my love language is reminding you of your potential and pushing you to become everything you are capable of becoming.
Peter Solarz

titsay

shark vs the universe
AnasAbdin
Game of Thrones Daily
TVSTRANGERTHINGS
Lint Roller? I Barely Know Her
Today's Document

❣ Chile in a Photography ❣

@theartofmadeline
todays bird
cherry valley forever
h
NASA
almost home
trying on a metaphor
YOU ARE THE REASON
Alisa U Zemlji Chuda
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

roma★
seen from Poland
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from Spain
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Indonesia

seen from United States
seen from United States
seen from Iraq
@myalonika
my love language is reminding you of your potential and pushing you to become everything you are capable of becoming.
nothing to lose
semakin kita mengenal diri kita dengan baik, dengan segala value kita, dengan apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan kita, paham dengan apa yang kita deserve, paham dengan apa-apa yang tidak akan mau kita tolerir, maka akan semakin mudah dan merasa biasa-biasa pula kita menghadapi penolakan, kepergian, ditinggalkan, dan juga melepaskan sesuatu.
kenapa? karena nothing to lose. kita tahu bukan kita yang kehilangan, tapi mereka.
kita adalah keberuntungan dalam hidup mereka. saat mereka memilih melepaskan, dan tidak memperlakukan kita dengan baik. merekalah yang rugi, bukan kita.
untuk sampai di pola pikir ini tuh butuh bertahun-tahun menjadi people pleaser. butuh bertahun-tahun mengemis agar diperhatikan, disayangi, dan dicintai. butuh bertahun-tahun pulih dari duka ditinggalkan dan memohon-mohon seseorang untuk tetap tinggal.
jadi emang butuh waktu yang gak sebentar untuk sampai pada tahap,
recorvery dan move onnya bisa lebih cepat
akal dan nalarnya masih bisa berjalan dengan baik meski udah setengah waras
udah lebih cuek sama apa-apa yang datang dari orang lain dan gak bisa kukendalikan. orang mau pergi? silakan. kalau perlu kubukain pintu. tapi jangan harap buat bisa balik.
untuk sampai di keadaan ini, aku belajar untuk lebih mencintai diri sendiri, dan memahami apa yang sebenarnya aku mau dan butuhkan. aku belajar untuk lebih mendengar apa yang sebenarnya badanku mau. mulai dari yang kecil, belajar mengetahui prioritas. kayak kalau badan udah mau remuk, dan mata udah setengah wat, yah langsung tidur. jangan dipaksa buat tetap melek, apalagi bila cuman buat main ponsel atau chattan sama seseorang. atau yang paling besar ya langsung cut off orang-orang yang cuma bikin nambah pikiran. dan juga pasang batasan, dan belajar menghargai batasan tersebut. jangan suka tawar-menawar sama batasan yang kita buat, karena akhirnya malah kita jadi menyepelakan batasan tersebut.
diriku yang saat ini gak terbentuk satu malam. aku masih banyak bingungnya. aku masih banyak kelirunya. tapi aku yang masih kecil pasti akan dengan lantang mengatakan bahwa i became someone that i wish for.
Halo kak... aku sering liat kamu ngasih kado/hadiah secara random ke orang2 yang dibuat dengan niat dan super ekstra. Tapi... kamu pernah ga, ngasih ke orang, dan orang itu tidak apresiatif sama sekali? How do you feel and/or how do you deal with that?
Soalnya aku lagi ngalamin hal ini... rasanya sedih banget karena yang dikasih tidak memberi respon apa2 sama sekali. I thought it's a bare minimum to appreciate what someone gives to you? I just wanna know how she feels about what I gave to her. Tapi, ngomong sepatah katapun ngga... di sisi lain, rasanya kok jadi kayak pamrih banget ya? I expected too much, dan kayaknya aku malah dosa jatohnya karena mengharapkan dapet reaksi/respon dari orang tersebut? Padahal kalo ngasih mah harusnya ikhlas aja gausah ngarep apa2, kan? I shouldn't feel this way...
