...menjauh, untuk mengenal. saya akan sampai, tunggu!”

roma★
Today's Document
ojovivo

Origami Around

Kaledo Art
Stranger Things

No title available

@theartofmadeline
AnasAbdin

Discoholic 🪩

No title available

titsay
he wasn't even looking at me and he found me
d e v o n
sheepfilms
occasionally subtle
noise dept.
No title available

No title available
TVSTRANGERTHINGS
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Canada

seen from Lithuania

seen from Poland

seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia

seen from Germany
seen from Indonesia

seen from Brazil
@naafifathar
...menjauh, untuk mengenal. saya akan sampai, tunggu!”
Tidak Waras
Hampir setengah dekade, saya tidak menulis; kepala saya lepas kendali! Salah satu saksi hidup saya - berlogo burung biru, selama sepuluh tahun lebih, telah terhapus bulan Oktober 2019 lalu. Salah satu keputusan terbesar yang pernah saya ambil, karenanya, saya merasa tidak waras. Terlalu banyak gejolak yang saya alami sejak 2018. Saya kehilangan kendali, saya tertekan dari banyak arah. Karenanya, mohon maaf bila banyak pesan-pesan yang belum saya baca, saya sedang membutuhkan spasi. Saya tidak tahu cara untuk menumpahkan seluruh pikiran saya menjadi sebuah karya yang ingin saya resapi setelahnya. Ternyata saya rindu menulis; menumpah-ruahkan seluruh kehidupan dan sampah pikiran, untuk terus tetap waras. Sedang saya rindu berbagi kisah, tanpa perlu huruf-huruf yang tak saya pahami, tetapi saya suka keterasingan, juga mengetik. Sejujurnya, sangat berat menghapus salah satu sosial media yang hampir setiap jam tersentuh jari -- karena semua ada di sana, mulai dari segala informasi hingga sampah-sampah pikiran saya namun karenanya saya merasa overhelmed!, harus terhapus tanpa recovery apapun di dalamnya. Saya harus lari! Saya hampir gila tanpa menulis, meski isinya masih kopong tetapi banyak sekali olahan-olahan pikiran yang ingin saya tulis, menuju salah dua blog yang hampir bersalang laba-laba karena saya tidak membukanya lebih dari lima tahun! So, welcome back to the old worlds. Also welcome, me, to the maturity process!
suda beberapa kali repeat kartun saat scene ini, tetap sukak! ekspresi yang selalu saya lakukan ketika berucap: pertama kalinya. tentu Rapunzel lebi manis dan wibawa. always be my favourite dream, y!
o iya, beberapa akhir ini saya senang sharing terkait (beberapa) film, kegiatan, dan sampah pikiran saya pada akun twitter. walo suda tingkat akhir haha. sila diskusi bila berkenan. salam kegelapan~
FRIDA KAHLO ‘Heroine of Pain’
arwah belio sekarang selalu bikin saya penasaran. mengapa ada orang yang selalu mengangkat dirinya sendiri menjadi objek yang pahit.
seseorang yang lain bertanya, “kau tahu astronot?”. pikiran saya hanya terlempar pada orang dengan perawakan besar karena badannya ditutupi oleh pakaian berwarna putih yang tebal dengan helm transparan. mereka berjalan, berlompatan, dan berlemparan batu bulan untuk membuktikan bahwa di luar angkasa tidak ada udara. langit hitam tak berbatas seperti lahan yang sering Beliau gunakan untuk berkelana dan bermain pada buku Z yang kemarin baru ibu guru baca di depan kelas.
“orang yang paling pandai di dunia, menurutku, astronot! mereka tahu banyak hal. berpuluh-puluh tahun belajar, mereka belum pasti ditugaskan untuk meluncur ke luar angkasa. barangkali semangat mereka yang tinggi memaksaku untuk memiliki impian seperti mereka. aku ingin menjadi astronot!” W menjawab penuh dengan suka cita. tangannya yang mengembang berhasil menarik kaos merah jambunya terangkat hingga pusar. setiap kaki ia tugaskan untuk berlarian menuju sebuah kardus bekas dengan senyum yang merekah. hap! badan mungilnya berhasil menyatu dengan kardus bekas.
