Tetap tenang sebagaimana air mengalir selalu libatkan Allah semoga dimudahkan dan diberkahi

izzy's playlists!
No title available

@theartofmadeline
Not today Justin
$LAYYYTER
One Nice Bug Per Day
we're not kids anymore.
The Bowery Presents

pixel skylines
will byers stan first human second
art blog(derogatory)
Fai_Ryy
Xuebing Du

oozey mess
ojovivo

❣ Chile in a Photography ❣

gracie abrams
Sade Olutola
The Stonewall Inn
untitled

seen from Bangladesh
seen from United States
seen from United States
seen from Canada
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Finland

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Russia
seen from Bangladesh
seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from United States
seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States
@mariberdamai
Tetap tenang sebagaimana air mengalir selalu libatkan Allah semoga dimudahkan dan diberkahi
Kehidupan Setelah Menikah
Banyak orang bilang, kalau setelah menikah, sirkel pertemanan kita akan menyempit. Kurasa memang benar, aku juga merasakannya. Apalagi merantau, dan berasa temen deket tuh cuma suami. Kalau sama temen2 cuma bisa kontak jarak jauh. Trus alasannya juga, karena urusan domestik rumahtangga ini tiada habisnya, jadi intensitas bertemu orang lain juga semakin berkurang
Setelah satu tahun masa peralihan, akhirnya sudah mulai terbiasa sendiri, sama anak, sama suami aja. Sudah mulai terbiasa nggak papa kalo nggak silaturahim atau nongki sama temen
Malah aku merasa, semakin capek kalau berinteraksi dengan banyak manusia. Soalnya di kepalaku ini mikir banyak kerjaan yang belum dikerjain wkwkwk. Mikir anak, mikir suami wkwk
Juga cenderung menjaga jarak dari orang-orang yang nggak nyambung dengan kita. Contohnya, kalau kita punya temen yang sukanya nyinyirin orang, ngegosip, bahkan menghasut, sedangkan itu wasting time bagi kita, secara gak langsung kita akan cut and keep our boundaries. Yaaa orang-orang seperti itu, ketika kita nggak ada, gantian kita yang jadi bahan gunjingan. Jadi kalau bisa, berteman sekadarnya aja
Dan alasannya juga, udah sibuk dan letih dengan urusan rumahtangga. Jadi ya udah ah, ga penting dan males juga sama drama-drama
Atau ada teman yang terlalu sering menceritakan masalah rumahtangganya, bahkan sampai membuka aib pasangannya; saat kita anggap itu negatif dan tidak seharusnya diceritakan, dan kita merasa tidak bisa ikut menyelesaikannya, tentu kita juga akan menjaga jarak dengannya
Atau ada orang yang suka banget memaksakan kehendaknya, ikut ngontrol pilihan-pilihan hidup kita. Misalnya, eh kamu kok pake deterjen rinso sih, mending pake attack aja, dijamin nyaman blablabla 😂 misal inimah. Btw, pilihan apapun yang kita pilih hari ini, semua dipersiapkan dan dipertimbangkan. Kita yang tau kondisi diri kita sendiri, harus bisa membuat batasan apa yang iya dan tidak bagi diri kita
Menjadi tegas pada diri sendiri, sadar dan harus paham konsekuensinya. Jadi, ketika ada orang lain interupsi, maka yang harus dipertahankan ialah argumen diri kita sendiri. Toh kalau ada apa-apa nanti, mereka juga nggak akan bertanggungjawab dengan apa yang akhirnya kita pilih
Kita boleh saja beramahtamah dan berteman dengan semua orang, tapi tentunya kita hanya akan memilih beberapa orang yang 'klik' dengan kita. Itu sudah otomatis kok. Kalau nggak sepaham, kita pun juga nggak akan nyaman. Gak usah merasa bersalah untuk menjaga jarak dari orang-orang yang menurut kita bisa mempengaruhi hal-hal negatif. Itu hak kita kok
Mau dimanapun juga, nantinya kita akan bertemu dengan orang-orang yang berseberangan dengan kita. Entah itu pemikiran, kebiasaan, prinsip, keyakinan, latar belakang. Itu hal yang lumrah, tinggal bagaimana kita menyikapinya saja. Tetaplah berbuat baik dan bersikap secukupnya dengan sesama
Buntok, 5 Desember 2022 | Pena Imaji
Nanti, ya…
Nanti, di waktu yang paling indah menurut-Nya, aku akan berjalan di sampingmu. Bukan sebagai seseorang yang hanya singgah, tetapi sebagai seseorang yang Allah takdirkan untuk menemani setiap langkahmu. Kita akan melangkah bersama, bukan untuk sekadar hidup di dunia, tetapi untuk pulang ke surga yang sama.