Maaf ya jadi curhat... :") tapi aku penasaran banget sama pandangan kakak akan hal ini. Terima kasih banyak!
Halo! Aku jawab satusatu yaa 🌻 btw aku akan nyerempet curhat banyak dan jawabannya bakal panjang banget, just a heads-up 👌✨
Pernah nggak, setelah ngasih hadiah ke orang lain, penerimanya nggak bilang apa-apa/kurang apresiatif?
Tentu saja pernah 😂
How do you feel about that?
Tentu saja ada perasaan kecewa-nya 🙂👍.
Tapi, ada beberapa hal yang mungkin bikin aku secara pribadi lebih gampang 'yaudah'-in situasi seperti ini.
1. Aku udah lama nggak ngasih hadiah ke seseorang dalam rangka momen spesialnya. Kalaupun aku ngasih di momen tertentu, biasanya karena aku merasa butuh 'alibi' untuk mengurangi kemungkinan penolakan serta perasaan 'ga enak' (atau curiga) penerimanya.
Jadi alasan utamaku ngasih hadiah tuh.... lebih 'egois'. Bukan 'untuk merayakan dia ulang tahun/wisuda/dapet kerja/resign'--tapi karena 'aku lagi pengen aja'.
Gitu doang sih sebenernya. Tapi bagiku niat itu ngaruh banget. Kalau aku ngasih hadiah untuk merayakan seseorang, itu artinya aku akan fokus ke gimana dia menerimanya. Kalau aku ngasih hadiah karena aku lagi pingin aja, artinya begitu hadiahnya kusampaikan, keinginanku sudah terpenuhi.
Mungkin terdengar aneh tapi semoga bisa dimengerti, ya 😂.
2. Tiap ngasih hadiah, aku cemas banget 😂. Selalu lebih condong menaruh ekspektasi serendah-rendahnya. Untuk poin ini aku cerita aja, ya, bukan buat ditiru. Aku juga mau ngilangin atau minimal mengurangi perasaan kayak gini.
Tiap ngasih hadiah aku selalu overthinking sampe bisa aja aku udah beli hadiahnya di tahun x, terus baru aku kasih satu tahun kemudian saking galaunya.
gimana kalau dia ngga suka? Aduh, ini barang sebenernya ngga guna gasih? Gimana kalau yang aku kasih ini malah jadi beban? Jadi pengumpul debu doang? Gimana kalau udah ada orang lain yang ngasih ginian juga terus dia jadi punya dobel? Gimana kalau dia udah beli sendiri?
Makanya paling enak tuh ngasih hadiah yang emang aku liat orangnya posting di sosmed bilang pingin tapi belum bisa beli sendiri dalam waktu dekat 😂. Dijamin tepat sasaran, kan.
Ok jadi karena aku mikir begini, aku ya bisa biasa aja kalau reaksi penerimanya 'antiklimaks' buat aku.
3. I'm not necessarily the best gift receiver myself. Alias, aku ngaca. Ini sepertinya ngga akan relate sama kamu. menebak dari uraian panjang kamu, kamu orang yang memuliakan perasaan orang lain--lebih dari perasaan kamu sendiri.
Aku suka ngasih hadiah, tapi aku bisa sangat gugup kalau menerima hadiah. Kayak 'hah kok ada yang mau ngasih aku hadiah????' terus malah bingung. Aku kalo overwhelmed jadi diem. Jangankan dikasih hadiah, orang respon positif banget setelah aku kasih hadiah juga aku bengong karena overwhelmed. 'hah kenapa seneng banget? Perasaan itu ngga seberapa???'
Iya, aku harusnya kembali konseling ke psikolog buat benerin sense of self worth tapi aku males.
bingung respon apa yang kira-kira sepadan energinya. Kadang karena kelamaan bengong aku jadi respon minim banget.
