Hari Pertama Pi (Pergi) Sekolah
Bangun tidur ku teru smandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong mama, membersihkan tempat tidurku…
Ternyata Kepala Sekolah yang kebetulan menjadi orang tua piaraku sudah berangkat ke sekolah. Jam sudah menunjukkan pukul 07.35 WIT. Aku pikir sekolah masuk jam delapan pagi, namun pikiranku salah.
Ku langkahkan kakiku menuju sekolah yang berjarak tak jauh dari rumah keluarga piaraku. Sesampai di sekolah, anak-anak sudah banyak berkerumunan. Dua orang guru dan Kepala Sekolah sudah duduk di ruang perpustakaan yang dijadikan kantor sementara, karena kantor dan beberapa kelas masih direnovasi.
“Sekolah masuk jam berapa bapak?” tanyaku
“Jam tujuh sudah mulai apel nona, lalu jam setengah delapan kegiatan belajar mengajar dimulai.”
Je… jeng… aku terlambat. Tuhaneee… baru hari pertama sudah terlambat sekolah! Rasa malu dan bersalah kuungkapkan pada bapak dan guru lain yang datang kala itu. Dan dalam hati aku berjanji, tidak akan terlambat lagi.
Kemudian aku mendapatkan sedikit arahan dari Kepala Sekolah, guru-guru yang lain masih belum hadir, ada dua guru kontrak yang masih tertahan di kabupaten karena harus mengurusn kontrak mereka, dan satu guru izin karena “menyimpan” (istilah di sini untuk besih-bersih), rumahnya mendapatkan bantuan renovasi dari program TNI AL yang kala itu ada pekerjaan di kecamatan Pulau Masela. Tinggallah aku, dua orang guru, dan Kepala Sekolah di bangunan SD Kristen Latalola Besar ,Kecamatan Pulau Masela, Kabupaten Maluku Barat Daya.
Aku langsung berjalan menuju kelas, setelah mendapat arahan, bahwa aku akan mengajar kelas rangkap untuk sementara, karena ruang kelas yang terbatas dan beberapa guru yang belum hadir. Kelas rangkap yang kuampu ternyata adalah kelas dua dan kelas empat, ada sedikit ketimpangan di sana. Aku harus mengajar kelas kecil sekaligus kelas besar.
“Hari pertama perkenalan dulu saja nona.” Kata Kepala Sekolah.
Kulangkahkan kaki ini menuju ruang kelas pertama, rasa penasaran dari anak-anak tersirat dari wajahnya. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka melihat ada orang asing lagi masuk ke dalam kelas mereka, karena sebelumnya ada Pengajar Muda yang telah habis masa baktinya, dan sekarang aku yang menggantikannya. Pada jam pertama, kondisi masih aman dan terkendali, anak-anak cukup antusias mendengarku bercerita. Memasuki jam berikutnya, sedikit gelombang mulai menerpa, kapal oleng kapten! Dan aku mulai “mabuk laut”. Satu per satu anak berlarian kesana kemari. Aaarrrgghhh… Tuhan tolonglah! Selamatkan aku! Dan…
“Teng… teng… teng…” tanda istirahat pertama, anak-anak langsung berhamburan keluar, dengan sebelumnya mengucap salam:
Wah, aku cukup terpesona dengan salam mereka, haha.
Jam berikutnya, aku membagikan sticky notes ke anak-anak, mereka cukup antusias. Ada satu orang yang menyeletuk
“Ibu, beta tulis cita-citakah di kertas ini?”
“Iya ibu, tulis cita-citaya…” sambut yang lain.
“Boleh-boleh, tapi sebelumnya tulis nama dulu di kertas yang ibu bagikan ini, lalu kertas kedua akan ibu bagikan, dan tuliskan cita-cita kalian di kertas itu.”
Anak-anak ini, ternyata mereka memiliki kemauan keras atas cita-citanya. Aku lalu meminta mereka maju satu per satu. Banyak yang masih malu-malu tapi mau, masih irit bicara, dan garuk-garuk kepala saat maju ke depan. Bahkan ada juga yang sampai berkeringat dingin (waduh, aku takut anak ini menangis). Tapi ada juga yang mempersiapkan diri sebelum maju menceritakan cita-citanya. Senangnya melihat mereka antusias menuliskan cita-citanya. Aku juga meminta mereka menempelkan sticky notes berupa cita-cita mereka ke kertas karton yang mendadak aku adakan. Mereka sangat senang dengan hal itu.
Di hamper akhir jam pelajaran, anak-anak menanyakan,
“Ibu katong (kita) boleh bawa cita-cita ini ke rumah?”
“Oooh, tentu saja boleh, nanti kalian tempel di dinding kamar ya, tapi nanti diambil saat pulang sekolah.”
Beberapa hal yang membuatku terpesona dari anak-anak ini, mereka adalah pasir-pasir dari timur yang jika ditempa akan menjadi bola lampu suatu hari nanti, mulai dari sekarang. Cita-cita mereka sama dengan cita-cita anak lain di kota, keinginan mereka sangat tinggi untuk dapat mewujudkan cita-cita itu. Semoga cita-cita kalian bisa tercapai nak, rajin-rajinlah belajar dan membacaya! aahhh, satu hal yang juga membuatku tersenyum lebar, anak-anak ini dari semua kelas hamper selalu “nongkrong” di depan perpustakaan jika jam istirahat tiba, meskipun masih sekedar membuka-buka buku dan melihat-lihat gambar yang ada di dalamnya, tapi setidaknya keinginan mereka untuk membaca bisa perlahan-lahan terbentuk dan terpacu, agar mereka gemar membaca dan semakin bertambah wawasannya. Semoga kelak mereka akan menjadi bola lampu yang bisa menerangi Indonesia, bahkan dunia. Amin…