Bagaimana mengajarkan diri sendiri tentang ikhlas dan mengikhlaskan? kalau nyeramahin temen mah enak. tinggal nyusun kata-kata manis nan memotivasi sambil ditambahin emoticon yang jadi bumbu penyentuh hati. walaupun kita ngga tau bagaimana efek dari apa yang kita kasih, tapi seenggaknya orang yang kita hibur menjadi feels better. walau cuma sebentar atau cuma sedikit. seenggaknya kita uda tulus ngehiburnya.
tapi hey, bagaimana dengan memotivasi diri sendiri? ngehibur hati sendiri yang dengan perasaan yang sama di gangguin sama si gundah gulana yang ngga pernah diundang aja suka mampir. menurutku ini hal yang sulit. yang sampe sekarang aku belum berhasil nemu cara terbaik untuk menghibur diri sendiri.
jadi, sekitar hampir sebulan yang lalu. tepatnya tanggal 13 Juni 2017. takdir itu menyapaku. dari sebelum sahur (karna alhamdulillah tepat dibulan ramadhan) aku udah dagdigdug aja. karna bagiku, hari itu bener-bener menjadi hari penentuan. penentuan bagaimana takdir akan membawaku. penentuan apakah saat lebaran nanti, ummi dan abi sudah bisa membanggakan aku telah diterima di perguruan tinggi negeri mana di hadapan sanak saudara maupun teman-teman ummi dan abi. ataukah aku harus kembali berjuang untuk menyapa seleksi mandiri berbagai universitas. ratusan do’a dan dzikir telah kupanjatkan. akupun tak ragu mengemis do’a kepada guru, teman, nenek dan setiap orang yang bertanya “mau lanjut mana?” atau “pilih jurusan apa kemarin?”. dan akupun tak bisa lagi mengandalkan siapapun di dunia ini, kecuali dengan seizin Kuasa-Nya. kecuali ridho-Nya yang hanya bisa kudapatkan lewat ridho ummi dan abi. aku benar-benar memasrahkan diri lewat lantunan do’a - do’a. hanya do’a dan mendo’akan aku berusaha merayu-Nya. dan aku selalu takut apabila nanti apa yang aku dapat adalah isti’draj. na’udzubillah. limabelas menit menuju pukul 14.00 aku masih betah memeluk qur’an dan mukenahku. aku masih ingin menenangkan hati yang benar-benar sedang resah dengan tilawah. sepuluh menit menuju pukul 14.00 akhirnya kuambil laptop dan kubuka web pengumuman sbmptn dengan tangan dingin dan bener-bener dagdigdug. servernya sempet eror karna aku yakin web itu adalah web tersibuk sepanjang tanggal 13 Juni lalu. menit demi menit terasa kayak ngesot. bener-bener lama. timer yang dipajang diweb aja detiknya suka ngulang sendiri. nggak ngerti lagi bahkan web nya aja salting saking berdebarnya. grup-grup whatsapp pun rame pada heboh dan ngitungin lewat chat. aku sendiri gak berminat sama sekali untuk ikut nimbrung di grup-grup itu. mending waktunya aku buat istigfar dan dzikir.
dan pukul empat belas kosong kosong pun tiba. kutarik nafas yang panjang dan kuhembuskan pelan-pelan ala-ala relaksasi sambil baca basmallah dalam hati, kuketikkan nomor ujian pesertaku. kueja satu-persatu digit nya dan kumasukkan tanggal lahirku, kemudian kuketik captcha sambil berdzikir disetiap memencet tuts keyboard nya. setelah meneguhkan hati mempersiapkan diri atas kemungkinan-kemungkinan terburuk, kutekan Enter. dan hasilnya adalah:
Qadarullah. rasanya aku mati rasa. campur aduk bener-bener ngecampur kayak ulekan. nggak bisa lagi buat nggak nangis dan sujud syukur. nangis kenapa? aku sendiri ngga berani menentang takdir Allah. jujur, nangisku separuh bahagia dan separuhnya lagi, bukan sedih. tapi kalau boleh jujur, aku belum sempat menata hati untuk menerima bahwa aku lolos dipilihan ketiga. Ya, aku lolos di pilihanku yang ketiga. dan jujur, pilihan ketigaku ini adalah pilihan yang nekat dan spontan. aku sendiri, bukannya enggak suka dengan pilihanku sendiri. aku suka. dan aku punya jawaban atas setiap pertanyaan kenapa aku memilih PGPAUD untuk pilihan ketigaku. jujur, pilihan ketigaku ini adalah hasil dari suara hati terkecilku yang menjadi kuat saat mendaftar ujian sbmptn lalu dan saat itu aku belum memutuskan apa pilihan ketigaku. tapi hatiku benar-benar belum ditata tentang pilihan ketiga ini. WHY? banyak hal-hal sepele yang kukhawatirkan dan aku tahu itu naif. tapi sekali lagi, ini murni suara hatiku yang memang salahku belum menatanya dengan sempurna. sepele seperti apa?