(🙂 maafkan, ya, kawan-kawanku yang pernah ngasih hadiah ke aku terus lagi zonk dapet indirak versi begini).
Aku juga punya selera yang spesifik (alias picky, lol). Jadi ngga semua hadiah dari orang aku suka atau merasa bisa make. Aku tetep seneng nerima hadiah karena ya gimanapun itu adala suntikan energi dari orang yang memakai sebagian waktu dan sumber dayanya yang berharga buat mikirin aku dan memberi aku sesuatu.
Tapi ya kalau ngasih aku sesuatu yang nggak tepat sasaran selera aku atau jenisnya nggak biasa aku pakai, ya sejujurnya aku nggak suka barangnya dan kemungkinan nggak akan pakai.
Dengan pemikiran seperti ini, waktu ngasih sesuatu ke orang lain dan aku ngga lupa, biasanya aku tulis di surat:
'kalau nggak cocok, kira-kira nggak pingin pakai, atau kelak bosan sama barang ini, please feel free to pass them to someone else, ya'
Tentu ini cuma berlaku untuk hadiah yang tidak dipersonalisasi. Kalau kita ngasih notebook kulit pakai grafir nama kan ya susah dikasihin orang 😂 (atau scrapbook isi memento dan foto-foto dsb).
Dengan latar belakang demikian, aku jadi lebih mudah memposisikan diri aku di orang yang nggak bilang apa-apa setelah menerima hadiah dari aku.
Jadi lebih bisa legowo.
How do you deal with the feelings?
Yang paling penting, mengakui dan menerima perasaan sendiri. Kalau aku kecewa? Yaudah, divalidasi aja.
Iya, aku kecewa karena sesuatu yang udah aku usahakan dengan sungguh-sungguh, yang udah aku pikirin banget, yang udah menyita energi serta uang aku--nggak direspon dan diapresiasi.
Kalau masih kurang validasi, minta validasi ke teman terdekat yang kamu tau gaakan judging apalagi malah nyalahin. Kalau aku sih ke yeci (ya siapa lagi?).
Anyway, kamu ngingetin aku sama diri aku sendiri di tahun 2018, berdebat sama psikolog:
'aku nggak mau nyalahin mereka karena ya bukan salah mereka sebenernya'
'ya tapi kamu nggak perlu nyalahin diri kamu sendiri juga cuma karena mereka nggak salah.'
'terus kalau aku nggak nyalahin diri aku sendiri, harus jadi salah siapa?'
Kalau diinget sekarang, lucu juga indirak muda.
Sekadar mengingatkan,
Kita sebagai manusia itu emang dirancang untuk merasakan berbagai macam perasaan. Kedudukan perasaan 'positif' itu sama dengan perasaan 'negatif'.
Mentang-mentang disebut perasaan negatif, bukan berarti kalau kita merasakannya, kita jadi melakukan kesalahan. Atau perasaan itu jadi mesti ditelisik dan diupayakan untuk dibasmi.
Emang bisa? 😂
Spoiler: ngga bisa.
Lagian manusia macem apa bahagia atau netral terus???
Ngga ada yang bikin aturan kita harus merasakan apa terhadap situasi apa. Kalau ada, lagi-lagi, emang kita bisa ngontrol perasaan sendiri? Bisa, ngontrol gimana respon orang lain biar kita nggak merasakan perasaan tertentu?
Spoiler: ngga bisa juga.
Yang bisa dikontrol ya gimana respon dan tindaklanjut kita terhadap perasaan tersebut. Apakah karena marah jadi ngerusak sesuatu, apakah jadi nyakitin orang lain? Apakah yaudah biar ga terlalu kesel curhat aja. Atau jajan es krim. Atau setel lagu dan karokean sendiri. Arau joget?
