Lemah
Kamu pernah nggak sih merasakan berada dalam pikiran yang realistis sekaligus naif? Realistis menerima kenyataan dengan kesadaran penuh dan tanpa perlawanan. Naif karena selalu berharap bahwa di depan sana, kita akan menemukan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka.
Setiap kali mengalami kegagalan, saya selalu merasakan momen ini. Momen ketika akal berkata:
“Oh ternyata skenario hidupku kayak gini. Yaudah mari dijalani“
Sementara hati selalu berbisik:
“Bersyukurlah pada terbatasnya akal. Setidaknya kita masih bisa berharap bahwa di depan sana ada kebaikan-kebaikan dari Allah yang sebelumnya tidak terjangkau dari perspektif akal kita. Mari berjalan dengan tenang”
Ibnu Athaillah As Sakandary dalam buku beliau “Mengapa harus berserah” menjelaskan bahwa terkadang manusia tidak mampu tawakkal karena pandangannya terhijab dalam melihat kebaikan Allah. Dulu, saya tidak memahami apa makna dari “Hijab” ini. Sementara ketika saya membaca tafsir dari Muhammad Asad tentang makna “Gaib”, saya merasa mulai memahami.
Hijab yang dimaksudkan ibnu Athaillah kadang berbentuk keterbatasan akal dan sudut pandang kita sebagai manusia. Muhammad Asad mendefinisikan gaib sebagai “sesuatu yang tidak terjangkau akal dan indera”. Kegaiban itu sifatnya dinamis. Ada hal-hal yang hari ini bersifat gaib tapi seiring dengan perkembangan pengetahuan, yang gaib menjadi tidak gaib lagi. Contohnya apa? Penyakit di zaman dahulu mungkin kerasa gaib karena manusia tidak tahu sebabnya. Tapi perkembangan teknologi membuat kita mengenal virus, bakteri, parasit, vaksin dan banyak hal. Sehingga, manusia mulai bisa mengantisipasi penyakit dan menyiapkan obat.
Akan tetapi, sekalipun pengetahuan membuat kita bisa “menyibak hijab” sehingga “mengurangi kegaiban”, di luar sana ada tetap ada “The unknown-unknown” yang begitu luas dan tetap tidak terjangkau akal.
Ada teman yang pernah random bertanya:
“Andaikata manusia mengetahui seluruh rahasia semesta, apakah manusia masih memiliki perasaan “Berharap kepada Tuhan”?“
….
Saat berbicara tentang pengetahuan, kita mengenal 4 hal:
1. Sesuatu yang kita ketahui dan kita sadar bahwa kita tahu (The Known Known).
2. Sesuatu yang tidak kita ketahui dan kita sadar bahwa kita tidak tahu (The Known Unknown)
3. Sesuatu yang kita ketahui dan kita tidak sadar bahwa kita tahu (The Unkown Known)
4. Sesuatu yang tidak kita ketahui dan tidak kita sadari keberadaannya (The Unknown Unknown)
Dulu, saya pernah greedy dan berpikir bahwa proses belajar kita bertujuan untuk memperluas the Known Known dan mempersempit The Unknown Unknown. Saya lalu menertawakan konyolnya pikiran saya.
Al Qur’an meminta kita agar menjadi orang berilmu. Setelah berilmu, kita dituntut untuk beramal. Kita diberi penjelasan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lain.
Penjelasan ini juga memantik pertanyaan dari saya:
“Kenapa sebaik-baik manusia bukan yang berilmu?“
Jika direnungkan lagi, kita tidak akan pernah bisa mempersempit The Unknown-Unknown. Kenapa? Karena ilmu manusia hanya sedikit sekali. Sekecil tetes air yang menempel di jarum. Sementara ilmu Allah itu begitu luas. Seluas lautan. Ibaratnya, sekalipun kita belajar sekuat tenaga, the Known Known yang kita miliki ya sekecil tetes air di jarum tadi. Sementara The Unknown Unknown-nya tetap seluas lautan :D
Maka sebaik-baik manusia bukan yang paling berilmu melainkan yang bisa mendayagunakan ilmunya untuk membawa manfaat kepada manusia dan kepada sesama makhluk di muka bumi.
