Jangan suka membandingkan antara dirimu dan orang lain. Karena setiap manusia memiliki kondisi yang berbeda. Contohnya diantara kita,
"Bedanya adalah aku tidak takut ada di posisi kamu, tetapi kamu takut jika ada di posisiku"
taylor price

blake kathryn
One Nice Bug Per Day

titsay
🪼

⁂
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Today's Document
DEAR READER

#extradirty

No title available
Mike Driver
todays bird

JBB: An Artblog!
Alisa U Zemlji Chuda
styofa doing anything

Kiana Khansmith
ojovivo

tannertan36
Sweet Seals For You, Always

seen from Netherlands
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Finland
seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from Colombia
seen from Greece
seen from Maldives
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from T1

seen from Greece
seen from Portugal
@musttole
Jangan suka membandingkan antara dirimu dan orang lain. Karena setiap manusia memiliki kondisi yang berbeda. Contohnya diantara kita,
"Bedanya adalah aku tidak takut ada di posisi kamu, tetapi kamu takut jika ada di posisiku"
Suka bgt statement "Pernikahan itu dibangun di atas Fiqh, Adab dan Kasih Sayang", kayak betapa syumul dan kamilnya Islam dalam mengatur hubungan antar manusia. Dalam mencapai tujuan, menuntut untuk adanya peran untuk saling terlibat dan dalam menjalaninya didasari dengan nilai adil dan tolong menolong.
Semakin dalam mendalami agama, semakin sadar betapa bodoh dan fakirnya diri ini dalam memahami agama-Mu ya Rabb... Betapa Bijaksana-Nya Engkau dalam mengatur seluruh sendi kehidupan ini, mustahil manusia mengerti seutuhnya rahasia di balik seluruh perintah dan larangan-Mu.
Sesuatu yang sungguh jauh di luar nalar manusia ketika iman menjadi pintu dalam mengelami hikmah yang Engkau tebarkan di bentangan langit dan bumi ini. Ampuni hambamu ini yang sering kali merasa gusar, khawatir dan takut akan ketetapan-Mu.
Maafkanlah diri ini yang masih belum sempurna dalam menjadi hamba yang Engkau cinta dan ridhoi. Satu hal ya Allah yang jika Engkau perkenankan hamba-Mu ini meminta, betapapun tinggi dosa ini menjulang, kesalahan dan kealphaan yang terus berulang, hamba mohon tetapkan hati ini agar terus mengimani-Mu—sampai akhir hayat kami😔
Kedermawanan Sang Fakir
Kedermawanan tidak selalu dimulai dari kelapangan harta.
Sering kali ia dimulai dari hati yang tidak ingin berhenti bermanfaat, meski hidupnya sendiri belum serba mudah.
Ada yang belum banyak memiliki uang. Urusannya masih berat. Tenaganya terbatas. Beban rumahnya pun belum selesai.
Namun ia tetap mencari celah untuk berbuat baik.
Jika belum mampu memberi banyak, jangan meremehkan yang sedikit. Jika belum mampu mengangkat seluruh beban, ringankan satu sisi yang sanggup diringankan.
Sebab ukuran sedekah tidak hanya berada pada jumlah yang keluar dari tangan. Ada nilai yang Allah lihat pada niat, keikhlasan, dan kesungguhan hati.
Orang fakir pun bisa dermawan.
Ia mungkin tidak membawa amplop besar. Tetapi ia bisa membawa doa yang jujur. Ia bisa memberi waktu. Ia bisa membantu dengan tenaga. Ia bisa menyapa dengan wajah cerah. Ia bisa menjaga lisannya agar tidak menambah luka.
Ia bisa menahan diri dari menyakiti, dan itu pun kebaikan yang tidak kecil.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim)
Hadits ini menutup pintu alasan bagi jiwa yang selalu menunggu kaya sebelum berbuat baik.