“guru tk? ula jadi guru tk? anak kayak gitu?”
yah gitulah. apalagi aku bayangin peryataan-pernyataan erotis dari mulut beberapa sanak famili yang memang terkesan ceplas ceplos. selama ini aku hanya mempersiapkan diri dan menata mental untuk meletakkan diriku berada di ratusan barisan maba universitas pilihan pertama dan keduaku. doa-doa ku pun selalu berbunyi
“Ya Rabb.. jadikanlah Hukum UB menjadi yang terbaik untukku sebagaimana aku akan menjaga izzahku dan membawa kontibusi dakwahku didalamnya (di Fakultas Hukum)”
bahkan aku tidak berani menyalahkan takdir ini. saat itu juga aku tersadar bahwa aku harus mulai belajar ikhlas dan mengikhlaskan. Ummi tahu, bahwa tangisanku bukan sepenuhnya tangisan haru, maka dengan pelukannya pun aku meneguhkan hati ini bahwa semua akan indah pada waktunya. aku mulai berpikir dan mencoba membayangkan bahwa nantinya semua akan menyenangkan. semenyenangkan ketika membayangkan bahwa aku kuliah di Hukum. atau semudah aku membayangkan bahwa nanti aku berada di kelas Sosiologi. aku mencoba menghibur diri sendiri. bagaimanalah aku mau mengeluh dan bersedih jika ummi dan abi telah memberitakan berita gembira ini di grup-grup whatsapp mereka. ummi juga nelfon Yangti di Blitar untuk langsung memberitakan bahwa cucunya telah lolos sbmptn mengalahkan ribuan peserta lainnya di seluruh indonesia. bagaimanalah aku berani mengutarakan kekecewaanku atas hasil ini, jika masih sangat banyak teman-temanku yang belum lolos. apa kata mereka? bukannya malah menghibur yang belum lolos, malah mengeluh. aku hanya bisa merenung, seorang diri. dan harus mulai menata diri sambil belajar menerima jawaban atas doa-doaku, doa-doa ummi, abi, ustadz, ustadzah, teman, dan semua orang yang kumintai doanya.
singkat cerita, berita gembira itu sudah tersebar seluas-luasnya. teman-teman sd, smp, sma pun pastinya nanyain bagaimana hasil tes sbmptn nya. akupun memberi banyak jawaban atas setiap pertanyaan. tergantung yang nanya siapa. kalau laki-laki kujawab “Alhamdulillah, suwun dungone.” kalau teman-teman dekatku
“Alhamdulillah, makasi doa-doanya.”
dimana? “Di UM hehe” atau “sekampus sama nana”
jurusan? “ngga ah nanti mbok guyu”
lho apaaa “PGPaud hehehehe. alhamdulillah”
Dan yang buat aku semakin pingin nangis (tapi ditahan) adalah reaksi-reaksi mereka yang nggak aku sangka. kayak
“waah keren. jurusan itu lagi rame ya”
“weeh dulu aku juga pingin kesitu lho. tapi ngga dibolehin” ((ini aku spechless karna, ternyata banyak yang menginginkan ke jurusan yang aku belum bisa menerimanya. disitu aku bersyukur karna ummi abi selalu mendukung apa saja pilihan-pilihan jurusanku))
disitu aku mulai membiasakan hati untuk merayu dan mencoba menerima kalau aku adalah calon guru TK.
Daan lebaranpun tiba. dimana momen kebahagiaan berada. setiap ada teman ummi abi yang silaturahim atau pas kumpul bareng saudara2, pastinya tak lepas dari pembahasan studi lanjutku dan saudara-saudara sepantaranku.
Keluarga di Bangil (dari abi) rame bilang
“wes nanti langsung jadi kepala sekolah Al-uswah ya. atau gantiin cik lulu ta? wes tak boking wes. uenak jadi guru itu, nanti bisa langsung sertifikasi, gajinya banyak. soalnya udah linier sama kuliahnya”
“wess siap jadi penggantine cik Mun. jadi kepala sekolah paling uenak lho..”