badan saya tetap terdiam di atas rumput yang basah. kepala saya terbentur oleh imajinasi yang gelap. luar angkasa selalu gelap dengan titik-titik bintang. saya belum pernah melihat astronot maka bibir saya kunci rapat-rapat, lalu menarik sebuah senyum saat W melanjutkan ucapannya. “kemarin kakak bercerita tentang astronot yang senang berjalan-jalan di luar angkasa saat matahari tenggelam dan terbit, namanya Om Hadfield! kakak menceritakannya dengan pipi yang sumringah dan jari tangan yang menggelitik. ha ha. aku ingin menjadi petualang!”
W meneroboskan kedua kaki, melawan dasar kardus bekas yang tertutup solasi. Wus! W sekarang terbang dengan tangan yang kini matang dengan warna kardus bekas dan kedua kaki yang panas dengan api merah sebagai gas terbang.
ibu seseorang yang lain mencoba untuk menangkap W dengan jaring laba-laba dan celana saya semakin basah karena terlalu lama duduk pada rumput yang belum kering.
saya sedang menyukai gubahan puisi Chairil Anwar yang dibawakan oleh Deugalih & Folks. menarik sekali cara mereka menerjemahkan suasana pada puisi tersebut, kata salah seorang yang saya temui pada salah satu hasil wawancaranya.
Buat Gadis Rasid
Antara daun-daun hijau padang lapang dan terang anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian burung-burung merdu hujan segar dan menyebar bangsa muda menjadi, baru bisa bilang “aku”
Dan angin tajam kering, tanah semata gersang pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku - mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat - the only possible non-stop flight Tidak mendapat. 1948
Kemarin lusa saya pergi ke suatu tempat. Berbagai tingkat rakyat menghadiri pidato yang dibawakan oleh salah seorang pendiri dari majalah yang selalu kritis dengan permasalahan negaranya. Malam memang selalu tak pernah bersahabat dengan kain sorban yang dikenakan oleh pria yang sedang menunjuk layar.
Foto ini mengingatkan saya pada salah satu film yang diangkat dari novel Dan Brown, seorang profesor membuka diskusi dengan menunjuk tangannya pada layar yang menayangkan salah satu lukisan lama. Saya tidak pernah membayangkan kadar kesenangan saya tersangkut pada salah satu scene dari film tersebut.
“Buta yang terburuk adalah buta politik”, Bertolt Brecht berpendapat, “dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik”. Saya kira politik hanya berputar pada kekuasaan dan kebijakan yang terlepas dari harapan. Pada kenyataannya salah, saya seorang buta politik yang terus merendah dengan sebuah kebiasaan.
Sebuah karya muncul dari adanya pemikiran atas respon terjadinya fenomena. Bila seseorang memutuskan untuk menyukai suatu hal akan ada timbal balik yang diakibatkan oleh hal lain. Tidak sedikit dari kita yang sibuk mencari bakat, kesempatan, hingga peluang untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Ketimpangan ketiga hal tersebut saya rasakan sangat kuat terjadi di beberapa tempat. Sekelompok orang berusaha untuk merendah hingga sekian meter karena pengetahuannya yang tinggi, sekelompok yang lain berusaha untuk merendah hingga sekian meter karena pengetahuannya yang memang rendah. Kelompok abu-abu berkontradiksi dengan perilakunya masing-masing.
