Sate Kerang
Adalah seorang teman yang dulu sempat sekota di tahun kesekian. Aku mengisi bayangan tentang kisah romantis seperti pasangan lainnya. Dan selalu ada satu ingatan segar di kepala. Tentang remangnya lampu jalanan dan senyapnya angkringan yang kami datangi, juga tentang nikmatnya sate kerang yang pertama kali kucicipi.
Kami duduk berhadapan, bercerita, namun kebanyakan hanya diam. Dia–orang yang tak permisi mencuri hati di awal kedatanganku–entah tengah memikirkan apa. Dia lebih sering diam, meski aku mencoba menggebu. Gagal. Tapi, aku senang, malam itu aku bisa melihatnya sedikit lebih lama dibanding hari-hari lainnya.
Kalau kalian kebetulan membaca tulisan ini, lalu berharap kami akan mengukir sebait cerita romantis setelahnya, siap-siaplah kecewa. Karena…hari bahagiaku yang kesekian dengannya adalah hari bahagia terakhirnya bersamaku. Seharusnya, dari awal aku sudah tahu; kisah ini tidak lebih dari sekadar sosok aku yang menaruh hati pada dia di tengah gonjang-ganjingnya kabar bahwa aku bukan satu-satunya perempuan yang dia genggam.
Jadi, mari kita simpan saja sosok laki-laki cerdas, murah senyum, manis, lembut, sekaligus ramah ini dalam kotak memori. Dan sampai jumpa, semesta memang tak pernah benar-benar mendekatkan kita, ya kan? Hari itu, aku menemukan sesuatu. Kalau boleh jujur, aku ingin bilang aku benci diriku sendiri yang terlalu pandai menyadari ada hal penting yang hilang.
Juga, aku benci harus bilang ini; aku telah menyadari, kalau hari itu, sebenarnya dia sudah pergi.

