Aku ingin ada pagi-pagi yang kita awali dengan sujud berdampingan. Kau membangunkanku dengan suara lembut, mengajakku berwudu, lalu kita berdiri sejajar, menghadap kiblat, menyatukan doa. Aku ingin setiap sujud kita bukan hanya tentang dunia, tetapi tentang kehidupan setelahnya—tentang kita yang ingin tetap bersama di keabadian.
Aku ingin ada hari di mana kita duduk berdua, kau dengan Al-Qur’an di tanganmu, dan aku mendengarkan lantunan suaramu yang penuh ketenangan. Sesekali kau membetulkan tajwidku, sesekali kau menggoda cara bacaanku. Kita belajar bersama, saling mengingatkan, saling menuntun agar langkah-langkah kita tetap di jalan-Nya.
Aku ingin ada hari-hari sederhana yang kita jalani dengan penuh cinta. Memasak di dapur dengan bumbu tawa, mencocokkan pakaian hanya karena kita suka terlihat serasi, menghabiskan waktu di ruang tamu berbicara tentang segala hal—tentang impian, tentang masa lalu, tentang rencana-rencana yang akan kita jalani bersama. Aku ingin mengenal setiap bagian kecil dari dirimu, karena mencintaimu bukan hanya tentang menerima, tapi juga memahami.
Aku ingin ada perjalanan-perjalanan yang kita lakukan berdua, bukan hanya untuk melihat dunia, tetapi untuk melihat keajaiban-Nya. Kita akan berjalan di tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru, belajar bahasa baru, mencicipi makanan baru, merasakan udara yang berbeda, namun tetap melangkah dalam arah yang sama—menuju ridha-Nya.
Dan nanti, jika Allah mengizinkan, akan ada tangan kecil yang menggenggam jari-jarimu, suara lembut yang memanggilmu Ayah, dan matanya yang memantulkan kasih sayangmu. Kita akan mendidiknya bersama, mengenalkannya pada ayat-ayat cinta-Nya, membimbingnya agar ia tumbuh menjadi seseorang yang tahu bahwa cinta sejati adalah yang membawa kepada-Nya.
Aku tidak tahu kapan ‘nanti’ itu akan datang. Aku hanya tahu, jika aku terus memperbaiki diri, terus berdoa, Allah akan membawaku padamu di waktu yang paling tepat.
Sampai saat itu tiba, aku akan terus menunggu. Bukan dengan tangan kosong, tapi dengan hati yang siap mencintaimu dengan cara yang paling benar.
One day, In shaa Allah.
Suatu Saat Nanti
Suatu saat nanti, akan ada yang datang pada ayah dan ibumu untuk menyatakan itikad baiknya. Ia bukan laki-laki paling berani, Ia hanya laki-laki yang berhasil melawan dirinya sendiri, melawan keraguannya.
Suatu saat nanti, ayah dan ibumu akan ragu untuk melepaskannya pada laki-laki itu. Terlebih karena laki-laki itu bukan dari keluarga yang berada. Ia hanya laki-laki yang tak lelah untuk berusaha, laki-laki yang hendak menghidupimu dengan cara-cara yang baik sesuai dengan agamanya.
Saat itu, ayah dan ibumu akan mengalah padanya. Sebab, ayah dan ibumu memiliki kisah yang serupa. Ayah dan ibumu yang dulunya tidak punya apa-apa juga.
La tahzan. Innallaha ma'ana.
El Isbat
Semoga kamu menemui seseorang yang derap langkahnya penuh kebaikan. Perkataannya hanya yang baik-baik. Tingkah lakunya sopan dan santun. Kejujurannya sudah teruji. Tanggungjawabnya tak diragukan lagi. Niatnya yang tulus dan murni.
Semoga kamu menemui seseorang yang derap langkahnya penuh kebermanfaatan. Seseorang yang tumbuh dan berkembang bersama kebaikan, yang dapat membersamaimu sampai tujuan.
Semoga seperti itu. Aamiin.
Kang Islah
Dan pernikahan bukan sekedar wujud menikahi orangnya. Tapi juga keluarganya, masa lalunya, masa depannya, mimpi-mimpinya, luka-lukanya, semuanya.
Perempuan Alpha Dalam Rumah Tangga
Oleh: Melinda Nurimannisa
Beberapa waktu yang lalu di grup Pendidikan dan Parenting Forum Indonesia Muda, kami mendiskusikan sebuah artikel yang menarik. Mengenai perempuan cerdas, prestatif, mandiri, dan tangguh, yang berpotensi kesulitan mencari seorang lelaki pendamping hidup.
