Selama ini, ruang ini adalah sudut paling rahasia yang kubangun dan kusembunyikan rapat-rapat.
Sebuah tempat pelarian yang pada awalnya tidak pernah kudesain untuk dibaca oleh siapa pun. Aku menggemboknya dari pandangan dunia, menyimpannya di balik bayang-bayang agar tetap menjadi ruang aman tempatku memuntahkan segala riuh yang tak kasat mata.
Namun pada akhirnya, aku memilih untuk berdamai.
Pintu yang bertahun-tahun kututup dalam-dalam itu, kini kubiarkan tak terkunci. Tulisan-tulisan yang dulunya hanya berani kurangkai dalam keheningan, sekarang kubentangkan selebar mungkin. Bahkan, wajah yang selama ini sengaja kusimpan di balik bingkai anonimitas, pada akhirnya kuputuskan untuk kupajang secara terang-terangan pada foto profil akun ini. Sebuah deklarasi sunyi, bahwa aku tak lagi bersembunyi dari perasaanku sendiri.
Kalian yang membacanya mungkin akan mengerutkan kening, merasa asing dengan sosok di balik kata-kata dan foto tersebut. Ini jelas bukan representasi dari seseorang yang kalian temui sehari-hari. Di dunia nyata, aku hanyalah si pendiam yang sering kali kehabisan napas untuk sekadar merangkai satu atau dua kalimat secara lisan. Lidahku terlampau kaku untuk berbicara. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di balik bungkam itu, bersarang puluhan bait tulisan dan ribuan kata yang terus berdesakan di dalam kepala—hingga aku sendiri kadang terheran dari mana datangnya semua riuh ini.
Maka, untuk yang terakhir kalinya, selamat datang.
Ini adalah tempat yang mulai hari ini tidak akan lagi kututup. Sebuah etalase terbuka di mana kalian semua akhirnya bisa melihat dengan telanjang, seperti apa bisingnya isi pikiran dari seseorang yang selama ini bersusah payah menutup diri.
Jogjakarta. neia.