Jangan meremehkan kebaikan sedikit pun. Bukan hanya kebaikan besar yang tercatat. Bukan hanya pemberian yang terlihat manusia. Bahkan wajah ceria kepada saudara pun disebut oleh Nabi ﷺ sebagai sesuatu yang tidak boleh dianggap remeh.
Maka mulailah dari titipan Allah yang ada hari ini.
Jika ada harta, keluarkan yang halal dengan ikhlas.
Jika belum lapang harta, bantu dengan tenaga.
Jika tenaga pun terbatas, kuatkan dengan doa.
Jika tidak mampu menyelesaikan masalah orang lain, setidaknya jangan menjadi sebab bertambahnya sempit.
Jika belum bisa membuat seseorang bahagia, jangan melukai dengan lisan yang kasar.
Menjadi baik tidak harus menunggu semua urusan pribadi selesai.
Justru dalam kesempitan, sering tampak siapa yang benar-benar memberi karena Allah. Sebab ketika pemberian kecil keluar dari hati yang sedang berat, ia membawa kejujuran yang mahal.
Mungkin manusia tidak melihatnya besar.
Satu pesan yang menenangkan.
Satu bantuan kecil tanpa diumumkan.
Satu doa diam-diam.
Satu maaf yang sulit.
Satu senyum untuk orang rumah.
Satu kalimat buruk yang berhasil ditahan.
Tetapi di sisi Allah, sesuatu yang kecil tidak selalu bernilai kecil.
Allah tidak hanya melihat banyaknya pemberian. Allah melihat hati yang mengeluarkannya.
Karena itu, jangan mudah berkata, “Aku belum punya apa-apa.”
Selama masih ada iman, masih ada napas, masih ada kesempatan untuk memberi manfaat dan menahan mudarat, masih ada bagian kebaikan yang bisa dipersembahkan.
Jadilah dermawan dengan apa yang Allah titipkan saat ini.
Bukan menunggu nanti ketika semua terasa ringan. Tetapi hari ini, dari pintu yang paling mampu dibuka.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ringan memberi, ringan menolong, dan ringan mendoakan.
Semoga Allah melembutkan lisan kita, melapangkan hati kita, dan menjaga kita dari menyakiti sesama.
Semoga dalam sempit maupun lapang, kita tetap diberi taufik untuk taat dan bermanfaat.
“Islam tidak melarang cinta. Perasaan itu memang dicipta untuk kita. Tapi cara bagaimana & mencintai siapa itu yang mengubah hukum asalnya. Jodoh yang terbaik adalah salah satu rezeki. Bagaimana mungkin mendapat rezeki yang baik dengan cara yang tidak-tidak. Apa pun hargailah keadaan sekarang, jangan terlalu banding dengan orang. Teruskan doa dan berusaha. Insya-Allah semua akan baik-baik saja.”
— (via arnamee)
Nasehat Suhud
Orang Zuhud itu mempunyai tiga Syarat :
1. Sedikit sekali menggemari dunia, sederhana dalam menggunakan segala miliknya, menerima apa yang ada, juga tidak merisaukan segala sesuatu yang tidak ada, akan tetapi giat dalam bekerja, karena bekerja adalah mencari rizki, sedangkan mencari rizki, suatu kewajiban. 2. pujian dan celaan adalah hal yang sama, tidak bergembira bila mendapat pujian, juga tidak bersedih jika mendapat celaan atau hinaan. 3. mengutamakan ridho Allah swt dari pada ridho manusia atau merasa tenteram jiwanya bersama Allah swt dan merasa bahagia sebab dapat mentaati semua tuntutannya. ( Imam Hasan Basri )
Engkau harus berlaku Zuhud, sesungguhnya zuhudnya orang yang zuhud itu lebih baik dari perhiasan yang ada pada tubuh wanita yang menawan. ( Imam Syafi’i )
“Siapa yang merasa bahwa dalam dirinya terkumpul dua cinta, cinta dunia dan cinta kepada penciptanya, maka ia telah berdusta.” ( Imam Syafi’i )