Mimpi dan kenyataan dapat menjadi chaos lalu berubah menjadi sebuah rezim. Kita seringkali mengagung-agungkan sekelompok orang untuk dipelajari pola pikirnya hingga kita terjebak pada lingkaran kebodohan.
Apakah sekarang telah terjadi celah yang sangat besar antara kasta atas dengan kasta menengah?
Dari ekonomi hingga teologi, dari Eropa hingga Asia Tenggara, berputar pada pemahaman Amerika Latin dan Jawa-isme. Maka mari menjadi yang terjajah kembali dengan kemalasan membaca dan tidak bersiap untuk ditemukan.
Memburu Marah
Seseorang berkata kepada saya tentang salah satu jenis rasa yang seringkali saya hindar setiap bertemu dengan kawan lama. Ia bercerita tentang petualangannya menggali barang kusam lalu membawanya ke atas permukaan tanah.
Saya tidak mengerti, apa hubungannya barang kusam dan rasa amarah. Ia diam sejenak, menutup persendian tangannya dengan jaket biru jins yang selalu Ia pakai bepergian.
Apakah kamu tak mengerti, itulah masa depan! Saya hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia tertawa sendiri, tak sadar Ia katupkan kedua bibir tebalnya dengan sedotan di dalam gelas berisi penuh dengan es jeruk. Tenggorokannya penuh dengan peluh, jakunnya bergerak bagai siput yang berjalan dengan lamban.
Satu jam yang lalu, saya baru membaca tulisan yang mampu membuat saya mengeluarkan serapah paling buruk semasa saya kecil. Ia hanya mendiamkan tubuhnya di atas kursi dan bergantian mendengar cerita.
Saya tertawa, saya marah setiap kali membaca tulisan-tulisan itu. Lagi-lagi, Ia tertawa mendengar saya bercerita. Apakah ada yang salah? Saya ingin menangkap orang yang menulis tulisan buruk itu lalu melaporkannya kepada petugas keamanan.
Kau tahu, cantik? Kamu manis sekali saat kamu mengumpat. Akhirnya Ia berbicara menanggapi. Dasar lelaki, satu-satunya makhluk yang pandai menggunakan bahasa dewa hanya untuk teman wanitanya--saya bersikeras menahan kalimat ini di dalam hati.
Salah satu ukuran saya untuk terus membaca tulisanmu karena kamu berhasil mencabik setiap saraf jantung saya. Ia menunjuk dadanya dengan telapak kanan yang diatasnya terpakai sebuah jam tangan kulit.
Begitu pula dengan tulisan yang kamu baca. Saya memiliki sebuah keyakinan sederhana yang perlu kamu ketahui. Tangannya kembali menyentuh sedotan lalu mengatupkan kedua bibir tebalnya. Tinggal empat es kecil yang masih utuh di dalam gelasnya.
Jika saya berhasil bertemu dengan orang yang menulis tulisan buruk itu, saya akan memberikannya satu piring steak seharga lima puluh ribu, dengan es jeruk tentunya. Ia tertawa tipis melihat mata saya yang hampir keluar dari kelopaknya.
Saya terheran dengan ucapan yang baru saja Ia lontarkan. Saya benci dengan tulisannya, kamu tentu sudah membaca tulisan-tulisannya kan? Saya marah, kamu malah bahagia. Apa maksudmu?
Tulisan yang bagus itu ditandai dengan umpatan, manis. Suasana rumah makan semakin ramai saja dengan jam makan malam. Kamu berhasil mengumpat dengan kata yang paling kasar, itu justru sangat baik.
Alis saya terhayun tidak mengerti dan Ia terus berbicara. Jika kamu bertemu dengan tulisan itu sekali lagi kemudian kamu mengumpat kembali, tandanya tulisan orang itu sangat bagus karena kamu akan kembali mengunjungi tulisannya.
Akhirnya empat es kecil di dalam gelasnya menyatu dengan air jeruk yang bukan lagi disebut sebagai es. []
Make a new
Teknologi semakin menggerus kita untuk dapat beradaptasi dengan segala perubahan. Bila kita tidak memperoleh apa yang mereka peroleh, carilah dengan cara kita masing-masing. Bila kita tidak meraih apa yang mereka capai, korbankanlah apapun yang sanggup kita lakukan.
