beberapa minggu yang lalu, saya mengantar mas yasa untuk observasi masuk sekolah. sebenarnya ini percobaan kedua. tahun lalu, kami mencoba mendaftarkan mas yasa--karena pendaftar lainnya kira-kira usianya sama. tapi karena mas yasa belum siap sekolah, kami mengundurkan diri pada hari observasi. terima kasih Bunda Elly Risman yang mengingatkan bahwa anak (terutama laki-laki) sebaiknya berusia 7 tahun saat SD. 🤣
tahun lalu, mendekati hari observasi (yang akhirnya tidak kami ikuti), saya cemas luar biasa. ada perasaan "gimana ya kalau mas yasa nggak bisa?". lebih buruk lagi, "mbaknya aja gampang banget sekolah, masa mas yasa enggak?". "ih malu nih aku sama temen-temen (sesama ibu-ibu orang tua siswa di sekolah yuna) kalau yasa nggak keterima." "repot ah kalau anak-anak beda sekolah." dan hal-hal tidak penting lainnya.
hasilnya saya memaksakan mas yasa untuk menguasai semua poin yang jadi bagian dari observasi. naik papan titian, merobek kertas, pakai sepatu sendiri, buka tutup tas sendiri, dan segambreng poin lain. maafkan ibu nak.
pada hari H, mas yasa jadi over-stimulated, over-excited juga. akhirnya malah... nggak tidur siang dan lelah sekali menuju jam observasi. saya rasanya ketampar. "ini tuh dikasih tau Allah kalau memang belum waktunya. ngapain maksa deh."
berangkat dari sana, saya mengukur diri. saya membawa mas yasa ke psikolog untuk observasi tumbuh kembang. mas yasa lanjut terapi 3 bulan agar tugas tumbuh kembangnya dipastikan terpenuhi. alhamdulillaah saya belajar banyak sekali.
tahun ini, entah mengapa saya justru santai sekali. semacam "sudah cukup lah ya belajar di rumahnya tiga tahun. kalau rezeki ya sudah, kalau belum ya sudah juga." dalam sebuah diskusi dengan ibu saya, saya bilang, "serezekinya saja-lah. duniawi ini tuh semuanya." setelah itu saya pikir lagi. iya juga. Allah pasti kasih yang terbaik. kalau harus beda sekolah, pasti saya juga dikasih kekuatan untuk wara-wiri dua sekolah.
pada hari H, alih-alih mengulang pelajaran, saya ajak mas yasa main--yang tidak overstimulating tentu. pagi hari setelah mengantar mbak yuna sekolah, kami ke tempat pencucian mobil. sambil menunggu mobil dicuci, mas yasa saya biarkan makan mie instan yang dijual di sana. enak kan mas? setelah itu kami ke minimarket untuk membeli mobil mainan.
mobil bersih, perut kenyang, mainan ada, saya ajak mas yasa muter-muter di jalan tol sampai dia tidur. mendekati jam observasi, barulah saya pulang ke rumah. mas yasa bangun, lanjut makan siang, lalu berangkat ke "sekolah".
observasinya mas yasa nggak semulus itu juga. mas yasa masih menunjukkan kecemasan saat harus berpisah dari ibunya. jadi, di ruang kelas di mana para calon siswa lain sudah lepas dari orang tuanya, kami bermain peluk-sampai-penuh dulu. semacam berpelukan sampai rasa aman nyaman dan kepercayaan dirinya penuh sekepala. sampai tumpah kalau bisa. saya cuek saja dengan kenyataan bahwa mampu berpisah dengan orang tua juga masuk penilaian. yang ada di benak saya adalah rasa aman dan nyaman mas yasa lebih penting dari diterima atau tidak. itu urusan belakangan.
syukurlah, mas yasa--yang sudah penuh dan tumpah--akhirnya mau bergabung dengan lingkaran peserta lain. selesai acara, mas yasa tersenyum lebar dan mengaku bisa melakukan hampir semua yang diminta. kontan dia menagih bapaknya untuk jalan-jalan ke monas sebagai hadiah. ada-ada saja.
tulisan ini nggak ada intinya dan belum ada akhirnya karena pengumumannya belum. tapi saya ingin tulis ini supaya diri saya sendiri selalu ingat: rezeki yang paling nikmat adalah ketenangan hati. mau takdir itu sesuai dengan keinginan kita atau tidak, kalau hati tenang, rasanya nikmat sekali. dan rupanya ketenangan itu bisa datang kalau kita cukup pusing dan peduli atas hal-hal yang esensial, yang relevan, yang penting. segala di luar itu hanya bunga rampai. duniawi. duniawi.
semoga tahun ini kita diberi hidayah oleh Allah untuk mensyukuri setiap tetes nikmat. semoga kita bisa mengelola perhatian dan energi kita untuk hal-hal yang memang perlu perhatian kita. semoga kita bisa tenang menerima segala takdir.
peluk untuk semua pembaca yang adalah ibu, yang menuju menjadi ibu, yang ingin menjadi ibu. semoga Allah melapangkan hati kita yah.