Kurang-kurangin 'i shouldn't feel this way'. Sekali lagi: kaga bisaaaaaa diatur-atuuur.
Balik ke topik, menurutku nggak ada yang salah dari menginginkan validasi dari orang lain, selama kita nggak bergantung penuh padanya, alias ya kita juga mampu ngasih validasi ke diri sendiri sebenernya. Cuma pengen aja lah divalidasi orang lain. Emang ga capek, apa, validasi diri sendiri mulu.
Perfectly normal dan oke oke aja kamu merasa kecewa atau berharap temen kamu menunjukkan rasa senang atau apresiasi terhadap hadiah kamu.
Kalau kemudian kamu memutuskan untuk 'dah ah ngga usah ngasih apaapa ke dia lagi'--itupun gapapaaa.
Penasaran mau coba ngasih hal lain lagi siapa tau responnya beda? Gapapa jugaaa.
Bonus:
Hal yang aku lakukan untuk mengurangi overthinking ngasih hadiah dan mengurangi mengharap validasi penerima adalah,
Ngirim hadiah langsung dari tokonya. Jadi yang nerima gatau kalau aku yang kirim.
Pertama, minimal effort. Mengurangi kepikiran nambah naninu atau nulis surat naninu sebelum kirim.
Kedua, tujuannya jadi bercabang:
1. Bikin bingung
2. Bikin seneng.
Bikin seneng belum tentu, bikin bingung nyaris pasti.
MUAHAHAHAHAHAHAHA
Dah ah. Kamu juga mesti capek bacanya panjang betul 😂. Jangan lupa minum air puti cukup dan makan buah! Atau jajan apa gitu yang enak-enak. Apresiasi diri sendiri sudah bertahan hidup sampai hari ini ♥️
Semoga setiap "enggak apa-apa, bismillah" bisa meluaskan hati kita sehektar demi sehektar :")
Allah can heal your hurting heart in the next second. He can change your situation the following day. He can make miracles happen for you the next morning you wake up. But right now your heart is throbbing with pain. Right now your life is falling apart. Right now nothing makes sense. But right now you're waking up to pray Fajr. Right now you're trying to remember Him throughout the day. Right now you're pouring your heart out to Him in duaa. Right now Allah wants you to keep bringing all the broken pieces to Him. To keep seeking His closeness and then one day just like that, weeks or months later– He will heal your heart. He will seal your wounds and there will only be faint scars left. The things that make you cry so much and keep you awake at night, they wont bother you so much anymore. He will make that happen for you. He will have mercy on your heart. But you have to travel the journey that leads you to Him. And when you look back you'll realise the moments that you were the most vulnerable were the sweetest moments of your life. They brought you back to your Creator.
atas doamu, aku mampu bertahan melawan dunia yang kadang berisik ini, Bu. terima kasih.
Aamanuu bil Ghaibi
Pengen cerita yang agak personal. Ada satu hal kecil yang mengubahku di Ramadhan kali ini. Ceritanya gini..
(disclaimer: mengandung sedikit cerita seram, poin berharganya ada di beberapa paragraf akhir)
Entah, sejak pertengahan 2024 sampai awal tahun 2026 ini, rasanya ibadahku agak kering. Kayak.. sulit melibatkan sisi afektif/emosional dalam ritual ibadah mahdah. Nangis pas sholat mah pernah sih seenggaknya sebulan sekali. But often, I analyze my feelings instead of feeling them.
Aku nggak mau pakai chatgpt saat memikirkan ini dan kenapa aku bisa kayak gitu. Cuma kalau dipikir-pikir, kemampuan mengobservasi atau "helicopter viewing my feeling dari sudut pandang orang ketiga" ini sebenarnya bermula dari detachment. Alias, aku enggan merasakan perasaan, karena aku tau, aku akan terdampak lebih nyeri atas perasaanku ketimbang kebanyakan orang, begitu aku mengizinkan diriku merasakan. Akhirnya aku selalu nyepelein bahwa ujian hidupku nggak ada apa-apanya dibanding yang lain. Padahal mah nggak apa-apa juga kalau mau kasihan sama diri sendiri. Valid kok kalo mau sedih pun.