Dalam tulisan ini, dikatakan bahwa fenomena ini disinyalir karena lelaki merasa terintimidasi dengan sosok perempuan yang “lebih” dari dirinya. Perempuan perempuan tipe alpha, yang dominan, suka tampil di depan, kritis, dan suka memimpin. Bisa dikatakan bahwa kemungkinan, lelaki-lelaki ini merasa “kalah saing” atau “takut terdominasi”, sehingga tidak berani mendekati ataupun menjadikannya seorang istri.
“Bisa dikatakan bahwa kemungkinan, lelaki-lelaki ini merasa "kalah saing” atau “takut terdominasi”, sehingga tidak berani mendekati ataupun menjadikannya seorang istri"
Saya sendiri, sesungguhnya adalah perempuan tipe alpha, dan tipikal Thinking dalam tipologi kebribadian Stiffin. Dalam ulasan tipikal thinking, dikatakan bahwa orang-orang thinking memiliki dorongan atau hasrat yang cukup kuat atas tahta, atau kekuasaan.
Memiliki kontrol sepenuhnya atas sesuatu, menjadi hal yang sungguh menggembirakan bagi orang-orang tipikal thinking, termasuk saya. Keras kepala dan kepala batu, tentu saja menjadi salah satu hal negatif yang dimiliki kepribadian ini secara natural. Sekalinya punya mau, mau tidak mau harus melakukan atau mendapatkan hal itu.
Membaca ulasan di artikel tersebut, rasa-rasanya seperti membaca diri saya sendiri. Perempuan yang merasa maskulin dan agak sedikit tomboy, (merasa) tangguh, mandiri, tidak suka dandan, ingin memilikifinancial independency, tidak suka bergantung, dan ingin terus menerus bergerak dan berkembang.
Namun, Segala Puji Bagi Allah, Yang Maha Menggariskan Takdir. Semenjak SMA, kedua orangtua saya melihat potensi “rebelitas” saya sebagai perempuan dan calon istri. Maka, kedua orangtua saya kerap sekali menasehati saya.
Bahwa keberhasilan tertinggi seorang wanita, akan didapatkan ketika ia berhasil taat dan mendapatkanridha dari suaminya. Berkali-kali pula saya diingatkan, bahwa penyebab terbesar seorang perempuan masuk neraka adalah karena ia tidak taat pada suaminya. Sebuah hadist mengatakan, “Pelayananmu terhadap suamimu, adalah surgamu atau nerakamu”.
“Bahwa keberhasilan tertinggi seorang wanita, akan didapatkan ketika ia berhasil taat dan mendapatkan ridha dari suaminya”
Waktu berlalu. Nasehat orangtua yang saat itu saya anggap ingin lalu, perlahan-lahan mulai meresap ke dalam kalbu. Usia dan berbagai macam pengalaman kehidupan menempa. Lama-kelamaan, saya menjadi menemukan makna. Bahwa sebaik-baik kehidupan, adalah bekerja sebagai abdi Tuhan dan berjuang meraih ridhaNya. Apa lagi yang hendak dicari di dunia selain bekal menuju surga?
Maka perlahan lahan, Batu karang itu pun melembut. Saya menjadi mulai mau mendengarkan pendapat orang lain, belajar mengalah untuk sebuah kemenangan pribadi, belajar memahami baru meminta untuk dipahami, belajat untuk menjadi lebih bijaksana.
Saya pun memiliki tekad, untuk bisa menikah muda. Bagi saya, mindsetnya menikah bukanlah fase untuk menghambat perkembangan diri dengan menghambakan diri kepada suami. Bukan sama sekali.
Pernikahan, adalah jalan pengabdian kepada Tuhan, melalui memberikan suami sebaik-baik pelayanan. Saya menyambut pernikahan dan pelayanan penuh kepada suami dengan sukacita. Karena saya memilikimindset bahwa sebagai perempuan, menikah adalah “jalan Pintas” dan “jalan tol” menuju surgaNya.
Jabatan istri, adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada wanita. Jabatan tertinggi, yang membuatmu bekerja dalam bahagia dan cinta.
Dalam sudut pandang saya, menjadi istri, mengabdikan diri kepada suami, dan mengurusi dapur dan rumah tangga, sama sekali bukan merendahkan diri saya sebagai perempuan alpha. Sebaliknya, saya sadar bahwa kegiatan yang seolah terlihat “remeh” ini meninggikan saya.
