Ramadhan #6 - #12 : Jangan Dulu Menyerah
Saat kita berjuang untuk sesuatu yang sama dengan orang lain, memperjuangkan hal yang sama. Kemudian kita menyadari bahwa segalanya terasa sudah sampai batasnya, jangan dulu menyerah!
Sebab orang lain masih berjuang, mereka belum menyerah. Mereka masih melihat kemungkinan yang mungkin tidak kita lihat. Mereka masih memiliki cara yang mungkin tidak kita tahu. Jangan dulu menyerah.
Tulisan ini adalah rangkuman pelajaran dalam beberapa hari terakhir. Saya menghilang sejenak dari dunia maya karena ada hak tubuh saya yang harus saya tunaikan (baca: istirahat karena sakit). Di waktu itu, saya banyak menghabiskan waktu untuk mengamati juga memutar ulang segala hal yang terjadi dalam hidup saya dan orang-orang yang hadir silih berganti.
Dan saya dapati, setiap individu adalah pejuang. Ia sedang memperjuangkan banyak hal dalam hidupnya. Dari yang banyak itu, banyak hal yang sama antara satu dengan yang lainnya. Yang membedakan satu orang dengan yang lain hanya satu, daya juangnya.
Beberapa waktu yang lalu saya juga membuka bukunya Azhar yang terakhir; Pertanyaan tentang Kedatangan. Saya membukanya secara acak. Intinya, buku itu seperti bercerita tentang perjuangannya menanti buah hati sejak hari pernikahannya, dengan segala cara yang mungkin mereka lakukan.
Beberapa orang yang saya kenal atau sekedar tahu, tapi tentu saja saya tidak tahu bagaimana perasaan dan perjuangannya. Mungkin tengah menghadapi hal yang serupa, berjuang untuk hal yang sama, yaitu berjuang untuk memiliki buah hati dari pernikahan. Tidak hanya bulan, tapi hitungan tahun. Menanti dan tak kunjung ada tanda-tanda kehadiran buah hati.
Dan diam-diam, pasti ada upaya-upaya, ada doa-doa, ada hal-hal yang saya tidak tahu pastinya. Mereka sedang berjuang dan tidak menyerah. Saya amat menghormati orang-orang seperti mereka, ujian yang mungkin saya tidak sanggup untuk menghadapinya. Allah mengujinya, tentu saja saya tidak sanggup menuangkan empati saya dalam bentuk kata-kata. Hanya doa yang tiada henti, semoga dikuatkan, semoga sabar, dan yang lain. Meski terasa sangat klise, karena saya tidak mengalaminya sendiri.
Di tempat yang lain, saat kita tengah berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Mungkin kita terjegal oleh gengsi dan ketinggian hati sendiri. Dengan latar belakang sarjana dan nama kampus kita, kita berharap untuk mendapatkan hal-hal yang terasa langsung manis. Mungkin kita perlu sedikit melihat lebih luas, ada begitu banyak orang yang sedang memperjuangkan hal yang sama. Berjuang untuk mencari atau menciptakan pekerjaan. Dari yang tidak pernah sekolah sampai yang sekolah sangat tinggi. Dan mereka belum menyerah. Tentu ada upaya yang saya tidak tahu, ada doa diam-diam yang juga saya tidak tahu. Saya hanya menyaksikan dan mengamati bagaimana satu per satu teman yang saya kenal, mulai memetik buah perjuangannya. Mulai menemukan pekerjaan yang membahagiakannya. Dan saya menjadi saksi bagaimana dulu mereka berjuang, melintasi kota demi kota untuk ikutan jobfair. Memasukan lamaran di sana sini. Dan bagaimana dulu mereka diawal bekerja.
Di ramadhan ini pun. Ada begitu banyak orang yang berjuang untuk hal yang sama. Bagaimana meraih pahala yang maksimal. Bagaimana memanfaatkan momen ramadhan dengan ibadah yang total. Berjuang untuk khatam Al Quran sekali dua kali bahkan beberapa kali sepanjang ramadhan ini. Berjuang untuk, macam-macam. Beberapa diantara mereka mungkin sedang memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Kalau ujian kita baru sebatas sakit, sebatas rutinitas, belum sepantasnya kita menyerah. Ada yang lebih keras ujiannya dari itu.
Hal yang selalu bisa kita temukan disaat perjalanan di kereta komuter, orang membaca Al Quran untuk memperjuangkannya selesai dalam sebulan. Teman-teman kita yang mungkin sedang berada di luar negeri, berjuang untuk ke masjid terdekat yang jaraknya berjam-jam. Ada yang sedang berjuang, memperjuangkan hal yang sama dengan kita. Lihatlah, mereka tidak menyerah dan mengeluh. Jangan dulu menyerah dengan apa yang kita hadapi.
Sudah kusampaikan sejak awal, yang membedakan perjuangan kita dengan orang lain hanya satu. Daya juangnya :)
1-7 Juni 2017 / Yogyakarta / ©kurniawangunadi