Assalamu'alaikum bg herri, mau nanya ni, gimana caranya kita berdamai dengan masa lalu? Uda coba motivasiin diri tapi hati dan logika selalu ngeyel. Terimakasih sebelumnya atas jawabannya
Wa’alaikumsalam wr wb.
BERDAMAI DENGAN MASA LALU?
Bagi saya, masa lalu itu tidak untuk dilupakan, tetapi untuk dijadikan pelajaran. Masa lalu itu membentuk kita yang sekarang ini; baik atau buruknya. Jadi hal pertama yang harus kita pahami adalah: jangan pernah lari dari masa lalu. Berikan ruang kepada masa lalu agar kita bisa menjadikannya sebagai guru. Kita yang mengendalikan perasaan, bukan kenangan, ya kan? Sebab itu, bagi saya menganggap masa lalu–terutama yang dianggap buruk–adalah musuh itu keliru. Masa lalu adalah soko guru yang mentransformasi kita menjadi sosok yang lebih baik.
Bagaimana caranya?
Pertama, pahami bahwa ini semua hanyalah perihal waktu dan memori yang berdilatasi di kepala. Soal waktu, masa lalu adalah momentum yang telah berlalu dan titiknya telah kita lewatkan. Artinya, secara hakiki kita tidak lagi hidup di masa itu. Namun, selama memori titik-titik itu masih di kepala kita, artinya ada peluang untuk muncul kembali yang berbentuk kenangan. Di sini yang terkadang orang itu terbawa perasaan. Kala hujan, kala sendirian, kala di kendaraan. Atau ia juga bisa muncul melalui dejavu. Kita harus memahami bahwa ini semuanya hanyalah kenangan.
Kedua, jika kenangan itu muncul, sikapi dengan perasaan bahagia bahwa dulu kita pernah ada di masa-masa itu: entah masa terbodoh, masa terharu, masa terbahagia, masa tersakit, dan sebagainya. Sikapi masa-masa itu dengan senyuman dan tawaan; bahwa kita pernah sebodoh itu, misalnya. Jika perlu ceritakan kepada orang-orang agar ia tidak lagi menjadi rahasia. Kenapa? Sebab ketika sesuatu telah menjadi publik, ia tak lagi istimewa. Kita tak perlu lagi sibuk merasa itu perlu dijaga. Malah menjadi obrolan seru dengan orang yang kita ajak bicara. Saya punya sahabat dekat tempat saya menumpahkan semua cerita-cerita dan kekonyolan. Termasuk di dalamnya soal perasaan. Dia tahu semua, bahkan sampai dia lebih ingat daripada saya sendiri. See? Kita tidak lagi khawatir itu akan jadi memori. Kita telah meninggalkan masa lalu dengan sendirinya. Meminjam istilah kamu: berdamai dengan masa lalu.
Saya itu tidak pernah menyesal sewaktu SMP saya ini sangat nakal. Itu “buku hitam” guru BP isinya nama saya semua. Setiap minggu pasti ada saja masalah. Tiap Jum’at ikutan mentoring, tapi Sabtunya tawuran. Tapi nilai-nilai ujian saya selalu oke tanpa menyontek. Saya punya prinsip: bandel boleh, curang jangan, bodoh jangan. Bandel yang bodoh itu seperti merokok atau mabuk-mabukan. Berantem masih okelah, hehe. Nah, yang seperti ini tidak pernah saya sesali meskipun di fase hidup berikutnya saya menemukan diri sendiri telah tersesat di jalan yang benar bersama anak-anak Rohis. Saya punya banyak pelajaran dari menjadi bandel tadi. Kenangan saat-saat bandel itu sering muncul. Tapi justru saya menikmatinya sebagai sebuah proses pendewasaan.
Soal cinta juga berlaku hal yang sama. Tapi tidak saya ceritakan di sini.
Ketiga, kalau kenangan itu telah menjadikanmu hanyut terlalu mendalam apalagi menyita banyak pikiranmu, itu artinya bukan lagi kenangan, tetapi godaan syaitan. Jika kamu pernah jatuh cinta, lalu kamu tidak sanggup melupakannya, bahkan terus menerus berhalusinasi atau berimajinasi–bahkan semakin liar–perbanyaklah istighfar. Tak ada jalan lain selain memohon ampun kepada Allah SWT atas sesuatu yang telah melalaikan. Percayalah, tidak akan pernah ada kebaikan dalam suatu hal yang melalaikan diri dari ingat kepada-Nya. Sudah pasti itu pekerjaan syaitan.