Tidak hanya menggugurkan dosa, namun juga memupuk kualitas keikhlasan, ketulusan, mengekang ego dan nafsu, sekaligus membersihkan hati.
Dengan niatan pengabdian ini, saya pun melantun doa. Alhamdulillah, Allah mempertemukan dan menjalinkan cinta dengan suami saya, di usia saya yang masih 21. Saya sangat berterimakasih, yang pertama kepada Tuhan, yang kedua kepada suami saya tercinta. Yang dengan segala kesabarannya, mau menerima berbagai macam kekurangan perempuan alpha yang satu ini :)
Jujur saja, di minggu-minggu awal pernikahan, sedikit-banyak saya menyimpan kegalauan. Di satu sisi, saat sebelum menikah dulu saya memiliki impian-impian setinggi langit, hasrat yang tinggi untuk membangun bisnis dan membangun konsorsium bisnis saya sendiri.
Namun di sisi lain, saya teringat dua pesan ayah saya sebelum menikah: Satu. Taatilah suamimu. Dua. Berikan totalitasmu dalam membesarkan anak-anakmu. Saya pun tahu, bahwasanya pada setiap pekerjaan rumah yang saya lakukan pun menyimpan banyak ladang pahala.
Ridha serta kebahagiaan suami, adalah hal utama yang harus terus menerus diupayakan dalam rumah tangga. Saya ingin sekali menjadi total di dalamnya. Bekerja tanpa cela. Namun di sisi lain, segala macam impian itu begitu memanggil-manggil. Saya yang terbiasa aktif, sibuk, dan tidak pernah tinggal diam di rumah pun menjadi kesulitan jika harus “berdiam dan fokus di rumah” tanpa ada “mainan lain” yang menantang di luar sana.
Saya pun sesungguhnya merasa bersalah, ketika saya dengan segala nikmat yang telah Tuhan berikan kepada saya seperti ilmu, jaringan, pengalaman, dan segala macam sumber daya yang saya miliki, tidak memberikan kebermanfaatan apa-apa bagi masyarakat. Namun kekhawatiran itu tetap ada. Khawatir jika sibuk di luar rumah, saya tidak bisa menjalankan amanah saya dengan baik: totalitas dalam mengembangkan anak-anak.
Alhamdulillah, di tengah kegalauan saya, saya tiba-tiba berjumpa dengan seorang ibu-ibu paruh baya yang mengenali saya di kampus. Diskusi mengalir ke sana ke mari, dan tak sengaja ibu itu bercerita mengenai pengalaman kehidupannya.
Ia seorang ibu dengan tiga anak. Ketika mengurusi anak pertama, ibu tersebut sibuk bekerja di luar rumah. Sementara ketika anak kedua lahir, ibu tersebut memutuskan untuk fulltime di rumah saja. Hasilnya justru mengherankan saya. Berdasarkan cerita bunda, anak pertamanya tumbuh menjadi pribadi yang baik dan “utuh”, sedangkan anak keduanya seolah justru menjadi kurang “matang”.
Selidik punya selidik, ternyata hal ini dikarenakan ketika hanya diam di rumah, si ibu yang terbiasa aktif ke sana kemarin merasa frustasi, sehingga berpengaruh ke perkembangan psikologis anaknya. Di sisi lain, saya juga mengamati bahwa banyak juga ibu-ibu pengusaha maupun wanita karir yang berhasil sekali dalam mengembangkan anaknya.
Maka, melalui beberapa kasus-kasus tersebut, saya mengamati bahwa aktualisasi diri sesuai bidang yang disenangi bagi seorang perempuan tetaplah diperlukan. Efeknya positifnya akan menghasilkan ibu dan istri yang bahagia dan merasa “penuh” karena berhasil memenuhi semua unsur Piramida Maslow.
Hal ini tidak hanya akan menebarkan aura positif di dalam rumah, namun juga menjadikan ibu bisa menjadi seorang ”role model” bagi anak-anaknya. Bahwa hidup, adalah bekerja untuk menorehkan karya.
Namun, meskipun begitu, bagi seorang perempuan, suami, rumah, dan anak-anak adalah yang utama. It’s okay bagi seorang perempuan alpha untuk dominan di teritorialnya di luar rumah. Namun, ketika di dalam rumah dan di hadapan suami, saatnya masuk ke mode beta.
Saya menjadi teringat pesan salah satu mentor saya yang luar biasa Ibu Prita Kemal Gani, seorang pengusaha sukses yang membangun London School of Public Relation. Semenjak pertama kali berjumpa dan mengetahui bahwa saya akan melangsungkan pernikahan, beliau menyampaikan pesan, “Sehebat-hebatnya wanita di luar rumah, ketika di dalam rumah, suami tetaplah sebagai imam. Taat kepada suami adalah nilai utama yang harus dipegang. Karena, bagaimanapun tidak boleh ada dua matahari di dalam rumah..”.
