenikmatan² itu?
Ighfirlii yaa Raabb. Ighfirlii. Laa ilaaha Illa anta subhaanaka inniii kuntu min adz-dzaalimiin 😥😥
Tahun 2025 baru menginjak 4 bulan, tapi rasanya sudah banyak sekali hikmah yang bisa dipetik.
Alhamdulillah, aku merasa tahun ini secara bonding lebih erat dan hangat dengan keluarga inti. Rasa nyaman yang sudah sedikit kulupakan, kini mulai berbunga lagi. Bisa dibilang, keadaan keluargaku sejauh ini sangat aman, dan semoga seterusnya. Aaamiinn.
Lalu, ujian hidupku atau keluargaku ada dimana kalau kami dalam keadaan bahagia?
Ternyata, ujian bagi keluarga kami Allah datangkan dari keluarga besar. Ada yang sedang diberi ujian terlilit hutang yang membuat suasana dan ikatan keluarga besar jadi kurang nyaman. Lalu belum lama ini aku menerima kabar, sepupuku sedang menghadapi perceraian. Pun juga sepupuku yang lain, tengah struggling di perantauan.
Ujiannya memang bukan keluarga intiku yang mengalami, tapi krn yang sedang mengalami adalah anggota keluarga besar, pasti juga kami harus merespon ujian yang dihadapi.
Bargaining position keluargaku saat ini memanglah jadi tempat bertumpu, bapak-ibuk Alhamdulillah nya masih sanggup membantu wlp ya pasti ada satu dua keluhan yang tetap terdengar. Bukan mengeluhkan akan keadaan, tapi lebih kepada respon dr yg menerima ujian, utk bagaimana bisa segera mengatasi ujian ini.
Aku sebagai anak, sepupu, keponakan mungkin tidak berpengaruh banyak utk membantu. Namun, dari ujian-ujian di 2024-2025 ini, aku belajar banyak dr ujian org lain. Seolah Allah berbaik hati memberi tahu bagaimana seharusnya aku bersikap –lewat tindakan bapakibuk, bila qodarullah aku di masa nanti akan menghadapi ujian yang sama. Atau justru Allah beri ujian di ke orang lain agar supaya aku lebih mawas diri ketika berkeluarga nantinya, agar jangan sampai aku melakukan kesalahan tsb.
Mungkin tidak bisa ditulis panjang hikmahnya disini, biarlah kusimpan dalam kenangan 🤍
Ketemu lagi dg salah seorang yg sempet dijodoh²in sama aku dulu waktu akhir SMA sampe awal masuk kuliah, posisi kita seumuran.
Dulu mah aduh bujubuneng, aku dijodoh²in dikit sama orang gitu pasti bakal kebawa baper wkwk. Jadi pasti bakal kepikiran selama beberapa waktu. Terus ngerasa bakal emang jodohnya, ya Allah astaghfirullah konyol juga kalo diinget² 🤣🤣 Karena pada dasarnya aku dulu emang pengen nikah muda, kebawa nafsu dan keadaan temen² yg lulus SMA satu persatu ngga lama udah menemukan pendampingnya 😌
Balik lagi ke cerita awal, tapi ternyata pas tadi ketemu sama satu orang ini, perasaan yg dulu deg²an ngga jelas, bener² sirna. Sempet dibecandain sama ibunya, Alhamdulillah nya perasaanku deg²an sedikitpun gaada. Selain krn mungkin aku udah makin realistis dan santai, ternyata ada faktor lain yg bikin aku sekarang² ini udah ngga gampang baperan dideketin or dijodoh²in sama lawan jenis. Faktornya adalah aku udah punya bayangan yg lumayan jelas tentang kriteria pasanganku kelak ☺️
Aku punya kriteria wajib dan juga sunnah. Selama orang yg tertarik dg aku tidak memenuhi kriteria wajib aku, maka aku tidak akan open to him dan coba menelisik lebih jauh~
Bisa dibilang, sebelum perasaanku akan masuk lebih jauh, aku udah menyeleksi duluan, nih orang masuk kriteria wajibku ngga sih? Layak ngga sih aku menunjukkan ketertarikanku ke org itu? Wkwk agak ribet yhh tapi ternyata nyaman bgttt di akuu 🥰
Kalau dulu, setiap mendapat undangan walimah teman²ku —krn aku lulusan pondok, jadi teman² ku pun sdh banyak yg menikah, aku ada perasaan "kapan ya aku nikah?" ingin secepatnya ketemu dengan pasangan. Tapi sekarang, yang kurasakan murni turut berbahagia dan mendo'akan temanku, tanpa ada embel² harapan segera menikah.
