Tanpa menyudutkan pihak manapun, hari ini mau sharing tentang sudut pandangku untuk kasus beda gender apakah teman dekat sudah pasti sahabat?
Jadi, disini akan lebih membahas case untuk kita nih yang sedang in relationship with kalau masih sendiri kyaknya nggak akan rumit banget hehe
Based on pengalaman versi aku (inget, versi orang lain belum tentu sama), sahabat itu singkatnya orang terdekat yang jadi tujuan cerita apapun mulai dari yang ringan; hal receh, hal konyol sampai yang berat; masalah kehidupan, cinta-cintaan, rahasia yang nggak ada orang lain tau dan paling terpenting selalu support kita. Dia paham kapan harus kontak kapan enggak, nggak saling kontak bukan berarti dia lupa atau kontak ketika butuh, bukan.... bukan itu, tapi karena:
Timingnya belum tepat karena sibuk, pengen belajar menghadapi masalah sendiri, dan satu lagi, tau batasan ketika sahabat kita udah punya pasangan, karena nggak semua masalah hidup ini harus diceritainkan? Ayo belajar tangguh!
Trus gimana kalau temen deket? Temen deket itu banyak asumsinya, deket karena hal apa? Misal, temen deket pas kuliah karena satu organisasi, temen deket karena dulu pernah satu kosan, temen deket karena sering curhat masalah percintaan? Bisa juga dibilang temen deket, ya memang sedeket itu karena bahasan satu topik itu berlanjut jadi bisa sedekat itu mereka.
Tapi..... apakah temen deket itu bisa dibilang sahabat? Kalo buatku itu belum tentu, sahabat tuh levelnya lebih tinggi dibanding teman dekat, dekat bukan berarti sahabat karena ya dia merasa dekat aja hanya sekedar nyambung cerita panjang lebar saling berbalas topik tapi apakah mereka support kita tanpa kita bilang “dukung gue ya, semangatin gue dong” ? Hehehe jawabannya, enggak. Teman dekat itu cuma fokus dimasalah atau topik yang sedang ingin kita bahas, hanya teman sharing aja. Dia nggak akan segan buat hubungi kita hanya untuk membahas topik satu ke topik lainnya.
Beda dengan sahabat yang emang nggak sekedar jadi teman sharing, tapi temen yang care, paham situasi dan kondisi sekaligus orang yang selalu support kita. Feeling mereka akan main ketika kita lagi ada yang nggak beres, atau mereka pasti akan dengan pedulinya tanya progres yang lagi kita jalanin dan yang paling penting dia bisa memposisikan diri dia ketika tau sahabatnya sedang menjalin hubungan serius dengan seseorang. Nggak ada tuh keinginan memilikinya lebih besar dengan dalih “sebelum sama dia, gue udah lebih dekat duluan kok”, menurut gue ini salah besar, sahabat nggak ada yang begitu hehe kecuali sahabat yang punya perasaan khusus ya, beda cerita.
Hidup itu kan, apa yang orang lain lakukan ke kita harus sejalan dengan apa yang kita lakukan ke orang lain kan? Eh gimana kok rumit haha, ya singkatnya definisi yang ditanam itulah yang dituai.
Punya sahabat yang beda gender disaat kita lagi menjalin hubungan serius itu nggak sulit, kuncinya tepat posisikan diri aja. Coba tanam baik-baik deh, sahabat menjalin hubungan itu juga buat masa depannya dia kan? Jadi wajarkan kalau banyak waktu yang diluangkan buat pasangannya? Jelas kalau ada perubahan yang dulunya bisa begini sekarang nggak bisa, lalu haruskah kita merasa kehilangan? Big no! Buat apa sih merasa kehilangan, hello, kalau butuh bantuan selama bisa dibantu akan dibantu, tapi jangan lupa jaga perasaan pasangannya juga, ini sangat perlu. Harusnya kalian, kamu dan pasangan sahabatmu itu bisa saling support, buat semua nyaman, bukan kamu berlindung dan menutupi hal-hal yang kalian lakukan tanpa ingin diketahui siapapun.
Sahabat pasti ingin semua baik-baik aja,
Sahabat juga peduli akan orang-orang disekeliling sahabatnya; pasangan, orangtua, lingkungan kerja, dan lainnya
Sahabat gak akan terus menerus mengeluh dengan hal yang sama, dia juga ingin kamu tumbuh jadi orang yang kuat, toh selama ini banyak solusi yang dikasih kan?
Sahabat akan bersikap layaknya sahabat, aku rasa kamu paham,
Kalau tiga pernyataan diatas berlawanan, artinya dia bukan sahabat kamu,