Akhir kata, saya ingin mengutip perkataan Babe Jamil di salah satu sesi diskusi Parenting Forum Indonesia Muda. Beliau mengatakan bahwa, “Parenting adalah proyek terbesar yang harus disukseskan dalam hidup kita. Apapun pekerjaannya, pendidikan dan pengembangan anak tetap yang utama. Jangan sampai dikorbankan oleh alasan pekerjaan”.
Apalagi, jika dilimpahkan ke asisten rumah tangga.
7 Rahasia Mendidik Anak
7 Rahasia Mendidik Anak dari Ustdz Farid Ahmad!
1. Jika melihat anakmu menangis, jangan buang waktu untuk mendiamkannya. Coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihatnya, ia akan terdiam. Karena psikologis manusia saat menangis, adalah menunduk.
2. Jika ingin anak-anakmu berhenti bermain, jangan berkata: “Ayo, sudah mainnya, stop sekarang!”. Tapi katakan kepada mereka: “Mainnya 5 menit lagi yaaa”. Kemudian ingatkan kembali: “Dua menit lagi yaaa”. Kemudian barulah katakan: “Ayo, waktu main sudah habis”. Mereka akan berhenti bermain.
3. Jika engkau berada di hadapan sekumpulan anak-anak dalam sebuah tempat, yang mereka berisik dan gaduh, dan engkau ingin memperingatkan mereka, maka katakanlah: “Ayoo.. Siapa yang mau mendengar cerita saya, angkat tangannya..”. Salah seorang akan mengangkat tangan, kemudian disusul dengan anak-anak yang lain, dan semuanya akan diam.
4. Katakan kepada anak-anak menjelang tidur: “Ayo tidur sayang.. besok pagi kan kita sholat subuh”, maka perhatian mereka akan selalu ke akhirat. Jangan berkata: “Ayo tidur, besok kan sekolah”, akhirnya mereka tidak sholat subuh karena perhatiannya adalah dunia.
5. Nikmati masa kecil anak-anakmu, karena waktu akan berlalu sangat cepat. Kepolosan dan kekanak-kanakan mereka tidak akan lama, ia akan menjadi kenangan. Bermainlah bersama mereka, tertawalah bersama mereka, becandalah bersama mereka. Jadilah anak kecil saat bersama mereka, ajarkan mereka dengan cara yang menyenangkan sambil bermain.
6. Tinggalkan HP sesaat kalau bisa, dan matikan juga TV. Jika ada teman yang menelpon, katakan: “Maaf saaay, saat ini aku sedang sibuk mendampingi anak-anak”. Semua ini tidak menyebabkan jatuhnya wibawamu, atau hilangnya kepribadianmu. Orang yang bijaksana tahu bagaimana cara menyeimbangkan segala sesuatu dan menguasai pendidikan anak.
7. Selain itu, jangan lupa berdoa dan bermohon kepada Allah, agar anak-anak kita menjadi perhiasan yang menyenangkan, baik di dunia maupun di akhirat. (9kontroversi)
Aturan (Tak Tertulis) Bermedia Sosial Pasca Menikah
Aku ingat, aku pernah merasakan suatu ‘keterbatasan’ ketika membuka media sosial terutama Instagram pasca aku menikah 5 tahun yang lalu. Semua terjadi semenjak kehadiran suamiku.
Rasanya, semacam jadi ada ‘polisi’ yang mengawasi haha. Ada kurator dalam setiap perkataan dan sikapku di dunia maya. Yang biasanya aku ‘merasa bebas-bebas’ saja, kini jadi perlu apa-apa dipikir dan dimintai persetujuan.
Bagi sebagian orang, hal seperti ini akan dianggap “ihh kok gitu, kok kayak ngekang jadinya?” Atau “kok pasangan ikut campur urusan personal istri sih, harus ya sampai segitunya?”
Bentar-bentar, tahan.
Mulanya aku sendiri yang berpikir begitu haha. Diam-diam aku menggerutu dalam hati ketika suami mengomentari apa-apa yang aku post di IG. Baik story maupun postingan. Aku sedikit kesal karena ‘kenapa aku jadi merasa apa-apa harus sesuai yang beliau mau?’..
Mau posting A, ditanyai “apa alasan kamu ngepost ini?”
Mau posting B, dikomentari “harus ya ngepost tentang itu?”
