Pengan cerita tapi bingung mulai dari mana. Rasanya aku masih sangat newbie di dunia mengajar. Masih banyak Bapak Ibu pendidik di luaran sana yang mempunyai banyak pengalaman yang layak dibagikan. Tapi kali ini, biarkan si paling newbie ini berceritaa... hehee
Awal tahun ajaran baru kali ini lumayan berat. Yang pertama.. dari tiga kelas paralel, ada anak guru di sekolah kami yang diplotkan di kelasku. Yang kedua, ada anak spesial yang diplotkan di kelasku juga. Dua hal ini yang bikin ketakutan duluan di awal tahun ajaran. Padahal masih ada 2 kelas lain yang gurunya lebih senior. Kenapa harus di kelasku?
Masalah anak guru itu, yasudahlah bismillah walaupun agak rikuh pekewuh karena ibunya anak ini juga guruku pas masih esde. Sedangkan untuk masalah anak spesial itu, aku mulai mencari tau. Oh ya, untuk namanya panggil saja Zu. Aku mulai banyak tanya ke gurunya Zu di kelas sebelumnya.
Hari pertama masuk sekolah, hari pertama berinteraksi dengan Zu. Anaknya tampan, matanya menyala, murah senyum pula. Dia banyak bertanya, dan aku suka. Buku tulisnya penuh dengan gambar kereta. Bayangkan, baru hari pertama masuk buku tulisnya hampir habis karena digambari kereta. Aku berusaha menggali informasi melalui asesmen diagnostik. Cita citanya menjadi masinis. Tidak selesai sampai situ, dia sering ngobrol tentang sesuatu yang aku ngga paham. Salah satunya tentang lokomotif vintage dan segala printilannya yang detail. Dari sini aku tau, Zu anak yang berwawasan luas.
Lalu, apa yang bikin Zu menjadi spesial? Ibunya minta izin untuk menunggu Zu di sekolah, bahkan sesekali masuk kelas. Zu tidak bisa fokus dalam waktu yang lama. Di sela sela pelajaran, Ibunya masuk untuk membantu Zu kembali konsentrasi, membujuk agar mau menulis, dan mengurus keperluan Zu. Ibunya yang memiliki almamater UGM itu selalu memperhatikan Zu dari jendela. Setiap hari. SETIAP HARI.
Ada apa dengan Zu? Ternyata dia ADD. Attention Defisit Disorder. Zu sulit memusatkan perhatian. Satu menit saja memperhatikan pelajaran sudah hal yang luar biasa. Ini yang menyebabkan dia berbeda dengan anak lain seusianya. Kadang dia sibuk mengeksplor lingkungan sekolah, jalan kesana kemari, ngobrolin kereta, berimajinasi yang luar biasa, atau menggambar saat jam pelajaran.
Pernah suatu hari, Zu menarik tanganku ke luar kelas. Dia menunjuk nunjuk ke sekolah tingkat SMP yang letaknya tidak terlalu jauh dengan kelas kami. Katanya "Bu Guru, itu keretanya mau ke mana?". Gedung sekolah itu seperti kereta di imajinasinya. " Bu Guru, itu kereta SMP ya? Kereta SMP mau berangkat ya?". Aku setengah ngga ngerti " Iya Zu, kereta SMP sudah mau berangkat. Yuk, sekarang Zu masuk ke kereta SD" kataku sambil menggandengnya masuk kelas lagi. Alhamdulillah, mau. Dan kejadian semacam itu yang aku alami setiap hari.
Semenjak kenal dengan Zu, aku kagum sekali dengan ibunya yang memiliki penerimaan dan kesabaran yang luas. Wajahnya teduh dan tenang. Ujian seperti ini tidak mudah pastinya. Apalagi beliau sedang mengandung 6 bulan. Setiap hari harus mengantar adiknya sekolah dan menunggu Zu di sekolah sampai akhir pelajaran. Kalau sedang istirahat, Zu sering diajak keluar untuk merefresh pikirannya karena dia teihat stres ketika bertemu tulisan. Padahal, sebagian besar kegiatan di sekolah adalah membaca dan menulis.
Ibunya Zu terlihat menyibukkan diri saat Zu terkondisikan di kelas. Beliau selalu bawa kalkulator dan buku catatan. Entah apa yang beliau kerjakan, pastinya dia ibu yang cerdas dan berpendidikan. Semoga beliau diberi kemudahan dalam menghadapi setiap ujian dari Allah. Semoga Allah lancarkan rangkaian terapi Zu di Rumah Sakit hingga tuntas.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (Q.S Al Baqarah : 286)
Dari yang tadinya ketakutan dengan masuknya Zu ke kelasku, sekarang malah bersyukur dipertemukan dengan dia dan keluarganya. Mungkin aku bukan siapa siapa, hanya sebagian kecil dari perjalanan Zu. Tapi dari dia, aku mulai semangat lagi untuk belajar banyak hal 🤍