“Ketahuilah bahwa orang yang jujur kepada Allah swt, ia akan selamat. Barangsiapa yang bersemangat dengan agamanya, ia pun akan selamat dari kerusakan, dan barangsiapa yang berlaku zuhud dengan urusan dunianya, niscaya kelak pahala Allah swt, akan nampak indah di matanya.” ( Imam Syafi’i )
“Berlakulah zuhud dalam menjalani hidup di dunia, dan cintailah kehidupan akhirat dan barangsiapa harum bau ( badan )nya, maka kecerdasannya akan semakin bertambah.” ( Imam Syafi’i )
“Sangat jauh jika bermaksud memaknai sehat atau kenyang tanpa mengalami sendiri rasa sehat atau kenyang. Mengalami mabuk lebih jelas daripada hanya mendengar tentang arti mabuk, meskipun yang mengalaminya mungkin belum pernah mendengar teori mabuk. Maka mengetahui arti dan syarat-syarat zuhud tidak sama dengan bersifat zuhud.” ( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )
“Kehidupan seorang muslim tidak dapat dicapai dengan sempurna, kecuali mengikuti jalan Allah SWT yang dilalui secara bertahap. Tahapan-tahapan itu antara lain : tobat, sabar, faqir, zuhud, tawakal, cinta, makrifat dan ridha. Karena itu seseorang yang mempelajari tasawuf wajib mendidik jiwa dan akhlaknya. Sementara itu, hati adalah cermin yang sanggup menangkap makrifat. Dan kesanggupan itu terletak pada hati yang suci dan jernih.” ( Imam Hujjatul Islam Abu hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali )
”Tidaklah keabadian itu melainkan dengan perjumpaan dengan Allah swt, sedangkan perjumpaan dengan Allah swt itu adalah seperti kedipan mata, atau lebih cepat dari itu. Di antara ciri orang yang akan berjumpa dengan tuhannya adalah tidak terdapat sesuatu yang bersifat fana pada dirinya sama sekali. Sebab keabadian dan fana adalah dua sifat yang saling bertolak belakang.” ( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )
”Makhluk adalah tabir penghalang bagi dirimu, dan dirimu adalah tabir penghalang bagi tuhanmu. Selama kamu melihat makhluk, selama itu pula kamu tidak melihat dirimu, selama itu pula kamu tidak melihat tuhanmu.” ( Sayyidina Syekh Abdul Qadir al-Jailany )
“Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah SWT. Aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanannya.” “Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi, selain Allah SWT. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya di sisiku, karena aku mrnganggap orang itu hanyalah perantara saja,” ( Imam Qutb Irsyad Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad )
“Cabutlah ketajaman dari sarung pedang tabiatmu yang membelah akar cinta dari asalnya. Taburilah tanah dengan benih pohon-pohon kezuhudan, hingga menghasilkan qurb ( kedekatan ) kepada Allah swt, air telaga dari celah wishal ( persatuan dengan Allah swt ), dan pengetahuan pada puncak tujuan.” ( Imam Qutb Al-Arif billah Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi )
“semua tempat yang tanpamu ialah ruang tunggu.”
—
“Betapa laki-laki itu belum tahu, bahwa perempuan itu maunya dijadikan tujuan — bukan pilihan.”
— (via humanisna)
“Dibalik lelaki hebat bukan hanya ada satu perempuan hebat, tetapi dua. Yakni, ibu - sang pembentuk karakter dan istri - sang penyemangat hidup.”
— (via gending)
“Pada perempuan, laki-laki seringkali begini : tidak menghargai sehingga sering kehilangan. Terlalu menjaga gengsi sehingga sering melewatkan”
