Ust Azhar Idrus once said..
“Jangan iri tengok hidup orang. Kita nampak bahagia dia, kita tak nampak ujian dia.”

titsay

#extradirty

Janaina Medeiros

JBB: An Artblog!
One Nice Bug Per Day

No title available

oozey mess

⁂

Kiana Khansmith
YOU ARE THE REASON
Claire Keane
Cosmic Funnies

shark vs the universe
sheepfilms
RMH

Origami Around
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Cosimo Galluzzi
dirt enthusiast
will byers stan first human second
seen from United States
seen from Egypt
seen from Vietnam
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Australia
seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Poland
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Switzerland

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
@kakakcactus
Ust Azhar Idrus once said..
“Jangan iri tengok hidup orang. Kita nampak bahagia dia, kita tak nampak ujian dia.”
"Ada tiga hal yang perlu kita maafkan, yaitu diri kita, orang tua kita, dan orang lain."
"Tapi memaafkan tidak semudah itu. Apalagi memaafkan orang lain."
"Iya memaafkan memang tidak semudah itu. Apalagi kalau kita masih merasa marah, sedih, dan kecewa. Tidak apa-apa jika belum bisa memaafkan, itu adalah hal yang wajar.
Memaafkan bukan berarti kita mewajarkan kesalahan orang lain. Memaafkan bukan berarti kita setuju dengan apa yang dilakukan orang lain kepada kita. Memaafkan bukan berarti kita kalah dan orang lain menang.
Memaafkan berarti menerima apa yang terjadi, melepaskan perasaan marah dan dendam terhadap kejadian buruk yang telah terjadi, membiarkannya berlalu sebagai proses pembelajaran, dan fokus melangkah maju."
"Memaafkan diri sendiri berarti memaafkan diri kita yang banyak salah dan kurangnya, ya?"
"Iya, memaafkan diri kita yang pernah melakukan kesalahan ... menerima bahwa kita ada kurangnya, tidak bisa melakukan semua hal dengan baik, dan tidak menyalahkan diri atas ketidakmampuan atau ketidakberdayaan kita."
"Aku masih belum bisa memaafkan diriku sampai sekarang, tapi akan aku coba ... Bagaimana dengan caranya memaafkan orang lain dan orang tua kita? Rasanya itu sungguh berat. Apalagi tidak ada kesadaran dan kata maaf dari mereka."
"Ini berat memang, karena aku juga belum sepenuhnya bisa memaafkan orang lain, apalagi orang tuaku. Aku masih merasa marah atas apa yang terjadi. Tapi aku berpikir, apakah aku akan terus begini?
Rasanya hidup dengan dipenuhi dengan kemarahan yang selalu membara, rasanya tidak mengenakkan. Energi dan waktuku habis untuk memikirkan kemarahanku atas kejadian yang telah berlalu. Sedangkan orang yang menyakitiku? Dia mungkin sudah lupa dan melangkah maju.
Aku memilih memaafkan untuk diriku sendiri, untuk kedamaian di hatiku, untuk kebahagiaanku. Semuanya sudah berlalu, dan aku memilih untuk berdamai dengan kenangan itu. Meskipun sulit, tapi aku akan mencoba memaafkannya. Mungkin dengan mencoba memahami mengapa orang itu menyakitiku, akan membuatku lebih mudah memaafkan."
Pelajaran yang kudapat setelah menjadi orang tua (dan of course aku juga pengalaman menjadi seorang anak), adalah:
Jangan pernah menuntut bakti dari anak-anak kita!
Biarkan anak-anak kita berbakti pada Tuhannya. Maka mereka akan berbakti pada orang tua dengan caranya —yang mungkin tidak kita mengerti.
Karena tidak semua bakti anak hadir dalam wujud memberikan segala kesenangan dunia pada orang tua.
Bisa jadi bentuk bakti itu hadir dalam wujud seorang anak yang berusaha untuk memaafkan dan memintakan ampunan atas segala kedzaliman yang pernah dilakukan orang tua padanya.
Bisa jadi bentuk bakti itu hadir dalam wujud seorang anak yang berusaha menutupi aib dan kesalahan orang tuanya.
Maka, jika kelak anak-anakmu sudah besar, jangan sekali-kali menuntut bakti pada mereka. Ajarkanlah mereka untuk berbakti pada Tuhannya, dan izinkan mereka berbakti padamu dengan caranya sendiri.