Jawabanku saat itu lebih ke “ya karena saya mau..” atau “ya karena saya suka sama hal ini.. jadi saya share.”
Dibeberapa kesempatan, jadi urung diposting karena kena teguran. Atau karena aku sudah malas dan hilang mood wkwk. Mungkin saat itu bagi suami, aku terlalu membuka diri di media sosial. Dihadapan banyak orang yang tidak semuanya kukenal.
Tidak heran, awal menikah masa-masanya taaruf kedua kan ya. Mulai mengenai karakter, value lain, dan sudut pandang masing-masing terhadap apapun. Disitu lama-lama aku jadi tahu bahwa suami orangnya seprivat itu. Seberhati-hati itu mengenai media sosial.
Berlainan denganku yang saat itu lagi banyak-banyaknya dapet follower baru, kontenku selalu ramai, DM-ku penuh dengan obrolan dari teman-temanku.
Dulu aku aktif diberbagai kanal media sosial, sementara suami, tidak punya akun media sosial selain twitter (itu pun jarang dibuka) dan fb (ini kalau kebetulan lagi buka fb dan sering nemu postingan aku katanya wkwk).
Jadi disini dunia kita agak berbeda. Aku si yang banyak teman, dengan suami yang lebih hidup seperti ‘lone wolf’. Sang ambiever dan si introver akut pun menikah.
Butuh waktu cukup lama untuk menyesuaikan diri bagiku untuk bermedia sosial pasca menikah. Aku menghormatiku suamiku, aku menghargai pendapatnya, aku terbuka untuk belajar sudut pandang baru darinya.
Opininya ada benarnya, beberapa ada yang bisa kusanggah dan ia menerimanya. Kami hidup beradaptasi satu sama lain, dan belajar saling memahami kebiasaan yang sudah lama terbentuk sejak single dulu.
Ok, balik lagi ke bahasan sesuai judul. Apa aturan tak tertulis bermedia sosial pasca menikahnya?
Pertama-tama, ini cerita dan opini pribadiku ya (mewakili value keluarga kami hehe). Jadi kamu tidak harus setuju, tidak harus sama/sesuai, dan tiap orang punya latar pun situasi yang berbeda bukan? :D *jadi mari saling dengarkan dan belajar hargai ya..
Aturan pertama, tidak oversharing ketika fase newly wedd.
—dulu, ini suliiiit banget bagiku untuk menahan diri. Orang ketika baru nikah, bawaannya ingin ‘menunjukkan’ (sengaja atau ngga sengaja) kan ya? Ingin ngelihatin lagi bareng pasangan, aktivitas apa yang lagi dilakukan.
Karena memang sedang sebahagia itu :’)) hati penuh suka cita, hari-hari terasa indah sekali, energinya menular hingga ketiap postingan yang dishare di media sosial.
Beberapa minggu kemudian, biasanya muncul postingan sedang masak sesuatu untuk suami. Jalan-jalan kesuatu tempat, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
Bagi suami, saat itu perlu banget postingan dikurasi dan ditahan. Tidak semua harus kita share, apalagi kalau ada hal-hal yang menyangkut privasi. Kalau tidak ada tujuan dakwah atau menginspirasi kebaikan, lebih baik tidak usah.
Saat itu aku pernah melakukan kesalahan. Aku pernah mengambil video suami sedang di halaman rumah (lupa beliau sedang ngapain) dan terlihat beliau sedang pakai celana pendek.
Saat melihat story IG itu, suamiku menegur cukup keras. Karena itu artinya aku tidak sengaja menunjukkan auratnya. Aku langsung sadar, “oh iya ya!! ((betapa bodohnya akuuu))”
Aku diperingatkan untuk tidak lagi sekali-kali menunjukkan wajah atau apapun perihal beliau di media sosial. Silakan aku membuat story, berupa foto atau video tapi jangan sampai pernah menunjukkan beliau.
Suamiku tidak suka diekspos ke publik. Disini, aku belajar untuk menerima dan menghormati keputusan beliau.
Aturan kedua, tidak menunjukkan ‘baby bump’ ketika sedang mengandung anak.
—untuk hal ini, bagiku cukup mudah. Karena dari yang kupahami, bagian perut adalah aurat sebagaimana anggota tubuh lainnya. Menunjukkan secara sengaja bentuk perut ketika hamil, seperti tidak ada bedanya dengan memperlihatkan lekuk tubuh yang seharusnya tertutupi oleh pakaian.
Bagian dada (yang maaf; menonjol) saja perlu dijulurkan kain kerudung bukan? Begitu pun bagian perut. Kalau bisa, ditutupi dengan baik. Pakai pakaian yang lebar, nyaman dan tidak ketat.
