Hafal Qur'an tapi khalwat, sentuhan lawan jenis dst dst..kamu bingung? sama dong. Hahaha.. Enggak, enggak, saya gak bingung, biasa aja, karena nyari santri yang ngamalin ilmu menjadi muslim seutuhnya itu sulit ditengah-tengah percetakan generasi sekuler-liberal kek sekarang ini, kek nyari jarum dijerami, nemu bakal ada, pasti ada tapi 1-1.
Orang awam yang tak paham ada aja celutakannya yang kadang bikin meringis hati mendengar ataupun membaca sejenis 'ukhty outside naughty inside', naudzubillahimindzallik.
Kalau kamu bingung liat orang dari SMP-SMA dipondok, kuliah lulusan Lc tapi pacaran, kakak adek ketemu gede, gak menutup aurat, kerudung lempar kiri kanan anti ngomongin Islam dlsbg, maka kamu gak usah heran itu hanya hasil dari perjalanan panjang dengan berbagai faktor internal maupun eksternal.
Mengutip kata Keith Morrison - Pengetahuan tidak bersifat netral (ilmu social to be exactly), dan kurikulum merupakan wilayah pertarungan ideologi, di mana kelompok-kelompok penguasa memelihara kekuasaan melalui kurikulum.
Agama, berhubungan dengan pandangan hidup/ideologi, how we see this life, ya kalau kamu liat santri tapi pacaran, hafal qur'an tapi mempertontonkan kemaksiatan terang-terangan tanpa rasa malu malah jadi tukang B.E.D Person ( blame, excuse, denial) ya gak usah heran.
Memang kurikulum pendidikan kita, bukan untuk menjadikan kita muslim seutuhnya, muslim sebenarnya, tapi jadi muslim sesuai kepentingan dengan standar manfaat/tidak manfaat versi akal, kalau dia mau jujur kedirinya sendiri, jujur dengan ilmu, Allah yang akan selalu nunjukkin jalan yang lurus & benar.
Penyakit orang berilmu yang mempelajari (which saya pernah rasain walaupun bukan soalan fiqh) itu ya susah jujur mengakui kesalahan. Bahasanya tawadhunya entah dibuang kemana, bisa juga kena penyakit sombong hingga gak mau dinasihati kalau salah.
Apalagi anak muda, mental anak muda kita ini, tinggi rasa ketersinggungan, rendah introspeksi diri.
Generasi kita memang dicetak jadi generasi macem si penghafal qur'an yang pakaiannya jarang syar'i itu, enggak saya gak ngejek, cuma ngomongin fakta.
Prinsip dasarnya orang kafir (harbi) tidak akan pernah ridha sebelum kita ngikutin jalan mereka, jadilah mereka tetap sediakan fasilitas untuk belajar lalu membangun pemikiran-pemikiran nyeleneh yang ditebar (anti syariah, anti dakwah, anti khilafah yang sekarang paling nyaring) dan sambil mereka menikmati pertikaian umat Islam.
Cukup sampe situ? Enggak tidak segan-segan beasiswa dikucurkan agar muslim mau mempelajari ide-ide sesat mereka lalu memperjuangkannya, ditambah bumbu-bumbu palsu bernama indah sejenis modern, dinamis, flexible, memperjuangkan kesamaan hak dan kebullsh*tan lainnya.
Awal saya mengkaji Islam, disatu sisi saya denger kajian, dilarang khalwat, ikhtilat, kalau nikah harus dipisah tamu laki-laki & perempuan, apalagi sampai foto berdua non mahram, disisi lain ada fakta mengejutkan beberapa kenalan lulusan pondok pacaran, kakak adek ketemu gede dsj, padahal ada satu orang kuliahnya jurusan syariah.
Bingung? Iya, antara yang disampaikan dikajian kenapa berbeda dengan fakta? dan yang ngelakuin ilmunya lebih tinggi, interaksi dengan qur'an pasti lebih banyak (yalah wong bisa hafal), dan amalannya pasti lebih banyak.
Mau negur maju mundur takut-takut, karena sadar diri tidak sebanding, tapi kemaksiatan ditampakan terang-terangan (which basinya orang kek gini gak suka ditegur terang-terangan karena ngerasa direndahin dihadapan pengikutnya yang banyak dan buta padahal mah cuma diingatkan) disisi lain tidak mau punya iman, selemah-lemahnya iman cuma bisa diem No,. Akhirnya beranikah diri negur. Alhamdulillah. Ada yang langsung nikah, ada yang bodo amat.
Mereka yang demikian sejatinya juga korban dari perang pemikiran yang tidak direnungi dan disadari dengan baik, terlalu silau dengan pengakuan barat kehidupan jauh dari sederhana hedonisme menjangkiti tanpa disadari ckck.
maaf ya setelah serius mengkaji Islam, bagi saya orang-orang kafir harbi gak lebih baik daripada Muslim dan gak butuh pengakuan mereka hanya untuk memuaskan mereka tapi menyalahi syariat, apalagi didunia sains, seolah-olah mereka paling maju, gak kok masih banyak yang pekok sampe anti vaksin sebagaimana mereka mencitrakan muslim yang diidentikan dengan kebodohan.
Yang sejatinya ini masalah lain.
Tapi alhamdulillah masih ada kok santri yang bener-bener santri minimal cerminan luarnya masih cocok terjuluki santri,gamis & kerudung yang tidak kena virus palang perumahan, dia salah satu close friend saya lulusan darunnajah doain semoga hafalan 30 juznya mutqin sampai akhir hayat.
Dia yang ajar saya bahasa arab, sampai sedikit bisa dan banyak amalan jariyah yg dia ajarkan padahal usianya lebih muda dari saya. Tidak hanya sibuk akademik tapi juga dakwah, dia menyeru orang untuk berislam secara menyeluruh.
Yah meskipun dari sekian banyak santri yang saya kenal dan yang pengennya mereka jadi role model dalam menjalankan Islam dengan baik & benar, setidaknya masih ada 1 orang yang benar-benar mendefinisikan apa itu santri.
Pointnya? Jangan dipukul rata, kalau liat santri maksiat terang-terangan, ingatkan dan jangan contoh apa yang dia lakukan, apalagi malah jadikan dia sumber halal/haram no, jangan.