sejak kecil aku tak pandai meniru. namun satu hal yang ku ingat adalah aku harus mengerti untuk apapun— hingga aku dewasa seperti sekarang.
mungkin. menginjak usia nyaris 30 tahun, hari-hari akan dipenuhi dengan belajar menerima dan berterima kasih atas segalanya. tapi..
luka kecil itu semakin besar. jalan menerima adalah jalanan panjang penuh duri. sejak kecil aku tak pandai meniru. aku harus mengerti untuk setiap hal.
tumbuhlah aku menjadi "orang lain" yang tidak diterima sebab sangat jauh berbeda dengan saudari-saudari atau anak umumnya.
tumbuhlah aku menjadi "orang lain" yang ingin berlari lebih kencang dari siapapun. "orang lain" dengan mimpi gila ingin menghancurkan dinding tinggi yang dingin.
itu sebuah dosa besar. sebab "orang lain" itu terlahir sebagai perempuan. perempuan terakhir dari empat perempuan yang menjunjung krama.
lalu "orang lain" hidup di atas ekspektasi yang ia sendiri pun tak yakin bisa meraihnya.
dadanya sesak, siapa yang tahu? kakinya hancur, siapa yang lihat? tubuhnya pecah berpuing-puing, siapa yang peduli?
aku terbenam dalam air mataku di malam hari. dalam lelap lelah yang tak seorang pun bertanya "mengapa begitu lelah?"
hidup siapa yang ku perjuangkan, Tuhan?
mengapa jalannya sulit sekali? kehilangan, kesepian, dan goyah seperti apa yang akan membawaku pada tenang?
hanya aku dan Ibu, siapa yang akan diselamatkan?
aku bukan siapa-siapa, dan bingung, dan tersesat di antara rupa hutan mimpi belantara.
selamatkan aku nanti, dari mimpi buruk—
mati menjadi "orang lain" yang dibenci Ibu.