“ayo ibu guru, masa ibu guru suka godain adeknya kayak gini rek”
ini yang paling dalem “kak ula.. sinio tala tak bilangi..” (akupun menghampiri beliau) “gakpapa.. gausah sedih. pekerjaan guru itu pekerjaan paliing mulia. jasanya diinget sama murid-muridnya kak ula nanti. pahalanya berlimpah. kak ula sempet sedih ya, soalnya dapetnya Pendidikan? gausah sedih ya.. banyak yang dukung kak ula kok:”))) “
Pas mudik, keluarga Blitar (dari ummi) rame bilang juga
“alhamdulillah.. Yangti punya penerus. jadi guru juga. gapapa.. pekerjaan guru itu pekerjaan yang mulia lho ul. pahalanya banyak.”
“yo paling penak mengko jadi guru PNS. langsung bisa sertifikasi, gajinya banyak. pensiun dapet gaji lagi. wes.. mengko dadi PNS wae..”
“ooh.. PGPAUD emang lagi rame itu. banyak dicari. Pendidik lagi banyak dibutuhkan sekarang, bagus.. bagus..”
“Oh.. nanti di sekolah amah aja.. enak, sama-sama di malang wess”
Pas di Lamongan juga nih. “nanti sama kaya bude ini (lupa namanya) kepala sekolah PAUD jugaa”
See, aku ga nyangka banyak respon positif dari teman-teman ummi abi dan sanak saudara. kurang apalagi coba? hati terkecil itu kembali bersuara. ummi, abi jelas banget dukung, teman-teman ummi abi, amah-amah, bucik-bucik, bahkan temen-temenmu juga dukung kamu. aku berpikir bahwa ‘semesta aja dukung kamu lak!’ semesta mendukungmu. jadi kenapa dirimu sendiri masih harus kecewa dan sedih? jadilah yang terbaik ditempat kamu berada nanti. ini tekad si hati terkecil.
Jadi, kuputuskan untuk bermoto ‘gak ada waktu buat nelongso’ percuma nyeselin dan mikir hal-hal naif yang mungkin cuma kamu yang berpikir demikian. mending mulai buat plan bagaimana nanti kamu bisa menjadi manusia wajib yang dibutuhkan banyak orang. lebih baik waktumu digunakan buat mematangkan diri, mendewasakan hatimu agar lebih bisa tertata. manusia-manusia akselerasi kedewasaan sedang dibutuhkan banyak orang. dengan ber azzam dengan diriku sendiri dan Allah yang menjadi saksi, aku mencoba memulai kembali dari masa-masa kelam ini. kembali ke dunia nyata dan berhenti menggunakan kata ‘seandainya’ dalam kehidupan baru ini. dengan sepotong hati yang baru yang lebih kuat, aku siap berkontribusi dan menjadi yang terbaik dimanapun tempatku nanti. bismillah, dengan seizin Allah.
ini sedikit cuplikan saat aku izin ke Ummi untuk pilihan ketigaku. itu spontan dan aku sendiri nggak tau kenapa bisa bilang “ceritain alasanku” its mean, aku harus mikir alasan, kenapa aku pilih PGPAUD.
aku kembali bingung, bagaimana bisa aku berhasil buat “cerita alasan” yang kujanjikan ke ummi jadi sepanjang itu. aku sendiri gak nyangka. ide itu mengalir begitu aja seiring dengan hati terkecilku itu berbicara. dan jujur, sesaat setelah ngirim pesan itu ke Ummi, aku langsung takut kalau aku benar-benar lolos dipilihan PGPAUD itu. See, betapa Allah benar-benar mengikuti perasangka Hamba-Nya:’)
dan (lagi) reaksi Ummi setelah membaca “cerita alasanku” itu. See, betapa kuatnya Feeling seorang ibu. dan lihat, betapa masih ngeyel nya aku yang keukeh pingin di FH. hmmm.
dan memang benarlah pepatah yang mengatakan bahwa “sesuatu yang menurutmu baik, bisa jadi bukan yang terbaik. dan bisa jadi sesuatu yang kau anggap bukan yang terbaik, justru itulah yang terbaik”
aku selalu percaya apa yang dikatakan pepatah-pepatah bijak yang aku baca dan kudapatkan dari banyak orang. tapi kita baru bisa mengerti dan mehamami benar maknanya, ketika kita merasakannya sendiri.
dan memang itulah hasil terbaik yang Allah berikan:)