taylor price

tannertan36
todays bird
Cosmic Funnies
Not today Justin

@theartofmadeline
KIROKAZE
Sade Olutola

bliss lane

ellievsbear

Origami Around

Andulka
Xuebing Du
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

#extradirty
Noah Kahan
Cosimo Galluzzi

No title available
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
The Stonewall Inn

seen from France

seen from Saudi Arabia
seen from Malaysia

seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Kenya

seen from Canada

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Brazil
seen from Italy
seen from Colombia
seen from Canada

seen from Morocco
seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from Mexico
seen from United States
@noviangginurjanah
Banyak hal yang kita lewatkan, karena kita tidak sabar menunggu. Karena kita merasa jika berhenti sebentar, kita akan semakin jauh tertinggal.
Padahal saat menunggu kita punya kesempatan untuk mempersiapkan, untuk mempertimbangkan, untuk memilah mana yang perlu dan yang tidak perlu.
Banyak hal yang kita sesali, karena kita terlalu terburu-buru. Karena kita merasa jika kita tidak segera memilikinya, kita tidak punya kesempatan lain yang lebih baik.
Padahal saat melambatkan langkah, kita punya kesempatan untuk menentukan tujuan, untuk menata keinginan, untuk memilih mana yang layak dan yang tidak layak.
Kita sering merasa sesuatu begitu penting, padahal itu sama sekali tidak kita butuhkan.
Sesuatu yang kita butuhkan selalu hadir dalam rasa cukup, melalui rasa berharga. Ia tidak pernah membuat kita kelelahan untuk mencapainya.
Sesuatu yang kita butuhkan tidak pernah membuat kita tertekan. Ia tidak pernah membuat kita khawatir untuk memperjuangkannya.
Ia akan tetap menunggu, meski di tengah perjalanannya ia terpaksa harus menunggu lebih lama.
Sampai kita benar-benar pantas. Sampai ia memang benar-benar layak untuk dimenangkan.
—ibnufir
Takapa (Sampai Kembali Tenang)
Untuk seseorang, sebuah kisah bisa dimulai dan diakhiri tanpa hitungan pasti. Lesap begitu saja mengikuti kata hati. Namun, dikalahkan putus asa, dia dan jatuh cinta tersungkur takperlu lama. Nelangsa baginya sebab kekalahan terjadi tanpa lebih dulu usaha.
Sial bagi seseorang yg lain, sebab dia menghitung dengan rinci; malam saat rindu mulai datang tapi disangkal karena sebelumnya pernah sangat yakin namun tetap jatuh terjungkal. Hingga pagi yg dihabiskan menunggu kabar; yg biasanya datang dan membalas seperti takpunya sabar.
Dia berpasrah dan menerima. Semua dipupuk lama oleh percaya serta usaha. Namun, sedetik kemudian menjadi tidak istimewa begitu saja.
Sebuah kisah selalu begitu. Takpernah sama di dua hati manusia. Salah satunya mestilah lebih lelah; entah antara penyesalan dan rindu yg masih tertahan, antara cinta yg penuh dan keraguan atau entah rahasia antara pemilik rencana atau penggagalnya.
Sama sekali takjadi soal. Kita hanya perlu mengikutinya tanpa menyimpang pada terlalu banyak pertimbangan.
Lagipula seseorang harusnya hanya boleh berlaku jujur, paling tidak satu kali seumur hidup; tidak memikirkan apa pun kecuali lega di dadanya. Takperlu berlebihan marah atau kecewa. Sebab harus begitulah ceritamu dan ceritanya berjalan, sampai semua kembali pada ketenangan.
Seandainya saja aku bisa berarti lebih untukmu. Lebih dari sekadar teman bicara di tengah malam, di saat semua orang tidur dan tidak ada yang mau mendengarkan. Lebih dari sekadar pesan-pesan singkat, sebagai perempuan yang kau kenalkan ke keluargamu. Lebih dari janji-janji kosong yang mengatakan ‘jangan sampai putus kontak, apapun yang terjadi, kita tetap teman’. Seandainya saja aku mengatakan hal lain, mungkin aku bisa berarti lebih. Mungkin.
A. W. (via surat-pendek)
Jangan terus menyalahkan diri sendiri hanya karena kamu tidak pernah sampai di setiap rencanamu. Bisa jadi memang seperti itulah jalannya, melaui berbagai macam kegagalan untuk menemukan yang terbaik, yang paling pas, dan yang paling menenangkan untuk kamu jalani.
—ibnufir
Je Me Souviens
Satu hari aku mengenang, tentang sebuah ragu yang perlahan menjadi samar, tentang sebuah rasa yang tak kunjung mendapat jawab. PERCUMA, batinku mengingatkan sia-sia saja jika selama ini bukan masalahnya yang kau selesaikan, melainkan kenyataan yang tak ingin kau tahu kebenarannya
Satu hari aku mengenang, kepingan-kepingan hati yang berserakan, rapuh dan hilang disapu angan. CUKUP, batinku kembali mengingatkan apalagi yang ingin kau harapkan ? kembali mengulang semua cerita yang teramat menyakitkan ? tak ingatkah bagaimana dahulu kau begitu ingin menyembuhkan itu semua ?
KENANGAN, sialnya semua itu berputar kembali dalam pikiran dengan jelas bersamaan dengan luka yang membayanginya.
-A
Melukis Cemas
