“Coba cek punggungmu, ada sayapnya apa ndak?”
“Ternyata bener ya. Gak semua bidadari bersayap”
Tsaaahhh modus dilempar~ hiya hiya hiyaa semoga kalian yang baca tulisan ini ndak mual ya hehe :’D
Biasanya kalau lagi melamun, aku suka bertanya-tanya. Sebenarnya laki-laki yang tuturnya halus nan manis itu seperti apa sih? Bagaimana mengukurnya?
Jadilah manusia kepo ini tanya sama beberapa orang, hasilnya : katanya lelaki yang bertutur manis itu yang tidak membentak, bernada tinggi, maupun suka marah-marah. Katanya lelaki bertutur manis itu, dia yang saat berbicara dengan perempuan bisa menghargainya, tidak merendahkan. Katanya lelaki bertutur manis itu yang selalu berkata baik kepada kedua orang tuanya. Katanya lelaki bertutur manis itu yang bisa membuat hati perempuan melting. Lah itu mah lelaki bertutur modus bukan manis wkwk *malah julid*
Ratusan tahun sejak avatar menghilang, akhirnya aku menemukannya ^^ iya lelaki bertutur manis yang dikenal langit dan bumi.
Lelaki ini diusir oleh ibu kandungnya karena tidak menurut. Lelaki ini jatuh miskin dengan hanya memakai pakaian kekecilan yang punya tambalan disana sini.
Kok bisa laki-laki seperti itu bertutur manis? Ya. Tentu. Kenapa tidak?!!
Dia adalah Mush’ab bin Umair. Anak dari keluarga terpandang yang sangat disayang oleh Ibunya, Khunas. Semenjak masuk Islam, Mush’ab melepas semua hingar bingar dunia yang Ia punya.
Ketika semua orang menasehati Mush’ab bahwa kekosongan hatinya disebabkan oleh tidak adanya perempuan di sisi Mush’ab. Dengan lugas Mush’ab menjawab, “tidak. bukan itu.”
Hati Mush’ab yang merasa kosong itu, kemudian menggiringnya pada jalan Islam. Laksana menemukan kunci yang pas untuk mengisi kekosongan hatinya, itulah yang dirasakan Mush’ab ketika menemukan Islam. Hatinya terisi penuh oleh nikmatnya iman.
Saat itulah Mush’ab diusir dari rumah karena tidak menuruti keinginnya Ibunya agar tetap menjadi musyrik (penyembah berhala). Sekalipun disiksa, tidak diberi makan, diikat seperti tawanan di rumah sendiri oleh keluarganya. Mush’ab tetap teguh memeluk Islam.
Rasulullah yang tidak tega melihat pemandangan tersebut. Meminta Mush’ab untuk hijrah ke Habasyah. Mush’ab akhirnya pergi kesana bersama empat belas orang lain.
Mush’ab adalah orang terhormat yang dapat dipercaya hanya dengan mendengarnya bicara. Semua orang yang mendengar perkataannya akan tahu seketika bahwa lelaki ini tidaklah berdusta.
Selama di Madinah (Habasyah) Mush’ab tetap melaksanakan dakwah. Hingga akhirnya satu kota Madinah memeluk Islam melalui tutur kata Mush’ab dan menjadi jalan Rasulullah untuk hijrah ke Madinah.
Di akhir hayatnya, Mush’ab syahid saat perang Uhud dengan memegang panji Rasul. Sekalipun tangan kanannya ditebas musuh agar panji itu terjatuh, Mush’ab memindahkan panji itu ke tangan kirinya. Ketika tangan kirinya juga ditebas musuh, Mush’ab memeluk panji itu ke dadanya semampu yang Ia bisa. Hingga akhirnya leher Mush’ab ditebas musuh dan kepalanya tertutup tanah. Malaikat kemudian turun, menyamar menjadi Mush’ab dan tetap mempertahankan panji Rasul sampai ada yang menggantikan Mush’ab. Saat hendak dikuburkan, kain yang dimiliki Mush’ab tidak cukup menutupi tubuhnya, sehingga harus dibantu dengan rumput-rumput kering
Seperti itulah Mush’ab menghargai dunia.
Tuturnya yang manis tidak digunakan Mush’ab untuk merayu banyak perempuan tetapi untuk meng-Islamkan satu kota. Harta keluarganya yang berlimpah ruah tak lantas membuatnya gelap mata. Ia tinggalkan kekayaan itu untuk berjuang di jalan Allah. Berkat kebaikannya, Mush’ab membuat malaikat turun untuk menyamar menjadi dirinya.
Lelaki itu bernama Mush’ab. Lelaki bertutur manis yang mampu meng-Islamkan satu kota. Lelaki yang tidak tebar pesona, karena baginya dunia hanya sesuatu yang tidak ada harganya.
Dialah Mush’ab. Mush’ab bin Umair.