Seperempat Abad
Harapan tahun ini tak ingin banyak kalimat, tak mau banyak kata, hanya, semoga hidupmu terus menyala dan mewangi, Puan.
Selamat merayakan hari lahir, tetap hidup, bertumbuh, dan terus berkembang.
14 Maret 2024
nurlinaism
wallacepolsom
NASA
No title available
dirt enthusiast

shark vs the universe
ojovivo

Discoholic 🪩
Sade Olutola
Mike Driver
styofa doing anything
Misplaced Lens Cap
Keni
Monterey Bay Aquarium
TVSTRANGERTHINGS
Not today Justin
No title available
todays bird

izzy's playlists!
Lint Roller? I Barely Know Her
Stranger Things

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from United States

seen from Peru
seen from Australia

seen from Germany

seen from Iraq
seen from Australia
seen from Brazil
seen from Israel

seen from United States

seen from Germany
seen from Singapore
seen from United States

seen from T1
seen from United States
@kumahaisuk
Seperempat Abad
Harapan tahun ini tak ingin banyak kalimat, tak mau banyak kata, hanya, semoga hidupmu terus menyala dan mewangi, Puan.
Selamat merayakan hari lahir, tetap hidup, bertumbuh, dan terus berkembang.
14 Maret 2024
nurlinaism
Bahwa menikah adalah proses memaklumi tiada jeda, tiada henti, seumur hidup, selama itu bukan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip yang selama ini kita pegang, bukan bertentangan dengan syariat, maka buka lah ruang pemakluman bagi pasangan lebar-lebar.
Bahwa menikah adalah ibadah, betul-betul perlu dimaknai dalam-dalam. Bukan hanya sebatas ritual ijab qobul di awal untuk menghalalkan, namun berkesinambungan, bagaimana pernikahan itu harus mengantarkan diri dan pasangan untuk menjadi hamba Allah yang lebih baik, untuk sama-sama menjadi pengingat agar selalu dalam kebarokahan.
Bandung, 17 September 2024
Ibu adalah doa,
dalam hembusan nafasnya
dalam perkataannya,
dalam usahanya,
dalam kedipan matanya,
bagi kami anak anaknya.
maka atas segala ikhlas dan peluhmu semoga Allah ridho padamu dan memudahkan jalan surgaNya bagimu bu..❤
Glimpse of Us
Akhir tahun ini, saya mendapatkan sebuah jawaban yang dulu selalu mengganjal di kepala saya.
Jawaban dari pertanyaan yang padahal sudah saya ikhlaskan. Yang kalaupun saya tidak tau, hidup saya akan tetap seperti ini. Tidak ada yang berubah. Pun kalaupun saya tahu, saya juga tidak akan berbesar kepala.
Sebab seperti yang sudah saya bilang, pertanyaan itu sudah saya ikhlaskan.
Pertanyaan tentang,
“Kenapa jalan kita terus bersebrangan kalau sebenarnya kita tidak bisa bersama? Kenapa kita tidak bisa bersama padahal saya tau bahwa perasaan kita sama?"
Di pertemuan terakhir sebelum pada akhirnya saya dan dia tidak akan pernah bisa bertemu lagi, kami sempat bertemu sekali lagi. Kali itu, semua terasa berbeda. Kali itu, untuk pertama kalinya, kami berdua sama-sama merasa bisa memperjuangkan hubungan itu.
Tapi lagi-lagi hidup begitu lucu.
Hidup saya saat itu tiba-tiba tertahan oleh sesuatu hingga saya tidak bisa menghubunginya. Dan selepas pertemuan itu, kami tak pernah bertemu lagi, saling hilang kabar, dan berpisah jalan.
Banyak yang terjadi di hidup kami berdua setelah bertahun-tahun tak bertemu. Dia sudah bahagia dengan buah hati dari seseorang lelaki yang sebenarnya dulu saya pernah berdoa untuk bisa ada di tempatnya. Sedangkan saya masih tetap ada di sini. Dan baik-baik saja.
