“Aku berlindung kepada Allah atas ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah.”
— :)
No title available

blake kathryn

Kiana Khansmith
Today's Document
trying on a metaphor

titsay

No title available
taylor price
RMH

pixel skylines
Alisa U Zemlji Chuda
Claire Keane
Xuebing Du
Three Goblin Art
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

❣ Chile in a Photography ❣
KIROKAZE

PR's Tumblrdome
occasionally subtle

if i look back, i am lost

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Finland

seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Japan

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Malaysia
seen from Belgium

seen from Sweden
seen from United States
seen from Oman

seen from United States

seen from United Arab Emirates
@sudutdjalan
“Aku berlindung kepada Allah atas ketidakpastian masa depan, dari keputusan yang keliru, dari perihnya kenyataan, pahitnya kekecewaan, dari hati yang berbolak balik, dari pengkhianatan manusia dan dari cinta yang salah.”
— :)
Never underestimate Allah's ability to numb your heart towards something that was once very important to you.
Pada hari yang lebih tenang dan banyak hal sudah terjawab nanti, aku akan mengingat masa ketika aku pernah sebingung saat ini. Aku tidak di mana-mana dan tidak sedang menghadapkan diriku ke mana-mana.
Persimpangan itu masih jauh. Kupikir itulah kenapa begitu sulit mencoba menyelesaikan pertanyaan yang waktunya belum tiba. Sekarang mana yang benar dan mana yang hanya terasa benar? Gegabahnya aku. Terlalu cepat ingin "benar" sebelum punya cukup pengalaman untuk tahu dan merasakan apa itu "benar" buatku.
Katanya, the beauty of "not being where you want to be" is that you get to enjoy the process of becoming.
Kita selalu menghadap kepada sesuatu (seperti cita-cita atau seseorang) sambil berpikir ada jarak yang jauh antara kita dengan hal tersebut. Jarak itu kita perlakukan sebagai sesuatu yang ingin sekali kita pangkas dalam sekali langkah. Padahal, Tuhan sudah menjadikan proses, luka, pertumbuhan, cinta, duka, sukacita, dan beribu hal baik lainnya sebagai pengisinya, yang hanya dengan hal-hal itulah kita dibentuk menjadi "orang yang kita sendiri harapkan".
Menyadari hal tersebut, hatiku seperti dipelankan oleh sesuatu yang tidak bisa kutolak. Aku sudah terbiasa dengan gagasan "berlepas diri", namun kali ini mekanismenya sedikit berbeda. Beberapa rasa yang pernah aku muat di dalam dada, berangsur-angsur diambil oleh Sang Kuasa, seperti tanpa usaha harapan itu terlepas dari jiwa. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin merebutnya kembali ataupun mempertahankannya. Cukup, aku sudah selesai mengambil pelajarannya.
Tampaknya tidak semua yang pernah terasa penting ditakdirkan untuk terus hidup di hati yang sama. Seperti seseorang yang diam-diam mematikan lampu di ruangan yang sudah tidak dipakai. Kendati demikian, sesuatu bisa tetap ada di kepala meski tidak lagi pulang ke dada.
Begitu lembut sekaligus memaksa, dalam satu waktu. Aku tidak diperkenankan merasa hampa saat sesuatu diambil dariku. Maha Suci Dia, yang telah menunda hal yang belum relevan serta menjauhkan hal yang tidak akan pernah relevan, sambil diam-diam membekaliku berjalan dengan hati yang baru.
Hari itu akan terasa jauh, hampir seperti mimpi, yang juga jadi bukti bahwa aku pernah bertahan di tempat yang dulu terasa aneh untuk dilalui. Mudah-mudahan tidak ada kesia-siaan saat aku belajar hidup dengan hati penuh, belajar menilai dengan mata teduh, belajar membaca dengan pandangan yang lebih dalam, belajar melihat dengan medan pandang yang lebih luas, dan belajar menghargai dengan jiwa sungguh-sungguh. Sebab aku tahu, aku ingin dilihat dengan cara seperti itu pula oleh manusia lainnya. Dan yang aku tahu, Dia Maha Menghargai.
— Giza, tinjauan berkala mengenai tugas perkembangannya
Never underestimate Allah's ability to numb your heart towards something that was once very important to you.
Pada hari yang lebih tenang dan banyak hal sudah terjawab nanti, aku akan mengingat masa ketika aku pernah sebingung saat ini. Aku tidak di mana-mana dan tidak sedang menghadapkan diriku ke mana-mana.
