"Bagaimana rasanya ketika orangtua kita memutuskan untuk berpisah?"
Seorang teman tiba-tiba bertanya begitu beberapa waktu lalu. Orangnya super duper ekstrovert, bisa membaur kemana saja dan bisa dengan mudah mengutarakan isi pikirannya seolah tidak punya rahasia. Mungkin beberapa orang akan terkejut mendengar pertanyaannya -mungkin itulah mengapa pertanyaan itu ditanyakan secara personal kepada saya. Dari awal, saya tidak terkejut. Sejauh ini hasil pengamatan saya menunjukkan bahwa orang yang tampak paling bahagia dan tanpa beban seringkali adalah orang yang sudah puas menikmati struggle-nya sendiri. Namun, bukan berarti mereka tak butuh oranglain untuk berbagi rahasia. Memendam hal-hal sendirian nyatanya bisa membuat keadaan terasa jauh lebih rumit.
Jawaban saya? Seadanya. Saya pikir kejujuran yang berasal dari hati akan lebih mudah mencapai hatinya saat itu. "Rasanya dunia ikut berakhir dan kamu berakhir sendirian. Namun sisi baiknya, saya jadi punya pengalaman merasakan kehilangan yang menyakitkan, dan saya rasa sekarang saya lebih siap dan lebih ikhlas menerima kehilangan-kehilangan lainnya."
Ah, bukankah hidup memang tentang kehilangan dan merelakan? Saya selalu berkata, semakin banyak yang kau relakan dalam hidup, sejatinya sebanyak itu juga yang kau dapatkan. Bukan dalam bentuk materi, namun pemahaman akan hidup itu sendiri, ketenangan hati, dan kedewasaan.
Pada akhirnya, kau akan mengerti bahwa kebahagiaanmu harusnya tak digantungkan pada apapun yang berada diluar dirimu sendiri. Harusnya hal-hal yang berada diluar kuasamu, tak dibiarkan membuatmu sakit sedemikian rupa. Dengan begitu, fokusmu akan berganti kepada hal-hal yang bisa kau usahakan dan membahagiakanmu.
Mungkin karena ini juga lah, saya kadang suka bersikap masa bodo terhadap sesuatu. Saya tak ingin hal-hal yang sebenarnya bisa diabaikan merusak kebahagiaan saya.
Lalu teman lainnya pernah mengeluhkan takdirnya sedemikian rupa kepada saya. Menghujat Tuhan dan takdir yang diberikanNya. Menyesali banyak hal dalam hidup. Saya tak bisa mengatakan apa-apa selain mengajaknya untuk banyak beristighfar.
Saya tahu sekali rasanya berada di fase itu, karena saya pernah mengalaminya. Mengutuki takdir, menghujat Tuhan -semoga Dia berkenan mengampuni saya, pemberontakan, hingga keinginan untuk nekad menyudahi hidup yang diberikanNya.
Akhirnya apa yang tersisa? Seperti orang-orang yang terus berkata ingin mati, tapi pada akhirnya mereka hanya ingin tetap hidup. Hidup tetap berjalan, dan seiring berjalannya waktu, saya perlahan mengerti pelajaran apa yang sedang Dia coba tuntun saya untuk pahami. Saya bertemu banyak sekali momen didalam hidup yang membuat saya berpikir, "ah! Jadi itulah mengapa saat itu saya diberi struggle seperti itu. Oh! Beruntung sekali saat itu saya diuji begitu sehingga sekarang jadi begini," dan sebagainya.
Lagipula, soal takdir; apa lagi yang bisa kita lakukan selain penerimaan? Memberontak bagaimana pun, tak akan ada yang berubah. Hanya akan terasa semakin sakit.
Percayalah, semakin kita mencoba untuk menerimanya dan berdamai dengannya, semakin kita merasa tenang; lalu hikmah-hikmah kecil akan bermunculan dan kita akan bersyukur pernah diuji. Dengan menerima, kita bisa mengarahkan fokus untuk mengusahakan hal-hal yang masih bisa dilakukan, bukan terpaku pada apa-apa yang berada diluar kuasa kita.
Apapun itu, dan seberapa berat pun melaluinya, semoga kita senantiasa diberikan hati yang tangguh dan pikiran yang pandai memaknai hikmah. Dan semoga Dia senantiasa menuntun dalam setiap struggle yang kita lalui. 😊