Aku pernah tahu saat itu sedang ramai bermunculan lelaki aneh yang suka mengoleksi foto-foto ibu hamil yang sedang menunjukkan perut besarnya, dan disalah gunakan menjadi sarana ‘pemuas nafsu’ mereka. Aku takut sekali. Lebih baik menjaga diri sedari awal daripada menyesal.
Aturan ketiga, tidak mengekspos wajah bayi (atau anak). Apalagi ketika mereka masih sangat kecil, dan tanpa persetujuannya.
—suami mewanti-wantiku soal hal ini. Ditengah maraknya dan cerita-cerita sedih mengenai efek ‘ain, membuatku lebih keras menahan diri. Khawatir kena, khawatir ada apa-apa. Mengambil foto anak ketika masih bayi boleh saja, hanya tidak perlu dishare ke publik.
Kalau gemes ingin posting, tutupi wajahnya. Atau foto bagian lainnya selain wajah (kalau memang ada keperluan). Kalau mau tahu wajah anakku, tidak apa-apa saat bertemu langsung. Atau bagi teman dekatku yang bertanya, ya aku beri saja fotonya dengan catatan tidak dishare tanpa persetujuanku hehe.
Baiknya teman-temanku, saat bertemu Syamil dan berfoto, mereka selalu meminta izin kalau mau diposting.
“Boleh aku post foto yang ada Syamilnya ngga Yu? Nanti aku tutupi wajahnya ya..” , begitu kata mereka. Aku haru sekali ketika mereka memahami dengan baik keputusanku.
Aturan keempat, tidak menunjukkan kemewahan, fasilitas rumah tangga, ‘keberuntungan’ pribadi, atau hal-hal yang tidak penting untuk dishare kalau tidak ada tujuan kebaikannya.
—untuk hal ini, aku masih belajar dan sedang kulanjutkan. Mungkin beberapa kali aku pernah kepeleset (maafkan aku.. dan tolong tegur baik-baik in privat ya) seperti foto makanan resto (dan tidak ada tujuan lain selain seperti pamer “hei, aku makan disini lhooo”). Atau hal lain yang tidak bertujuan apa-apa.
Aturan terakhir, tidak curhat dan tidak nge-spill masalah rumah tangga ke dunia maya.
—segatal apapun, sesedih apapun, se-stress apapun aku ketika menghadapi permasalahan yang terjadi di dalam rumah SEBAIKNYA tidak pernah dan jangan sekali-kali dituliskan di media sosial yang siapapun bisa membaca, mengonsumsi dan menikmati ceritanya.
Dituliskan dalam sebuah jurnal? Boleh saja, tapi tidak perlu dipublish. Jangan umbar-umbar masalah dan kesedihan di media sosial :’D biarkan orang berpikir bahwa kita selalu hidup dalam kondisi happy, tenang, damai dan nyaman. Walau sebetulnya tidak selalu begitu kan ya haha.
Hidup adalah rangkaian episode yang punya temanya masing-masing. Kadang hidup naik-turun, tidak selalu senang, tidak juga selalu menyedihkan.
Jika hidup sedang senang-senangnya, alhamdulillaah bersyukurlah!
Jika hidup sedang fase sedih-sedihnya, alhamdulillaah bersabarlah!
Semoga kondisi baik, kata Allah begitu. Jadi biasakanlah diri kita untuk menjaga diri kita, dan cerita kita dari berbagai spekulasi dan pandangan orang lain yang tidak bisa kita kontrol.
Kalau dirasa tidak kuat menahan semua masalah sendiri, pilihlah teman terpercaya untuk membantumu meringankan beban dihati.
Kalau tidak punya teman tersebut, hubungi ahli atau psikolog untuk membantu menguraikan pikiranmu & masalahmu.
Dan lebih baik jika masalah yang sedang kamu alami, kamu selalu bagikan bersama pasanganmu. Komunikasikanlah, curhatlah sering-sering. Sebab ia teman karib kita hingga surga. Bersuka ria-lah bersama-sama, bagilah rasa sedih itu hingga kamu rasakan ketenangan dan pasanganmu akan semakin senang karena ia benar-benar dipercaya oleh kita.
Memang jadi sulit jika pasanganmu yang jadi masalahmu, kamu perlu pihak ketiga (yang netral) untuk membantu menyelesaikan masalah itu.
Semua aturan tak tertulis diatas, adalah hasil belajarku dari pernikahan yang berjalan menuju 5 tahun ini.
Tentu, aku masih teris berproses. Aku tidak sempurna. Bisa sangat salah, bisa juga sesekali benar. Yang jelas, aku tidak pernah berhenti belajar.