Tapi akhir tahun ini saya mendengar sebuah cerita, bahwa sebenarnya tanpa saya ketahui, di pertemuan terakhir itu dia mencari saya. Tapi sayangnya, saya tidak bisa ditemukannya.
Dan kalian tau apa yang lebih lucu? Alasan dia mencari saya saat itu adalah, karena saat itu dia akan bertemu dengan lelaki asing. Namun, dia merasa ragu dan ingin membatalkan pertemuan itu karena dia merasa lebih baik menghabiskan waktu dengan saya.
Sayangnya, saat itu dia tidak bisa menemukan saya.
Dan kalian tau siapa orang yang akan dia temui saat itu?
Orang itu adalah suaminya yang sekarang.
Bayangkan apa jadinya kalau saat itu dia menemukan saya? Mungkin semuanya berbeda.
Tuhan memang Maha bercanda..
Aku sama seperti perempuan lain, ingin menyapamu lebih dulu, memberimu perhatian ini itu. Tapi bagiku, itu tak perlu. Sebab perhatian dari ibumu sudah sangat cukup untukmu.
Aku sama seperti perempuan lain, ingin bercengkerama panjang lebar, tanpa harus takut ini itu. Tapi bagiku, itu tak perlu. Kau baik-baik saja, aku sudah sangat cukup.
Aku sama seperti perempuan lain, namun aku lebih ingin untuk menjagamu. Menjaga apa yang seharusnya tetap terjaga. Menjaga dari apa yang Dia tidak suka.
Maka, apa yang tidak kulakukan padamu seperti perempuan kebanyakan adalah karena aku begitu ingin menjagamu, sekaligus menjaga aku.
Semoga kaupun begitu, tetap terjaga, meskipun banyak perempuan di luar sana yang mengelu-elukanmu.
Malang, 10 Oktober 2017.
Di Seperempat Abad Hidup
Selamat Ulang Tahun! Aku kok malas hidup ya…. Tidak worth it aja sih, segala penderitaan ini dengan apa yang aku dapat. Tapi, ya terserahlah. Hidup ya hidup, mati ya mati.
- 10 Mei 2020
Enakan dicintai, atau mencintai?
- ga ada, enaknya ya saling.
Posisiku sekarang, mencintai. Dengan berani. Aku rela hidup buat orang ini. Ngga kepikiran mati, karena di kepalaku; dia butuh aku. Tapi tidak dong pemirsa. Ngga seru kalo dunia happy ending. Orangnya ngga mau sama aku wkwkwk. Setelah umm, tujuh tahun bareng bareng. Patah hati, tentu. Bisa ngapain? Ga ada. Dipaksa juga ga ngaruh gimana gimana. We can’t control the un-control-able.
Posisi orang yang aku cintai; ya dicintai. Enak? ngga. Mungkin adanya aku, ya ganggu. Padahal, dia mau apa, aku iya. Ini, itu, ayo. Ngga ada yang ngga. Tapi keputusannya, ngga mau ada aku. Aku bisa apa selain terima?
Jadi kalo ditanya; enakan dicintai atau mencintai? jangan pilih salah satu. You need both of em to be happy. Ga bisa cuma sebelah :)
“Aku akan sadar diri dan memilih berhenti. Entah bagaimana kau melihatku; Namun aku betul-betul paham, Bukan aku yang kamu mau.”
—
Ego
Bersabarlah.
Kau perlu tau, wanita yang tengah coba kau cintai itu, dulu juga pernah sangat mencintai seseorang sebelum kemudian ia ditinggalkan pergi menjadi kepingan yang jauh lebih kecil dari patah hati - patah hati yang sebelumnya.