Persimpangan itu masih jauh. Kupikir itulah kenapa begitu sulit mencoba menyelesaikan pertanyaan yang waktunya belum tiba. Sekarang mana yang benar dan mana yang hanya terasa benar? Gegabahnya aku. Terlalu cepat ingin "benar" sebelum punya cukup pengalaman untuk tahu dan merasakan apa itu "benar" buatku.
Katanya, the beauty of "not being where you want to be" is that you get to enjoy the process of becoming.
Kita selalu menghadap kepada sesuatu (seperti cita-cita atau seseorang) sambil berpikir ada jarak yang jauh antara kita dengan hal tersebut. Jarak itu kita perlakukan sebagai sesuatu yang ingin sekali kita pangkas dalam sekali langkah. Padahal, Tuhan sudah menjadikan proses, luka, pertumbuhan, cinta, duka, sukacita, dan beribu hal baik lainnya sebagai pengisinya, yang hanya dengan hal-hal itulah kita dibentuk menjadi "orang yang kita sendiri harapkan".
Menyadari hal tersebut, hatiku seperti dipelankan oleh sesuatu yang tidak bisa kutolak. Aku sudah terbiasa dengan gagasan "berlepas diri", namun kali ini mekanismenya sedikit berbeda. Beberapa rasa yang pernah aku muat di dalam dada, berangsur-angsur diambil oleh Sang Kuasa, seperti tanpa usaha harapan itu terlepas dari jiwa. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin merebutnya kembali ataupun mempertahankannya. Cukup, aku sudah selesai mengambil pelajarannya.
Tampaknya tidak semua yang pernah terasa penting ditakdirkan untuk terus hidup di hati yang sama. Seperti seseorang yang diam-diam mematikan lampu di ruangan yang sudah tidak dipakai. Kendati demikian, sesuatu bisa tetap ada di kepala meski tidak lagi pulang ke dada.
Begitu lembut sekaligus memaksa, dalam satu waktu. Aku tidak diperkenankan merasa hampa saat sesuatu diambil dariku. Maha Suci Dia, yang telah menunda hal yang belum relevan serta menjauhkan hal yang tidak akan pernah relevan, sambil diam-diam membekaliku berjalan dengan hati yang baru.
Hari itu akan terasa jauh, hampir seperti mimpi, yang juga jadi bukti bahwa aku pernah bertahan di tempat yang dulu terasa aneh untuk dilalui. Mudah-mudahan tidak ada kesia-siaan saat aku belajar hidup dengan hati penuh, belajar menilai dengan mata teduh, belajar membaca dengan pandangan yang lebih dalam, belajar melihat dengan medan pandang yang lebih luas, dan belajar menghargai dengan jiwa sungguh-sungguh. Sebab aku tahu, aku ingin dilihat dengan cara seperti itu pula oleh manusia lainnya. Dan yang aku tahu, Dia Maha Menghargai.
— Giza, tinjauan berkala mengenai tugas perkembangannya
It took me a long time to believe in myself, and I still struggle sometimes in certain areas of life. But having that belief, that trust and confidence in yourself, can truly make a huge difference in your outlook and what you do in life! You don't have to be be unrealistically confident in things. But being able to move forward without self-criticism or doubts stopping you is huge, and you deserve that!
Chibird store | Positive pin club | Instagram
hal-hal yang susah
memaafkan orang lain itu susah banget. tapi bayangkan nanti saat hari akhir Allah bilang ke kamu, "kamu selalu berusaha memaafkan. kamu berdoa meminta agar hatimu bisa memaafkan. maka Aku maafkan pula semua kesalahanmu. masuklah ke dalam surga-Ku."
memberi jalan (dalam banyak arti) bagi orang lain itu susah banget. tapi bayangkan nanti saat harus melewati siraat Allah bilang, "kamu sering mengalah dan memberi jalan untuk orang lain. sekarang lewatilah jembatan ini dengan mudah. semua makhluk memberimu jalan."
menutupi aib orang lain itu susah banget. tapi bayangkan saat semua rekaman hidupmu diputar Allah bilang, "yang ini tidak perlu. hidupnya hanya diisi kebaikan." lalu kamu diberi pakaian yang sangat bagus.
mengikhlaskan janji dan utang orang lain itu susah banget. tapi bayangkan saat di akhirat Allah bilang, "sesungguhnya kamu punya utang puasa, utang sholat, utang nazar, utang zakat. tapi semuanya sudah Aku ampuni dan anggap lunas karena kamu selalu mengikhlaskan utang orang lain."
tidak membalas perbuatan jahat orang lain dan alih-alih mendoakannya itu susah banget. tapi bayangkan saat di akhirat Allah bilang, "semua dosamu sudah diampuni karena malaikat-malaikat mendoakanmu setiap kamu mendoakan orang yang menyakitimu."
