Move.
Since my blogs is messed up, i decided to move. Find me at
k a t a

pixel skylines
Sweet Seals For You, Always

blake kathryn

Origami Around
Mike Driver
One Nice Bug Per Day

Kaledo Art

titsay
KIROKAZE

No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
will byers stan first human second
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
No title available

Discoholic 🪩

No title available
wallacepolsom
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Today's Document

#extradirty

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Lebanon
seen from Lebanon
seen from United States

seen from Brazil
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@nafffau
Move.
Since my blogs is messed up, i decided to move. Find me at
k a t a
(via https://www.youtube.com/watch?v=qon0_WO_5Lk)
How to Make Yourself Do It When You Just Don't Want To
ketika sedang tidak ingin mengerjakan tugas besar manajemen konstruksi, i found this! Semangat, Nad!
Imam Ahmad bin Hambal ditanya kapan saatnya seorang mukmin berisirahat, beliau menjawab: “saat ia sudah menginjakkan kakinya di surga”
semangat ya kamu!
So if you feel like you just can’t deal with humans today, take comfort in the fact that Allah will not allow you to cross path with anyone without a purpose. Meaning you are more than prepared and have all of the energy and wisdom within you to interact with them in the best possible way.
Aida Azlin
“Pada beberapa kesempatan kita tidak perlu menjelaskan pada dunia atas apa yang kita pilih untuk dilakukan. Sebab jika mereka benar-benar ingin mengerti, mereka akan bertanya.”
— Ada banyak orang yang sekadar “ingin tahu”, ada orang-orang yang tidak ingin tahu, ada juga orang-orang yang benar-benar ingin mengerti. Memilih memberi tahu pada orang-orang yang benar-benar ingin mengerti adalah hal paling efisien dan membahagiakan.
while you’re scrolling through your dash I just wanted to quickly say that you are a good and intelligent, kind and capable person and deserve the universe
thanks for your attention
Apapun keadaannya seorang mukmin tetaplah tenang hatinya. Karna ia paham segala sesuatu yang menimpanya adalah suatu ketetapan yang pasti. Ketika ditimpa musibah, ia mungkin bersedih. Tetapi kesedihan itu hanya sebentar saja, setelahnya ia akan memutuskan melapangkan sabarnya lebih luas lagi.
Ketika diberi nikmat, ia berbahagia. Tetapi kebahagiaannya ia jaga dalam bentuk syukur yang melangit.
Keadaan seorang mukmin adalah keadaan yang kuat. Hati-hati mereka telah di beri ketenangan oleh Allaah Azza Wa Jalla. Sehingga kesedihan, kecemasan, kekhawatiran, tidak akan menahan langkahnya untuk berhenti mengutuk takdir.
Sungguh, keadaan seorang mukmin itu menenangkan. Pada hati-hati mereka telah diberikan banyak kebaikan oleh Allaah Ta'ala.
Tidak kah kau menginginkan keadaan seperti itu wahai diri? Maka melembutlah, agar kau mengerti.
Pada penghujung senja kali ini, mintalah kepadaNya, di waktu-waktu mustajabnya sebuah do'a.
What they don't teach you in undergrad
The number one rule I wish they taught me in school was the reality of not becoming successful overnight. I think that’s what previous generations keep implying to totally fuck us over. “If you’re a hard worker, you’ll make it!” The reality is sometimes life has other plans. I strongly believe that everyone has a purpose and everyone contributes to the world in their own beautiful way. But sometimes you want to be a rocket scientist and find out you totally suck at physics. Sometimes you’re planning on getting your PhD and end up postponing it for years because you started a family. The first time I applied to medical school two years ago I didn’t make it. I thought I was the biggest failure out there. That’s until I realized that out of 4,000 applicants I was in the top 20% of people who actually got an interview. And because only 100ish people make it in each class, there were about 3,900 other people who felt the same way I