Ya Rabb, distance me from every soul that brings pain to my heart and unrest to my mind. Replace them with people who are gentle, sincere and a source of peace, and keep my heart firm upon Your light.
A little bird died and the Prophet ﷺ came to comfort a child. 🕊️
A small boy named Abu 'Umayr had a tiny sparrow he loved dearly. When it passed away, his little heart was broken. The Prophet Muhammad ﷺ, the leader of nations, the messenger of God, didn't brush it off. He didn't say "it's just a bird." He went to that child. He sat with him. He took him into his lap, gently stroked his head, and whispered softly: "O Abu 'Umayr, what happened to your little sparrow?" No grief was too small for him ﷺ to acknowledge. No heart, not even a child's, was too little for him to tend to. This is who he was. A man who could lead armies, yet kneel down to wipe the tears of a boy who lost his bird.
If you ever feel like your pain is "too small" to matter remember this story. 🤍
Do not attach your heart to any human being!
Shaykh al-Islam Ibn Taymiyyah - may Allah have mercy on him - said:
The heart was created solely for the love of Allah Almighty. Do not scatter your heart in seeking love, security, and perfection from other than Allah. You will not find it, and the heart will continue to be let down by people. And they are all excused, due to their own deficiency and weakness. You will continue to be disappointed and hurt until you become certain that true attachment is only befitting for Allah, and that the heart does not find rest, tranquility, and a sense of security except with Allah. So, love others for the sake of Allah, in accordance with Allah's will, and to please Allah -not to please yourself. And whoever pleases Allah , He will please them, even if after a while.
Majmoo' al-Fataawa, 10/134
Ibn Taymiyyah said رحمه الله:
"What matters is not how you started, but how you finish. If you wasted the first half of Ramadan, then compensate in the last half, especially the last ten nights, for that is where the true reward lies."
[Majmoo' al-Fataawa, 10/45]
suddenly i don't want anyone to know me as deeply anymore, which is weird because i have always yearned for someone to understand my soul.
#Catatan.Ramadhan 3
Hari itu aku belajar tentang Sababun Nuzul. Ustadz menerangkan bahwa di Quran dominan ayat yang turun sifatnya ibtidaiyah, tidak memiliki sebab. Turun saja ayatnya lewat perantara Malaikat Jibril.
Meski diturunkan tanpa sebab yang terjadi sebelumnya, tapi ayat tersebut tetap akan menjadi jawaban untuk masa setelahnya. Dan alih-alih mempertanyakan sebab kenapa ayat tersebut bisa turun, Rasulullah dan para sahabat lebih memilih mengimaninya dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya.
Dalam perjalanan kehidupan yang ditempuh, satu dua kali kita akan berhadapan dengan episode dimana kita tidak tahu kok bisa bisanya sesuatu terjadi, tanpa sebab yang jelas.
Bisa jadi memang takdir bergerak seperti itu. Ada perkara-perkara yang muncul karena nampak sebab zhahirnya dan ada perkara-perkara yang terjadi karena Allah mau menakdirkan hal itu untuk kita sebagai bahan ujian.
Apakah dari hal itu kita mau bersabar atau bersyukur. Maka jika berhadapan dengan kondisi itu, hadapi saja. Bukan malah merutuki sebab yang masih mengawang.
Yakini itu dari Allah, sebagai bahan ujian untuk menaikkan level. Perkara sebab, jika memang terang berarti jadikan bahan muhasabah. Namun jika tak dimengerti sebabnya kenapa jalani saja jatah hidup saat ini.
“Please stop destroying what is left of your heart by constantly thinking about things that have broken you.”
— Nikita Gill
Mitsaqan Ghalidza 💍 — bermain peran sebagai seorang hamba.