Setahun lebih, aku mulai merasa aman dengan jangkar kognitifku alih-alih afektif. Tapi aku tau ini nggak sehat. Kenapa? Aku bisa mendekati Allah dan membaca Qur'an sambil tau maksudnya, sambil pretelin maknanya, tapi aneh aja, karena justru nggak ada outcome emosional yang terasa. Kadang cuma mind-blowing aja, abis itu udah.
Padahal ngga bisa disangkal, meski "iman rasional" itu ngasih konsistensi dan understanding, "iman emosional" itulah yang biasanya ngasih bahan bakar lebih besar untuk kita ngelakuin apapun. Nah yang beberapa kali bikin nangis pas sholat tuh justru pas bilang ke Allah, "tolong ajarin aku caranya merasakan yang benar, yang Engkau mau. Ini bukan hatiku terlalu keras kan?"
Mungkin ini cuma coping mechanism yang berbentuk freeze respons aja dari apa yang udah kulalui. Mungkin sistemku sengaja shutdown karena kalo on, bakal gampang terluka dan aku cuma takut menjadi lemah gara-gara itu. Kalau nggak freeze respons paling-paling flight, kabur nyari meme atau main catur. Untungnya aku bukan tipe yang memendam terus jadi bom waktu, jadi entah kenapa kesedihan itu cukup gampang terkonversi dengan kacamata hikmah.
Nah, itu prolognya. Aku ngga tau, ini kemudian jawaban dari Allah, atau aku emang harus ngejadiin itu salah satu jawabannya. Beberapa hari lalu, aku scroll facebook (akun buat hunting meme hahaha) dan di grup meme itu ada orang yang nyaranin nonton satu video YouTube.
Videonya tentang Ghost Ranger Indonesia, which is mereka itu terdiri dari dua orang (Erik dan Dika) yang berburu entitas ghaib dengan alat pendeteksi gelombang elektromagnetik, beserta alat-alat lainnya. Yang aku tangkep, dua orang ini berusaha melakukan approachment terhadap hal ghaib dengan teknologi.
Beberapa videonya aku tonton, terutama yang paling seram itu waktu di rumah peninggalan Belanda (Anneke Frelier), hotel bekas pemb*nuhan, Desa Cimeong dan perdukunannya, bekas klinik ab*rsi, dan bekas pabrik. Nggak cuma itu, aku juga nonton collab-nya mereka dengan Jurnalrisa dan Kisah Tanah Jawa, which is, aku terakhir ngikutin dua itu kayaknya tahun 2020 deh.
Outcome-nya ke diriku setelah nonton banyak banget. Rasa takut mah ada, normal lah ya. 20-30% kali. Sisanya, mikir-mikir ulang tentang akhirat.
"Residual energi" macam apa yang seorang Giza mau tinggalkan di dunia setelah kematiannya? Hidup seperti apa sih yang Giza mau orang kenang? Kematian macam apa yang Giza inginkan?
Dan, tervalidasinya keberadaan alam ghaib dengan verifikasi dua arah (pendekatan teknologi dan kemampuan indra keenam) membuatku yakin ulang tentang adanya kehidupan lain. Entah disebutnya energi, entitas, jin, atau apapun itu. Masuk akal sih penjelasannya juga, memang ada gelombang yang nggak bisa dilihat oleh mata manusia, tapi bisa terdeteksi oleh alat.
Yang terpenting, cara pandangku tentang sholat juga diperbarui lagi. Aku mulai sadar ulang, pentingnya memelihara sholat. Inget Allah bilang jadikan sabar dan sholat sebagai penolong kan?