Ia pernah menjadi wanita yang mudah percaya, sebelum pada akhirnya ia dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Ia pernah menjadi wanita yang berani untuk mengambil langkah, sebelum pada akhirnya ia ditinggalkan sendiri setelah mengorbankan semuanya.
Ia pernah menjadi wanita yang begitu ceria, sebelum pada akhirnya seseorang mengambil separuh tawanya. Separuh jiwanya.
Jadi, jika ia kerap sulit untuk membuka hati, sulit untuk percaya lagi, tak kunjung memilihmu padahal kau selalu ada untuknya, mengertilah. Ia juga tengah berusaha dengan cara mencoba meski berkali-kali kenangan buruk terus saja membuatnya kembali tak bisa. Ia juga sebenarnya ingin, tapi ada tembok tinggi yang membentengi hatinya. Ia terkurung di sana, dan tugasmu untuk mendobraknya.
Ia tidak egois. Ia hanya tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Namun jika kau memaksa agar ia mencintaimu, atau bahkan memandang sebelah mata karena ia tak kunjung bisa melangkah dari segala luka masa lalunya itu,
Mengertilah; Kau yang sejatinya egois di sini.
Pulang yang Entah
Aku benar-benar seperti orang gila sekarang. Mencarimu di banyak tempat yang pernah kita datangi bersama dulu. Seakan berharap aku tak sengaja bertemu kamu di sana, lalu tangis ini bisa pulang dan tak harus sendiri lagi.
Aku mencarimu di warung-warung tenda di mana dulu kita sering makan di sana. Aku menunggu lama tapi kau tidak pernah datang. Kursi tempat dulu kita duduk bersama, kini ditempati orang lain yang sebahagia kita dulu pernah ada di sana. Seakan mereka sedang mengulang sebuah kenangan tentang kita yang tak lagi ada.
Aku pergi mengunjungi tempat sarapan yang penjualnya mirip kamu. Dulu aku tertawa dan kau terlihat kesal. Namun sekarang aku begitu ingin memeluknya sebab ia semakin mirip dirimu di mataku setelah kau tak ada. Senyumnya yang mirip denganmu benar-benar menyiksaku. Aku seperti melihat kamu yang bukan kamu.
Aku menunggumu di jalan-jalan tempat kau pulang dan pergi. Berharap aku menemukanmu sedang melaju dengan earphone bertengger di telingamu seperti biasanya. Aku tak masalah jika kau tak berhenti dan tetap melaju. Tidak apa, asalkan aku bisa melihatmu sekali lagi saja. Sekali lagi.
Sebentar lagi band kesukaanmu akan menggelar konser akbar di kota ini. Dan aku sudah membeli dua tiket. Karena aku yakin kau akan begitu senang jika tau aku membelikanmu tiket untuk konser yang kau tunggu-tunggu itu. Maka, ayo kembalilah. Kita saksikan konser itu bersama-sama lagi. Aku tak peduli jika aku tak mengerti segala lagu dan liriknya, selama tanganmu memelukku di tengah keramaian itu, aku sudah sampai pada kebahagiaan yang selalu aku doakan. Itu saja.
Aku sekarang duduk di taman ini. Tempat pertama kita bertemu dulu. Berharap petir menyambarku lalu aku terbangun di empat tahun yang lalu. Bertemu kamu yang masih pura-pura tak tertarik untuk dekat denganku. Dan sekarang aku menangis hebat di taman ini sendiri. Orang pikir aku gila. Dan aku akan mengiyakan sebab orang waras mana yang mencari orang yang telah tiada, bukan?
Dulu tiap aku menangis, kamu akan selalu datang dan bertanya kenapa lalu meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja. Kamu bilang, asalkan kita bersama, kita akan selalu baik-baik saja. Tapi sekarang? Kamu di mana? Dan bagaimana caranya aku untuk baik-baik saja? Kamu ke mana ketika aku menangis seperti ini? Apakah kamu setuju kalau setelah ini aku tidak akan pernah baik-baik saja?
