Barusan saya habis berkunjung ke tumblr-nya kak @cheniaik dan kak @synestesya lalu baca-baca tulisan mereka perihal budaya Patriarki, yang membuat mata saya terbuka dengan lebar bahwa masalah yang menimpa negeri kita ini bukan hanya sebatas Korupsi dan narkoba, namun masih ada satu masalah lagi yang sejak dulu hingga sekarang tak menemui titik terang juga yaitu, budaya patriarki yang masih kental di masyarakat. Apalagi tulisan-tulisan kak @cheniaik -khususnya, berhasil bikin saya berpikir lalu bilang “anjirr, gilee nih bener banget. Jlebb banget” sambil tertawa kecil.
Kemudian setelah menghabiskan kira-kira 45 menit lebih mantengin tumblr-nya kak @cheniaik dan @synestesya saya bertopang dagu dengan lemas, membentuk sudut wajah dengan kemiringan 45 derajat, menghela napas dengan alaminya, serta melirik kesamping tanpa arti lalu saya teringat kemaren saya nemenin temen (cewek) ke Mall cari make up, eh gincu deng.
“mau yang ini, tapi terlalu terang, yang ini bagus tapi mahal”, celetuknya dan tangannya menunjuk tiap detil warna di depannya.
“kalau yang ini bagus, gak?”, Aini menunjukkan gincu yang dipilihnya ke arah saya.
“bagus” jawab saya dengan nada lemas.
Hampir setiap saya menemaninya berbelanja, saya kerap dimintai saran. Sialnya, pertanyaannya lebih sering sudah memiliki jawaban sendiri. sehingga saran saya menjadi formalitas belaka yang dilontarkan karena tidak enak hati yang menunggunya sejak lama.
Saya memutuskan keluar dan menunggunya diluar toko. Saya ambil handphone saya yang terjebak didalam saku celana, lalu saya buka browser ‘safari’, dan membuka website mangastream kemudian membaca manga sambil menunggui Aini. Tidak lama setelah saya bersandar di fondasi gedung dan membaca manga, sepasang wanita keluar dari toko tersebut. Tepat berjalan di depan saya, mereka berjalan ke arah kanan saya, salah seorang berkata pada temannya “susah ya jadi perempuan”. Saya memalingkan kepala saya dari layar ponsel dan melihat kearah dua wanita tersebut. Kedua wanita itu membawa tentengan belanjaan dari toko tersebut. “lipstik, make up, gincu, bedak, lipstik, make up haduuh.. susah deh” lalu mereka berlalu.
Sedikit kaget saya mendengar apa yang diucapkannya. Tapi, juga mendukung ungkapan tersebut mengingat Aini tiap memilih gincu bukan hanya merepotkan dirinya saja (saya juga repot). Saya lantas mengasosiasikan ucapannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Di luar susahnya mereka memilih gincu, perempuan memang “kesulitan gerak” di budaya patriarki. Perempuan kerap menjadi sasaran moralitas laki-laki. Hal itu semakin diamini mengingat perempuan dalam hierarki yang beredar di masyarakat bertempat pada tangga nomor dua setelah laki-laki. Tangga yang semestinya tidak ada itu membuat perempuan kerap mengalami ketidakadilan.
Sementara ini perlu kita akui, bahwa mitos hierarki tersebut masih hinggap di kepala masyarakat hingga saat ini dan membuat ketidakadilan terus bersemayam di tubuh perempuan. Frasa “kesulitan gerak” semakin diperkuat ketika berpakaian, keluar malam, budaya patriarki, bahkan sentimen agama menjadi alat penghakiman bagi perempuan. Pakaian yang terbuka dan pulang larut malam karena pekerjaan dianggap menjadi gula-gula yang dalam waktu kapan saja bisa didatangi semut, lebah, juga ular. Alasan-alasan tersebut dengan tedeng aling-aling menyudutkan perempuan sebagai penyebab terjadinya pelecehan seksual pada perempuan.
Mari kita feedback sejenak, tahun lalu tepatnya 2016 kemaren terjadi kasus kekerasan seksual pada gadis belia bernama Yuyun, di Bengkulu. Dia diperkosa secara bergilir oleh 14 orang lelaki yang umurnya rata-rata masih muda. Kasus ini lantas ramai dan memicu berbagai opini dari masyarakat dan pejabat publik. Dalam opini yang beredar di media, ada satu opini yang sedikit menggelikan bagi saya. Sebab terlontar dari Ketua Komisi VIII DPR, Saleh Partaonan Daulay. Beliau turut mengecam aksi pemerkosaan dan pembunuhan yang terjadi tetapi dalam opininya dia menyalahkan korban yang berjalan sendiri sehingga membuka ruang bagi pelaku untuk memerkosa. Pada titik itu saya ingin mengamini apa yang pernah dulu diucapkan Bapak saya bahwa :
kalau isi kepalamu ditukar dengan isi kepala orang-orang yang ada di Senayan, kamu masih dapat kembalian nak.