kalau kamu melakukan hal-hal yang susah, jangan lupa berdoa dalam hati. minta hadiah yang besar. kalau hanya ketenangan dan kebahagiaan di dunia, itu masih kurang. minta yang abadi.
"ya Allah, aku sekarang lakukan ini. nanti kelak di akhirat, ampuni aku, maafkan aku, bela aku, tutupi aibku, beri aku jalan yang mudah, beri aku pakaian yang bagus, masukkan aku ke surga terbaik-Mu."
Kesungguhanmu mengejar apa yang sudah dijamin untukmu dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut darimu adalah bukti rabunnya mata hatimu.
Karena itu..
Istirahatkan dirimu dari mengatur nasib duniamu karena segala yang sudah diurus oleh selainmu (Allah) tak perlu lagi engkau turut mengurusnya.
Lagipula..
Menggebunya semangat tak akan mampu menerobos benteng takdir.
— Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam Syarah al-Hikam
"Aku bisa mati terbunuh oleh angan-angan akan suatu hari yang tidak sempat kutemui karena angan-anganku melampaui batas umurku."
— Abu Dzar al-Ghifari
Update Your Friends
Setelah hampir seperempat abad jadi makhluk bumi, aku sadar bahwa hidup setidaknya mengubah 3 hal besar, yakni nilai hidup (apa yang penting dan kita hargai), prioritas (apa yang mesti kita dahulukan), dan kapasitas emosional-intelektual.
Dengan ketiga hal itu, kutipan "setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya" itu rasanya relevan. Artinya, ada beberapa perpisahan yang disebabkan nilai-nilai hidup yang bergeser ke arah berlawanan, maupun prioritas hidup dan kapasitas emosional-intelektual yang berbeda.
Tapi kamu punya nggak sih orang-orang yang sengaja terus kamu perbarui pengenalannya karena kamu pengen di setiap masa/stage kehidupanmu, mereka tetep jadi "orangnya"?
Orang-orang ini, bakal terus kamu synchronize supaya nilai-nilai hidupnya atau lebih jauhnya framework-nya, nggak berbeda terlalu jauh denganmu secara prinsip. Kamu ingin terus pelajari orang-orang ini karena pengen tau, "kita masih di halaman yang sama nggak sih?" Sudut pandang mereka juga matter buatmu, kamu menghargai itu.
Ada seorang temen yang pernah kubilang padanya, "meski kita tau manusia itu bertumbuh kembang, please jangan berubah terlalu banyak/cepat ya, atau jika iya, izinin aku tau dan perbarui setiap ∆ improvement-mu. Kamu manusia yang seru buat dipelajari. Jadi aku ingin dilibatkan di setiap fase hidupmu, dan aku melakukan itu juga padamu. I will keep you updated."
Kedengarannya kayak posesif hahaha. Tapi jujur maksudnya nggak ke sana. Untuk alasan pribadi, aku suka aja ngeliat bagaimana kuasa Allah bekerja di growth-nya orang-orang. Seru tau, liat orang bertumbuh kembang tuh, apalagi merekanya bersedia kupelajari. Bener sih, kalimat "rabbana maa khalaqta haadzaa baathila" bahwa nggak ada entitas sekecil apapun yang sia-sia, termasuk pertumbuhan seseorang, perubahan kecil dalam pikirannya, caranya melihat hidup, dan caranya berdamai dengan diri sendiri.
Dengan kata lain, alih-alih posesif atau ingin gatekeeping temenku, aku ingin mempelajari tanda-tanda Tuhan di perjalanan hidupnya. Pasti ada banyak hikmah yang ga mungkin bisa aku tangkep kalau aku yang jadi dia. Pasti pengalaman personalnya, cuma dia yang bisa ambil hikmahnya. Terus kenapa aku nggak belajar aja sama dia? Kenapa aku nggak mempelajari dia?
Nggak banyak orang yang mengizinkan aku masuk ke dalam hidupnya. Sebagai orang yang introvert, aku nggak mudah diterima bertamu ke hidup orang. First impression orang-orang terhadapku rata-rata nggak begitu bagus. Makanya, sebuah kehormatan ketika ada orang ngizinin aku mempelajari hidupnya dan mempercayakan sudut pandangku untuk mencerminkan dirinya. Meski aku nggak selalu jadi cermin yang baik, aku bakal berusaha dengan baik sebisaku. Aku nggak bakalan sia-siain kesempatan belajar itu.
Updating friends is how we make sure we don't slowly turn into strangers with memories. We update each other to let our friends meet the new versions of us. Updates help friendships stay relevant, not stuck in who we used to be years ago. Sharing our lives with friends is a quiet way of saying, "I trust you with who I’m becoming."
