Sebuah pengingat untuk diri sendiri.
Dari beberapa nasihat yang diterima secara dadakan hingga diberi secara khusus oleh keluarga dan teman, maka lahirlah tulisan ini.
Pernikahan bukanlah penghujung akhir dari pertemuan sepasang manusia yang memutuskan searah dalam perjalanan, namun pernikahan merupakan sebuah garis awal dari perjalanan ibadah paling panjang dan kompleks seumur hidup.
Menikahi seseorang, artinya siap bertanggung jawab atas pilihan itu dan siap pula menerima ketidaksempurnaannya setiap waktu.
Pernikahan bukanlah sebuah taman penuh bebungaan yang tidak mengenal kata layu dan badai dadakan musim kemarau atau hujan. Pernikahan memiliki lebih dari seribu musim dan tantangan.
Pernikahan adalah sebuah ladang, dengan tanah kosong dan langit terbuka. Ladang yang siap di tanami dengan kebaikan-kebaikan, yang perlu disiriami dengan kesabaran, yang perlu dirawat dengan penerimaan, yang perlu dipupuk dengan banyak maaf dan pemakluman.
Kita bebas menentukan apa yang hendak kita tanam, dan kita pun berkonsekuensi menuai apa yang telah di tanam. Maka tanamlah kebaikan-kebaikan agar berbuah sebagai manfaat dan keberkahan.
Luruskanlah niat saat membenamkan benihnya, ikhlaslah menemani sepanjang waktu dalam proses bertumbuhnya dan genggamlah keimanan seumur hidup dalam menjalaninya.
Keberkahan dari sebuah pernikahan, hadir karena pemberian Allah, yang akan turun tergantung dengan bagaimana cara dan proses menjemputnya. Maka, jemputlah dengan cara yang hormat dan berharga.
Pernikahan bukanlah sebuah ketergesaan tapi bukan berarti terlena tanpa persiapan. Pernikahan adalah sebuah keputusan yang ketika kita memutuskan pilihan itu—harus penuh dengan kesadaran, kesiapan dan tanggung jawab.
Bersama seseorang yang tepat, perjalanan ini takkan salah tujuan dan tersesat.
Sosok yang tepat adalah yang sesuai kebutuhan, terlepas dari pertimbangan syariat. Kenal dulu diri sendiri, maka kau akan tahu, seseorang bagaimana yang tepat untukmu.
Mengutip kalimat dari ust.Felix, "Ketika kamu meluruskan niat karena Allah, maka harus dia itu, bukan karena Allah. Nafsu mudah sekali dengan mata, tapi pertimbangan-pertimbangan lain harus bebas daripada nafsu. Ideal boleh, tapi harus tahu, kapan harus bertahan dengan idealitas dan kapan harus bertahan dengan yang terbaik. Yang terbaik adalah yang sesuai kebutuhan dan bukan yang harus memenuhi semua idealitas kita."
Mengutip kalimat kak Rubahlicik, "Dulu saya menikahi orang ini karena X dan Y dan itu cukup membuat saya ridha."
Ya, carilah alasan kuat dan layak saat kau memperjuangkan seseorang, alasan yang takkan membuatmu mundur dan menyerah memperjuangkannya seumur hidup.
Tak apa waktunya lebih lambat dan prosesnya lebih rumit, lepas itu semoga Allah ridho, selalu menjaga diri dan melapangkan hati ini, Aamiin.
Jumat, 24 Juni 2022 12.44