Hikmah dari adanya ilmu bukan agar kita bisa bermegah-megah dengan teknologi di muka bumi. Akan tetapi, agar kita mampu meningkatkan kualitas manfaat yang bisa kita berikan kepada alam. Mungkin yang demikian esensi dari Rahmatan Lil Alamin.
Maka dari itu, kesalihan personal saja tidak cukup. Butuh kesadaran berbuat baik kepada lingkungan. Percuma berilmu kalau kita masih tega menyiksa hewan. Percuma berilmu kalau kita masih suka membeli barang dengan sia-sia yang berujung pada penumpukan sampah.
Kembali lagi ke perkara keterbatasan akal dan perspektif manusia tadi. Setiap kali menghadapi takdir yang tidak saya suka, saya selalu mengingatkan diri tentang kapasitas akal yang terbatas. Saya selalu mengingatkan diri tentang bagaimana dialog malaikat dan Allah dalam surat Al Baqarah yang berakhir pada kalimat tasbih:
Subhaanaka laa ‘ilma lanaa illa maa ‘allamtanaa. Innaka antal ‘aliimul hakiim.
Ayat ini, masuk ke hati saya dengan makna:
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan sudut pandang saya sebagai manusia, sempit sekali. Sesempit wawasan yang saya miliki. Sekecil the known-known yang hanya setetes air di jarum. Sementara Ilmu Allah seluas samudra.
Akan tetapi, sebagai manusia, kita dibekali dengan rasa takut. Rasa takut itu bukan kelemahan sebenarnya. Sebab hikmah dari rasa takut adalah rasa waspada yang membantu kita agar bisa hidup dengan hati-hati.
Ada kalanya, kita belum bisa menghadapi rasa takut tersebut dengan tenang. Sehingga perasaan takut itu menganggu hari-hari kita. Di titik ini, saya meletakkan tangan saya di dada sambil mengingat ayat:
Wa yusabbihur ra’du bihamdihi. Wal malaaaikatu min khiifatihii.
Semua makhluk di alam semesta, patuh dan tunduk kepada perintahnya. Bahkan guruh saja bertasbih karena takut kepada Allah. Jadi, tidak ada satupun makhluk di muka bumi ini yang tidak taat pada ketentuan-ketentuannya. Kalaupun saya sampai tersakiti karena melakukan sesuatu yang memang seharusnya, berarti itu sudah ketentuan Allah.
Dulu, pas ibu sakit, kami saling mengingatkan tentang itu. Kanker itu makhluk Allah juga. Jika Allah berkehendak dia tidur, maka dia akan tidur. Tapi kalau misal kita sudah berikhtiar jauh dan dia tetap tidak tidur, sel kanker tersebut hanya mengikuti perintah Allah sebagai makhluk. Tidak ada pilihan bagi kita selain ridho.
Dari itu semua, akhirnya di setiap doa, selalu ada tambahan:
Engkau boleh mengabulkan doa kami ataupun tidak. Tapi jangan pernah tinggalkan kami sendirian dalam kondisi apapun.
Seorang hamba selalu butuh Rabb-Nya untuk menghapus kesedihan dan mencari jalan lain saat doanya tidak terkabul. Ia juga butuh Rabb-Nya untuk mengendalikan hati dari rasa takabbur serta menentukan langkah-langkah selanjutnya biar selalu lurus.
….
Pada akhirnya, hanya kepada Allah kita meminta apapun dan berharap apapun.
….
Makanya, sekalipun ibadah kamu berantakan, jangan pernah berprasangka buruk kepada Allah. Tetaplah minta kebaikan. Kasih sayang Allah itu meliputi segala hal. Allah tahu, betapapun tidak taatnya kamu, kamu tidak punya tempat lain untuk mengadu selain kepada-Nya.
baca ini, langsung gerimis.. Engkau boleh mengabulkan doa kami ataupun tidak. Tapi jangan pernah tinggalkan kami sendirian dalam kondisi apapun.
jangan pernah tinggalkan kami walau hanya sedetik pun..:”))