did. No one tells you this shit in undergrad. Instead, you wake up on a daily basis looking at facebook and judging yourself based off of everyone else’s success. No one puts their problems online. No one puts “today I went to a coffee shop and reevaluated my life before binging on cookies and Netflix while on the verge of tears.” No. In the words of Dr. House: “everyone lies.” People aren’t going to post their greatest insecurities or fights with their spouse online for the world to see. Chances are, the person you’re jealous of for making it to (whatever place in life) is behind the computer screen wishing they were you. Life is funny that way. I can’t remember one professor who told us most people have to retake the MCAT or most people don’t make it their first year. You don’t just come out of college and have the world handed to you. And I wish most 20-somethings would realize how many others are just like them. If you didn’t make it to your dream college or graduate school or job, you aren’t stupid, and nothing is wrong with you. You’ve been lied to. Please know that your 20s are transitional years just like your teenage years were. You aren’t supposed to have everything together yet. Stop comparing yourself to more “successful” people your age. You’re going to do awesome things. Don’t doubt yourself.
Awesome reminder. Thanks.
Ruang Bertumbuh
Kalau mau sejenak bercermin, atau sekilas menoleh kebelakang, Tentu akan terlihat perbedaan, antara kita yang sekarang, dengan kita yang dahulu. Mulai dari perbedaan yang mudah sekali terlihat, mulai tinggi badan, ukuran sepatu, lingkar pinggang. Sampai pada perbedaan pemikiran dan cara pandang kita. Perbedaan yang menandakan kalau kita sudah bertambah, juga sekaligus bertumbuh.
Ada yang bertumbuh lewat banyak kegelisahan. Kegelisahan yang membuatnya tidak punya pilihan untuk berdiam, gelisah itu berhasil memaksanya untuk segera berubah. Karena mendiamkan kegelisahan hanya akan membuatnya merasa semakin tidak tenang.
Tidak sedikit yang bertumbuh ditengah-tengah rasa sakit. Perasaan yang sama sekali tidak bisa untuk dibuat nyaman. Rasa sakit yang berhasil memaksanya untuk terus bergerak, agar bisa segera terlepas. Karena, nantinya, ia tidak ingin ada orang lain yang masih merasakan apa yang dulu ia rasakan.
Lalu ada yang bertumbuh ditengah keterbatasan, kemauan besarnya tidak dibersamai dengan yang seharusnya mengiringi. Tapi ia tetap bertumbuh, meski tidak jarang harus menunda, bahkan membunuh mimpinya sendiri. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu.
Ada pula yang masih mau memutuskan untuk bertumbuh. Meski keadaan disekelilingnya tidak memaksa untuk itu. Lingkungannya akan tetap terasa nyaman meski ia tidak perlu banyak berbuat dan tidak perlu mengupayakan sesuatu.
Kita memiliki jalan bertumbuh masing-masing, yang sebaiknya tidak untuk diperbandingkan, juga tidak perlu dicari persamaannya. Nanti, setelah semua bisa terbilang cukup, akan tumbuh kesadaran, rasa syukur, kalau jalan kita bertumbuh, adalah jalan yang paling baik. Meski tidak selalu mudah untuk kita pahami.
Danny Dzul Fikri - Di Surabaya yang selalu hangat
Menjadi dewasa itu tidak mudah sebab akan banyak amanah yang akan kita tanggung. Lantas apakah menikah muda itu salah? Tidak salah itu baik, namu apa sudah siap mengemban amanah? Sudah siap untuk tidak lagi menikmati masa muda? Sudah siap menanggung beban hidup? Maka dewasa itu perlu kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
download my poetry ebook here
Aku tidak punya teman
Semakin dewasa, lingkaran pertemananmu semakin berkurang. Lulus sekolah kamu merasa semakin kesepian. Sahabat-sahabat akrabmu sudah memiliki kesibukannya masing-masing. Tidak ada lagi yang namanya jalan bareng, nongkrong bareng. Menghubungimupun sudah mulai jarang.
Kamu merasa sudah tidak lagi memiliki sahabat yang benar-benar sahabat. Kamu merasa sendiri, dan bahkan untuk sekadar bercerita saja kamu tidak tahu harus menyampaikannya kepada siapa. Jikapun menemukan teman, itupun hanya sebatas kenal, hanya satu dua orang yang tidak begitu akrab.