Kita sedang berada dalam persimpangan keputusan, dengan pilihan dan harapan yang kita genggam masing-masing, aku, tak mengenal apa yang kamu genggam, begitupun aku mencoba menyembunyikan perasaanku.
Tanpa kamu memikirkan yang salah dan yang benar, yang jelas kita sedang dalam situasi yang buruk, yang tak pantas untuk kita tunjukan pada mereka yang telah mempercayakan hubungan kita, perdebatan dan kesalah-pahaman menyelimuti setiap pertemuan, atas dasar dan alasan yang tak tentu benar adanya, kita tetap saja egois untuk mengakui sebuah kekalahan, kita selalu saja merasa benar demi menutupi sebuah kesalahan.
Entah pertikaian kita yang semakin memanas atau memang udara di sekitar kita yang tak pernah merestui, aku merasa engap untuk selalu menahan sesak, aku merasa bosan jika harus selalu menutup nafas hanya demi melihatmu dengan lebih jelas, aku merasa lelah jika harus berjuang sendirian.
Tapi, tidak, aku tidak ingin menjadi manusia terjahat yang membuatmu bermandikan air mata dan amarah, aku tidak mau berada di jajaran mereka-mereka yang sekarang kamu kenang. Aku ingin bersamamu, jujur, benar-benar bersamamu.
@badutcerdas — 26 Juni 2019
Menuju Sabar
Sementara kamu terus meminta matahari untuk selalu cerah, ada sisi lain bumi yang perlu terkena basah. Kebahagiaan dan kesedihan itu berdampingan, siap tak siap, mau tak mau, kamu perlu ikhlas menerimanya.
Sementara kamu terus menyalahkan keadaan dan mengkhawatirkan banyak hal yang tak seharusnya terjadi, masih ada hal lain yang lebih layak untuk kamu syukuri, seperti perkenalan kita misalnya, atau hal sederhana lainnya yang kerap membuatmu bersinggungan dengan tawa.
Aku yang terlalu beruntung mengenalmu, sampai lupa caranya mengenal diriku sendiri, entah keterpakuan ini akan berakhir dengan suatu ikatan yang jelas atau tidak, setidaknya aku, kamu, pernah membuat cerita yang indah.
Seingatku, 3 jam adalah waktu yang dapat aku tempuh untuk sekedar menemuimu. Dan sekarang, kamu menyangkalnya dengan jarak yang lebih jauh. Bagaimana bisa aku ingin merengkuh, jika untuk sekedar saling sentuh saja kita tidak mampu.
Untuk sekarang, tak masalah seberapa jauh jaraknya, yang terpenting, jaga dirimu, jaga tubuhmu, jaga perasaanmu, ingat, yang menyayangimu, bukan hanya kamu sendiri. Ada orang tuamu, teman-temanmu, dan aku, yang ingin kamu selalu baik-baik saja.
Hanya karena aku jauh darimu, bukan berarti aku tak bisa untuk selalu memilikimu. Tetaplah seperti kamu yang aku kenal, dan aku, akan tetap menjadi aku yang kamu kenal.
@badutcerdas — Na, 7 Agustus 2019
“Ingin sekali rasanya bertanya kepada keadaan. Apakah orang yang dulu kurasa tepat namun datang di waktu yang salah akan mendapatkan kesempatan kedua untuk datang di waktu yang lebih tepat bagiku nanti?”
—
Kuharap iya.
Dan kuharap kau membacanya lalu mengaminkan bersama-sama.
(via mbeeer)
Jika ini adalah yang terbaik, lantas mengapa masih saja banyak rintangan yg menghalangi ?
Mungkin seharusnya kita saling mengaca diri, bahwa meminta pun harus di imbangi dengan memberi, sudah tuntas kah kewajiban2 kita selama ini pada Nya ?
Yaa, itu lah salah satu masalah terbesarnya
-A
Dik, hubungan itu. Ikatan itu. Perih.
Suatu hari jika semuanya tak berjalan dengan semestinya, ikat yang telah melekat pekat pun dapat terurai sebegitu mudahnya.
Padahal sebelum semuanya menjadi asing. Pernah ada saling yang sama-sama membersamai.
Tawa tercipta, lupa bahwa luka selalu ada dibaliknya.
Dik, jaga.
— Arief Aumar Purwanto
“Untuk orang yang tidak pintar ngobrol atau cerita secara langsung, kehilangan cara menulis itu sungguh menyiksa.”
— Pada akhirnya manusia memang butuh berbicara untuk tetap menjaga kewarasannya. Entah berbicara lewat lisan atau lewat tulisan.
Karena dalam hidup, kita tidak akan selalu dapatkan apa yang kita ingin kan, kita tidak akan selalu dapati harapan yang sesuai dengan kenyataan, kita tidak akan selalu disuguhkan dengan hal yang manis nan menyenangkan, itu lah kehidupan. Kita, manusia, sangat wajar jika bersedih saat menemukan kekecewaan dalam kehidupan, namun jangan biarkan berlarut hingga merasa tak ada kehidupan. Tanamkan dalam diri, saat ujian datang, Allah akan berikan segudang hadiah bila diri mampu bersabar melewati setiap ujian. Minta sama Allah, untuk terus di dekatkan dengan Nya, karena memang hanya Dia lah yang mampu menolong dan menenangkan. Jangan biarkan dirimu terus terkungkung dalam belantara hutan kesedihan.
Bandung, 27 November 2019
Yass, i need 🙃
Dan hari ini, aku memutuskan untuk pergi dari ingar bingar kefanaan yg seringkali membuatku terlarut meninggalkan kebaikan.
Semoga kamu pun begitu.
Ego siapa yg sedang kita beri makan ?
Yang menyakiti pun akan tersakiti. Setidaknya oleh penyesalannya sendiri.
Taufik Aulia