Kamu jahat sekali. Pergi di saat aku seperti ini. Kenapa waktu begitu kelam merenggut apa yang bukan miliknya? Aku baru memilikimu sebentar dan kenapa kepergianmu terasa sudah seperti selamanya? Lantas sekarang aku harus pulang ke mana? Pulang ke tempat yang tidak ada kamu lagi di sana seperti pulang ke entah.
Jika kau memang harus pergi, Kenapa kau tidak ajak aku bersamamu sekalian? Seperti biasanya.
Tak Apa
Jika nanti kau tak pandai memasak, tak apa. Aku akan tetap melahap masakanmu hingga tandas tak tersisa. Karena kata ibuk, masakan seorang istri dibuat dengan hati. Bagaimanapun rasanya, ia tercipta dari perpaduan dua hal; cinta dan ketulusan.
Tak apa jika nanti, sekali-kali, kau ketiduran setelah sholat shubuh dan tak menyiapkan sarapan untukku. Aku akan memakluminya. Karena aku tahu, kau pasti kelelahan mengurusi ini dan itu.
Kau tak pandai merias wajah? Tak apa. Kebaikan-kebaikan yang ada di dalam dirimu sudah lebih dari cukup untukku. Mungkin orang-orang tak bisa melihatnya. Tapi aku bisa. Cantikmu tak hanya dari luar, tapi juga dari dalam; dari kebaikan-kebaikan yang mekar di luasnya taman hatimu.
Jika suatu kali nanti kau memarahiku karena suatu hal, tak apa. Aku lebih baik kau marahi daripada kau diamkan. Karena aku akan tahu di mana letak salahku. Aku akan memperbaikinya, sehingga ke depan, kesalahan yang sama tak akan terulang kembali.
Kau tahu? Aku menikahimu karena aku siap. Siap menerima lebihmu. Juga segala kurangmu.
|| Ruang, 1 November 2017, 23.10 ||
Hai, bagaimana kabarmu? Masih baik-baik saja kan? Aku ingin menyapamu, namun tak cukup keberanianku untuk menghubungimu. Jadi, di sini saja ya. Meski aku tak tahu apakah kau akan membacanya.
Sudah lama kita tak berbincang. Bertegur sapa pun sudah tak pernah kita lakukan. Kejadian tempo lalu membuat hubungan kita menjadi renggang. Kata cinta yang pernah sama-sama kita ucap pun harus dengan teganya kita buang.
Aku merindukanmu. Merindukan hangat pelukmu. Merindukan tiap canda tawamu. Merindukan sifat protektifmu yang aku tahu semua itu hanya karena kau ingin menjagaku. Aku merindukan apapun tentang kau terhadapku.
Bagaimana dengan keadaanmu sekarang? Apa kau juga merindukanku? Ah kurasa tak mungkin. Melihatku saja kau tak ingin. Bagaimana pekerjaanmu? Masihkah membuatmu rindu kepada keluargamu? Ku yakin perjuanganmu di sana tak akan sia-sia. Mereka pasti memelukmu dengan bangga. Bagaimana tentang hobimu? Beberapa hari yang lalu aku sempat mengulik sosial mediamu, dan kulihat kau menunjukkannya lagi; sesuatu yang kau kalungkan di lehermu. Ah kau begitu maskulin dengan keringatmu itu. Sekarang tak akan kulakukan lagi, karena aku tak lagi berada di sosial media yang sama denganmu.
Hei! Bukankah aku gila sudah merindukanmu? Aku terlalu berlebihan, bukan? Ah biarkan saja. Aku sedang tak ingin merindumu sendirian. Biar saja orang-orang tahu tentang rinduku yang tak terelakkan.
Bagaimana jika aku masih mengharapkanmu kembali? Tak apa jika tak seperti dulu lagi. Setidaknya berada di dekatmu mampu menghangatkan hatiku yang mulai dingin ini. Ah, mengapa aku bertanya sesuatu yang jawabannya sudah aku ketahui? Aku hanya masih belum percaya jika kau benar-benar pergi.