Kalau boleh jujur, mugkin kamu sangat kehilangan sahabat-sahabat lamamu. Mereka yang biasanya selalu ada, susah senang bersama, sekarang sudah tidak bisa kamu temui lagi setiap waktu. Kamu akhirnya terpaksa harus menjalani hari-harimu sendiri.
Sekarang sahabat akrabmu hanya dirimu sendiri. Tapi kamu terlalu takut untuk menemuinya. Kamu takut jika bersamanya yang sering kamu dapatkan bukannya senang, tetapi malah sedih. Bukannya ramai, tapi malah sepi. Bukannya tenang, tetapi malah cemas.
Padahal fasemu sekarang, ya memang seperti itu. Kamu harus terbiasa menjadi pendengar, sekaligus bercerita. Menjadi sahabat, sekaligus teman bicara.
Sambil mulai membuka diri dengan lingkungan barumu. Memulai pembicaraan, menyapa lebih dulu, dan membiasakan diri sebagai pendengar.
Atau barangkali sahabatmu adalah justru pasanganmu sendiri, suami atau istrimu kelak. Sahabat yang ditakdirkan bersamamu sehidup semati.
—ibnufir
Someone comparing you to others is honestly one of the most heart breaking things
Can't agree more.
That’s a deep… dock.
by Penzilla
Tumblr: @pennypenzilla
ceklis
suatu hari nanti, kamu akan punya uang banyak. paling tidak, kamu akan punya uang sendiri. saat-saat itu, ibu yakin bahwa keinginanmu akan bertambah-tambah, tidak ada habisnya. kalau sekarang kamu belum bisa beli ini itu karena belum punya uang, nanti kamu bisa. saat-saat itu, ingat pesan ibu ini ya. ada banyak sekali ceklis pertanyaan yang harus kamu jawab sendiri sebelum kamu belanja atau mengeluarkan uang–pertanyaan selain “uangnya ada nggak?”
ini kebutuhan atau keinginan? seberapa bermanfaat untukmu? apakah akan menambah ‘nilai dirimu’ alias membuatmu lebih produktif, lebih sehat, lebih pintar, lebih baik; atau hanya membuatmu lebih konsumtif?
kalau bendanya berbentuk fisik, mau disimpan di mana? ada tempatnya? ini berlaku untuk barang besar seperti mobil–jangan beli mobil dululah kalau belum punya tempat parkir atau garasi. juga, barang sekecil es krim literan–kulkasnya muatkah? atau baju, sepatu, tas–lemarinya cukupkah?
sampahnya gimana? coba deh kamu renungkan. hampir semua barang yang kita beli–sekalipun itu sayuran yang dibeli tanpa plastik–pasti ada sampahnya. coba pikirkan bagaimana sampah itu akan berakhir. kalau bisa diolah kembali, bagaimana cara mengolahnya? belanja seperlunya bisa berarti lebih sayang kepada lingkungan.
ada barang lain yang sudah dipunyai dan fungsinya sama? kalau sudah ada, apa alasan kamu perlu tambah atau ganti barang? kalau memang perlu sekali, apakah ada alternatif barang lain yang mungkin lebih hemat tapi fungsinya sama?
seberapa sering akan terpakai? seberapa lama barangnya akan bertahan? ibu itu punya kebiasaan, menghitung mahal murahnya suatu barang bukan dari harganya, tetapi dari pemakaiannya. tas yang harganya 600 ribu kalau dipakai satu tahun dan dipakai terus, harga per bulannya jadi 50.000. tapi kalau tas 1.2 juta dipakai empat tahun dan dipakai terus, harga per bulannya jadi 25.000. itu berlaku kalau tasnya hanya ada satu. kalau ibu punya banyak tas, harga per bulan tas ibu akan semakin mahal karena jarang dipakai. itulah mengapa ibu juga nggak mau punya terlalu banyak barang.
gimana 'besok’ mempertanggungjawabkannya? coba buka lemari dan semua tempat penyimpananmu. lihat berapa banyak barang yang dulunya kamu idam-idamkan tetapi berakhir tidak terpakai dan teronggok begitu saja. padahal, kalau waktu itu kamu tidak beli, uangnya bisa dipakai untuk yang lain. mungkin juga, barang itu dibeli oleh orang lain yang lebih perlu, yang akan benar-benar menggunakannya.
ibu mendoakan besok kamu punya uang banyak. saat itu, ibu percaya bahwa kamu pasti akan menjadi lebih bijak. bijaklah dan hematlah.
A Palestinian sight-disabled girl reads Qur’an written with Braille alphabet at the Dar Al Kitab Wa Al Sunna Association in Gaza City, Gaza, 2015. @Ashraf Amra