Kuliah Online Gak Bikin Pinter?
Padahal soal menuntut ilmu dalam Islam, adab belajar merupakan hal penting. Adab inilah penentu keberhasilan seseorang dalam menuntut ilmu. Tanpa adab, keberkahan ilmu hilang. Bahkan para ulama mengatakan, “Pelajari adab sebelum mempelajari ilmu.” Bagaimana implementasi adab Islam di dalam proses belajar/kuliah online?
(Ustadz Budi Handrianto pada artikel yang menggelitik: Adab Kuliah Online)
– disclaimer: ini curhatanku terkait forum ilmu, yang mana yang kumaksud forum ilmu agama mau pun kedokteran –
Di artikel “Adab Kuliah Online” Ustadz Budi Handrianto menjelaskan berbagai kasus yang ditemui (tilawah bahkan ngupil selama kajian) kemudian diakhiri beberapa saran praktis dari beliau, in response to current situation.
Jadi ingat di awal pandemi, aku juga pernah diceritakan seorang adik tingkat di FK kalau mereka kuliah online berkendala antara lain: bosen, kadang pakai piyama, ditinggal-tinggal pergi. Bahkan ada, yang tiba-tiba harus menyalakan kamera di saat nggak pakai kerudung sehingga spontan, langsung pakai selimut sebagai hijab. Hehe.
Kemudian akhirnya merasakan sendiri tantangan tersebut di dua pekan belakang ini, masuk koass stase THT yang semua kegiatan ilmiahnya via daring. Pembelaanku: topik-topiknya terlalu advanced, ini kan kegiatan residen. Jadi yaa, aku kadang sambil buka-buka website lain dan tidak serius mencatat. Kadang, tertidur dan bangun mepet jadwal. Hmm. Dasar aku. Akhirnya Allah ingatkan lewat tulisan Ustadz Budi Handrianto, yang buku Islamisasi Sains-nya juga telah banyak mencerahkan.
Anyways! Aku pikir, sudah dalam standar adab yang cukup yaitu ketika kajian minimaaaal sekali menutup aurat dan duduk yang rapi. Ditambah: menghadap kiblat, menjaga wudhu, mencatat dengan baik (walau kadang yang ini belum semua terpenuhi either ngemil, ngantukan #hiks #needdoa)
Tapi ternyata ketika aku ngepost link artikel itu di status WA, ada balasan dari seorang mas:
“Itu makanya mas tetep konservatif selama corona ini, ga terlalu prefer kuliah-kuliah online. In fact, mas malah ga ikut satu pun, sekali pun termasuk pengurus 😅”
Saya jawab “MasyaAllah.. terus jadi ikut apa mas? Kalau kajian?”
“Ga pernah, I only read a book. Selama corona ini”
Cukuplah aku malu haha. Memang itu pilihan sih (dan tidak semua bisa melaksanakannya, seperti apabila ada perkuliahan wajib), tapi beliau ternyata sedemikian menjaganya. Aku, bisa dibilang juga termasuk konservatif sebelum situasi demikian. Dalam artian, I’d rather travel miles to masjid untuk kajian sekali pun ada streaming online-nya.
Kenapa? Cukuplah sebuah kisah ulama yang safar berkilo-kilo, berhari-hari, hanya untuk menkonfirmasi suatu hadits yang tidak dipahami. Cukuplah hadits terkait keberkahan pada suatu forum ilmu membuat merasa rugi kehilangannya. Taman-taman Surga.
Adapun dalam falsafah pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor, ada aspek penting yang dinilai lebih menentukan dari pada metode dan materi, yakni jiwa guru. Tanpa guru yang menjiwai, motode dan materi sebagus apapun, tetap tidak akan efektif. Seorang pendidik yang memiliki jiwa pendidik yang ikhlas, akan memberikan efek yang besar kepada murid-muridnya. Dari jiwa pendidik yang ikhlas inilah, guru akan menjadi teladan bagi muridnya, dan transfer pengetahuan dan adab bisa tertransmisikan dengan baik. (link)
(hiks itu kali ya mengapa bertatap muka dengan guru itu, akan punya feel berbeda)
Tapi ketika Allah berkehendak lain, dan rumah menjadi rumah dzikir, rumah ibadah, sekaligus rumah ilmu maka ‘mau tidak mau’ ikut kajian secara online. Malah, bersyukur sekali, karena: bisa merutinkan setiap malam, bisa menimba ilmu dari masyaikh di negeri seberang, bisa mengajak teman dan anggota keluarga. Allahuakbar, bahkan fenomena ini menjadi jalan beberapa teman-teman di lingkaranku menemukan kembali Islam. Apalagi, kemarin bertepatan momentum Ramadhan.
Anyways, dear Habibah, selelah apa pun mata, sepegel apa pun duduk, koneksi internet yang kadang bikin mengelus dada, materi belum dipahami.. selamat menjaga adab terbaik! Semangat ya Habs, besok mulai kegiatan ilmiah THT nya lagi, haha. Jangan sambil scroll-scroll instagram lagi ya:(
Jangan sampai muncul kalimat itu lagi ya Hab: Takut ngga pinter karena koass online. Inget Hab, ilmu itu milik Allah maka jangan sekali pun meremehkan hal bernama adab. (Hehe sebuah self-talk)
Jika saya memperhatikan para pelajar (santri), di zaman kami sekarang ini, mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tetapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya. Yakni, berupa pengamalan dari ilmu tersebut dan mengajarkannya. (Hal itu terjadi), karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Siapa saja yang salah jalan, niscaya tersesat, serta tidak mencapai tujuan.
Imam Az-Zarnuji pada Muqaddimah kitab Ta’limul Muta’alim
di tanggal merah, setelah menyedihkan diri sendiri