— (via jagungrebus)
“Perempuan yang baik di dalam kepala laki-laki, akan membuat laki-laki itu ingin selalu memperbaiki dirinya sendiri.”
— (via karizunique)
“Kalau perempuan tidak suka menunggu, kenapa perempuan tidak pernah menyatakan perasaan duluan? Karena…kulit perempuan dibuat dari gengsi.”
— Mutia Prawitasari dalam Teman Imaji (via kuntawiaji)
“Itulah beda laki-laki dan perempuan, laki-laki ingin perempuan mengatakan apa keinginannya dan jangan main diem aja tapi perempuan ingin dimengerti tanpa mengatakan apa maunya.”
— (via jagungrebus)
“Satu kata untuk pria yang cemburunya minta ampun.”
— Kamu kurang piknik, pikiran kamu pendek! Main-main sono gih… asal jangan main perempuan aja :))
“Boleh jadi, saat engkau tidur terlelap, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh puluhan doa kebaikan untukmu. Dari seorang fakir yang telah engkau tolong, atau dari orang kelaparan yang telah engkau beri makan, atau dari seorang yang sedih yang telah engkau bahagiakan, atau dari seorang yang berpapasan denganmu yang telah engkau berikan senyuman, atau dari seorang yang dihimpit kesulitan dan telah engkau lapangkan. Maka janganlah sekali-sekali engkau meremehkan sebuah kebaikan.”
— Ibnul Qayyim Al Jauziyayah dalam kitab Miftah Daaris Sa’aadah.
bisa-bisanya dulu mikir, "kalau aku nggak ambil kesempatan ini, dari mana lagi aku bisa dapet kerjaan?"
seakan-akan pintu rezeki Allah sesempit apa yang aku pikirkan.
Tapi mengapa orang-orang yang tidak pernah ibadah itu justru mendapatkan rezeki yang banyak?
Terlepas ada penjelasannya dari ustad, satu hal yang harusnya ditanyakan balik pada orang yang punya pertanyaan tersebut:
Sesusah apa hidupmu, sampai harus mempermasalahkan dan iri pada rezeki orang yang tidak beriman? Apakah terbesit dalam pikiranmu untuk menanggalkan ibadahmu demi rezeki duniawi?
Pertanyaan selanjutnya:
Berapa banyak sih jumlah orang yang gak pernah ibadah dan rezekinya banyak vs yang rezekinya seret? Mana yang lebih banyak?
Berapa banyak sih jumlah orang yang rajin ibadah dan rezekinya seret vs rezekinya banyak?
Dari keempat kriteria itu, apa kamu yakin jumlahnya mana yang lebih banyak?
Lantas jika kamu tidak dapat memastikannya, mengapa kamu begitu yakin?
Bagaimana jika begini:
Sebagian dari manusia yang tidak pernah ibadah, merasa menggunakan utang untuk kesenangannya adalah hal yang wajar. Sehingga terlihat rezekinya sangat lancar, padahal dibalik layar utang mereka menumpuk, yang siap menjerat mereka di masa depan. Apa masih bisa dibilang apa yang mereka miliki sebagai rezeki atau harta yang berkah?
Bagaimana jika ternyata orang yang terlihat rajin ibadah itu, ternyata ibadahnya ternyata hanya dipermukaan saja?
Atau bagaimana jika ternyata memang orang yang rajin ibadah dan rezekinya lancar itu sebenarnya sangat banyak, tapi mereka memilih untuk tidak menunjukan karena iman mereka?
Maka dari itu, tidak perlu lah kita mempertanyakan rezeki orang lain. Fokuslah pada diri kita sendiri.
Apa perlu kita merasa iri dengan rezeki orang lain, sedangkan kita ternyata ibadahnya belum benar, belum tulus, dan ikhtiar kita kurang jauh?
Saat kita bertumbuh, rasa ikhlas akan membuat kita lebih lentur saat melewati hambatan apapun, sebab ikhlas akan membawa kita pada jalan keluar yang tenang dan benar.
Keikhlasan itu perlu ilmu, maka belajarlah.