“Emosi dan perasaan itu adalah kontinum dari anugerah yang senantiasa diberikan Tuhan, sehingga secara konsep kita boleh merasa sedih, kecewa, marah, bahagia. Percayalah kontinum itu merupakan tanda terbesar untuk kita yang diberikan olehNya.” catatku pagi itu sembari duduk dan mendengarkan seorang psikolog menyampaikan materinya di Goethe-Institut.
Tetapi entah, aku bahkan tidak mengerti emosi apa saja yang kurasakan saat ini. Sedih? Mungkin. Kecewa? Entahlah. Patah? Terluka? Menyesal? Entahlah, sungguh.. Aku juga tidak mengerti luapan emosi dan perasaan apa yang menyerangku saat ini. Tapi.. Kuberi tahu satu yang aku tahu pasti…
Aku kehilangan yang bahkan belum sempat aku miliki, boleh aku sebut begitu?
Sering aku merasa kehilangan sesuatu yang kumiliki. Memang menyedihkan dan terkadang juga menjengkelkan, ya rasanya? Bayangkan saja salah satu barang kesayanganmu tiba-tiba hilang, padahal kamu ingat benar di mana kamu menyimpannya. Ya.. Tapi aku justru sudah terbiasa dengan rasa kehilangan yang seperti itu. Setidaknya aku sempat memilikinya.
Kehilangan sesuatu yang belum sempat aku miliki. Kali pertama aku merasakan kehilangan yang ternyata jauh lebih menyakitkan. Menyakitkan karena bahkan aku belum sempat membawanya ke tempat favoritku saat aku menuliskan sajak dan kata-kata rindu. Belum sempat mengajaknya ke sebuah toko buku di ujung kota itu. Belum sempat kutatap lekat kedua matanya yang teduh, saat dia duduk tegap di sebelahku. Belum sempat bercakap panjang hingga kita lupa waktu. Belum sempat aku memujinya saat dia berhasil melingkarkan senyum sempurna di wajahku. Belum sempat mengatakan betapa kata dan sikapnya selalu meneduhkanku. Belum sempat… menyentuhnya dengan setulus rasa sayangku.
Pahit. Mengingatnya lagi bahwa aku sudah benar-benar kehilangannya membuat air mata ini tak mampu lagi kubendung. Hampa. Aku sampai kehabisan kata untuk menjelaskan apa lagi yang aku rasa.
Meski perasaan tak karuan ini menenggelamkanku dalam tangis, aku tiba-tiba saja tersadar bahwa jalan yang aku tempuh selama ini mengajarkanku banyak hal baru dan mendewasakanku. Dan itu tidak luput dari perasaan kagumku padamu. Kamu, yang hilang sebelum sempat aku miliki.
Aku kini belajar bahwa perjalanan ini bukan untuk menemukanmu, melainkan untuk menemukan diriku sendiri. Kamu yang selalu menjadi pengingatku untuk terus memperbaiki diri dan menjadi versi terbaik atas diriku (ya, lagi-lagi meski kamu tidak pernah melakukan itu). Aku belajar dan berusaha memperkaya diri hingga setidaknya aku merasa pantas untuk berdiri di sampingmu.
Aku belajar, mungkin ini semua hanya berujung menjadi sebuah mimpi. Tidak mengapa, cukup ingat satu pesanku untukmu, diriku.
Jangan pernah takut bermimpi. Mimpi itu satu paket dengan jatuh, bangun, tersandung, lalu bangkit lagi. Jadi tenanglah, Sayang. Tenang.. Berjuanglah bukan untuk selalu berharap menjadi yang terbaik, tetapi menjadi sebaik-baik diri yang mampu menyelami indahnya proses dan perjalanan, hingga mampu meraih puncak keikhlasan dan ketentraman hati.
Aku terus berharap padaNya untuk dikuatkan dan diberi keikhlasan. Hingga akhirnya pada detik ini, dengan penuh kesadaran, aku sampaikan pesanku untukmu.
Untukmu, ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan dalam bisik do'aku. Untukmu, yang telah menemukan dan ditemukan olehnya, terima kasih yang setulus-tulusnya dari segenap hatiku. Kamu membuat aku berhasil menemukan diriku. Aku tidak mendo’akan apapun, kecuali segala yang terbaik untukmu. Dan untuknya. Sampai bertemu lagi, kamu.