Video tersebut karya Tom dan Hubert tentang seorang pria yang tidur selama tahun 2016. Kreatif ya? Walau ada beberapa yang tak layak, mereka memaparkan berbagai fakta yang terjadi selama tahun 2016. Menarik! Apalagi kalau fakta tentang saudara timur dimasukkan ke dalam obrolan di antara mereka. Sebuah video sederhana yang menggugah kita, ke mana saja selama tahun kemarin?
Kemarin malam saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh Samantha Zhang. Ia menulis kalimat, “Reading is necessary to all creative works, but don’t value it too highly.”
Sebuah pikiran baru sebenarnya, ternyata ada banyak sekali pendapat yang bila kita olah kembali akan menjadi sebuah pertemuan baru yang menyenangkan.
Saya kira tools untuk mencari wawasan baru hanya sebatas buku dan inspirasi ala-ala rekomendasi dari rekan yang punya prestasi segudang. Ternyata tidak.
I met many thoughts of them, in the virtual world, about happiness.
Dunia kini berubah, setiap orang menghasilkan berbagai spekulasi terkait hari-hari yang akan datang. Inilah kelebihan Generasi Y, yang berlomba untuk meraih beasiswa luar negeri, berlomba untuk menghasilkan sesuatu, hingga yang berlomba untuk kebaikan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam .
Setiap orang tentu memiliki hobi membaca, lalu membuat karya, mengkomersialisasikannya pada massa, merombak pola pikir, mendapat sebuah manfaat.
Sebuah pola hidup yang saya dapatkan dari sebuah lingkungan beberapa tahun lalu, hingga saya bertemu dengan berbagai tokoh baru, sosok following baru.
Perombakan yang saya lakukan beberapa minggu silam sangat mengguncang pikiran saya hingga malam kemarin, ternyata ada banyak sekali yang harus saya lakukan dan pikirkan.
Inilah fungsi dari mengambil jeda dalam setiap kegiatan. Kita perlu mengambil napas untuk terus bergerak.
Sebuah kebiasaan baru akan membentuk jati yang baru.
Masa lalu tentu tidak bisa diubah.
Setiap orang punya jatah gagal. Ucap Dahlan Iskan. Habiskan jatah gagalmu ketika masih muda.
Is it too late for now?
Now just for a finally,
and we must to... get our happiness, and
make a new.
(2017)
Sampah Akhir Tahun
seseorang lahir dari kepahitan
tuna aksara lahir dari gerilya informasi
kau lahir, dari kepala.
(Desember, 2016)
Ternyata vakum dari dunia per-blog-an dan beralih ke dunia lain bisa mendorong untuk semakin banyak berpikir ternyata kita emang butuh sebuah napas untuk terus bergerak. Kalau kita terus bergerak, kita nggak bakalan pernah sempat berpikir; kita bergerak demi apa atau dengan alasan apa.
Bulan demi bulan saya baru sadar, bahwa terlalu banyak kebodohan-kebodohan yang saya lakukan selama beberapa tahun silam: saya seorang pengagum orang-orang nan hebat. Betapa pintarnya saya, atau mungkin kamu juga, yang mengagungkan tokoh-tokoh forum kepemudaan karena keberanian mereka dalam merakit berbagai bentuk perubahan nan berani di lingkungan sekitar mereka, bahkan di pelosok. What a beautiful action, isn’t it?
Hello? Mereka dikagumi? For what? Aih, banyak sekali tulisan yang mengungkapkan bahwa setiap orang memiliki perannya masing-masing. Ya kita semua tahu itu, tetapi tidak banyak yang benar-benar sadar. Sebuah kesadaran baru akan timbul ketika kita sedang menyerap napas-napas terakhir.