Kondisi perempuan yang masih tersubordinatkan oleh budaya patriarkal ini akan terus melahirkan berita-berita yang menyebutkan bahwa kekerasan seksual berasal dari perempuan. Pada mitos terhadap keunggulan laki-laki ini bukan saja merugikan perempuan, melainkan juga lelaki yang harus hidup berdasarkan mitos. Terlebih lagi, mitos ini juga menegaskan bahwa pria gagal menggunakan nalarnya dan memilih tunduk pada hawa nafsu libidonya sendiri.
Kekerasan seksual pada perempuan adalah potret buram negeri ini karena kasusnya terus meningkat beberapa tahun belakangan.
Komnas Perempuan dalam rilisnya mencatat bahwa pada tahun 2016, kekerasan seksual paling sering terjadi di ranah personal sebesar 321.752, maka kekerasan seksual menempati peringkat dua, yaitu dalam bentuk perkosaan sebanyak 72% (2.399 kasus), dalam bentuk pencabulan sebanyak 18% (601 kasus), dan pelecehan seksual 5% (166 kasus)*.
Ranah personal dalam hal ini melibatkan hubungan darah, kekerabatan, perkawinan, dan relasi intim (pacaran). Bahkan menjadi semakin buruk ketika banyak kekerasan yang terjadi di ranah personal tidak dilaporkan, terlebih lagi tidak ada kebijakan yang menindak secara tegas dan membuat jera para pelaku kekerasan seksual.
Disaat bersamaan, apa yang terjadi pada Yuyun menjadi renungan bagi kita yang kerap diingatkan ketika kejadian telah berlangsung. Koordinasi antar lembaga negara/nonnegara menjadi penting untuk memberikan edukasi terkait tindakan kejahatan kekerasan seksual sebagai pelanggaran HAM/HAP dan melanggar hukum, sehingga tetap memberikan penghukuman yang mencerminkan prinsip memberikan keadilan bagi korban, mencegah keberulangan dan menjerakan para pelaku dengan berlandaskan pada 4 prinsip dasar hak anak yang termuat di dalam UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak.
Perempuan yang lahir dari rahim perempuan tidak bisa dipaksakan untuk tunduk pada rahim laki-laki. Perempuan sudah semestinya berhak untuk bebas menentukan nasibnya sendiri, menentukan keyakinannya, mengenakan pakaian yang mereka mau, bergerak sesuai kehendaknya, ehmmm bahkan menentukan warna gincu berjam-jam. Selama ia memilih dengan sadar, pilihan-pilihan tersebut dilindungi hak asasi manusia.
Kesetaraan dan keadilan gender secara sederhana misalnya dapat terlihat dengan perempuan yang keluar malam dengan pakaian yang dipilihnya tanpa rasa takut untuk diperkosa. Lebih jauh lagi, perempuan tidak lagi berada dalam tatanan subordinat dalam gender. Ia setara selayaknya rekan kerja atau teman diskusi. Konsep saling menghargai atas pilihannya masing-masing mulai berlaku.
Pada kasus yang menimpa Yuyun, pada peristiwa yang kerap menyudutkan perempuan, pada gincu yang dipilih dalam waktu berjam-jam, pada akhirnya, kita mesti sadar bahwa mengamini mitos hierarki sama saja mempertahankan budaya patriarki dan memelihara ketimpangan gender yang tak lain semakin menguatkan argumen bahwa memang “susah ya jadi perempuan”.
Aini mendatangi saya yang bersandar di etalase toko, “jadi pilih yang mana?”, tanyaku
“enggak jadi”, jawabnya singkat sambil nyengir kayak orang ga punya dosa.
“Astaghfirullah”, saya ngelus dada.
Apa yang terjadi dan menimpa Yuyun tahun lalu hanyalah sebagian kecil dari korban kekerasan seksual yang terungkap dan berhasil terekspose oleh media, diluar sana mungkin masih banyak lagi kekerasan seksual yang tak dilaporkan dan terekspose media di budaya patriarki ini. Tapi, tentu masalah seperti ini bukan untuk dilihat besar kecil jumlah korbannya, dan kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja. Semoga kita semakin peduli dan peka terhadap isu-isu semacam ini.