It's a love language your friends shouldn't guess where you are. They shouldn't wonder what you're doing. It says, "You matter. I want you to know." Cause I like to actually know everything. Once I'm missing information and updates, I assume you don't want me in your life anymore.
Terima kasih untuk teman-teman yang mengizinkanku memperbarui pengenalanku terhadap kalian, yang mengizinkanku tahu kalian sedang "di mana", "sibuk apa", dan "sudah sejauh mana" (dapat ditafsirkan secara konotatif maupun denotatif). Dan terima kasih juga buat teman-teman yang bersedia menerima pembaruanku atau menanyakan kabarku. May we never stop becoming better, and never stop recognizing each other in the process. May we never become strangers while becoming better.
Not "see you on top", but "let’s climb together."
Let’s stay in each other’s lives as we become better versions of ourselves. Let’s grow in ways that bring us closer to God, and closer to who we’re meant to be — together.
— Giza, menghargai rahmat Allah di pertemanannya
Tambahan:
Kebutuhan Memperbarui Pengenalan
Hujan Lebat, Udara dingin dan Sepotong Hati yang Menghangat.
Sore itu, Aku dan beberapa teman ku membuat perayaan kecil-kecilan untuk salah satu teman kami yang akan memasuki fase kehidupan baru (red:menikah). Meskipun perayaannya kecil-kecilan, tapi kebahagiaan kami melimpah ruah. Memenuhi seluruh ruangan.
Di tengah-tengah kebahagiaan yang kami rayakan, hujan turun sangat lebat. Bahkan tampak belum mau berhenti saat kami akan pulang. Sebenarnya hujannya tidak menghalangi kami untuk pulang sih. Lagipula kedua temanku mengendarai mobil, aku pun sedia mantel sebelum hujan. Hanya saja jarak cafe ke parkiran terlampau jauh. Sedangkan kami tidak membawa payung.
Nasib baik cafe yang kami singgahi punya beberapa payung yang bisa kami pinjam. Karena parkiran motor berada di paling ujung, aku berinisiatif untuk ikut berbagi payung bersama temanku sampai parkiran mobil, lalu berlari cepat menuju parkiran motor. Toh sudah tidak terlalu deras. Tapi temanku yang baik hati itu menawarkan diri untuk memayungiku sampai ujung. Aku menolak dan dengan tegas ku katakan "Ihh gausah, aku bisa sendiri". Maksudku berlari ke parkiran motor tanpa payung pun bukan masalah. Tapi dia menjawab dengan jawaban yang tidak ku sangka. "Kenapa sih mau apa-apa sendiri? Aku tuh mau bantu (sambil mengikuti ku berjalan dengan payungnya)."Selebihnya aku tidak mendengar apa yang dia katakan. Semua menguap kecuali dua kalimat itu.
Hujan kembali turun sangat deras. Udara sore itu begitu dingin. Tapi hatiku menghangat.
kalau kamu sejak awal menyediakan satu ruang untuk berusaha, sediakan pula satu ruang untuk ikhlas.
i noticed how i feel strangely belittled when someone's better than me, maybe i used to feel like i need to be the best in order to be liked, to be worthy of anything, to be chosen.
im scared of being left behind, i see people finishing their works, and im feel rushed, i feel my works arent good enough, i feel i made the wrong choices.
I pick any color faster, i dont mind the blending, it all looks dirty and trash,
I suddenly let the paint get slipped and fall onto my paper, leaving a big circle on the corner of the page. But yet, im scared people look at the mistakes i made, but i feel relaxed, i just made another circle and fake it as a bubble.
Im rushing to finishing the piece, all of my ideas are broken down, i just blocked it and it looks like it was a child who make this painting
But yet those people say my drawing is cute.
Yeah, perhaps, its not about the technique, the best, its just about who you are, what you like, what you try to do, what the intention youre trying to make,
And you know it all,
Let them, let them talk, let them assume
And deep inside your heart,
Accept,
Accept that youre still learning, youre still confuse, and the mistakes are inevitable to avoid. And its totally normal
And to love your work no matter how the flaws are,
People notice, and maybe not
You notice, you notice every details, and everything you hate about it
