Jadi, apakah cinta harus setara?
Jadi, apakah cinta harus setara? Harus. Cintanya harus setara.
Aku sering terjebak dalam dilema setiap kali bertanya kepada diriku sendiri. Apakah dia pantas untukku? Apakah cintanya sepadan denganku? Aku tidak mau rugi, aku tidak ingin bangkrut dalam cinta. Orang yang mendapatkanku harus mampu memberi cinta yang setara, atau bahkan lebih. Dia harus bisa mengimbangiku, bukan membuatku menurunkan standarku. Ya, cinta itu harus setara, kan?
Bohong jika aku bilang tidak butuh cinta. Aku juga ingin mencintai dan dicintai. Tapi tetap, cinta itu harus setara. Aku ingin mendapat kasih sayang yang lebih dari sekadar harapan. Karena aku menyayangi diriku sendiri. Aku tidak boleh menjerumuskan diriku pada cinta yang salah—cinta yang membuatku bangkrut, cinta yang memaksa aku melupakan siapa diriku sebenarnya.
Aku memiliki mimpi, begitu banyak dan begitu besar. Maka, orang yang mendapatkanku haruslah seseorang yang membuatku nyaman untuk terus bermimpi. Bukan dia yang justru memaksa aku melipat seluruh mimpiku dan menjadikannya angan yang tak pernah nyata.
Mimpiku sudah kususun jauh sebelum aku beranjak dewasa. Ia tak pernah pudar, selalu ada di sana, menungguku meraihnya. Jangan hanya karena cinta, aku harus membuang semua yang selama ini kuperjuangkan. Itu bukan cinta yang setara namanya.
Kemarin, aku mendengar kabar bahagia: beberapa orang di keluargaku akan menikah. “Ternyata sudah waktunya, ya?” begitu ucapku dalam hati. Aku pun ingin menikah. Aku ingin merasakan perasaan dicintai dengan begitu penuh, merasakan kebahagiaan berumah tangga. Tapi aku tahu, aku masih memiliki mimpi dan cita-cita yang belum selesai dikejar. Ada checklist yang harus kuselesaikan di masa lajangku—hal-hal yang ingin kuraih terlebih dahulu sebelum akhirnya menempuh kehidupan rumah tangga.
Hari ini, aku melihat sebuah konten di media sosial. “Cinta dan cita-cita tidak bisa berjalan bersamaan.” Benar. Itu benar… jika kita tidak bersama orang yang tepat. Sebab, dengan orang yang tepat, kau bisa tetap meraih cita-citamu, bahkan lebih jauh dari yang pernah kau bayangkan.
Aku ingin bertumbuh. Dan kelak, jika aku bersama seseorang di masa depan, aku ingin bertumbuh dengannya. Merajut banyak hal, menggapai segala mimpi, dan bercerita tentang segalanya. Begitu indah, bukan? Duduk berdua, membicarakan hal-hal sederhana, atau bahkan diskusi tentang perkara berat sekalipun. Membayangkan betapa hangatnya menghabiskan waktu bersama, hingga menutup mata. Sehidup sesurga.
Tapi sekali lagi, semua itu hanya mungkin jika bersama dia yang setara. Setara bukan berarti sama dalam jenjang pendidikan, status, atau harta. Kesetaraan yang sejati adalah bagaimana kita memandang hidup dengan arah yang sejalan. Bagaimana kita menapaki jalan yang sama, meski dengan langkah yang berbeda. Bagaimana kita saling menopang, bukan saling menahan.
Jujur saja, jika bertemu dengan seseorang yang tidak bisa diajak bicara tentang hal-hal sederhana, kita akan refleks merasa tidak cocok dengannya. Tidak bisa. Obrolan menjadi mati. Pikiran pun sulit untuk dibagi. Lalu bagaimana nanti jika harus membangun sebuah rumah, di mana setiap hari kita bertemu dengannya? Menghabiskan waktu bersamanya?
Rumah tanpa obrolan layaknya sebuah bangunan kosong—ada wujudnya, tapi hampa; ada atapnya, tapi tak ada kehidupan di dalamnya.
Dan aku tidak ingin rumahku kelak menjadi seperti itu. Aku ingin rumah yang penuh tawa, penuh cerita, penuh doa, dan penuh dukungan. Tempat di mana aku bisa pulang bukan hanya untuk beristirahat, tapi juga untuk menyembuhkan diri.
Cinta yang setara bagiku adalah cinta yang bisa menjadi ruang aman. Ruang untuk saling mendengar, saling menghargai, saling mendorong agar tidak berhenti tumbuh. Cinta yang tidak membuatku kehilangan diriku sendiri, melainkan cinta yang membuatku semakin mengenali diriku yang sebenarnya.
Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang jatuh hati, bukan pula tentang rasa yang manis di awal. Cinta adalah perjalanan panjang. Dan perjalanan itu hanya akan indah bila kita melangkah bersama orang yang sepadan—yang tidak hanya berjalan di samping kita, tetapi juga melihat ke arah yang sama.
Jadi, ya… cinta itu harus setara. Setara dalam pandangan hidup, dalam mimpi, dan dalam cara mencintai.