(Marriage advice from Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri حفظه الله)
Allaah berfirman dalam QS. An-Nisaa’ ayat 21
“..istri kalian mengambil perjanjian yang sangat sulit (berat) dari kalian..”
Ini bukan tentang akad, ini tentang dibalik akad tersebut.
Ini tentang sebuah kehidupan.
Ini semua tentang perjuangan.
Ini semua tentang pengorbanan.
Dalam ilmu fikih, akad nikah adalah akad terberat dari semua akad yang ada di dunia, makanya Allaah menggunakan perumpamaan “Mitsaqan Ghalidza” (komitmen yang sangat berat).
Hanya tiga kali Allaah sebutkan istilah Mitsaqan Ghalidza dalam Al-Quran :
Untuk para Nabi ketika Allaah kasih amanah
Untuk bani Israil ; bagaimana sulitnya nabi Musa mendakwahi bani Israil (surah Al-Baqarah)
Untuk kehidupan suami istri, Allaah lagi-lagi menggunakan istilah mitsaqan ghalidza
Lucunya, mayoritas yang melangkah ke kehidupan ini sama sekali tidak ada persiapan, mentok-mentok di hari H, dan H+1 dibiarkan seperti air mengalir.
Itu yang fatal, harusnya yang dipersiapkan bukan hari H, tapi yang harus dipersiapkan adalah hari esok, pekan depan, bulan depan, dan tahun-tahun berikutnya. Bagaimana sang suami nge-leader dan istri menjadi anggota keluarga yang baik.
Dan yang sudah gagal itu banyak, kalau tidak disikapi dengan serius maka akan fatal.
Akan ada rasa sedih, bahkan mungkin akan ada air mata..
Nabi kita shallallahu ‘alayhi wa sallam pernah memberikan sebuah doa untuk menghilangkan kesedihan, untuk menghilangkan air mata tersebut, doa yang lumayan tidak pendek tapi juga tidak panjang.
Yang ingin digarisbawahi dari doa tersebut adalah inti dari kebahagiaan, inti dari hilangnya semua rasa sedih dan berat saat nanti kita mengarungi perjalanan rumah tangga.
Sumber 📎 : https://almanhaj.or.id/10052-doa-untuk-menghilangkan-kesusahan-minta-ampun-pada-hari-pembalasan.html
Ketika nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan doa menghilangkan rasa sedih tersebut, nabi kita memberikan sebuah opening,
“Ya Allaah, saya ini hanya seorang hamba dan saya ini adalah anak dari hamba-Mu yang laki-laki, dan saya hanyalah anak dari seorang hamba-Mu yang wanita.”
Mari kita renungkan, bukankah tiga dari pihak yang diangkat di awal doa ini semua inti dari keluarga : ayah, ibu, dan anak.
Dan nabi ajarkan sebuah pesan besar, bahwa untuk menghilangkan kepedihan, maka ayah, ibu, dan anak harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Suami harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Istri harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Anak harus bermain peran sebagai seorang hamba.
Kalau tidak, maka akan berantakan.
Dari mungkin ratusan atau ribuan kasus rumah tangga yang Allah takdirkan saya (Ustadzuna حفظه الله) tahu dalam sesi konsultasi atau permasalahan. Mau selingkuh, mau KDRT, mau istri ngelawan, mau istri ngebentak suami, mau suami ga pulang, intinya cuma satu : masing-masing pihak ga bermain peran sebagai seorang hamba.
Akhirnya, suami bermain dengan ego kepemimpinannya, keegoisannya, arogansinya, yang terjadi — berantakan.
Lalu sang istri mulai dengan dendamnya, dengan ngejawabnya, dengan suara kerasnya, perlawanan sebagai seorang wanita — maka akan berantakan.
Ga ada yang bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga kecuali apabila jika kita bermain peran sebagai seorang hamba.
Seorang suami bisa memukul istrinya, tapi apakah itu cara bermain peran sebagai seorang hamba? Hamba itu rendah, suami bisa mencaci maki istrinya, tapi apakah seorang hamba pantas mengucapkan hal tersebut?
Ini core, adapun hak suami dan hak istri, kewajiban suami dan kewajiban istri, semua akan mudah jika kita sepakat bahwa kita adalah seorang hamba.