Karena aku belajar, bahwa jodoh akan datang saat aku memang Allah nilai sudah siap mengemban amanah yang panjang. Kalau Allah belum kasih, berarti tandanya memang aku belum siap. Allah kasih aku waktu lebih untuk bisa mengenali diri, menata diri, memperbaiki diri, agar aku ketika bertemu dengannya nanti, dalam keadaan "terbaik" nya aku yang sudah mengalami proses pendewasaan 🌻💖
Siapapun kamu, semoga kamu juga sedang mengupayakan hal yang sama yaa ✨
Dalam rangka mengabadikan salah satu tulisan yang pernah lewat di timeline tumblr-ku, izinkan aku menuliskannya ulang agar tetap bisa dan terus dibaca, juga menjadi refleksi dan pengingat diri kedepannya.
Seperti sedang berlayar mengarungi samudera luas dengan kapal, walaupun berlubang dinding kapalnya, compang-camping layarnya dan menyebalkan penumpangnya, turun dari kapal dan terjun ke laut bebas bukanlah sebuah pilihan. Sama seperti perjuangan dakwah ini.
Jika saat ini kau melihat perjuangan dakwah sangat tidak ideal para aktivis dan sistemnya, maka keluar dari perjuangan dakwah tidak akan pernah menjadi sebuah solusi.
Walaupun kita lihat saat ini aktivis dakwah yang pacaran di sana sini, pembinaan yang hanya formalitas (rasanya), daurah yang itu-itu saja (kesannya), atau nilai islam semakin nampak buram dan redup dalam langkahnya, maka yang salah bukanlah perjuangan dakwahnya. Dakwah tak pernah salah, dia adalah jalan para Nabi, perintah Allah untuk umat yang ia pilih. Maka, keluar dari perjuangan ini bukanlah solusi sebagaimanapun "buruk" kamu merasakannya.
Terjun ke laut, justru akan membawa kita semakin hilang arah, terombang ambing tak jelas. Entah kehabisan tenaga lalu tenggelam sendirian, atau malah menjadi santapan hiu ganas yang menanti mangsa. Bahkan, sendirian benerang ke tujuan, yang masih jauh dan panjang di ujung samudera, nampak mustahil dilakukan. Kalaupun punya sekoci kecil, atau papan kayu yang mampu membantu, rasanya tentu akan jauh lebih lelah dan kesepian di tengah samudera hingga sampai tujuan, yang sekali lagi masih jauh dan panjang.
Maka, justru, daripada terjun ke laut, jadilah penumpang kapal yang mulia. Yang walau satu per satu, walau perlahan lahan, mulai menutup lubang-lubang kapal yang mengalirkan air itu. Mulai menjahit dan menyulam layar yang compang-camping itu. Mulai menyapa para penumpangnya dengan ramah, dengan prasangka baik dan rasa cinta, bahwa kita sebenarnya menuju tujuan yang sama. Lalu dengan tegap berdiri di geladak kapal, menanti tujuan yang diharapkan terlihat di ujung senja.
Karena Sang Pemilik Samudera telah berjanji, bahwa kapal ini pasti akan sampai di tujuannya. Ia tak mungkin ingkar pada Janji-Nya. Maka, tugas kita adalah bertahan di atasnya, berusaha memperbaiki bagian-bagian yang mulai keropos, sambil tersenyum yakin membayangkan indahnya pelabuhan tujuan bernama Surga.
Yogyakarta, 5 Ramadhan 1446; 5 Maret 2024 -sudah lama ditulis, namun baru terselesaikan
Merasa Berjasa
Setelah melewati sebuah peristiwa yang sangat memberikan pembelajaran besar, ada satu hal yang menurutku terasa sangat besar pelajaran dan pemahamannya. Meski dulu pernah kupikirkan, tapi sekarang rasanya lebih terinternalisasi dengan baik.
Seiring berjalannya waktu, kita mungkin terlibat dalam hidup orang lain. Dan melalui keterlibatan kita, orang tersebut bertumbuh, berkembang, menjadi lebih baik, menjadi lebih makmur, dan hal-hal baik yang menyertai orang ini. Nah, apakah ada muncul di hatimu perasaan merasa berjasa? Merasa karena kamu-lah, orang tersebut bisa semakin baik hidupnya? Nah, perasaan inilah yang sekarang kuwaspadai. Sebab menyadari bahwa diri ini hanyalah perantara. Menjadi perantara sendiri adalah sebuah anugrah yang luar biasa, karena kita turut mendapatkan kebaikan dari apa yang kita kerjakan terhadap orang lain sebagai amalan baik.