Sesuai kalimat yang tertulis di bio WA-ku: “unstoppable learner!” —aku adalah pembelajar sepanjang hayat. Belajar soal kehidupan, belajar soal kebijaksanaan.
Semoga teman-teman disini, ketika sedang membaca tulisanku, ada yang bisa diambil hal baiknya (aku berharap banget..) dan buang jauh hal buruk yang tidak sengaja aku resonansikan di media sosial ini.
Mohon maaf kalau aku ada salah-salah ya :) semoga masih mau dan terus mau berteman sama aku meski hanya via maya (karena ketemu offline kan terbatas ya hihi).
Sekian~
Tangerang, 25 April 2025 | 16.06 WIB
Banyak bisa jadi kurang Sedikit bisa jadi cukup
Sesakit ini... hati-hatii yaa dalam berbicara meski hanya lewat telpon ternyata nada tinggi itu masih teringiang-ngiang seakan-akan aku yang salah dan berkahir di salahpahami.
Posisi saat ini benar-benar lelah pengen menyerah pengen pergi jauhhhhhhhhhhhhhh menuju tempat yang sejuk.
Ntahlah akhir² ini banyak nangisnya, banyak hal yang ingin aku ceritakan namun sebagai perempuan anak pertama ternyata banyak hal yang harus aku sembunyikan terutama dari orang tuaku karena di masa tuanya ku tak ingin menambah beban mereka.
Aku bukan tipe orang kalau apa-apa mudah bercerita kepada kedua orang tua, banyak yang harus aku jaga dari mereka karena kondisi fisiknya pun sudah tidak sekuat dulu aku ingin sehebat mama dan bapak.
Ya Allah teruslah temani Aku dalam setiap waktu izinkan hamba membahagiakan keduanya, pertemukan hamba dengan seseorang yang terbaik menurutMu, Aamiin...
Bukan tentang nominal semata tapi tentang kenyamanan dan kerja sama.
Jangan pernah menyepelakan sedikit pun tenaga orang lain.
Jangan pernah menyepelekan sedikit pun yang sedang di kerjakan orang lain.
Jika ada pekerjaan yang tidak sanggup di kerjakan setidaknya jangan mempersulit orang lain meski dengan perkataan.
Perlu di ingat keadaan setiap orang berbeda-beda bahkan perkataan yang di anggap sepele bisa menyebabkan luka pada seseorang.
#Akhir Tahun
Sekarang paham laki-laki yang serius itu bukan di nilai dari kata-kata manisnya tapi lihatlah bukti nyata yang dia lakukan untukmu.
Wahai perempuan kuat kamu tidak sendiri ada Allah yang selalu menemanimu
Wahai perempuan tangguh tetaplah semangat, teruslah belajar, teruslah berjuang nikmatilah setiap perjalanan dengan penuh rasa syukur yakinlah di depan sana Allah telah menyiapkan kebahagian untuk masa depanmu.
Wahai diri ambilah pelajaran di setiap kejadian teruslah berprasangka baik kepada siapapun.
Terimakasih Ya Allah telah Engkau buka semuanya jawaban yang sangat jelas Engkau tunjukkan.
Ya Allah mudahkan aku untuk menerima, memaafkan dan mengiklaskannya. TanpaMu aku tak bisa akan bisa sekuat ini.
Lapangkanlah hati ini agar tidak ada kebencian kepada siapapun.
Pertengahan tahun 2025 jadwal padat dari pagi ke sekolah RA jam 07.00 pulang jam 10.30 siang jam 14.00 sampai jam 15.00 mengajar les privat full senin-sabtu 2 tempat les dalam seminggu mulai dari senin-rabu dan kamis-sabtu. Sore ke pengajian sekitar jam 15.40 pulang jam 17.00
Do'aku beberapa taun ke belakang sehari kegiataku ingin banyak Alhamdulillah sekarang di nikmati semoga Allah berkahi
Setiap hari ketemu anak-anak banyak hal yang harus aku kendalikan, banyak ilmu yang aku dapat dari mereka, setiap pertemuan selalu ada cerita, setiap tawa dari mereka penyemangat bagiku, kata dari mereka "seru banget belajarnya" membuatku senang melihat mereka bahagia...
Kelak jika aku dikarunia seorang anak aku ingin mendidiknya dengan penuh kasih sayang, akan ku usahakan tanpa ada marah di dalamnya agar kelak anak-anakku tumbuh dengan baik berkembang dengan baik menjadi anak yang soleh/solehah, Aamiin
#28 November 2025