Saya hampir menjabat sebagai mahasiswa tingkat akhir sekarang, dan saya baru sadar. Hidup saya teronta oleh kepengaguman, menggali bahasa indah nan menawan demi sebuah pencitraan. Lupa bahwa dulu, dulu sekali, syair-syair banyak yang dilarang, apalagi dengan suara-suara perempuan yang berwujud lirik dengan bumbu musik ala-ala. Sekarang? Tidak sedikit umat orang yang berlomba menjadi seorang penyair hebat, seorang melankolis nan sederhana namun menusuk, seorang pembaca yang mengaku-aku sebagai sastrawan muda yang menuhankan bahasa dan rasa.
Following saya berubah 360 derajat, terhitung bulan Desember belum mendarat. Dulu saya menjadi followers aktivis para tumblr yang terkenal se-jagad tumblr, lulusan itb, unpad, ui hingga universitas yang saya pun belum pernah mendengar namanya, saya ikuti setiap pergerakannya.
But, for what?
Masa ketika saya begitu bangga merendahkan diri saya sebagai orang yang bukan apa dan siapa, bangga menjadi seorang pengagum kesendirian, bangga menjadi orang yang setia mengikuti perubahan open recruitment.
Sejujurnya, tumblr menjadi saksi kehidupan saya yang begitu renta terhadap pencitraan. Post tidak ada yang bernilai, terlalu banyak menuhankan bahasa, dan saksi kegalauan saya dari masa putih abu hingga hampir tingkat akhir perkuliahan ini.
Media lain yang begitu menampar saya ialah twitter. What, twitter? It’s too old! Justru semakin banyak ditinggalkan, media tersebut tampak lebih berguna. Tidak banyak sampah yang berserakan, dan following saya, tentu saja, entah kenapa, bisa berubah drastis! Dari yang hanya follow berbagai macam jenis kegiatan yang siapa tahu bisa nambah kinclong curriculum vitae, berubah! Saya jadi suka dengan issue kebudayaan, bahasa, dan sedikit politik. Selain itu juga bisa lebih bebas karena tidak banyak teman yang masih aktif twitter, as well as, kamu tidak perlu capek-capek menggunakan topeng untuk main twitter!
Baru minggu-minggu terakhir ini, saya begitu jatuh cinta dengan film lama. Ternyata film lama lebih ngena dibanding dengan film sekarang! Tapi tak menutup kemungkinan juga film-film sekarang banyak juga yang mumpuni dan tak tertebak. Selain itu, juga saya semakin jatuh cinta dengan film pendek. Kamu hanya perlu nonton dengan waktu yang sebentar, tapi kamu bisa dapat banyak sudut pandang dan value yang benar-benar segar! Oh my God, ke mana saja saya selama ini. Ternyata ada banyak sekali film lama, dan tentu film pendek, yang benar-benar recommended untuk ditonton. Bukan hanya blog dan kisah para pemuda hebat saja yang perlu untuk dikagum, film juga, buku apalagi! Tahun ini, eh bukan, tepatnya bulan Desember ini benar-benar menjadi titik tolak dari kehidupan seorang saya.
But, for what?
Suatu generasi lahir dan mati dengan caranya masing-masing. Ingat bagaimana generasi wabah hitam lahir dan mati? Ingat bagaimana generasi kenabian lahir dan mati? Ingat bagaimana generasi keilmuwanan lahir dan mati? Ingat bagaimana generasi penjajahan lahir dan mati? Lantas, bagaimana dengan generasi abad 20 ini? Apakah mereka, as well kita, mati dengan cara hilangnya intelektual? Atau dengan wabah dunia? Wallahu’alam.
But, for what?
Kelamaan cari jati diri bisa bikin mati orang! Maaf, kalau bahasanya kurang alim, but you must be carefull with your activity. Tidak sedikit orang yang mengaku: “Gue masih nyari jati diri nih. Gue masih bingung mau jadi apa gue nanti. Gue nggak tahu kenapa gue ngambil jurusan ini.”
terlalu banyak pencapaian kecil yang pada hakikatnya tidak ingin saya capai, salah satunya media yang terbit minggu lalu, berisi remah kata tanpa buah pemikiran. atau mungkin orang berkulit matang yang selalu berdiri dan mengadu kalimat manis di belakang saya. nyatanya saya salah tangkap, kesederhanaan dalam menyerap, bukanlah maksud dari tumpulan tindakan.