But please, dont forget the intention and the pure happiness u want to make, no matter how the result are.
Its you, the reflection of you who is still learning and creating,
Dont let your stupid critic inner voices let you down, and stop you from creating, stop you from making mistakes—thinking it was the safest thing to do so you wont get hurt, its wrong.
Make mistakes, make a lot of mistakes,
Accept that youre still learning, and its okay,
Accept the flaws,
Embrace the progress of becoming.
Embrace you, and to love you with all of the flaws.
merayakanmu
dengan cara seperti apa aku boleh merayakanmu? merayakan kebaikanmu? merayakan kebersamaan denganmu? merayakan setiap tawa karenamu? merayakan perasaan dicintai dan disayangi---atau sekadar perasaan terinspirasi? merayakan rindu yang tidak pernah tunai. merayakan kita?
dengan cara seperti apa aku boleh merayakanmu? merayakan kepergianmu? merayakan setiap patah hati karena kehilanganmu? merayakan air mata yang berderai-derai tanpa usai. merayakan rindu yang memang tidak pernah tunai. dengan cara apa?
Beberapa catatan lama
Belajar buat menghargai diri sendiri, termasuk berhusnudzon sama takdir yang lagi dijalani. Itu bakal bikin kita lebih tenang.
Nggak usah takut jatuh cinta sama orang baik - ya meski kamu ngga berjodoh sama dia. Paling nggak kamu tahu satu hal, karena kamu masih normal dan lurus pikirannya nggak jatuh cinta sama orang yang RED FLAG.
Nggak apa-apa ambil jarak sama orang yang hidupnya ruwet (entah karena masa lalu, trauma, macem-macem), karena kalau dia nggak bisa handle dirinya, kemungkinan besar keruwetannya akan merembet ke hidupmu.
Teman-teman kita yang baik saat ini mungkin nanti akan sibuk sama keluarganya dan nggak punya waktu bersama kayak sekarang, itu normal. Makin dewasa, membangun silaturahmi itu perlu modal, jangan ragu buat sisihkan uangmu untuk menyambung silaturahmi sama orang baik, entah untuk perjalanan atau pun bingkisan. Nggak akan rugi.
Orang tua kita tu pada dasarnya pengin yang terbaik buat kita, cuma masalahnya versi terbaik kita sama versi terbaik yang mereka tahu itu beda banget. Tugas kita membangun jembatannya.
Kalau kamu lagi jatuh cinta, lingkupi diri kamu sama orang-orang baik yang jalan logikanya. Karena orang yang jatuh cinta suka buta buat melihat hal-hal detail.
Jangan iri sama rezeki orang lain. Kalau kamu punya catatan-catatan kecil yang bermakna, boleh di lanjutin :D
Wish You Nothing But a Happy New Version of You
Kurang lebih itu yang aku harapkan untuk satu teman dekatku, sahabat yang lahir kembali untuk ke dua puluh lima kali nya hari ini.
Hai Jo, banyak yang aku semogakan buat kamu di hari lahir mu tapi yang pengen aku highlight adalah harapan sesuai judul tulisan ini. Senang sekali bisa menyaksikan mu bertumbuh sampai hari ini. Berat-ringan hari yang kamu lalui. Jalan berliku yang kamu lewati. Nggak ada yang lebih aku harapkan selain kamu bisa selalu menemukan bahagia mu setiap hari meski dari hal-hal kecil.
Ayo terus bahagia bersama di ikatan pertemanan ini sampai kita tua. Sampe nanti Jannah-Nya.
Random Aja club bangga, sayang dan bersyukur berjuta-juta kali punya kamu di kehidupan ini. Pernyataan pribadi sih, tapi aku yakin Aliya akan bilang hal yang sama❤️
Nggak tau tulisan ini akan sampai ke kamu atau ngga, tapi semoga doa ku buatmu selalu sampai.
bahasa cinta paling indah
bahasa cinta paling indah, adalah saat di sepertiga malam, lantunan pintamu kepada-Nya, agar senantiasa menjaga orang-orang terkasih.
bahasa cinta paling indah, adalah kamu tidak pernah menampakkannya secara langsung, namun diam-diam senantiasa menyemogakan langkahmu mudah dan ringan.
bahasa cinta paling indah, sekaligus bahasa cinta yang sederhana. tidak perlu kamu ungkapkan pada dunia, tapi kamu sampaikan pada pemilik cinta.
semoga Allah mudahkan jalanmu, sampaikan pada tujuanmu. semoga Allah ridhoi dan berkahi langkah-langkah kebaikanmu, pula segala yang kamu upayakan. jika di persimpangan kamu menemui kesulitan, maka Allah akan lapangkan.
demikian bahasa cintaku untuk orang-orang terkasih, salah satunya untukmu. menyemogakan hal-hal baik pada Sang Pemilik Kebaikan.