Jika kau pernah membaca buku Tereliye yang berjudul Rembulan Tenggelam Di Wajahmu pasti kau tahu nama ini. Namun aku tak ingin membahas si pemilik nama dari buku itu. Rinai yang akan kuceritakan ini adalah perempuan paling cantik setelah Ibunya, yaitu aku. Hehe… Aku ingin menceritakan tentang Rinai, gadis kecil ku yang saat ini berumur 1 tahun.
Rinai Dhinia Asmara.Lahir tanggal 10 Oktober 2018. Rinai lahir normal di sebuah Rumah Sakit sederhana di Tangerang. Bobotnya 3,2kg dengan panjang 49cm. Pipinya tembem seperti Ibunya, bola matanya cokelat dan hidungnya mancung seperti Abi nya. Bayi merah ini kami beri nama Rinai karena Ibu dan Abinya sangat menyukai hujan. Dhinia adalah singkatan nama Ibu dan Abi nya. Asmara adalah nama belakang Abi nya. Ah, sebenarnya nama belakangnya bukan Asmara, tapi karena ia adalah perempuan maka vocal O kami ganti menjadi A.
Rinai anak perempuan kami yang pertama. Sekaligus cucu pertama mertua ku. Sejak usia kehamilanku 8 bulan, aku sudah (dipaksa) pindah sementara ke rumah mertua. Ibu mertua cukup protektif dalam menjaga ku dan jabang bayi kami. Walaupun pernikahan kami sempat tidak disetujuinya, namun atas izin semesta aku dan anaknya akhirnya menikah, dan mengandung cucunya. Ketika tahu bayi kami berjenis kelamin perempuan, betapa bahagianya Ibu mertua ku itu.Maklum dia hanya memiliki 2 anak lelaki. Jadi kehadiran seorang perempuan kecil sangat ia nanti. Sebenarnya Ibu mertua ku masih bisa memiliki anak, namun ia tak mau. Makanya ketika cucu nya ini lahir, 80% dia yang menghandel. Mulai dari menggendoong, mandi, mengganti popok jika ia pipis dan buang air besar, hingga terkadang menidurkan Rinai. Aku hanya kebagian memberinya susu. Hmmm… Aku bukannya tak mau merawat anak sendiri, tapi kupikir apa salahnya jika Ibu juga ikut merawatnya. Toh hanya 3 bulan ini.
Selama di rumah mertua, Rinai banyak mendapat hadiah untuk kelahirannya. Tetangga yang berkunjung memberinya beberapa potong pakaian, tak jarang juga ada yang memberi mainan dan uang. Kalau urusan uang biar aku saja yang turun tangan. Hehe… aku dan Ibu mertua bergantian menjaga dan mengurus Rinai.Ibu di siang hari dan aku di malam hari.Aku bersyukur karena pola tidur ku tidak berubah dari aku masih gadis dulu. Insomnia ini ternyata berguna bagi Ibu muda seperti ku, karena siang hari aku bebas tidur semauku.Rinai bukan anak yang rewel, tapi intensitas pipisnya bisa dibilang tinggi. Hampir 1 jam Rinai bisa pipis 4 sampai 5 kali. Pernah aku tanyakan pada Bidan yang menanganinya. Kata Bidan Delima itu Rinai banyak pipis karena air susu ku termasuk yang lancar dan baik. Selama mengandung memang aku tak pernah makan yang macam, tak pernah ngidam yang aneh-aneh, bahkan aku sempat diet dan puasa karena syok dengan berat badanku yang naik 12kg. Ibu ku yang tahu berat badanku naik bersyukur lkuar biasa, akhirnya anaknya gendut juga.