Kita pernah saling mendoakan. Semoga Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang jauh lebih baik. Namun, mengapa bagiku masih kamu yang terbaik? Mungkin hanya karena aku belum terbiasa. Lambat laun, aku pasti bisa mengikhlaskan kamu dan semua kenangan tentang kita. Bersabarlah jika rinduku kepadamu masih membuncah. Bukan ku tak ingin menghapusnya, namun rindu ini sangat jahat dengan keras kepalanya tetap tinggal di dalam diriku meski sudah dengan keras aku mengusirnya.
Maafkan sapaanku yang terlalu panjang ini. Semoga kau selalu berbahagia di sana. Tanpa aku dan kenangan kita. Jika kau lelah dalam pelarianmu, singgahlah sebentar ke hatiku. Mungkin aku bisa menghapus sedikit lelahmu. Setelahnya kau bisa menetap jika kau mau. Jika tidak, tak apa. Menjadi tempatmu singgah sudah mampu membuat senyumku merekah.
Sudah dulu ya. Aku tak ingin membuat waktumu habis hanya untuk membaca tulisanku. Titip salam rinduku untuk setiap rasa yang ada di hatimu.
pict : endmion1
Tulisan ini (masih) untuk kamu, yang bola matanya (masih) selalu menjadi tempat romantis dalam ingatanku. Apa yang sedang kamu inginkan, Ada aku di sini untuk membantumu menemukannya. Apa yang sedang kamu takutkan, Ada aku di sini untuk menemanimu melewatinya. Apa yang sedang kamu ragukan, Ada genggamanku di sini untuk memberimu keseimbangan. Apa yang sedang kamu impikan, Ada aku di sini untuk mempercayai mereka. Apa yang sedang kamu doakan, Ada aku di sini untuk memeluk ‘aamiin’ di setiapnya. Kamu tau, aku akan selalu ada untuk kamu. Dan kamu pun tau, aku akan selalu bersedia menepi, Saat kamu butuh sendiri. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya dua telinga yang bersedia mendengar ceritamu. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya sepasang mata yang selalu melihatmu. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya bibir yang selalu tersenyum menguatkanmu. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya hati yang nggak akan pernah dia bagi. Nggak, karena dia sudah merasa genap denganmu.
Tulisan ini (masih) untuk kamu, yang bola matanya (masih) selalu menjadi tempat romantis dalam ingatanku. Apa yang sedang kamu inginkan, Ada aku di sini untuk membantumu menemukannya. Apa yang sedang kamu takutkan, Ada aku di sini untuk menemanimu melewatinya. Apa yang sedang kamu ragukan, Ada genggamanku di sini untuk memberimu keseimbangan. Apa yang sedang kamu impikan, Ada aku di sini untuk mempercayai mereka. Apa yang sedang kamu doakan, Ada aku di sini untuk memeluk ‘aamiin’ di setiapnya. Kamu tau, aku akan selalu ada untuk kamu. Dan kamu pun tau, aku akan selalu bersedia menepi, Saat kamu butuh sendiri. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya dua telinga yang bersedia mendengar ceritamu. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya sepasang mata yang selalu melihatmu. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya bibir yang selalu tersenyum menguatkanmu. Nggak banyak yang bisa diberikan perempuan ini. Tapi dia punya hati yang nggak akan pernah dia bagi. Nggak, karena dia sudah merasa genap denganmu.
“Beri aku satu alasan untuk tetap tinggal, sebelum aku pergi jauh dan tak akan pernah kau temukan.”
— Luka Kita (via lukakita)
Yang Memutus Kebahagiaanmu
Apakah kamu…
Pernah sedih sesedih-sedihnya?
Pernah nangis senangis-nagisnya?