“sudah siap kau untuk menjahit rapat wajah kau pada tali tambang di belakang rumah?”
“baik. eksekusi sekarang.”
(Oktober, 2016)
Adalah saya
adalah saya yang melupa untuk menjadi. beberapa tumpahan tak berangka saya sesap per kata, ternyata ada banyak sekali makna dan wujud anugerah yang terselip dan saling meninggalkan.
dengan lihainya kamu membanting papan itu. papan yang dulunya menjadi alas ukiran berwujud layang. bagai gelas beling bertangkai, papan itu terbelah menjadi beberapa bagian. hingga serpih-serpihnya menyusup meja. juga kursi. serta karpet.
adalah saya yang sengaja. hujan dan pelangi tercampur aduk, suatu hal yang terlarang pada ruang kami. sesaat saya baru tahu bahwa sebelah mata saya tak berfungsi. bukan hanya sebelah bahkan keduanya. pantas saja saya buta, pantas saja saya berabu.
kamu tetap berhembus dalam diam. cara kau salah, papar tulisan yang lain. dan kau tetap terdiam. kau harusnya meraih yang bukan mesin, papar tulisan yang lain lagi. dan kamu tetap saja terbeku.
adalah saya yang mendamba. tanah yang memerah itu kini mengering. denyut itu tak lagi berlari-lari. desir tak lagi menghancur. layak seperti tak pernah tersimpan.
empat mata tersangkut pada tenggorokan, kemudian tersumpal hingga termuntah. seketika kamu berlari meninggalkan ruang, berlomba meraih dan menemu
lalu melupa.
(Juni, 2016)
Lari
Saya gundah dengan laut
Ada yang terlalu beringas pada malam hari
Dan tetiba menghilang dan tersangkut
“Kau ingat buih itu? Yang desirnya hancur pada malam kemarin,” ingatnya.
Saya hanya bisa terkujur merekah
Warnanya semakin menjadi
Lalu sekonyong-konyong kau bertekuk di seberang;
menyerang, hingga seluruh denyut berlari-lari
(Mei, 2016)
Kesederhanaan yang menjebak
Dewasa ini tak sedikit lajang yang bersikeras mendefinisikan sebuah rasa merah jambu atau yang lebih sering disebut dengan cinta. Berlomba-lomba menjadi pemiliki cinta sejati, lalu menunjukkannya pada media. Sebenarnya agak sedikit geli untuk mengetik kata cinta pada keyboard. Saya termasuk orang yang tak peduli dengan satu kata ini, tetapi sialnya umur yang sudah menginjak kepala dua ini mendorong untuk belajar lebih lanjut. Kata ibuk, perempuan harus mulai belajar sejak sekarang. Walau masih tertatih-tatih, sebuah tulisan mengantar saya pada sebuah karya Raymond Carver dengan judul yang sedikit menarik: What We Talk About When We Talk About Love.
Rendahnya kemampuan bahasa Inggris saya mungkin menjadi salah satu penghalang saya untuk mengerti setiap lekuk dari plot cerita Carver, tetapi tak menutup kemungkinan juga saya mengerti sedikit inti dari cerita.
Carver menuntun kita pada setiap kisah tak berujung. Pada awalnya, ia melempar kisah yang sederhana pada kita berupa cerita yang sering kita lalui dalam kehidupan sehari-hari. Bila dibaca dengan tanpa pengkhayatan, cerita-cerita yang ditulis oleh Carver saya akui biasa saja. Diam-diam menghanyutkan, begitulah Carver. Dibalik kesederhanaannya terdapat sebuah kebijaksanaan yang bergejolak.
Tak disangka
Usang rasanya bila tumblr hanya dijadikan sebagai media peningkatan utilitas. Selama lebih dari empat tahun memiliki tumblr, saya rasa penggunaan tumblr ini belum saya gunakan semaksimal mungkin. Bagaimana tidak? Post-post saya hanya berisi ungkapan-ungkapan tak berguna saja yang pantas dijadikan sebagai karib terbuang: tak berharga.
