Re-Reading The Book not Re-Open The Past Chapter of [my] Life [Part 2]
1. Marry your bestfriends.
Jadi gini, berhubung wanita itu makhluk yang lebih banyak menggunakan perasaan dibanding logika, dikasih bacaan semacam #TemanTapiMenikah pasti yang kebayang rata-rata iya juga ya, kalo sama sahabat kan udah kenal lama dan tau bener-bener. Ladies, benar. Tidak ada yang salah dengan kisah manis Mas Ditto dan Mbak Ayu itu, hanya saja jangan terlena. Why? Karena setiap orang punya jalannya masing-masing, jodohnya masing-masing dan gak ada jalan cerita yang sama 100% antara dua manusia yang berbeda. Life is hard, I know, but, we love it, so just run for it, you only had one.
2. Jodoh itu ga ada yang tau.
Ga semua yang berani bilang sama sahabatnya ingin lebih dari sekedar sahabat selalu berakhir baik, bisa malah jadi berakhir ga enak, jadi ga saling sapa atau ekstremnya saling benci, itu kalo pondasinya memang ga kukuh sebagai sahabat. Ada juga yang malah dari mantanan malah jadi sahabat. Setiap pilihan dan keputusan yang dibuat baik sendiri maupun barengan selalu ada risiko. Intinya, berani atau tidak? Well, karena hidup cuma sekali, take it or leave it, don’t waste your time. Asal jangan jadi penyesalan. Saat keputusan dibuat, misalkan denial the feeling for something, dan masih kepikiran terutama disaat yang sibuk atau random, maka kaji ulang atau mending ambil pilihan satunya. Its your intuition try to channeling your brain. Kadang, keputusan paling baik itu yang diputuskan hati kecil disaat berada pada kondisi paling tenang.
Balik lagi ke jodoh, ini selalu jadi pertanyaan yang sulit untuk diperoleh jawabannya, karena memang ga ada yang tau kapan dan siapa kecuali Tuhan. Tapi katanya pada saatnya nanti kita akan tahu dengan sendirinya, seperti konsep hati kecil tadi. Dalam masa penantian inilah kita perlu menata focus, menata diri, melayakan diri dan menyiapkan diri. Percayalah Tuhan selalu punya acara dan jalan yang baik, dan memberikan yang tepat dan sesuai. Ibaranya kalo kamu mau di tingkatan satu, ya jadilah satu, tingkatan dua, ya jadilah dua. Saya percaya bahwa setiap pasangan itu, sekalipun menurut pandangan orang luar sangat tidak cocok, tapi bisa tetap mencapai dan menjalani fase ibadah seperti menikah, sebenarnya memang melengkapi satu sama lain, seperti Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam, kesanalah dia kembali, melengkapi Adam. Rumahnya.
3. Sesuatu yang kita inginkan, belum tentu yang kita butuhkan.
Ini juga kerap terjadi sama saya sih, ada kalanya kita “berpapasan” dengan orang-orang yang kita harapkan jadi yang terakhir. Hati disiapkan untuk masuk tahapan selanjutnya, atau kalo lagi pdkt nih, usaha maksimal (kode lah ya kalo perempuan biasanya), dengan harapan usaha itu akan memberikan hasil yang diharapkan, dan saat tidak sesuai harapan (putus, ga jadi atau deket sama siapa jadian sama siapa *sedih), kita kecewa, galau dan sebagainya. Kemudian lupa, bahwa sebelum ada orang tersebut, kita baik-baik saja, maka tanpa dia pun harusnya kita baik-baik saja, bahkan lebih baik. Saat kita tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan, atau kita dikecewakan, sebenarnya kita naik satu level lagi, kita lebih bijaksana. Mungkin tidak saat itu, tapi nanti kita akan paham.
So, saat ingin nangis ya nangis, galau ya galau, tapi dalam prosesnya selalu ingatkan diri sendiri, we deserve better, get up and pick your mind, and move forward.
Sebagai perempuan dengan pikiran yang kadang melayang kemana-mana, saya suka punya banyak scenario, yang cuma pikiran saya yang tahu, dan kadang itu jadi bikin mood-swing. I know, bad habit, dan saya berusaha untuk lebih relax. Semakin dewasa dan ketemu banyak orang, saya sadar bahwa tidak segala sesuatu bisa kita control, terutama dalam hidup yang dinamis dan banyak variable. Termasuk perasaan manusia. Sesuka dan sesayang apa pun kita pada seseorang, hatinya merdeka miliknya sendiri. Tidak usah dipaksa, karena nanti akan lebih kecewa. Let it flow, and once again, focus sama hidup kita sendiri. Biarkan Tuhan yang menunjukkan jalannya. Mungkin akan ada masanya tidak menerima, atau ingin usaha lagi, well, do it. Tapi siap dengan segala konsekuensinya dan kasih target maksimal.