Maka.. sabar aja, dunia mah sebentar. Katanya sholat adalah hal yang paling didambakan oleh mereka yang udah wafat. Terus berlaku baiklah, jangan tinggalkan "residual energi" yang buruk. Banyak kejahatan di surat al-Falaq yang dapat dihalau oleh sholat dan doa. Ada insight baru juga, di podcast Om Hao (Kisah Tanah Jawa), bahwa ada jenis jin/energi/entitas yang terkenal karena kemarahannya. Terus ada yang terkenal karena lust-nya, atau kata Om Hao, nafs ammarahnya (which is, ketidakmampuannya mengendalikan nafsu duniawi/materialisme seperti harta, tahta, lawan jenis). Gila ya, itu semua akarnya dari cara manusia memproses realitas yang terjadi padanya. Dari rasa takut dan harap kepada Allah juga.
Ada insight lainnya dari video terbaru Jurnalrisa tentang kematian menurut A Angga. Beuh, di situ diingetin berkali-kali tentang sholat. Betapa sholat akan menjaga kita, kalau kita memelihara sholat. Terus ke recall juga salah satu video lama tentang entitas yang dulunya nggak mau sholat jadi punya unfinished business di alam sana.
Selain itu, yang menarik juga di salah satu video Ghost Ranger Indonesia waktu nginep di hotel bekas pemb*nuhan. Kasusnya bahkan sampai entitas tersebut dapat mempengaruhi manusia untuk memb*nuh manusia lain dan memb*nuh dirinya sendiri. Even, Erik dan Dikanya sendiri pun nyaris dipengaruhi dengan cara yang sama. Tapi Dika bilang, "nggak usah. Saya mah punya Allah. Allah jagain saya."
Banyak unfinished business di "alam lainnya" yang energinya sedih, serem, miris, dan nyesek karena manusia-manusia itu nggak sabar menghadapi ujiannya. Either itu kasus perdukunan (contoh: kasus warisan di video Ghost Ranger Indonesia), atau kasus b*nuh diri, ab*rsi, dan perzinaan. Asli, sampai kedengeran bayi nangis. Apa ya kalimatnya tuh, kalo ga salah, kata Om Hao, "bahkan bayi-bayi yang diab*rsi ini sangat menginginkan kehidupan. Mereka bertanya-tanya, kenapa orang tuaku nggak menginginkan aku?" Merinding. Betapa berharganya kehidupan kita yang cuma satu kali ini.
But siapalah aku nge-judge orang-orang itu nggak sabar, ketika aku aja pun sekarang nggak sabaran juga. Tapi poinku bukan soal judge-menjudge. Lebih ke.. ketika Allah perlihatkan akhir dari sebuah perbuatan, gimana kita ambil hikmahnya? Mau ngulang kayak mereka? Apa ambil arah lain?
Maka, penting sekali punya mental yang sehat dan mensyukurinya. Jauhkan jiwa kita dari apa-apa yang dapat merusaknya. Jangan cederai fasilitas penghambaan ini dengan cinta-cintaan yang gak perlu atau hasad yang gak ada ujungnya. Ngeri kalo mental yang kena mah, setan jadi gampang pengaruhinya, mulai dari mempertanyakan self worth, mempertanyakan keadilan dan kebaikan Allah, mempertanyakan kebijaksanaan ketetapan Allah, nyari harga di pandangan manusia lainnya, paling buruknya pengen b*nuh diri.
Bayangin, hal paling indah yang Allah kasih ke kita adalah hidup itu sendiri. Allah pengen kita ada di hidup-Nya. Allah mengundang kita merasakan Dia. Allah mengadakan kita untuk menyaksikan, mendengarkan, dan menghidupi hidup beserta isinya.
Lebih dari sebuah kehormatan, hidup itu sendiri harus dirayakan dengan 'kegembiraan, kemerdekaan, dan kesyukuran'. Nggak ada pihak manapun yang bisa kasih kita eksistensi semacam itu selain Allah. Maka patutkah kita membuang hidup cuma gara-gara ada satu 'pandangan' manusia yang mengecilkan dan meniadakan kita? Patutkah kita terjajah oleh belenggu pada yang fana?
