Apa tidak terasa aneh? Kita beradu punggung. Tanpa sapa. Hanya sepintas tatap tanpa kata.
A saja
YOU ARE THE REASON
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
Xuebing Du
No title available
🪼
Monterey Bay Aquarium
trying on a metaphor

Andulka

titsay

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi
Sade Olutola
Sweet Seals For You, Always
Today's Document
todays bird

❣ Chile in a Photography ❣
almost home

JVL
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Discoholic 🪩
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Spain
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from Russia
@luruhsenja
Apa tidak terasa aneh? Kita beradu punggung. Tanpa sapa. Hanya sepintas tatap tanpa kata.
A saja
Bukankah ini lebih baik, kita berjarak sebelum benar-benar dekat.
A saja
Rasanya baru kemarin kita berbalas puisi. Adu kuat. Siapa yang lebih tangguh dan tidak kebaperan. Dan ya, sedari awal aku memang sudah kalah, tapi aku tak mau mengakuinya. Sedari kamu yang hanya bermain-main (kata) saja aku sudah jatuh cinta. Cinta yang tanpa pandang. Cinta yang tak mengenal fisik. Aku cinta pada kesemuanmu.
Rasanya baru kemarin. Kita saling berkabar dengan panggilan sayang. Obrolan sederhana lewat telepon, berkirim stiker-stiker dan emotikon-emotikon lucu. Kamu bilang akan datang dan aku bersedia untuk menunggu.
Rasanya baru kemarin. Kita merencanakan masa depan, tentang kebersediaanku ikut denganmu, dan aku setuju.
Rasanya baru kemarin. Kamu bercerita bahwa orang tuamu setuju, mereka tak masalah dengan jarak kita yang terlampau jauh.
Rasanya baru kemarin. Kamu sibuk kesana-kemarin interview kerjaan. Lalu tak bisa bertemu karena kamu sudah dapat kerjaan.
Rasanya baru kemarin. Kamu masuk sebagai ASN. Dan ku kira itu tanda bahwa doaku akan segera bermuara.
Rasanya baru kemarin. Dan sekarang hampir berakhir.
Keadaan selalu berubah, mungkin hatimu juga.
Lima tahun yang lalu. Ketika dibuka komentarnya, laaahh masa lalu dimana-mana. 😹
Yang melemahkan dari LDR itu bukan jaraknya. Tapi isi kepala, keinginan, dan tujuan yang tak lagi sama. Satu lagi, kurang komunikasi.
Kebenaran tak pernah mencari pembenaran. Karena kebenaran akan menunjukkan jalannya sendiri.
Dena
Yang bagaimanapun
Yang seperti apapun
Setiap doa punya waktu kabulnya
Perogratif Tuhan
Mau hendak kapan
Meng-iya-kan sekarang
Menundanya nanti
Menunggu
Dan tunggulah waktu
Dena
Waktu
Ia mengajakku berlari.
Tubuhku,
Otakku,
Hatiku.
Pagi - sore.
Siang - malam.
Fajar - petang.
Detik ke menit.
Menit ke jam.
Jam ke hari.
Hari ke hari.
Minggu ke minggu.
Berbulan-bulan
Hingga tahun berlalu.
Hingga pegal dimana-mana.
Di kaki,
Di kepala,
Hingga lupa
Apa yang sedang ku kejar?
Pada waktu yang entah, rasa akan beralih. Dari rindu menjadi jemu. Dari harap menjadi penat. Dan dari cinta menjadi biasa saja.
-dena
Kau siapaku?
Aku siapamu?
Lantas "kita" ini siapa?
Makhluk Tuhan yang masih diizinkan untuk bernapas.
Silogosme.
Banarkah?
Salahkah?
Benar disalahkan kah?
Salah dibenarkan kah?
Salah-salah mencari kebenaran kah?
Benar disalah-salahkan kah?
Benarkah kesalahan berawal dari benar yang disalah-salahkan kah?
Ataukah pembenaran itu semula salah yang mencoba dibenar-benarkan?
Yang salah, benarkah?
Yang benar, salahkah?
Yang menyalahkan, benarkah?
Benar salah, salah.