Tidak seperti mahasiswa pada umumnya yang menggebu memperjuangkan nasib rakyat dan lingkungan sekitarnya, saya tidak demikian. Agak aneh memang, kebiasaan saya yang selalu menyimpang kala sistem pembelajaran berlangsung selalu mendorong teman-teman saya untuk berkata: Naaf, kayaknya kamu salah masuk jurusan deh. Saya hanya tertegun menanggapinya. Kala dosen dan teman ramai berdiskusi terkait kondisi aktual perekonomian Indonesia, pikiran saya tidak terpaku pada topik yang diangkat. Kendati demikian bukan berarti saya tertinggal jauh. Walau telat, ketertarikan saya dalam perkembangan ekonomi Indonesia terlalu ambigu. Mungkin karena kemampuan saya dalam membaca masih minim. Aksi dan pikiran, kata orang, selalu berbanding lurus. Benar saja, apa yang saya baca tidak mendukung pikiran saya untuk mengikuti perkembangan ekonomi Indonesia maupun teori-teori yang terkait. Kala teman ramai berdebat, saya malah ramai dengan pikiran sendiri, mengukir potongan pada si kulit kuning.
Video klip “Dulu Kita Masih Remaja” ini, aku bikin untuk daripada tidak ada kerjaan. Sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan apakah Dilan mau aku film-in atau tidak. Mudah-mudahan kita semua banyak uang.
Sebenarnya saya kurang begitu tertarik dengan kisahnya, terlalu mudah untuk terserap, terlalu tertebak. Edisi pertama berhasil saya lalap tidak sampai satu jam, pula dengan edisi kedua. Entah bagaimana novel ini jahat sekali, saya tidak suka! Kala membaca beberapa halaman awal, saya tidak ingin membaca lanjutannya. Tetapi setelah beberapa halaman selanjutnya, aih! Bahasanya terlalu mudah untuk dipahami, sehingga sayang bila tak terbaca. Pengambilan background pun tepat beberapa meter dari lingkungan yang sering saya lewati dulu ketika sekolah. Bagi seorang rantau, tak ayal bila pembacaan tersebut layak untuk dilanjutkan. Tak lain alasannya ialah untuk menerka kembali lingkungan yang sudah lama tidak dilewati. Saya rasa apa yang dialami oleh Milea terlalu manis. Mulai dari surat, panggilan akrab ke calon mertua yang ternyata tidak berujung pada calon mertua nyata, hingga perlindungan. Mana ada orang yang rela menghilangkan nyawa diri sendiri ataupun nyawa orang lain hanya demi memberikan perlindungan pada sang pujaan? Dunia tidak sebercanda itu. Hidup tidak akan pernah bermanis pada awal. Atau mungkin, hidup saya yang tidak berasa manis sehingga saya terlalu naif untuk mengakuinya.
(Mei, 2016)
1. Parapa
Pada lembayung, saya ingin meramu sebuah sesap. Kedalaman yang telah dicipta ternyata tak menghasil sebuah legawa. Dawai itu terus merambat pada tangkai jelaga.
Pembuahan lara tak juga lahir. Bintang tak lagi meneman, apapula bincang kisah yang menggantung pada dinding berlukis garis.
Rumput di halaman malam telah berlalu oleh pergantian topik. Patung dan lukisan yang berderai semakin menusuk dari dalam. Tentang segala hal yang mengagum pada setiap helai hembusanmu, saya telah menghirupnya.
Malam ini akhirnya tiba, sebuah malam berisi bayang yang terlalu kurus bagi ukuran pria. Seorang penjaga meja registrasi mengheran. Anda sendiri saja. Saya hanya bergumam, ada apa.
Orang-orang yang datang terbiasa rombongan, atau mungkin bersama teman-teman. Penjaga itu menjawab dengan mata lentiknya. Saya hanya tersenyum pahit mendengarnya.
Peraduan hitam telah membawa sebuah jawaban yang tertaut pada frekuensi tak terucap. Jiwa berdenyut pada setiap sudut ruang. Dan tetap saja, mata saya tertumbuk pada karya yang terpajang pada puncak keresahan. Ternyata dibutuhkan keberanian yang tinggi untuk mengalahkan nestapa.