Akan tetapi, segala hal yang berhasil seseorang capai dalam hidupnya itu semua adalah karunia Allah. Bukan karena kita. Bahkan, mudah juga bagi-Nya untuk mengganti "cara dan jalan" agar orang tersebut tetap mencapai rezekinya tanpa melalui kita. Untuk itu, diikut sertakannya diri kita dalam proses hidup orang lain adalah anugrah tersendiri bagi kita yang patut kita syukuri. Karena ada amal baik yang kita kerjakan di sana.
Untuk itu, saat kita menjadi pengusaha dan menggaji karyawan hingga puluhan juta per bulan. Sejatinya kita sedang menjadi perantara rezeki orang lain. Maknai hal itu sehingga kita lebih bersyukur serta amanah dalam memerantarai rezeki tersebut, tidak mencuranginya. Saat kita sedang menjadi pengajar dan menyalurkan ilmu pengetahuan kepada seseorang. Sejatinya kita sedang menjadi perantara ilmu-ilmuNya. Jika seseorang bisa menjadi sangat pandai karena kita ajar, itu juga karena karunia Allah. Keterlibatan kita di sana sudah menjadi amalan bagi kita, ilmu yang nanti orang lain gunakan untuk kebaikan, juga akan jadi pahala bagi kita. Itu sudah merupakan karunia yang amat besar.
Banyak hal lainnya yang nanti kita akan terlibat dalam hidup orang lain. Bahkan mungkin, di masa-masa sebelumnya, orang lain pun terlibat dalam hidup kita. Orang-orang yang menjadi perantara rezeki-Nya, kebaikan-Nya, takdir-Nya yang akhirnya membentuk dan menjadikan kita seperti hari ini. Mereka layak untuk mendapatkan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya dari kita dan jika ada rezeki, maka berpikirlah lagi bahwa jangan-jangan kita juga bisa menjadi wasilah rezeki dan hal-hal lain bagi mereka saat ini.
Dulu kapasitas kita adalah menjadi perantara bagi mereka untuk mereka bisa berbuat baik. Kini, kapasitas kita mungkin juga sudah bisa menjadi perantara yang lebih besar lagi. Kita membalas kebaikan mereka, selain dengan mendoakan, juga menjadi perantara rezeki-Nya, pertolongan-Nya, dan hal-hal lainnya. Atas karunia-Nya jugalah, kita yang dulu diperantarai, bisa menjadi perantara. (c)kurniawangunadi
Jangan sampai turunkan standar ketaatan, hanya demi dinotice seseorang.
Tetaplah terjaga, hingga yang menjaga pula menemukanmu.
Tetaplah mahal, hingga yang layak memilikimu bisa mendapatkanmu.
Gausah cari perhatian manusia ya, gaada gunanya :))
Tahu Diri dan Tahu Batas
Ada satu ilmu yang underrated banget, padahal kalau dipikir-pikir, ini tuh life hack paling legit buat survive di dunia yang chaotic ini. Namanya tahu diri dan tahu batas. Kedengerannya simpel, ya? Tapi coba aja liat, berapa banyak dari kita yang ngelupain ini?
Tahu diri itu artinya kita paham banget siapa kita, dari mana kita berasal, dan apa tujuan kita. It’s like looking at yourself in the mirror tanpa filter, dan nerima apa adanya. Bukan buat insecure atau jadi minder, tapi buat lebih grounded. Kita gak perlu pura-pura jadi orang lain atau chasing validation yang sebenernya gak kita butuhin. Dengan tahu diri, kita sadar kalau hidup tuh bukan kompetisi pamer pencapaian. We all have our own paths, and that’s okay.
Tahu batas juga gak kalah penting. Kadang, kita terlalu gaspol buat ngejar sesuatu, sampai lupa kapan harus berhenti. Kita push diri sendiri sampai burnout, atau stay di hubungan yang udah jelas-jelas toxic karena kita gak tahu kapan harus let go. Padahal, tahu batas itu bukan tanda kelemahan. It’s self-preservation. Itu artinya kita ngerti kapan harus bilang enough is enough. Kita gak perlu maksa diri buat terus-terusan impress orang lain atau ngejalanin sesuatu yang cuma bikin capek hati.
Kombinasi tahu diri dan tahu batas ini powerful banget, kayak kompas yang bakal nolong kita navigate hidup. Dengan tahu diri, kita jadi lebih humble. Kita gak gampang sombong, karena kita paham limit kita dan apa yang sebenernya penting. Dengan tahu batas, kita juga jadi lebih wise, karena kita gak bakal maksa diri di tempat yang gak bikin kita berkembang.
