Perjalanan Menuju Selesai
Beberapa hari yang lalu, aku melihat story WhatsApp seseorang yang pernah sangat kusukai. Teman semasa sekolah dulu.
Kalau ini terjadi 10 tahun yang lalu, mungkin aku akan merasa cemburu. Mungkin aku akan bertanya-tanya kenapa bukan aku yang ada di sana. Mungkin juga aku akan menghabiskan sisa malam dengan perasaan yang berantakan.
Tapi kali ini berbeda.
Aku hanya melihatnya seperti teman lama yang sedang berbahagia bersama pasangannya. Tidak ada sesak, tidak ada rasa kehilangan, tidak ada keinginan untuk mengulang waktu, dan tidak ada kata 'andai saja dulu..' yang terucap.
Yang buatku terkejut bukan story tersebut. Melainkan reaksiku sendiri.
Aku sadar, ternyata aku benar-benar sudah tidak memiliki perasaan itu lagi. Lucunya, bahkan aku tidak tahu kapan tepatnya perasaan itu hilang. Tidak ada hari yang bisa kutandai sebagai "hari terakhir aku mencintainya". Tidak ada momen dramatis yang buatku memutuskan untuk berhenti menyukainya.
Perasaan itu hanya... memudar.
Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk menjalani hidup semenjak kita tidak lagi bertegur sapa.
Dan aku berharap, cara ini juga berhasil untuk melepaskan orang yang kucintai setelah dia.
Aku pernah patah hati, pernah menangis berminggu-minggu karena seseorang setelah dia. Tapi setelah itu, aku kembali menjalani hari-hariku seperti biasa. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada keluarga yang harus diperhatikan, ada mimpi yang juga ingin dikejar, dan ada diri sendiri yang masih ingin terus bertumbuh.
Aku tanpa sadar tumbuh menjadi tipe orang yang tidak menjadikan cinta sebagai pusat hidupku. Aku mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, tapi ketika hidup meminta untuk terus berjalan, aku juga akan terus berjalan.
Mungkin itu sebabnya aku tidak sadar kapan perasaan itu benar-benar selesai.
Dan mungkin, begitulah cara waktu bekerja.
Ia tidak selalu menghapus luka dengan cepat.
Ia hanya membuat hidup terus bergerak, sampai suatu hari kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa sesuatu yang dulu terasa begitu besar kini hanyalah kenangan yang tidak berarti apapun untukku lagi.
Barangkali, kita tidak pernah benar-benar menyadari kapan kita sembuh.
Kita baru menyadarinya ketika sesuatu yang dulu pernah menghancurkan hati, akhirnya tidak lagi memiliki kuasa untuk menyakitinya.