Mau di kuliahan seperti apapun tentang kewajiban suami dan kewajiban istri, ga akan ada manfaat, ga akan ada pengaruh kalau ga diamalkan. Dan terlebih kalau kita belum menerima status kita sebagai seorang hamba.
Oleh karena itu, jadilah seorang hamba yang baik, hamba yang takut kepada Allaah.
Makanya nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam ketika berbicara kepada para suami beliau mengatakan,
Sumber 📎 : https://www.syafiqrizabasalamah.id/hakistri
Syafiq Riza Basalamah
Dan bagaimana nabi mengarahkan,
Adapun jika anda tahu diri bahwa anda adalah seorang hamba, maka bertakwalah kepada Allaah ketika anda menyikapi istri anda yang lebih lemah dari anda, yang bisa anda tekan, sudutkan, caci maki, tunjuk-tunjuk, pukul atau bahkan tampar, tapi anda adalah seorang hamba, maka tidaklah pantas seorang hamba berlaku demikian.
Rumah tangga itu ditentukan dari kemampuan suami dan istri dalam memainkan peran sebagai seorang hamba, apabila peran ini gagal dimainkan, maka akan ada bahaya dalam pernikahan.
Tapi kalau peran ini bisa diamalkan dengan apik, dengan indah, dengan meminta pertolongan kepada Allaah, maka rumah tangga ini akan menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah bukan hanya di dunia saja, tapi Allaah akan kumpulkan kembali kelak di akhirat-Nya
Seorang hamba itu ga punya bargain position, kalau suami masih mengedepankan arogansinya, maka dia gagal dalam bermain peran sebagai seorang “hamba”.
Hamba hanya fokus mengerjakan kewajiban, kewajiban, dan kewajiban. Hamba itu lebih rendah daripada pembantu (ga dapat salary)
Tapi justru ketika kita bisa fokus bermain peran sebagai seorang hamba, maka Allaah akan janjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Semoga Allaah senantiasa memberikan kita pertolongan, dan semoga yang sedikit ini menjadi pengingat dalam mengambil keputusan yang konsekuensinya menggema seumur hidup.
“I was quiet; but I was not blind.”
— Jane Austen
كانوا يتواصون عند الشدائد:
They used to comfort each other upon facing calamities by saying:
إنما هي ايّام قلائل والموعد الجنة!
“It is but a few days and Jannah is the promise!”
“Grief is love’s souvenir. It’s our proof that we once loved. Grief is the receipt we wave in the air that says to the world: Look! Love was once mine. I love well. Here is my proof that I paid the price.”
Glennon Doyle Melton, Love warrior
“If a writer falls in love with you, you can never die.”
— Mik Everett
bagaimana caramu?
mereka bertanya bagaimana caramu bertahan. bagaimana caramu menavigasi hidupmu. bagaimana caramu membuat keputusan ketika tidak ada pilihan yang enak. bagaimana caramu mengemas kembali, menata lagi.
jawabanmu satu: kamu membiarkan dirimu sembuh. lebih tepatnya, kamu memutuskan untuk sembuh.
kamu membuka hatimu lebar-lebar. kamu meyakini bahwa Allah-lah yang menghendaki setiap kejadian. bahwa Allah menyayangimu dengan cara-Nya. bahwa Allah tidak pernah meninggalkanmu.
kamu belajar untuk menerima kebaikan dan ketulusan. tanpa berprasangka, tanpa curiga, tanpa ada tapi-tapinya. kamu belajar untuk memaafkan berulang-ulang. bukan memaafkan orang lain atau sesuatu lain, melainkan dirimu sendiri. kamu memaafkan dirimu setiap hari.
kamu belajar tertawa untuk gurauan yang mungkin tidak sepenuhnya lucu. kamu belajar membuat lelucon. kamu belajar meromantisasi hal-hal sederhana di kehidupan sehari-harimu: hangatnya matahari, wangi selimut yang baru dicuci, ketuk ketik keyboard ketika kamu menulis, lembutnya sajadah yang menampung air matamu.
kamu belajar mensyukuri setiap karunia. kamu belajar melihat, menilai, dan menerima segalanya seapa-adanya. kamu belajar tidak tergesa-gesa. kamu belajar menikmati setiap gerakan, sentuhan, tarikan napas, langkah.
kamu belajar hidup lagi.
That pre- Ramaḍan feeling when you know peace is coming, du’ās will be answered and it’s just you and Allah.