Pernah sakit sesakit-sakitnya?
Pernah menjerit sekencang-kencangnya?
Pernah malang semalang-malangnya?
Mungkin kamu yang sekarang adalah kamu versi paling bahagia yang pernah ada. Barangkali postinganmu di Instagram cukup mampu membuat orang lain iri. Makanan yang enak. Keluarga yang harmonis. Tempat tinggal yang nyaman. Destinasi wisata yang bagus. Dan koleksi-koleksi yang unik.
Tapi pernah gak kamu terpikir tentang satu hal yang bisa menghapus semuanya, membuat semuanya tadi jadi gak berarti, atau malah membalikkan keadaannya dalam sekejap: KEMATIAN.
Pernah terpikir gak tentang kematianmu, bagaimana skenarionya dan bagaimana kesudahannya? Bagaimana tempat kembalimu, bagaimana kuburmu, siapa yang menemanimu, bagaimana sekelilingmu, dan bagaimana Munkar dan Nakir memperlakukanmu?
Pernah terpikir gak bahwa kematian bisa saja membalikkan keadaanmu secara drastis, dari yang sangat bahagia jadi malang semalang-malangnya, sedih sesedih-sedihnya, dan sakit sesakit-sakitnya?
Kalau disuruh menakar diri sendiri, seandainya kamu mati malam ini, kebayang gak gimana keadaanmu di alam kubur keesokan harinya?
Bayangkan bagaimana perihnya.
Bayangkan bagaimana raungannya.
Bayangkan bagaimana jeritannya.
Saat itu, jika kau cari pintu taubat, maka tak ada lagi satu pun yang terbuka.
Cileungsi | Taufik Aulia
Selamat Hari Ibu
Ibuku tidak pernah biasa. Dia merawat aku berbulan-bulan dalam dirinya. Ia sabar menghadapi aku yang suka memberontak bahkan saat masih dalam tubuhnya. Dia tenangkan saat aku gelisah. Dia paling cemas kalau aku sedih. Dia paling takut kalau aku tidak bahagia. Dia berjuang untuk hidupku dan bertaruh dengan hidupnya. Bagiku, Ibu adalah alir darah dalam tubuhku, adalah anak panah akan tujuan hidupku, matahari, tanah, pohon-pohon, yang membangun semesta di diriku.
Di hari-hari yang tak mudah, dia tetap menjadi pereda air mata. Dia tetap menjadi pembuka pintu doa-doa. Dia adalah segala hal baik yang aku dapatkan. Dia adalah segala hal yang tak mampu terjelaskan. Begitu tinggi. Dia membagi napasnya kepadaku, dia membagi semangatnya.
***
Maaf, masih sering nakal. Masih belum maksimal dalam impian. Ibu harus percaya, aku anak yang bisa diandalkan. Jalan-jalan panjang itu akan kutempuh. Segala doa-doa baikmu tidak akan sia-sia. Terima kasih sudah menjagaku dari banyak bahaya. Terima sudah mencintaiku melebihi perempuan mana pun di luar sana. Kau akan jadi kebanggaanku selamanya. Di matamu kutemukan duniaku. Di raut wajahmu, kutemukan garis-garis hidupku. Di mana pun, engkau berada aku selalu merindukanmu. Meski rindu kadang tak terkatakan. Rindu kadang kutahan, kudekap dalam rasa sepi sepanjang malam.
Engkau tahu pasti, Bu. Aku anak yang tak mudah menyerah dalam apa pun. Ibu tahu, aku keras kepala. Jika ada hal yang menyakitimu dari sifat dan tindakku, ampuni aku dengan segala kasih sayangmu. Aku tidak bisa mendapatkan apa-apa dengan berkah, jika hatimu tersakiti sudah. Selamat hari Ibu, selamatkan seluruh hidupku dengan doa-doa baikmu. Tetaplah jadi yang kubanggakan sepanjang usia ini.
–boycandra