Salah benar, salah.
Salah salah, benar.
Benar benar, salah?
Benarkah?
Salahkah?
berpasrah .
Ada banyak doa yang ijabahnya justru saat kita sudah merelakannya.
Atau datangnya justru saat kita sudah benar-benar menyerahkan sepenuhnya: terserah Allah mau memberi apa, kapan dan seberapa lama.
Ada banyak yang seperti itu dalam hidupku. Peristiwa yang membenturkanku pada kenyataan: manusia tidak punya daya apa-apa. Kita berencana, Allah yang selesaikan akhirnya.
Dalam masa-masa menunggu, doaku masih dan selalu: kuatkan, sabarkan dan mudahkan urusan ini bagi kami.
Kenangan kita tak ubahnya hanya sekedar obrolan dalam telepon genggam.
Mungkin akan lebih baik bila suatu saat kau tiba-tiba menghilang.
Kau mungkin sedang melatihku agar tak sakit terlalu dalam saat kau tinggalkan.
Mungkin saja.
De na
Kadang-kadang aku merasa kau mencintaiku. Kadang-kadang aku merasa kau tidak. Kadang-kadang aku merasa mengenalmu dan kau sungguhlah milikku. Namun kadang-kadang tidak. Seringkali aku merasa jatuh cinta sendiri.
Barangkali aku sedang berimajinasi. Dan kau hanya tokoh fiktif yang melengkapi. Mungkin.
Tidakkah untukku kau ada rindu?
Aku cuma butuh ketemu.
Kau tahu bagaimana rasaku setelah saling-balas pesan kita malam ini?
Rapuh.
Iya benar.
Aku merasa kau tak seserius itu.
Mungkin aku yang terlalu percaya diri sedang dirimu tak begitu yakin dengan hubungan ini.
Lelah?
Jangan ditanya.
Aku sudah kelimpungan.
Tergontai hingga menunggu jatuhnya.
Dengan apa aku percaya?
Kata? Lagi-lagi hanya kata.
Lalu buktimu apa?
Orang tuamu siapa aku saja tak mengenalnya.
Mengenalkanku pada orang tuamu? Itu bagiku hanya mimpi semata.
Lalu aku harus percaya pada apa?
Kata lagi?
Perihal namaku saja tak pernah kau sebutkan dalam media, apalagi fotoku? Aku membayang saja tidak mungkin.
Lalu aku ini apa?
Radio?
Pengingat?
Atau...
Semacam yang kau anggap sekedar maya?
Kau butuh aku ada.
Kau sibuk, aku ini siapa?
Atau barangkali aku sama sekali tak pernah ada?
Rasa-rasanya aku seperti jatuh cinta sendiri. Bertepuk sebelah tangan.
Aku hanya butuh temu, sekali saja.
Aku butuh diyakinkan, tidak untuk digantungkan.
Ah iya, aku lupa.
Sedari awal kita memang bukan siapa-siapa, tak berikat, tak bernama.
Ini salahku, aku yang sudah salah arti atas kata-kata indahmu. Yang mungkin bagimu dulu hanya sekedar iseng bermain kata.
Ini salahku. Tak bisa hati-hati membawa hati.
Ini salahku. Membawamu pada keterpaksaan menjalani yang disebut ini "kita".
Aku minta maaf bila sedari awal aku sudah salah arti.
Padamu ku taruh hati begitu dalam,
Dan padamu aku sudah terlanjur menaruh harapan.
Aku sedang ingin meracau
Tiba-tiba hatiku kacau
Aku ingin menghujanimu banyak kata
Namun tertahan.
Aku tak bisa.
Aku kalah.
Kalah telak.
Padamu rasaku sudah teramat dalam.
Sesampai amarah teredam,
Egopun tenggelam.
Aku kalah.
Kalah telak.
Rasaku menghujam hingga ku terdiam.
Bukankah yang terbaik adalah tak memaksa kehendak?
Astaga...
Aku benci diriku sendiri.
Salahku cuma satu
Menjadikanmu satu-satunya
Dan bodohnya diriku
Terlalu percaya (diri) akan dirimu
Hingga ku cipta ilusi
Ku cipta puisi
Ku gantung mimpi
Yang seolah padamulah nanti akan serupa rumah
Yang kokoh
Yang menaungi
Melindungi
Tempatku kembali
Merebah
Mencurah.
Mungkin aku telah salah (lagi)
Seharusnya tak begini.