5. Know your worth and what you should deserve
Sebelum mencintai orang lain, kita harus tahu dulu cara mencintai yang benar. Paling dekat adalah dengan mencintai diri sendiri dalam takaran yang tepat, kebanyakan nanti malah lupa cinta sama yang lain haha. Mencintai Tuhan adalah bagian dari mencintai diri sendiri, dan mencintai seseorang yang membuat kamu semakin dekat dengan Tuhan adalah suatu berkah luar biasa. Itulah alasan saya selalu merasa bersyukur dengan orang-orang yang pernah singgah di hati ini (ceilah), dengan caranya mereka membawa saya pada do’a. Bukan berdoa untuk maksa Tuhan kasih dia (dulu pernah sih), tapi untuk kebaikannya, mendoakan agar saat saya berdoa wajib lima sks tiap hari dan namanya disebut, dia juga ingat untuk “masuk kuliah” lima sks sehari berdialog dalam doanya (meskipun mungkin titipan doanya bukan saya haha). Masa-masa pendekatan itu masa paling bahagia dan bikin mesem-mesem, masa pacaran juga selama dijalanin positif, pasti buat diri kita makin dewasa dan memperluas pandangan (nambah temen, nambah perspektif, karena kita saling kenalin dunia masing-masing yang mungkin berbeda). Jadi apa pun akhirnya jika pdkt lalu ditinggalkan atau pacaran lalu putus, maka dengan segala sakit hati dan kecewanya, selalu ada hal yang disyukuri. Selalu. Jadi nikmati segala prosesnya.
Saat ini saya pun dalam penantian, kalo dua tahun lalu saya nulis ini, mungkin saya masih membawa ego dengan “memaksa” Tuhan “mau yang itu”. Tapi sekarang, perspekif saya bergeser, sesuatu seperti pertemuan dua manusia ini adalah hal yang tidak bisa dikontrol. Beberapa orang mungkin datang hanya karena penasaran, beberapa lagi mungkin pernah mencoba dengan segala komprominya, namun saat merasa ada ketidakcocokkan, untuk apa dipertahankan, sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Disisi saya atau kita masa-masa menghadapi kekecewaan itu akan ada bisikan ego yang menganggap dia jahat dan tidak berperasaan. Tapi coba mundur sejenak, ini perasaan kita yang dibicarakan, mungkin dia juga merasakan hal yang sama, dengan perasaan bersalahnya atau merasakan yang sama namun karena orang lain. Jadi, kurang-kurangin terlalu judgemental. Selain itu, lebih cepat ikhlas, lebih cepat juga relanya, lebih ringan juga rasanya. Hehe. Semua ini based on pengalaman, saya juga masih belajar.
Jadi seorang perempuan memang sulit, tapi kita harus kuat. Baik untuk diri sendiri, imam kita nanti dan keluarga kita nanti. Mau maju duluan dibilang agresif, diem aja juga kode ga nyampe-nyampe. Haha. Klasik. Tapi itu dulu, sekarang kalo memang suka ya tunjukkin, dalam takaran yang normal, tidak berlebihan, dan bawa doa, mudah-mudahan disadarkan. Kalo ga sadar, lama-lama cape, nah udah tinggal move forward, walk away. Analogikan sebagai kenalan yang memang berpapasan kearah tujuan masing-masing. Bisa saja memang bukan dia, atau bisa juga dia tapi belum waktunya.
Eyang saya selalu bilang:
“Perempuan jangan pernah berhenti belajar, karena tugasnya nanti berat, mendidik anak, patuh pada suami dan mengurus rumah tangga. Hal yang tidak boleh perempuan lupa itu adalah kodratnya. Tiga hal: kodrat perempuan harus lembut hati, kodratnya sebagai istri patuh pada suaminya dan kodratnya sebagai ibu dari anak-anaknya. Laki-laki yang baik akan datang dengan komitmennya dan tidak akan merasa minder atau tersaingi. Laki-laki dan perempuan sudah punya kodratnya masing-masing dan akan menjalankan tugasnya masing-masing”
Well, menulis ini lebih kepada selfnote dan selfreminder sih. Kalo-kalo nanti terlalu terlena dan lupa dalam masa penantian ini, tidak perlu takut tertinggal karena bukan balapan atau tergesa-gesa karena ini ga pake jam absen masuk sekolah.
Teruntuk kamu, jodohku nanti, yang belum kutahu namanya:
“Aku dan kamu (imamku nanti) yang saat ini dalam penantian dan pencarian masing-masing. Mungkin kita pernah bertemu atau akan bertemu, mungkin kamu ada disekitarku namun kamu belum sadar atau aku yang belum sadar, atau kita yang memang belum saling sadar. Bahkan mungkin kamu dimasa laluku, sekarangku atau depanku nanti. Mungkin kita masih fokus pada menjadikan diri layak untuk satu sama lain meskipun belum saling berpapasan. Akan ada saatnya nanti kita saling menyebut satu sama lain dalam do’a. Sampai saat itu tiba nanti, entah itu dimulai darimana, tapi sampai akhir kita bisa berkomitmen bersama.”