Dan yang paling penting? Dua ilmu ini bisa ngejaga kita dari rasa sakit yang berlebihan. Kadang, yang bikin kita sakit itu bukan keadaan, tapi ekspektasi kita yang gak realistis. Dengan tahu diri, kita gak bakal naro standar yang gak masuk akal. Dengan tahu batas, kita gak bakal stay terlalu lama di situasi yang cuma bikin kita terluka.
Jadi, kalau ada yang bilang, “Tahu diri sama tahu batas tuh gak penting,” coba ajak mereka liat sekeliling. Berapa banyak orang yang hidupnya kacau karena lupa sama dua hal ini? Berapa banyak yang hancur karena terlalu sibuk ngejar validasi, sampai lupa jaga hati sendiri?
Tahu diri dan tahu batas itu kayak armor buat kita. It’s not always easy, tapi kalau kita bisa ngejalaninnya, hidup jadi jauh lebih ringan. Kita jadi gak gampang terseret ombak opini orang lain, dan yang paling penting, kita jadi bisa sayang sama diri sendiri dengan cara yang paling tulus.
Hidup ini bukan tentang jadi yang paling perfect atau yang paling hebat. It’s about finding balance—antara apa yang kita mau dan apa yang kita butuh. Dan tahu diri serta tahu batas adalah langkah pertama buat nemuin keseimbangan itu.
Call me alay, tapi seneng banget bisa move on dari satu orang ini. Ya tapi wajar juga sih, dua tahun belakangan almost lost contact, ketemu pun ngga hahahihi kaya dulu, bener² kaya jadi orang asing ajaa. Beberapa kali di chat pun udah gaadak tuh baper deg²an kek duluu awokwok.
Bener-bener lagi di fase ngga lagi jatuh cinta sama siapapun, tapi ya dalem hati yang terdalam mah udah pengen banget ketemu sama si "the one and only" iniih ahaha.
Tapi gapapa, kan katanya "nikmati masa mudamu sebelum jadi istri orangg" wkwkw.
May Sarton, The House by the Sea
Berhati-hatilah terhadap 2 jenis keinginan; menginginkan sesuatu yang tidak Allah sukai dan menginginkan sesuatu yang tidak Allah takdirkan.
Sebab tidak ada yang lebih merugi, selain dari menginginkan sesuatu yang tidak Allah sukai. Dan tidak ada yang lebih menyakitkan, selain dari menginginkan sesuatu yang tidak Allah takdirkan.
@rizqan-kareema
Membuat Pijakan Baru
Tumbuh dewasa dengan perasaan kalah, tidak berharga, dan buntu adalah proses yang amat melelahkan. Hal yang bahkan, kalau kamu lihat-lihat lagi, tidak pernah ada di dalam dirimu di masa lalu. Semua pikiran itu muncul karena mungkin kamu ketemu dengan orang-orang yang menggerogoti hal-hal berharga yang kamu miliki.
Tanpa terasa, lambat laun kamu kehilangan jati diri. Hingga untuk menumbuhkannya lagi, terseok-seok. Perasaan berharga yang pernah kamu miliki telah tercabik-cabik. Kepercayaan dirimu memudar. Dan keyakinanmu atas dirimu sendiri, menguap. Kamu menjadi orang pertama yang terus menerus menyangsikan mimpi dan keputusanmu. Dihantui dengan rasa takut akan hari esok, kegagalan, dan berbagai bentuk kekhawatiran yang ternyata sengaja ditumbuhkan di momen-momen sebelumnya.
Tapi sungguh, keberanianmu untuk keluar dari lingkaran setan itu adalah sebuah keputusan yang sangat luar biasa. Tidak mudah, tidak semua orang bisa, tidak semua orang berani. Meski kini kamu mengalami kegelisahan dan kecemasan yang luar biasa, setidaknya hidupmu kini dalam kendalimu lagi.
Kamu bisa mengarahkan tujuanmu lagi. Menata sedikit demi sedikit mimpi yang pernah kamu miliki setelah bertahun-tahun dimatikan oleh orang lain.
Kamu hanya perlu kembali percaya bahwa kamu berharga. Kamu layak mendapatkan yang baik. Kamu pantas untuk memiliki mimpi-mimpimu. Dan selalu ada orang yang akan percaya dan yakin dengan kekuatanmu, kamu hanya belum menemukan mereka dalam jumlah banyak sebab kamu tidak pernah membicarakan mimpimu dan berjalan di atasnya selama ini.
Jalanlah. Meski dengan seluruh keraguan dan ketakuanmu. Teruslah melangkah! (c)kurniawangunadi