Rinai lahir memang di musim hujan. Waktu ia berumur 2 minggu, pernah dalam 1 hari popoknya habis. Lalu aku menyuruh Abi Rinai untuk membeli popok lagi. Tapi yang dibelinya malah pampers untuk usia 1 tahun ke atas. Aku hanya memandangnya dengan wajah kesal.Melihat aku dan Rinai kesal (Rinai menangis terus saat itu) Abi Rinai langsung pergi ke Mall dekat rumah dan membeli 3 lusin popok bayi. Padahal aku hanya minta setengah lusin karena popoknya yang lain sudah banyak dan akan kering. Abi Rinai hanya cengengesan. Huh laki-laki…
Suami ku tak banyak melihat Rinai, kecuali hari sabtu dan minggu. Karena ia memang harus kerja sebagai Dosen dan trainer di Bandung dan Jogja. Tapi Rinai anak yang baik, selama di rumah mertua ia tak pernah bertanya tentang Abi nya, ya karena Rinai belum bisa bicara. Hahaha
Usia 2 bulan Rinai pernah demam. Tubuhnya panas dan seisi rumah panic, kecuali aku. Bapak mertua, adik ipar dan Ibu mertua ku menyuruh ku segera ke dokter.Tapi aku menolak.Sebagai Ibu nya aku lebih peka dari siapapun.Ke dokter dan memberinya suntikan dan obat?Tidak, anakku Rinai yang masih sangat kecil takkan kubiasakan kuberi obat dan suntikan. Aku juga belajar dari Ibu ku agar jangan sedikit-sedikit memberi anak bahan kimia, jika masih bisa ditangani dan diobat dengan cara tradisional. Aku memberinya kompres dan membaca kan surah Maryam. Surah kesukaan Ibu ku.Setelah itu aku minum jamu dari kunyit dan beras kencur. Aku berdoa pada yang menciptakan aku dan Rinai untuk menyembuhkan Rinai dari air susu ku. 2 hari kemudian demam Rinai reda.
“kalau ada penyakit dalamnya gimana, Ni?” Suami ku sependapat dengan Ibu mertua untuk membawa Rinai ke dokter.
“Rinai Cuma demam, kalau ada penyakit dalam jari –jari nya akan biru atau nafasnya lain” kataku sok tahu
“kamu bukan dokter, Ni” kata suamiku
“yasudah kalau 3 hari gak turun demamnya kita bawa ke dokter” kata suami ku, aku mengangguk sambil tersenyum. Rinai sedang menyusu. Aku bukan tak khawatir dengannya, tapi jangan sampai khawatir membuat aku bertindak gegabah. Baru punya anak satu sudah kelimpungan, bagaimana nanti kalau 10 11 12?
Setelah 3 bulan berada di rumah mertua, kami kembali ke Bandung.Rinai sudah bisa diajak jalan jauh dan sudah bisa tengkurap.Ibu mertua ku menawarkan ikut ke rumah namun dilarang oleh suami ku.Karena Bapak dan adik masih harus diurus.
“ah, bosen Ibu ngurus bayi kolot”
Kami tertawa, Bapak dan adik senewen.
Kami pulang ke rumah naik kereta, karena akan lebih aman daripada naik bis atau travel. Aku tak mau Rinai kena asap rokok dibis atau naik travel. Ibu nya saja benci setengah mati dengan perokok, apalagi sampai anaknya kena, walaupun cuma baunya.Bisa murka dunia akhirat aku.
Di kereta Rinai banyak diam, sesekali ia mengoceh dengan Abi nya, dan akan tertawa jika Abi nya bertingkah seperti orang gila. Hahaha… abi nya tak peduli, yang penting Rinai bisa tertawa.Rinai termasuk anak bayi yang kuat, tak gampang rewel, namun tukang tidur, persis Ibu nya.Ia juga punya hobby seperti Abi nya, senang merusak tatanan perabotan rumah tangga.
Di rumah hanya ada kami bertiga. Abi Rinai punya jam kerja yang bisa dibilang santai, kebanyakan kerja di rumah. Karena kantor nya ada di lantai 2 rumah kami. Keluar rumah jika ia sedang mengajar atau mengisi training.Rumah kami sebenarnya tak besar, namun aku bisa menata nya dengan cukup baik, hasil dari googling desain interior rumah. Tak apa kecil, yang penting tidak ngontrak atau nyicil. Hehehe…
Kini Rinai sudah setahun, setelah memecahkan 3 lusin gelas, merobek speaker dan membanting laptop Rinai sudah mengerti jika aku tegur.Kepalanya manggut-manggut. Sering ikut gerakan sholat ku, aku pun mengajarinya memakai hijab jika kami berada di luar rumah. Jika di dalam biar kan ia berpakaian seksi seperti Ibunya. Rinai sudah bisa jongkok dan berdiri sendiri.Berjalan 1 2 langkah.Berlari, dan mengambil sesuatu dengan memanjat barang-barang di sekitarnya. Aku sampai membatasi dapur ku dengan pagar setengah badannya, ketika aku memasak dia bisa ku lepas di depan dan aku memasak. Sesekali ia melihatku memasak sambil tersenyum di balik pagar setinggi bahunya itu. Jika Rinai sedang bersama Abi baru lah pagarnya ku buka.
