Pojok Dersik: Bumantara Kecil
Selama ini, ada sebuah keramaian yang selalu kurindukan. Aku rindu ketika diriku berada di antara suara kericuhan yang terpantulkan dinding di sepanjang lorong sekolah, menciptakan sebuah kegaduhan yang riuh dan menggema samar di telinga para guru dan penjaga sekolah.
Aku senang berada di antara mereka (kawan-kawanku), mendengar mereka tertawa lepas sambil menyanyikan lagu-lagu patah hati, atau sekedar mentertawakan si ketua kelas yang bertingkah konyol di depan papan tulis. Kita benar-benar seperti sekumpulan bebek yang tengah digiring petani menuju sawah, berkoar-koar seperti orang yang tidak punya beban hidup, walau pada kenyataannya kami hanya berusaha melupakan semua beban (yang seandainya berbunyi) pasti suaranya akan lebih nayring dari gelak tawa kami yang pecah saat jam kosong tiba.
Saat hari libur berakhir, semuanya kembali dengan membawa cerita-cerita unik, si pendiam yang menjadi pendengar setia, si barbar yang tidak pernah berhenti nyerocos, dan si kalem yang selalu menjadi sorotan saat bercerita tetap harus menjaga wibawanya, berbicara dengan suara lembut diiringi senyuman dan tangan yang tidak pernah pergi dari hadapan mulut manisnya.
kita adalah sebuah miniatur galaksi yang berotasi di bumantara kecil, menghiasi kehidupan dengan pahit manisnya sebuah perjalanan masa muda menuju kedewasaan. Hiruk pikuk duniawi menjadi sesuatu yang membuat kami beraksi seperti para bangsawan berdasi, walau sebagiannya hanyalah sebuah omong kosong yang diformalitaskan. Dersikku kali ini, adalah tentangmu, kawan.