Kerasa kok, jiwa yang rusak mah nggak enak dibawa jalan di jalan kehidupan apalagi di jalan Allah. Tadinya sering agak kesel juga sama orang yang suka nyuruh sholat kalo ada orang lain yang curhat soal penyakit mental. BUT TRUST ME, sholatlah gais sambil terus sabar dalam bersholat. Yakin deh bakal turun suatu rahmat ketenangan yang ga bisa dijelasin pake akal. Emang cuma bisa dirasain sama yang ngelakuin.
Aku bilang gini pun sebagai orang yang sholatnya masih buruk, soalnya pengen coba mengizinkan apa yang aku tonton menjadi jawaban atas keringnya ibadahku. Aku mau mengizinkan ramadhan mempengaruhiku meski kayaknya bukan perubahan besar. Gapapa, mulai lagi dari yang fundamental. Mudah-mudahan efek berkahnya kebawa sampai setelah ramadhan.
Gitu aja, maaf menggebu-gebu. Ambil yang baiknya.
Insight terakhir yang agak mind blowing:
Masuk akal Allah taruh "yu'minūna bil ghaibi" sebelum "yuqīmūna ash-sholata" di awal surat Al-Baqarah. Kayak.. setangkepku, beriman kepada hal ghaib adalah salah satu penguat kita dalam mendirikan sholat.
Itu aja ah, ngga mau elaborasi panjang-panjang soal ini, dirasa-rasain aja yah wkwk. (Nanti mungkin bakal elaborasi mandiri dan bakal share kalo nemu insight mind blowing soal iman kepada yang ghaib - mendirikan sholat)
— Giza, mau benerin sholatnya
Guide me to everything that makes you happy with me.”
Seni Memutarbalikkan Fakta
Idealnya, ketika seseorang disakiti, dia berhak memilih bagaimana cara menyembuhkan dirinya. Entah dengan diam, berbicara, atau bahkan menuliskan semua lukanya. Tapi kenyataannya, ada satu spesies manusia yang gemar menciptakan aturan tak tertulis. Korban harus diam. Korban harus menerima. Korban harus mengemas kesakitannya dengan cara yang nyaman bagi orang lain.
Lucunya, spesies ini bukan cuma pelaku, tapi juga lingkaran orang-orang di sekitarnya. Mereka bukan hanya gagal menghibur, tapi juga sibuk mengontrol.
“Dia yang cerita ke orang lain, padahal katanya gak mau cerita.”
"Dia udah kasi spoiler lewat tulisannya."
Menarik. Jadi sekarang korbannya yang salah? Bukan yang mengkhianati, bukan yang menyebarkan cerita duluan, tapi yang akhirnya berani bicara? Sejak kapan luka butuh izin untuk diceritakan?
Lebih konyol lagi, ketika mereka tertangkap basah sebagai penyebar pertama, alih-alih meminta maaf, mereka malah sibuk mencari justifikasi. “Oh, aku cuma bilang bentuk pengkhianatannya doang, gak cerita detailnya.” “Oh, itu ‘wkwk’ buat pelakunya, bukan buat dia.” “Oh, aku kira dia udah cerita.”
Orang-orang seperti ini adalah spesialis manipulasi pasif. Mereka tidak menyerang langsung, tapi cukup dengan satu atau dua kalimat yang menggiring opini, korban bisa dibuat merasa bersalah. Mereka bersembunyi di balik nada ringan, seolah-olah yang marah itu berlebihan.
Mereka lupa satu hal—Senyum sinis di ujung luka orang lain tetaplah bentuk penghinaan. Menertawakan situasi yang menyakitkan tetaplah bentuk ketidaksensitifan, meski hanya dalam satu ‘wkwk’.