Rinai senang dengan lagu Si Komo versi tahun 90’an yang aku putar, Rinai tidur lebih cepat jika aku gendong sambil mendendangkan shalawat. Rinai akan diam jika mendengar adzan di televisi. Ah, kami punya tivi karena diberi oleh teman suami ku. Mereka mengira kami belum sanggup membeli tivi karena baru membeli rumah dan barang lain, padahal aku dan suami sengaja tidak membeli tivi. Akhirnya kami pasang saja DVD dan tivi kabel sekalian. Mengatur tayangan apa yang akan ditonton dan tidak memasang chanel lokal. Tapi kini Dvd nya sudah tidak bisa dipakai karena dibanting Rinai dan ia campurkan air ke DVD nya waktu ia berumur tujuh bulan. Aku bersyukur ruang kerja suami ku ada di lantai 2.
Aku dan suami sebenarnya punya didikan yang berbeda untuk Rinai.Tapi bersepakat jika masih dalam koridor Islam, tak mengaapa.Kami bukan orang tua yang akan memaksa anaknya untuk sekolah di yayasan tertentu, karena kami lah pendidik sebenarnya. Apalagi Rinai akan punya adik 1 atau 2 tahun lagi.
Kadang Rinai bangun di tengah malam untuk menyusu, atau pipis.
Suami ku pernah bilang baiknya Rinai dipakaikan popok saja, biar kalau pipis gak susah, dan aku masih bisa mengerjakan yang lain. Maksudnya baik, tapi aku punya pendapat lain. Anak yang sering diberi popok tidak baik untuk kelaminnya.Akan mudah iritasi dan jorok. Masa kemana – mana bawa kotoran, iuhhh..
“daripada harus bolak balik ngepel, Dek…”
“yang negepel kan Adek, Mas”
“gak ngepel juga capek, kok. hehehe”
“kalau malam aja gimana?”
“gak usah, kasur Rinai kasih alas aja, biar seprei nya gak kena”
“bukan masalah sepreinya, Dek. Kamu nya keganggu dan Rinai jadi bangun”
“aku atau kamu yang keganggu, Mas?”
Wajah suami ku berubah merah.Malu karena hampir tiap malam minta jatah.
Rinai selalu bangun ketika adzan shubuh. Membuka mata lalu tersenyum, senyum nya beda, senyum ngeden. Hahaha… aku hanya membersihkan kotoran dan pantat Rinai, Rinai mandi pukul 6 pagi.Saat aku sudah selesai masak dan membereskan rumah. Sementara itu Rinai dengan Abi nya, terkadang mereka bermain di depan rumah, kadang jalan-jalan pagi, kadang tidur lagi.
Rinai suka ketika diturunkan di bebatuan atau rumput. Jika ia diturunkan dekat batu, ia akan membuat lubang di tanah dan mengoreknya. Sambil mengoceh dan nyengir. Jika ia diturunkan di rumput ia akan tertawa geli karena kaki nya menginjak rumput yang basah oleh embun. Rambut ikalnya yang lebat kadang disinggahi rumput yang ia mainkan. Rinai punya lesung pipi, giginya yang 5 buah akan terlihat jika ia nyengir.
Betapa cantik anak perempuan pertama kami ini. Semoga di satu tahun nya ia maklum dengan Ibu dan Abi nya yang mungkin kurang dalam merawat dan mencintainya. Semoga Allaah menjaganya dan menjadikan Rinai qurrota’ ayun bagi kami dan keluarga.