Di balik semua ini, ada pertanyaan yang lebih besar. Kenapa mereka lebih sibuk mengontrol suara korban daripada menegur pelakunya?
Karena bagi mereka, kejahatan bukan sesuatu yang perlu dikutuk. Yang perlu dikontrol adalah bagaimana korbannya merespons. Pelaku bisa selingkuh, tapi korban gak boleh marah berlebihan. Pelaku bisa mengkhianati, tapi korban gak boleh ngomong ke orang lain. Korbanlah yang harus menjaga citra pelaku, bukan sebaliknya.
Dan untuk orang-orang seperti ini, gue cuma mau bilang, BACOT LU TAI!
Nggak semua perkembangan terlihat tumbuh ke atas. Bisa aja mengakar kuat ke dalam.
@milaalkhansah
it's just dunya after all
Salah satu perubahan yang aku notis di diri aku di tahun ini ialah, aku menjadi semakin tenang dalam menghadapi banyak hal, sehingga hari-hariku kini juga berjalan dengan lebih ringan. Kalau aku di tahun-tahun sebelumnya kerap mendramatisir, overthink, dan berlarut-larut dalam berbagai kejadian, sekarang udah lebih kek, "it is what it is, and just let it be" lebih cuek, lebih careless. Akhirnya sekarang lebih cepat move on, dan legowo terhadap apa pun.
Penyebabnya mungkin karena aku sekarang udah capek berusaha mengontrol banyak hal sesuai kemauan—udah lebih kek pasrah dan terserah Allah aja mau membawaku ke mana, toh Dia yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hidupku, makin dewasa makin gak ada energi buat pusingin hal gak penting, dan udah lebih menerima juga bahwa toh it's just dunya after all jadi emang buat apa menyimpan sesuatu yang gak berguna buat akhirat, dan pada akhirnya akan kutinggalin dan terlupakan juga.
Tapi bukan berarti sekarang aku hidup tanpa ambisi dan keinginan sama sekali. Namun lebih ke udah punya mindset, "kalau terjadi dan terwujud alhamdulilah, kalau enggak juga ya nggak papa, kek yaudah sihh." Jadi bermacam bentuk kesibukan yang mengisi hidupku saat ini bukan karena aku lagi ngejar sesuatu dari dunia, dan pengen hidup lama di sini, melainkan itu semua hanya sebagai bentuk memanfaatkan jatah umur yang udah diberikan Allah dengan semaksimal mungkin dan menunggu waktu untuk dipulangkan.
Sekarang fokusku hanya memperbanyak bekal pulang. Terutama melihat keadaan dunia saat ini dan berbagai huru-haranya jadi buat mikir kek, "emang mo ngapain lagi sih hidup lebih panjang?" Soalnya udah capek banget jadi manusya jujur. belum lagi ketika mengingat pertanggungjawaban yang sedang menanti, duh, kek "ya allah ini bisa langsung masuk surga aja gak sih?"
Aku juga udah tau mau menjalani hidup yang seperti apa—hidup yang sangat jauh dari patokan standar hidup sejahtera dan bahagia versi orang kebanyakan. Dan aku sudah oke dengan itu semua. Kalau dulu apa yang orang lain miliki rasanya pengen aku miliki juga, apa yang orang alami pengen aku alami juga, sekarang. "I'm happy for them. It's good for them!" Yah again, setiap pilihan hidup ada risikonya masing-masing dan setiap dari kita hanya perlu memilih jalan mana yang bersedia kita tempuh dan mampu kita terima dan pertanggungjawabkan konsekuensinya. Karena hanya hidup kita berbeda, bukan berarti hidup kita tak lebih berharga daripada hidup orang lain.
Hari-hari nangisin sumatera dn sekitar. Hasrat ingin misuhin pemerintah 📈
Praying your 5 daily isn't "being religious" its the bare minimum